YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 11 Februari 2014

Kepada Rasulullah SAW


Ucapan dalam setiap doaku adalah harapan tanpa batas. 

Ya Rasulullah, 
begitu ingin aku mengenal Engkau, bertemu dan menatap puas. Begitu hebat rasa ini hingga tak kubiarkan celah kecil tanpa menyebut nama dan menganggungkan nama Engkau. Seperti apakah Engkau, ya Rasulullah? Benarkah Engkau tampan? Gagah? Ah, aku tak peduli, yang aku tahu Engkau sangat bersahaja. Sikap dan tutur kata yang tak pernah sedikitpun menghunus kebencian pada kaum manapun. 

Ya Rasulullah, 
jika Engkau saja tak berani mengakui telah bersikap adil, mengapa manusia begitu sombong menyebut dirinya tuan penuh keadilan?
jika Engkau saja tak mampu sesumbar selalu berkata benar, mengapa manusia begitu congkak memberi label dirinya nyonya yang selalu dapat dipercaya?

Ya Rasulullah,
di jaman apakah aku akan bertemu Engkau?
di masa apakah aku akan mengenal Engkau?
di lingkaran waktu apakah Engkau akan menyapaku sebagai umat yang berhati jernih?



Rasulullah bersabda :
"Bershalawatlah kamu untukku, karena bacaan shalawat untukku itu menjadi tebusan dosamu dan menjadi zakat (kesucian) untuk dirimu, maka barang siapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali." (HR. Attamimi).



#Day8
#30HariMenulisSuratCinta

Untukmu Yang Tak Pernah Putus Merinduku...


Jika setiap aksara adalah kata yang harus diucapkan tanpa pamrih, mungkin aku begitu. Tak melulu soal cinta namun rindu yang tanpa batas. Itu cukup mewakili sayangku padamu. Kamu tahu, betapa hidup tak lagi bergelora saat ombak tak temukan pantai. Betapa jiwa tak lagi bernyawa saat ranting tak berdaun. 

Jika sebuah nada hanyalah alunan tanpa syair, mungkin aku hanya merana tanpa rindu. Ketukannya tak habis ku gerakkan, hingga tiap kuncinya penuh harap. Buatku, kamu adalah lagu yang tak bosan kudengarkan, nyanyian yang tak pernah usai kudendangkan, lirik yang tak akan habis kusenandungkan, sepanjang masa...


Untukmu yang tak pernah putus merinduku,


SH-RA-050507



#Day7
#30HariMenulisSuratCinta

Senin, 10 Februari 2014

Surat Untuk Pemotor


Kepada para pemotor yang budiman,

Sudikah kiranya kalian mengerti aturan sebagai pengendara bermotor?
Sudikah kiranya kalian mentaati sedikit saja aturan berkendara di jalanan?

Sungguh saya nggak habis pikir dengan pemotor yang seenaknya main serobot dan main terobos. Keuntungan mengendarai motor memang bisa selap-selip, jarak tempuh bisa lebih cepat dibandingkan mobil yang harus kena macet berjam-jam. Tapi bolehlah dilirik dikit itu aturan-aturan di jalan. 

Saya mungkin termasuk baru sebagai pemotor, setiap hari dari rumah ke kantor ditempuh sejauh kurang lebih 16 kilo. Melewati antrian masuk satu jembatan kecil di dekat kali. Saat itulah kesabaran saya selalu diuji. Gimana nggak? Jalur antrian yang seharusnya cuma satu dibuat jadi dua, belum lagi ada beberapa gelintir orang yang otaknya di dengkul dan ketutupan celana sehingga nggak bisa mikir untuk antri dan menerobos di jalur kanan. Motor-motor yang dari arah sana susah lewat, cakep kan? Terus merasa dirinya paling benar, sok ngatur, nggak mau ngalah dan lebih marah dari yang sudah ngantri. Terserah kalau mau nyalip di depan motor orang, tapi tolong jangan nyalip dekat saya, pasti jadi ribut. Bukan saya terlalu ambil pusing, orang-orang kayak begitu layak banget dimarahin, ditegur, dimaki kalau perlu, biar tahu malu! Saya nggak segan-segan mepet motor mereka biar nggak bisa nyalip, toh mereka salah. Terlalu idealis nggak sih saya sebagai pemotor? :) 

Saya terkadang juga suka ngebut, tapi tetap dengan perhitungan, nggak maksa dan nggak asal nyalip bikin macet apalagi bahayain orang. Yang paling ajaib lagi adalah saat lampu merah. Hampir semua motor sudah siap sedia 1 meter di depan lampu merah. Yang dari arah lawan susah lewat, yang mau belok juga susah. Pinter banget kan? Belum lagi saat lampu merah keadaan di perempatan kosong sedikit, nggak pakai ragu-ragu mereka langsung tancap gas. Cerdas kan? Amat sangat! 

Ah, mungkin saya memang agak idealis sebagai pemotor, tapi biarlah dari pada saya celaka atau bikin celaka orang lain. Saya cuma berusaha menjadi warga yang tahu aturan di jalan, itu saja. Terus punya SIM nggak? Ya nggak lah paaakkk...gagal totaaal paak waktu tes tulis, modal nekat aja hahahaha.....


#Day6
#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 05 Februari 2014

Senyum si Bocah Pirang


Selamat pagi,

Selamat pagi buat si bocah pirang yang pagi ini senyumannya sudah siap untuk dibagi bersama hujan gerimis. Kamu selalu senang memandang hujan gerimis disela tatapanmu yang masih mengantuk. Rambut pirangmu masih berantakan, sesekali diacak-acak oleh abangmu, tanda sayang padamu. Kamu hanya tersenyum. Aku selalu suka pemandangan pagi hari darimu. Hangat dan bikin rindu tak pernah usai. Bau asemmu tak membuatku berhenti menciumi. Walau kadang tangis dan manjamu pecah di pagi hari namun aku tak pernah terganggu. Tanpa kamu pagi pasti hanya sendu merindu.

Kamu masih 2 tahun, tubuhmu tak begitu besar. Biar kecil tapi mandiri, seumur ini kamu tak lagi mau memakai diapers. Mulutmu yang ceriwis sudah bisa mengatakan kapan mau ke kamar kecil. Apapun itu dicoba untuk memakai sendiri dan mengerjakan sendiri. Pintar ya :) Lincah, bawel, lucu, dan bikin kangen. Kamu suka sekali menyanyi dan berjoget. Kamu selalu jadi rebutan Bunda dan Papa untuk dipeluk. Bahkan abangmu selalu suka memeluk dan menggoda kamu karena iseng.

Selamat pagi bocah pirang, tetaplah tersenyum untukku, Papa dan abangmu tersayang :)


Love you SAF,


Bunda


#Day5
#30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 04 Februari 2014

Surat Perkenalan


Hallo Tukang Pos,

Menulis surat ini adalah hal yang sangat baru buatku. Baru kali ini aku menulis surat untuk seorang tukang pos. Yup, seorang tukang pos. Sungguh, kalau nggak karena ulah sang bosse @PosCinta mungkin aku nggak akan pernah menulis surat buat seorang tukang pos. Apalagi aku belum pernah mengenal dirimu, wahai tukang pos. Tahun lalu tukang pos aku seseorang yang cantik, untuk saat ini? Entahlah... Apakah kamu ganteng? :) Bosse nggak mungkin mengirim seorang tukang pos yang nggak ganteng, minimal imut-imut. 

Kak @omemdisini salam kenal ya dari aku. Jangan ragu mengirimkan surat-suratku. Masih banyak surat cinta yang akan aku kirimkan untuk makhluk-makhluk terkasih di muka bumi ini :) Oh iya kak @omemdisini apakah benar kakak salah satu dari selebtuit? (Salah satu sembilan berarti kak, eeeaa...) Setenar apakah kakak? Kak Gembrit? Wira? Zarry Hendrik? Rahne? Hahahhaa...



Salam kenal,

-Shanty-


#Day4
#30HariMenulisSuratCinta

Dewasa Tanpamu :')


Dear Opa,

Apa kabarmu di sana? Sejak Opa meninggalkanku sepulang sekolah saat SMP kelas 2, menuju jalan rumahku yang telah terpasang bendera kuning. Aku terdiam lemas di tengah jalan, tas pun tak mampu aku bawa. Opa, setelah semua kesakitan itu, sesungguhnya berpisah dengan Opa adalah sakit yang terdalam. Bahkan sepeninggal Opa, sirine ambulan menjadi trauma tersendiri dalam hidupku. 

Opa, bertahun-tahun sudah Opa pergi. Aku dan cucu-cucu Opa yang lain semakin tumbuh besar. Kami dewasa tanpamu...

Kaos oblong putih, sarung dan handuk kecil good morning yang selalu Opa kenakan di leher. Belum lagi keseruan kecil dari petasan-petasan banting yang Opa lemparkan manakala ada tikus lewat. Opa, mungkin kami memang dewasa tanpamu, tapi kenangan bersama Opa tak akan pernah berpaling dari kami.

Bahagia selalu di surga ya Opa...


Cucumu,

Shanty



#Day3
#30HariMenulisSuratCinta

Memeluk Rindu...


Untuk kamu di rumah,

3 Hari 2 malam itu ternyata lama juga. Baru pertama kali pergi jauh tanpa kamu, cuma aku sama anak-anak. Malam pertama di Anyer, aku dan anak-anak sudah memeluk rindu. Shabrina kecil beberapa kali menyebut "Papa" tapi saat aku tanya balik katanya Papa kerja :) Si sulung Randy bilang, besok-besok kita ajak Papa ya ke pantai, Papa kan belum pernah :))

3 Hari 2 malam itu memang lama. Buktinya baru hari pertama aku sudah kangen sama kamu. Mungkin anak-anak mampu menutupinya dengan canda tawa ditengah lomba-lomba, renang bersama dan kegiatan lainnya.

3 Hari 2 malam itu akhirnya memeluk rinduku begitu dalam. Ah, cemen, baru 3 hari 2 malam, apa rasanya jadi istri yang ditinggal melaut, ditinggal tugas ke berbagai daerah atau negara. Yah, mungkin mereka memang sudah nasib alias sudah takdirnya. Tuhan tahu kok aku susah jauh dari kamu, Tuhan Maha Mengerti kalau kita sulit berjauhan, makanya diciptakan kamu untuk aku dan aku untuk kamu :)



2 Februari 2014
#Day2
#30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 01 Februari 2014

Dear Office...


Terima kasih untuk 3 hari 2 malam ini... 
Raker dan Family Gathering yang menyenangkan, capek, pusing dan seru. Senang bisa jadi bagian dari tim panitia pelaksana. 

Semoga tahun depan bisa ganti rute ke pulau lain atau negara lain :) aaamiiiin...                                  


1 Februari 2014                                                    
#Day1
#30HariMenulisSuratCinta