YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 15 Juni 2014

Surat Untuk Papa...


Teruntuk Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Hati ini tak akan pernah bisa berpaling apalagi berganti, hati yang utuh hanya untuk lelaki yang sudah semakin lama semakin menua. Tubuhnya yang kini terlihat agak kurus karena diabetes-nya, namun tetap semangat dibalik kayuhan sepedanya setiap minggu. Aku menyebutnya Papa. Lelaki yang sejak aku ada di bumi ini tak pernah lepas dan jauh dariku. Menopang semua keluh kesahku, bahkan hidupnya penuh diberikan untuk semua masalahku. Ah, anak macam apa aku ini... Dari kecil diberi hati tapi tak sedikit aku menyakiti hatinya. Tanpa aku sadari atau tidak. Papa, sampai diumurku ini pun aku tak tahu bagaimana harus membalasnya, yang terpenting hanya melihatmu tersenyum. Karena uang pasti tak mampu menebusnya, karena tenaga sekuat apapun tak bisa menggantinya. 

Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Aku adalah perempuan cilik yang dulu erat kau peluk, lekat dalam gendonganmu, dan nyatanya perempuan cilik ini hanya bisa menyusahkanmu, menghardikmu bahkan mengacuhkanmu. Sungguh tak ada niat sedikitpun untuk semua itu. Papa ingat saat semua itu datang bertubi-tubi? Aku hanya bisa memelukmu, menangis dan menangis. Dan saat itu, pelukan Papa adalah pelukan paling nyaman sedunia yang pernah aku rasa. Entah apa yang aku dapatkan jika Papa tak bersikap bijak, merangkul dan sabar yang berjuta. 

Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Saat tangan Papa erat menggenggam tangan calon suamiku dulu dikala ijab kabul, maka lepaslah tanggung jawab Papa atas hidupku. Ya, kukira akan benar-benar lepas dan Papa biarkan aku dengan kehidupan baruku. Ternyata tidak. Aku salah. Papa bilang, anak burung tak akan benar-benar lepas dari pandangan orangtuanya meski terbang jauh ke negeri antah berantah. Papa benar, orangtua selalu punya feeling tersendiri tentang langkah anak-anaknya. Aku ingat saat sungkeman sama Papa, pesan Papa yang terpenting adalah sabar, sabar dan sabar dalam rumah tangga, jangan tinggi ego. Aku yakin itu juga yang selama ini Papa terapkan bersama Mama selama hampir 40 tahun ini. Wow...40 tahun dan begitu banyak yang aku dapat dari perjalanan orangtuaku. Hal yang utama, mereka tak pernah ribut dan berantem di depan anak-anaknya. Papa nggak pernah secuilpun memukul istrinya apalagi anak perempuannya, semarah apapun Papa. 

Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Terima kasih mungkin adalah ucapan yang hanya bisa aku ucapkan, toh dengan memberikan seluruh dunia ini aku nggak mampu mengganti semua kebaikan Papa. Aku bersyukur punya Papa seperti Papa, dengan segala kelebihan dan kekurangan Papa, Papa tetap Papa terbaik, hebat dan sempurna buat aku. Yang pasti maaf terbesar dari aku, untuk semua sikap aku yang jelek dan nggak bertanggung jawab apalagi dewasa, untuk semua hal yang pernah membuat Papa susah, kesal dan marah.

Papa, semoga doa-doa yang tak pernah putus ini akan selalu menjaga Papa, semoga Papa selalu sehat, biar Papa bisa tertawa bersama cucu-cucu Papa dan melihat mereka mendekap cita-citanya. Semoga... 

Papa, Kaka sayang Papa selalu... Muah!


Dari anak perempuanmu tercinta,


Shanty H.