YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 21 April 2017

Gravitasi itu Aku...


Kekuatan Gravitasi Rasa

Percaya nggak kalau perasaan yang kita rasakan terhadap pasangan kita adalah sebuah gravitasi paling kuat sepanjang masa? Karena nantinya akan bersifat abadi, apabila salah satunya hilang maka akan lunglai. Tak banyak yang dapat tertuliskan, selain masa itu membuat kekuatan terbesar dalam diri. Aku yang kala itu terhempas dalam kesendirian hanya bisa termangu menunggu waktu. Waktu akan datangnya gravitasi. Ternyata butuh campur tangan Tuhan di dalamnya, selain usaha dan keikhlasan. Yang terjadi adalah, sepuluh tahun lalu kekuatan terbesar itu aku. Gravitasi yang ada pada diriku melekat kuat padamu. Aku secara perlahan menjadi tumpuan rasa yang kamu cari selama ini. Ada yang bilang bahwa saat kita berkenalan dengan seseorang, selalu ada unsur langit dan bumi yang ikut serta dalam diri kita. Mungkin ini yang terjadi pada kita, unsur langit dan bumi itu tak lepas dari aku dan kamu tak mampu melepasnya. Komunikasi yang intens walau telepon genggam yang kita pakai saat itu tak secanggih Luna Smartphone 

"Gue Adhit..."
"Shanty..."

Dan kekuatan gravitasi rasa itu semakin tak terlepas, kumparannya semakin kuat. 5 Mei 2007 menjadi tanggal keramat buat masa depan kita :) Wah kalau saja saat kita menikah telepon genggam kita sekeren Luna Smartphone pasti kita lebih dahsyat ber-selfie ria :)) Aku hanya memohon, Tuhan selalu menggerakkan aku sesuai gravitasi rasa-Nya. Tahun demi tahun aku menjadi gravitasi terkuat dalam hidup suamiku. Selalu ada waktu dimana kita berada di titik nol dalam tiap kehidupan. Tak terkecuali aku. Pernah aku jatuh tapi kamu meyakini bahwa aku masih tumpuan rasa yang kamu cari. Kekuatannya tak boleh rapuh. Doa yang terselip dari seorang sahabat saat kami menikah adalah semoga saling menguatkan. Itu menjadi doa penuh makna. Bahwa saling menguatkan itu nggak gampang, saling menguatkan itu butuh nyali, saling menguatkan itu kesabarannya tak terbatas, saling menguatkan itu perlu cinta yang lebih dari sekedar gravitasi bumi.


Bunda, gravitasi terbesarku

Menggerakkan keluarga kecil ini menjadi sesuatu yang selalu memiliki kekuatan dalam rasa. Saling sayang, saling menghargai, saling rindu. Namun ternyata kekuatan itu pun diuji. Apakah saling menguatkan? Ataukah saling menghempaskan? Anak pertama yang lahir di usia kandungan 8 bulan, bilirubin yang mencapai 22 dan tangis histerisku. Bayi kecil dalam inkubator dan aku yang hanya menatapnya pedih. 

"Kamu harus kuat, biar ASI-nya lancar..."

Hati ibu mana yang nggak sendu melihatnya, namun Tuhan selalu menjanjikan bahwa ada gravitasi tersendiri antara aku dan bayi mungilku. Ada kekuatan batin yang ajaib dan unik dan saling mengikat aku dan bayi mungilku. Kalau aku kuat, dia pasti jauh lebih kuat :) Akhirnya kuputuskan untuk ikhlas, dalam keihklasan itu keyakinan aku sebagai seorang ibu semakin utuh. Ada kesempatan dari Tuhan untuk bersamamu. Menjaga, mengurus, membimbing dan memelukmu penuh cinta hingga besar nanti. Dalam tiap tangismu, aku yang akan selalu ada. Dan kesabaran selalu menjadi andalan terbaikku. Beratmu semakin hari semakin bertambah, senyum dan tawamu semakin renyah terdengar, di hatimu pasti akulah manusia pertama yang selalu memberimu kenyamanan :) Seandainya saat kamu lahir Bunda sudah memiliki telepon genggam seperti Luna Smartphone semua moment indah itu pasti tersimpan rapi di dalamnya karena dengan versi Android Marshmallow + InLife UI 2.0 ini, ditambah lagi dilengkapi baterai sampai 2,900 mAh (non-removable battery) serta 3G networking standby time 480 jam, 3G talk time 11 jam, 4G networking standby time 500 jam. Dan jangan lupa juga kamera 13 juta pixel autofocus camera, F2.0 large aperture, dual LED flash, belum lagi kamera depan 8 juta pixel fixed focus lens, F1.8 large aperture wide angle 80.

4 Tahun berselang, anak kedua kami lahir ke dunia dengan sehat dan selamat. Bahkan bayi perempuan mungil ini jauh lebih sehat dan montok dari sang abang dulu. Tahun berganti, anak perempuan kami mulai bersekolah. Namun cobaan kecil kembali menerpa kami. Suatu hari ia berkomentar soal matanya yang kurang jelas. Akhirnya kami membawaatnya ke klinik spesialis mata. Dan kenyataan cukup pahit harus kami terima. Mata kirinya sejak dalam kandungan ternyata hanya berfungsi sekitar 20%, selebihnya hanya seperti siluet. Jadi kemampuan melihatnya hanya bertumpu pada mata kananya yang berfungsi normal. Sempat down dengan keadaan itu tapi melihat anak kami yang tetap semangat seperti nggak terjadi apa-apa, itu menjadi gravitasi tersendiri yang diberikan Tuhan. Virus yang tak terdeteksi selama dalam kandunganku yang telah menyerang salah satu penglihatannya, semakin membuat kami kuat. Saat di ruang tunggu ia sempat berceloteh kepadaku.

"Bunda, nanti nyanya masih bisa lihat?"

Bersyukur bahwa kekurangannya malah menjadikan ia bocah kecil yang hebat, pintar dan disukai orang-orang. Ia nggak minder apalagi jadi pemalu, ia gadis kecil pemberani. Bahkan salah satu hobi dan cita-citanya menjadi chef alias koki sangat kami dukung. Wah dek, ini artinya Bunda harus banget punya Luna Smartphone :) Sudah jelas banget ya kenapa harus punya Luna Smartphone ? 

1. Kualitasnya sama dengan iphone tapi harga lebih terjangkau.



2. Mampu menjalankan aplikasi harian serta games karena memiliki octacore 1,8 GHZ, Mediatek Helio  P10 64 bit. 
3. Didukung jaringan 4G LTE terkini.
4. Memiliki kapasitas 32 GB ROM, bisa simpan data foto dan aplikasi lebih leluasa.
5. Baterainya sangat mendukung untuk aktivitas seharian, nggak perlu bolak balik nge-charge.
6. Tampilan layar lebih besar, gambar yang tajam dan dilindungi corning gorilla glass 3, aman dari benturan.


7. Stylish dan Fashionable pastinya :) 


Ya, gravitasi itu aku, hanya tentang aku. Tentang aku dan kisah kamu yang menjadikan aku gravitasimu dan tentang aku yang selamanya akan menjadi gravitasi terbesar dalam hidup anak-anakku :)



Dibuat untuk mengikuti blog competition #BeTheGravity #SmartphoneLUNA


Tidak ada komentar: