YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 15 Juni 2014

Surat Untuk Papa...


Teruntuk Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Hati ini tak akan pernah bisa berpaling apalagi berganti, hati yang utuh hanya untuk lelaki yang sudah semakin lama semakin menua. Tubuhnya yang kini terlihat agak kurus karena diabetes-nya, namun tetap semangat dibalik kayuhan sepedanya setiap minggu. Aku menyebutnya Papa. Lelaki yang sejak aku ada di bumi ini tak pernah lepas dan jauh dariku. Menopang semua keluh kesahku, bahkan hidupnya penuh diberikan untuk semua masalahku. Ah, anak macam apa aku ini... Dari kecil diberi hati tapi tak sedikit aku menyakiti hatinya. Tanpa aku sadari atau tidak. Papa, sampai diumurku ini pun aku tak tahu bagaimana harus membalasnya, yang terpenting hanya melihatmu tersenyum. Karena uang pasti tak mampu menebusnya, karena tenaga sekuat apapun tak bisa menggantinya. 

Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Aku adalah perempuan cilik yang dulu erat kau peluk, lekat dalam gendonganmu, dan nyatanya perempuan cilik ini hanya bisa menyusahkanmu, menghardikmu bahkan mengacuhkanmu. Sungguh tak ada niat sedikitpun untuk semua itu. Papa ingat saat semua itu datang bertubi-tubi? Aku hanya bisa memelukmu, menangis dan menangis. Dan saat itu, pelukan Papa adalah pelukan paling nyaman sedunia yang pernah aku rasa. Entah apa yang aku dapatkan jika Papa tak bersikap bijak, merangkul dan sabar yang berjuta. 

Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Saat tangan Papa erat menggenggam tangan calon suamiku dulu dikala ijab kabul, maka lepaslah tanggung jawab Papa atas hidupku. Ya, kukira akan benar-benar lepas dan Papa biarkan aku dengan kehidupan baruku. Ternyata tidak. Aku salah. Papa bilang, anak burung tak akan benar-benar lepas dari pandangan orangtuanya meski terbang jauh ke negeri antah berantah. Papa benar, orangtua selalu punya feeling tersendiri tentang langkah anak-anaknya. Aku ingat saat sungkeman sama Papa, pesan Papa yang terpenting adalah sabar, sabar dan sabar dalam rumah tangga, jangan tinggi ego. Aku yakin itu juga yang selama ini Papa terapkan bersama Mama selama hampir 40 tahun ini. Wow...40 tahun dan begitu banyak yang aku dapat dari perjalanan orangtuaku. Hal yang utama, mereka tak pernah ribut dan berantem di depan anak-anaknya. Papa nggak pernah secuilpun memukul istrinya apalagi anak perempuannya, semarah apapun Papa. 

Bapak, Ayah, Papa, Abi, Papi, Daddy, Abah atau apapun sebutanmu...

Terima kasih mungkin adalah ucapan yang hanya bisa aku ucapkan, toh dengan memberikan seluruh dunia ini aku nggak mampu mengganti semua kebaikan Papa. Aku bersyukur punya Papa seperti Papa, dengan segala kelebihan dan kekurangan Papa, Papa tetap Papa terbaik, hebat dan sempurna buat aku. Yang pasti maaf terbesar dari aku, untuk semua sikap aku yang jelek dan nggak bertanggung jawab apalagi dewasa, untuk semua hal yang pernah membuat Papa susah, kesal dan marah.

Papa, semoga doa-doa yang tak pernah putus ini akan selalu menjaga Papa, semoga Papa selalu sehat, biar Papa bisa tertawa bersama cucu-cucu Papa dan melihat mereka mendekap cita-citanya. Semoga... 

Papa, Kaka sayang Papa selalu... Muah!


Dari anak perempuanmu tercinta,


Shanty H.

Jumat, 30 Mei 2014

Manchester is You...

Kenapa saya harus pergi ke Inggris?

Karena saya ingin mewujudkan kisah perjalanan Shabrina yang sebenarnya. Melakukan perjalanan dari Jakarta dan berhenti di bandara Heathrow, melepas pandangan di keramaian serta secuil kenangan obrolan ngopi santai di atas pesawat bersama Razak. Ya, saya ingin mewujudkan perjalanan Shabrina, tokoh perempuan muda yang ada dalam novel saya. Merasakan jatuh cinta pada Manchester, Razak dan Jones. Menata kisah yang ada saat di Birmingham, stasiun Moor street, Tower of London, London Bridge, Double Decker, London Eye, The Dome, Westminster Abbey, Big Ben dan Liverpool.

Karena Manchester, adalah salah satu yang mendorong keinginan saya untuk mewujudkannya. Lalu Birmingham, yang saya yakin pasti begitu indahnya hingga saya mungkin akan sama terbuainya seperti Shabrina saat menatap Jones. Dan Liverpool, dimana Razak masih saja mengingat secuil kenangan di atas pesawat, namun perpisahan terakhir yang sebenarnya di dermaga nan romantis.

Saya mungkin terlalu cinta pada Manchester, hingga saya begitu ingin merasakan rumput Old Trafford, mengikuti tournya, melihat museumnya, duduk di Red Cafe di bangku bertuliskan nomor punggung Ryan Giggs. Aaaakkk.... Mau bangeettt! Ya, mungkin saya memang terlalu cinta pada Manchester, sampai-sampai saya begitu ingin ia memberi kepastian pada Shabrina tentang isi hatinya, tentang rasa bahagianya saat ia bersama Shabrina, tentang sikapnya yang selalu ada untuk Shabrina. Bahwa cintanya tak pernah diragukan oleh Shabrina, bahwa sayangnya tak pernah salah tempat, bahwa jiwanya sepenuhnya milik Shabrina. 

Karena mimpi saya ingin ke Inggris maka novel ini ada. Manchester is you, it's always about you, karena kamu saya bertekad keras ingin ke Britania Raya :) 



#InggrisGratis
@MisterPotato_ID




Manchester is (always) Red...


Kenapa saya harus pergi ke Inggris? 

Karena Sir Alex Ferguson, karena Ryan Giggs, karena Roy Keano, karena King Eric Cantona, karena Wayne Rooney, karena ada Old Trafford, dan tentu saja karena Manchester United! Kecintaan saya terhadap club yang telah 20 kali menjadi juara Champions ini membuat saya berkeinginan penuh ke Inggris. Karena Theatre of Dream, sesuai ucapan sang legenda United, Sir Bobby Charlton, telah mematok hati saya hanya untuknya (lebay). Foto teman-teman yang telah lebih dulu jalan-jalan ataupun sekedar liputan ke Inggris apalagi ke Old Trafford praktis membuat saya ngiler, ngeces dan mengkhayal tinggi kemana-mana. Salah satu doa yang sering saya sebutkan setelah doa penting lainnya. Semoga bisa ke Inggris sebelum saya mati :) 

Kenapa saya harus pergi ke Inggris?

Ya haruslah! Karena saya ingin merasakan euphoria dari setiap kemenangan Manchester United yang pernah ada di ruang ganti. Merasakan kepedihan dan kesedihan yang terjadi pada musim ini saat Manchester United belum bisa mengulang kisah suksesnya seperti musim-musim sebelumnya. Karena saya ingin merasakan rumput Old Trafford, biarlah dibilang norak atau kampungan, toh saya sudah pernah merasakan rumput Gelora Bung Karno waktu foto pre-wedding dulu, sementara teman yang lain ngiri :p Karena saya penasaran sama museumnya. Karena saya ingin merasakan duduk-duduk ngopi-ngopi cantik di Red Cafe, dimana bangku-bangkunya keren banget dengan nomor punggung pemain, baik pemain yang masih aktif ataupun yang sudah pensiun (makin norak biarin) :)) Well, gimanapun adanya musim ini, Manchester is (always) Red... :*

Kenapa saya harus pergi ke Inggris?

Karena Inggris punya stadion bola legendaris selain Old Trafford yang nggak kalah kerennya, mulai dari Stamford Bridge Chelsea, Emirates Stadium Arsenal, White Hart Lane Tottenham Hostpur, Etihad Stadium Manchester City, Anfield Liverpool dan Goodison Park Everton. Wah kalau sudah di Inggris semua stadion wajib dikunjungi meskipun bukan club kesayangan. Karena Inggris nggak melulu soal bola, tapi masih ada banyak hal dan tempat menarik mulai dari Big Ben yaitu menara jam terbesar kedua di dunia, Buckingham Palace yang penuh sejarah, Westminster Abbey, Trafalgar Square, London Eye yang pasti seru banget kalau naik (baru baca sih belum pernah hahaha...), Beatles Museum yang bakal saya borong oleh-olehnya hanya untuk Papa tercinta yang fans berat, serta King's Cross Station.

Jadi, kenapa saya harus pergi ke Inggris?

Masih nanya juga? Ya sudah pasti karena sepak bolanya dan tempat bersejarahnya di Inggris yang selalu ada di dalam list cita-cita traveling saya. Dari alasan yang utama, terutama, penting dan terpenting, yang pasti saya belum pernah naik SQ buat liburan hahahaha....


#InggrisGratis
@MisterPotato_ID







Selasa, 11 Februari 2014

Kepada Rasulullah SAW


Ucapan dalam setiap doaku adalah harapan tanpa batas. 

Ya Rasulullah, 
begitu ingin aku mengenal Engkau, bertemu dan menatap puas. Begitu hebat rasa ini hingga tak kubiarkan celah kecil tanpa menyebut nama dan menganggungkan nama Engkau. Seperti apakah Engkau, ya Rasulullah? Benarkah Engkau tampan? Gagah? Ah, aku tak peduli, yang aku tahu Engkau sangat bersahaja. Sikap dan tutur kata yang tak pernah sedikitpun menghunus kebencian pada kaum manapun. 

Ya Rasulullah, 
jika Engkau saja tak berani mengakui telah bersikap adil, mengapa manusia begitu sombong menyebut dirinya tuan penuh keadilan?
jika Engkau saja tak mampu sesumbar selalu berkata benar, mengapa manusia begitu congkak memberi label dirinya nyonya yang selalu dapat dipercaya?

Ya Rasulullah,
di jaman apakah aku akan bertemu Engkau?
di masa apakah aku akan mengenal Engkau?
di lingkaran waktu apakah Engkau akan menyapaku sebagai umat yang berhati jernih?



Rasulullah bersabda :
"Bershalawatlah kamu untukku, karena bacaan shalawat untukku itu menjadi tebusan dosamu dan menjadi zakat (kesucian) untuk dirimu, maka barang siapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali." (HR. Attamimi).



#Day8
#30HariMenulisSuratCinta

Untukmu Yang Tak Pernah Putus Merinduku...


Jika setiap aksara adalah kata yang harus diucapkan tanpa pamrih, mungkin aku begitu. Tak melulu soal cinta namun rindu yang tanpa batas. Itu cukup mewakili sayangku padamu. Kamu tahu, betapa hidup tak lagi bergelora saat ombak tak temukan pantai. Betapa jiwa tak lagi bernyawa saat ranting tak berdaun. 

Jika sebuah nada hanyalah alunan tanpa syair, mungkin aku hanya merana tanpa rindu. Ketukannya tak habis ku gerakkan, hingga tiap kuncinya penuh harap. Buatku, kamu adalah lagu yang tak bosan kudengarkan, nyanyian yang tak pernah usai kudendangkan, lirik yang tak akan habis kusenandungkan, sepanjang masa...


Untukmu yang tak pernah putus merinduku,


SH-RA-050507



#Day7
#30HariMenulisSuratCinta

Senin, 10 Februari 2014

Surat Untuk Pemotor


Kepada para pemotor yang budiman,

Sudikah kiranya kalian mengerti aturan sebagai pengendara bermotor?
Sudikah kiranya kalian mentaati sedikit saja aturan berkendara di jalanan?

Sungguh saya nggak habis pikir dengan pemotor yang seenaknya main serobot dan main terobos. Keuntungan mengendarai motor memang bisa selap-selip, jarak tempuh bisa lebih cepat dibandingkan mobil yang harus kena macet berjam-jam. Tapi bolehlah dilirik dikit itu aturan-aturan di jalan. 

Saya mungkin termasuk baru sebagai pemotor, setiap hari dari rumah ke kantor ditempuh sejauh kurang lebih 16 kilo. Melewati antrian masuk satu jembatan kecil di dekat kali. Saat itulah kesabaran saya selalu diuji. Gimana nggak? Jalur antrian yang seharusnya cuma satu dibuat jadi dua, belum lagi ada beberapa gelintir orang yang otaknya di dengkul dan ketutupan celana sehingga nggak bisa mikir untuk antri dan menerobos di jalur kanan. Motor-motor yang dari arah sana susah lewat, cakep kan? Terus merasa dirinya paling benar, sok ngatur, nggak mau ngalah dan lebih marah dari yang sudah ngantri. Terserah kalau mau nyalip di depan motor orang, tapi tolong jangan nyalip dekat saya, pasti jadi ribut. Bukan saya terlalu ambil pusing, orang-orang kayak begitu layak banget dimarahin, ditegur, dimaki kalau perlu, biar tahu malu! Saya nggak segan-segan mepet motor mereka biar nggak bisa nyalip, toh mereka salah. Terlalu idealis nggak sih saya sebagai pemotor? :) 

Saya terkadang juga suka ngebut, tapi tetap dengan perhitungan, nggak maksa dan nggak asal nyalip bikin macet apalagi bahayain orang. Yang paling ajaib lagi adalah saat lampu merah. Hampir semua motor sudah siap sedia 1 meter di depan lampu merah. Yang dari arah lawan susah lewat, yang mau belok juga susah. Pinter banget kan? Belum lagi saat lampu merah keadaan di perempatan kosong sedikit, nggak pakai ragu-ragu mereka langsung tancap gas. Cerdas kan? Amat sangat! 

Ah, mungkin saya memang agak idealis sebagai pemotor, tapi biarlah dari pada saya celaka atau bikin celaka orang lain. Saya cuma berusaha menjadi warga yang tahu aturan di jalan, itu saja. Terus punya SIM nggak? Ya nggak lah paaakkk...gagal totaaal paak waktu tes tulis, modal nekat aja hahahaha.....


#Day6
#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 05 Februari 2014

Senyum si Bocah Pirang


Selamat pagi,

Selamat pagi buat si bocah pirang yang pagi ini senyumannya sudah siap untuk dibagi bersama hujan gerimis. Kamu selalu senang memandang hujan gerimis disela tatapanmu yang masih mengantuk. Rambut pirangmu masih berantakan, sesekali diacak-acak oleh abangmu, tanda sayang padamu. Kamu hanya tersenyum. Aku selalu suka pemandangan pagi hari darimu. Hangat dan bikin rindu tak pernah usai. Bau asemmu tak membuatku berhenti menciumi. Walau kadang tangis dan manjamu pecah di pagi hari namun aku tak pernah terganggu. Tanpa kamu pagi pasti hanya sendu merindu.

Kamu masih 2 tahun, tubuhmu tak begitu besar. Biar kecil tapi mandiri, seumur ini kamu tak lagi mau memakai diapers. Mulutmu yang ceriwis sudah bisa mengatakan kapan mau ke kamar kecil. Apapun itu dicoba untuk memakai sendiri dan mengerjakan sendiri. Pintar ya :) Lincah, bawel, lucu, dan bikin kangen. Kamu suka sekali menyanyi dan berjoget. Kamu selalu jadi rebutan Bunda dan Papa untuk dipeluk. Bahkan abangmu selalu suka memeluk dan menggoda kamu karena iseng.

Selamat pagi bocah pirang, tetaplah tersenyum untukku, Papa dan abangmu tersayang :)


Love you SAF,


Bunda


#Day5
#30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 04 Februari 2014

Surat Perkenalan


Hallo Tukang Pos,

Menulis surat ini adalah hal yang sangat baru buatku. Baru kali ini aku menulis surat untuk seorang tukang pos. Yup, seorang tukang pos. Sungguh, kalau nggak karena ulah sang bosse @PosCinta mungkin aku nggak akan pernah menulis surat buat seorang tukang pos. Apalagi aku belum pernah mengenal dirimu, wahai tukang pos. Tahun lalu tukang pos aku seseorang yang cantik, untuk saat ini? Entahlah... Apakah kamu ganteng? :) Bosse nggak mungkin mengirim seorang tukang pos yang nggak ganteng, minimal imut-imut. 

Kak @omemdisini salam kenal ya dari aku. Jangan ragu mengirimkan surat-suratku. Masih banyak surat cinta yang akan aku kirimkan untuk makhluk-makhluk terkasih di muka bumi ini :) Oh iya kak @omemdisini apakah benar kakak salah satu dari selebtuit? (Salah satu sembilan berarti kak, eeeaa...) Setenar apakah kakak? Kak Gembrit? Wira? Zarry Hendrik? Rahne? Hahahhaa...



Salam kenal,

-Shanty-


#Day4
#30HariMenulisSuratCinta

Dewasa Tanpamu :')


Dear Opa,

Apa kabarmu di sana? Sejak Opa meninggalkanku sepulang sekolah saat SMP kelas 2, menuju jalan rumahku yang telah terpasang bendera kuning. Aku terdiam lemas di tengah jalan, tas pun tak mampu aku bawa. Opa, setelah semua kesakitan itu, sesungguhnya berpisah dengan Opa adalah sakit yang terdalam. Bahkan sepeninggal Opa, sirine ambulan menjadi trauma tersendiri dalam hidupku. 

Opa, bertahun-tahun sudah Opa pergi. Aku dan cucu-cucu Opa yang lain semakin tumbuh besar. Kami dewasa tanpamu...

Kaos oblong putih, sarung dan handuk kecil good morning yang selalu Opa kenakan di leher. Belum lagi keseruan kecil dari petasan-petasan banting yang Opa lemparkan manakala ada tikus lewat. Opa, mungkin kami memang dewasa tanpamu, tapi kenangan bersama Opa tak akan pernah berpaling dari kami.

Bahagia selalu di surga ya Opa...


Cucumu,

Shanty



#Day3
#30HariMenulisSuratCinta

Memeluk Rindu...


Untuk kamu di rumah,

3 Hari 2 malam itu ternyata lama juga. Baru pertama kali pergi jauh tanpa kamu, cuma aku sama anak-anak. Malam pertama di Anyer, aku dan anak-anak sudah memeluk rindu. Shabrina kecil beberapa kali menyebut "Papa" tapi saat aku tanya balik katanya Papa kerja :) Si sulung Randy bilang, besok-besok kita ajak Papa ya ke pantai, Papa kan belum pernah :))

3 Hari 2 malam itu memang lama. Buktinya baru hari pertama aku sudah kangen sama kamu. Mungkin anak-anak mampu menutupinya dengan canda tawa ditengah lomba-lomba, renang bersama dan kegiatan lainnya.

3 Hari 2 malam itu akhirnya memeluk rinduku begitu dalam. Ah, cemen, baru 3 hari 2 malam, apa rasanya jadi istri yang ditinggal melaut, ditinggal tugas ke berbagai daerah atau negara. Yah, mungkin mereka memang sudah nasib alias sudah takdirnya. Tuhan tahu kok aku susah jauh dari kamu, Tuhan Maha Mengerti kalau kita sulit berjauhan, makanya diciptakan kamu untuk aku dan aku untuk kamu :)



2 Februari 2014
#Day2
#30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 01 Februari 2014

Dear Office...


Terima kasih untuk 3 hari 2 malam ini... 
Raker dan Family Gathering yang menyenangkan, capek, pusing dan seru. Senang bisa jadi bagian dari tim panitia pelaksana. 

Semoga tahun depan bisa ganti rute ke pulau lain atau negara lain :) aaamiiiin...                                  


1 Februari 2014                                                    
#Day1
#30HariMenulisSuratCinta

Kamis, 09 Januari 2014

Haruskah MeninggalkanMU?


Mungkin saya memang ditakdirkan untuk menjadi seorang istri penggila bola, khususnya MU. Disaat ujian dan cobaan datang menghampiri tim kesayangannya, manakala Opa Fergie berganti menjadi ayah Moyes. Semua kemenangan itu berbalik menjadi sebuah keterpurukan. Buat saya, semua pergantian masa selalu punya warna tersendiri. Dan kali ini ayah Moyes benar-benar memilih warnanya sendiri. Terlepas dari apa yang sebenarnya ayah Moyes inginkan untuk MU, saya lebih suka membidik orang-orang yang sudah menunggu lama moment jatuhnya MU. 2 Kekalahan beruntun diajang FA Cup dan semifinal 1st leg Capital One serta poin demi poin yang melorot di belakang sang pimpinan klasmen. Ih hebat jadi ngerti bola! Nggak saya ngintip dari detik :)))

Baiklah, kembali ke laptop. Kekalahan demi kekalahan itu ternyata bukan hanya berdampak untuk para pecinta MU. Contohnya saya (kayak lagu dangdut ya). Kenapa setiap saya ke kantor pakai tas MU pasti selalu saja ada orang yang melirik, menengok atau tersenyum sinis??? Hellooo...tas itu saya beli dari uang halal loh, seriusan deh... Apa karena ada tulisan dan logo MU? Ah, kasian... Kasian aja sama orang-orang kayak gitu. Pagi itu sambil menunggu lampu merah yang lama banget, saya langsung tanya ke orang itu, "Kenapa ya mas?" Mas itu tersenyum," kasian ya mbak, MU sekarang kalah terus." Sambil ia menyebutkan club kebanggaannya. Saya balik tersenyum. "Iya ya mas, saya sih lebih kasian sama mas, karena jaket bolanya baru bisa bikin bangga sekarang, kemarin-kemarin kemana aja? Kita udah sampe 20 loh." Terus saya langsung jalan karena lampu pas banget hijau. Puas? Nggak juga. Lega aja bisa nanggepin orang kayak gitu. Mungkin si mas itu kali yang merasa jleb banget. Saya cuma tersenyum kalau inget kejadian itu. Untunglah si mas itu nggak ngejar saya karena sakit hati, kalau iya pun saya bakal langsung arahin ke polres situ :)) Jujur, saya nggak gitu ngerti soal bola, paling cuma tahu sekilas-sekilas aja. Itu pun dari pengetahuan suami tercinta yang ngelotok banget soal bola dan olahraga. Anggaplah kata-kata saya tersebut cuma balasan dari emak-emak yang kesel karena diliatin kayak maling :)) Buat saya celaan, nyinyiran, sindiran soal MU sudah rutin saya dengar dari dulu.

Menjadi setia itu memang nggak gampang, tapi memilih MU untuk jadi club yang kita banggakan itu jauh lebih sulit. Apalagi untuk para pecinta baru. Galau banget pasti melihat permainan MU yang kalah lagi kalah lagi. Sementara club lain lagi asyik nampang di puncak klasmen. Berpindah hati atau tetap setia? Berat cooyy! Seperti halnya memilih MU sebagai club favorit, saya yakin Opa Fergie memilih ayah Moyes nggak cuma asal pilih. Toh Opa Fergie juga nggak langsung membawa MU sebagai juara kala itu? Yang menguatkan Opa Fergie justru para pendukungnya yang tak kenal lelah, istri, anak-anak, keluarga hingga para fans. Dibalik kesetiaan selalu ada cinta dan pelukan. Dibalik kesetiaan selalu ada pundak untuk bersandar saat lelah. Dibalik kesetiaan selalu ada tangan-tangan yang menghapus airmata kekecewaan. Bukan hanya untuk diam duduk di sampingnya. Dukungan terbaik itu saat jatuh, bukan saat kita di atas angin kemenangan.

Jadi, haruskah meninggalkanMU?
Haruskah mencabut semua atribut kebesaran dikala label juara jauh dari kita?
Haruskah mengganti semua kenangan disaat waktu sedang tak bersahabat dengan kita?

Ah, mungkin saya memang ditakdirkan menjadi seorang istri penggila MU. Bisa-bisanya saya nulis kayak begini? Ha? Ha? :)))


-Cheers-

Senin, 06 Januari 2014

Menjadi Nekaders J50K

J50K itu apa? Semacam lomba lari marathon? Lalu saya klik lah hastag tersebut. Jreng! Ternyata tantangan membuat novel selama 1 bulan. Tertarik? Pastilah! Tapi apa mungkin saya bisa? Dengan kerjaan kantor yang segambreng, kondisi di rumah yang hiruk pikuk sama anak-anak, mengurus suami dan lain-lain dan lain-lain... Baiklah, saya mencoba melihat ke belakang, nggak ada siapa-siapa hehee... Maksud saya, dengan pengalaman saya yang pernah menerbitkan sebuah novel melalui penerbit NulisBuku, saya mencoba melihat bagaimana saat itu saya bisa membagi waktu, pikiran serta tenaga untuk menulis. Padahal saat itu saya baru saja melahirkan anak ke-2, sibuk menyusui, kurang tidur dan sebagainya. Sampai tiba bulan September setelah lebaran dan melalui proses segala macam novel itupun terbit. Ya, dengan kesibukan full time mom selama masa cuti 3 bulan, saya justru bisa begitu gigihnya menulis. Heran? Apalagi saya?! Alhasil anak saya yang ke-2 ini suka sama buku, buku saya adalah favoritnya hahahaa.... 

Kembali ke pokok permasalahan, sok serius ya? Iya :) Jadi sebelumnya saya tahu Kampung Fiksi dari twitter. Alhamdulillah pernah menang kuis juga hehehe... Akhirnya saya nekad ikut J50K. Nekad banget emang! :)) Sebenarnya tujuan awal ikut J50K ini adalah mendisiplinkan diri, setelah berapa lama terlena dalam hal yang "entar deh" "gampanglah" "tinggal finishing kok" "males" "capek" dan seribu macam alasan yang nggak penting. Serius deh, saya butuh di "pecut" berulang kali soal disiplin waktu buat nulis. Harusnya, tahun lalu sudah bisa keluarin novel lagi lewat NulisBuku, atau kirim naskah ke penerbit ternama. Tapi itulah, semua malah jalan di tempat, bahkan malah "lumpuh" sesaat. Ikutan project-project nulis juga kayaknya seadanya banget :( menang nggak, menanggung malu iya hihihi...

Nekat ikutan jadi Nekaders J50K pasti punya bahan cerita bagus buat ditulis. Menurut saya sih iya bagus, karena kali ini saya nggak mau bertumpu pada soal cinta melulu. Berusaha untuk sedikit "loncat" dari zona aman, cerita pembunuhan berbalut sedikit mistis. Semoga saya bisa menuliskannya dengan seru :) Hobi nonton CSI dan ketertarikan saya pada cerita motif berdarah-darah. Buat saya, kalau TKP tanpa darah itu bukan TKP hehehe... Persiapan yang saya lakukan lumayan banyak, dari mulai lebih fokus sama serial-serial tentang pembunuhan dan sedikit mistis, banyak baca dan cari info tentang bagaimana pembunuhan terjadi, pelaku, motif serta bentuk TKP. Belum lagi persiapan mental kalau harus diketik tengah malam, suami dan anak-anak sudah tidur, hmmm... Susah ya? Banget! Tapi ya demi tulisan yang beda, perjuangannya juga harus beda ya :)

Hidup Nekad! :)