YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 31 Oktober 2013

Bakso Badut Milly


"Hey, kamu sebenarnya badut atau tukang bakso?" tanya Milly cekikikan sambil iseng memegang wig dan hidung badutku.

Aku hanya tersenyum. Milly adalah gadis cantik pelanggan setiaku sejak aku berkeliling jualan bakso badut di komplek ini. Untuk menarik pelanggan aku sengaja memakai kostum badut, tak masalah mereka tak membeli daganganku, yang penting aku bisa menghibur mereka. Sudah satu tahun aku berjualan bakso keliling, bukan karena orangtuaku tak mampu, tapi lebih kepada hasrat jiwa dagang yang mengalir di tubuhku hasil turunan dari Ibu tercinta. Ya, Ibuku seorang penjual nasi gudeg. Sebelum menetap di sebuah ruko pinggir jalan, beliau mengawali usahanya dari jualan berkeliling, sama seperti yang aku lakukan sekarang. Bedanya, aku menyelipkan berbagai atraksi yang biasa seorang badut lakukan. Dan Milly, ia selalu menunggu aku beraksi, seperti aku yang selalu menanti senyum dan tawa riuhnya.

"Kamu nggak terpikir punya warung bakso sendiri?" tanya Milly tiba-tiba.
"Pastinya, doakan saja," jawabku tersenyum.
"Kalau kamu sudah punya warung, aku ngelamar ya jadi karyawan," ujar Milly dengan mimik sok serius.
Aku tertawa mendengarnya.
"Kalau karyawannya secantik kamu, ya mending sekalian aku lamar aja," ucapku menggodanya.
"Hahahaha... Badut gombaaall..." Milly mengacak-acak wig di kepalaku dan melepasnya.

Milly, selalu saja banyak cerita dari bibir mungilnya, selalu saja ada tawa yang menghias di rautnya, selalu saja ada kata-kata indah sekaligus 'menyentil' dari mulutnya. Satu hal yang aku salut darinya, semangatnya yang tak pernah redup sedikitpun. Selama mengenal Milly, ia selalu jadi sosok penyemangat buatku, keceriaannya selalu mampu mengganti peluh dan letih saat aku mulai capek berjualan sambil kuliah.

"Kalau kamu seorang badut, kamu nggak boleh hilang semangat, badut itu ceria," ucapnya suatu kali padaku.

Milly benar, aku memang nggak boleh hilang semangat sedikitpun. Bahkan Milly yang sedang sakitpun tak pernah murung memikirkan sakitnya. Ya, Milly seorang penderita kanker. 

---
Siang ini aku tak melihat Milly keluar dari pagar rumahnya, tidak menyambutku seperti biasa. Pikiranku jadi agak kalut. Ya Tuhan, apa yang terjadi sama Milly? Aku duduk terdiam di depan rumahnya, mbak Harni keluar sambil membawa mangkok.

"Milly kemana ya, mbak?" tanyaku sambil membuatkan semangkok bakso.
"Non Milly lagi ke rumah sakit, tadi cuma titip beli bakso aja, memang mas Bagas nggak tahu?" ujar mbak Harni.
"Kamu yang namanya Bagas?" tanya seorang wanita dari balik pintu pagar.

Mbak Harni langsung menyelinap masuk begitu tahu sang ibu majikan berada di dekat pintu.
Aku tersenyum sambil mengulurkan tangan dan berkenalan dengannya. Wanita itu adalah mamanya Milly, sama cantiknya seperti Milly. 

"Bisa masuk sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan. Milly sedang terapi di rumah sakit, kamu tahu kan tentang penyakitnya?" ia lalu mengajakku ke salah satu ruangan.
"Sejak kecil Milly sangat suka sama badut," ia membuka pintu kamar Milly.

Aku terperangah menatap sekeliling ruang kamarnya. Dinding, hiasan meja rias, lampu kamar, sprei hingga tirai jendela semua dipenuhi atribut badut. Sebuah boneka badut berukuran besar terletak di sudut kamar. Begitu cintanya Milly terhadap badut.
"Milly anak yang sangat ceria, nggak pernah putus asa bahkan saat dokter memvonisnya kena kanker, justru ia yang memberi kami semangat untuk nggak sedih apalagi kecewa dengan hidup ini," ia tersenyum menceritakan tentang anak perempuannya.
"Hidupnya semakin penuh semangat dan harapan ketika mengenal kamu, tak hentinya ia bercerita soal kamu, badut dan dagangan baksomu. Padahal ia tak pernah sedikitpun menyantapnya. Ya, Bagas, semangat itu datang dari kamu dan bakso badutmu," ia menambahkan.
Aku tertegun tak mengerti harus berkata apa. Selama ini aku berpikir bahwa akulah yang selalu diberi semangat dan harapan baru oleh Milly, bukan sebaliknya.

---
"Tok..tok..tok..." 
Bagas membuka pintu tapi tak seorangpun ada.
"Halo! Kok belum siap-siap untuk keliling? Dasar pemalas! Ayo sana siap-siap!" wajah Milly muncul dibalik pintu.
Bagas terkejut lalu tertawa melihatnya.
"Milly? Ngapain pakai baju badut?" ucapku sambil menahan tawa.
"Kok ngapain? Ya mau nemenin kamu jualan dong," sahutnya cepat.
"Hah? Serius? Aku lama loh kelilingnya, nanti kamu capek," ujarku.
Milly menggeleng kepalanya. Ia tetap pada pendiriannya untuk ikut berjualan bersamaku.
"Nanti kamu jualan aja, biar aku yang atraksi," ucap Milly bersemangat.
"Kamu? Memangnya bisa?" tanyaku ragu.
"Atraksiku pasti lebih keren dari kamu," ia meledekku.

Aku tertawa melihat sikapnya. Ditengah sakitnya tak secuilpun aku melihat ia mengeluh. Bahkan dengan sigap ia membuat suasana menjadi ramai, daganganku laku dibeli orang. Bocah-bocah berkumpul sambil tertawa terkekeh, sesekali mengikuti gerakannya beratraksi. Ia benar, atraksinya memang lebih memukau daripada aku. 

"Gimana daganganmu, laris nggak?" tanya Milly penasaran.
Aku terdiam menatapnya sesaat.
"Laris manis berkat cewek manis!" aku setengah berteriak.
"Wuhuuu...!"
Milly ikut berteriak lalu memelukku. Aku langsung terdiam.
"Eh, sori, sori.." ia melepaskan tangannya agak gugup.

Aku tersenyum sambil mengacak-acak wig-nya. Milly tersipu. Baru kali ini aku melihat wajahnya memerah. Aku mengambil hidung badutnya, menatap wajahnya yang penuh rias.

"Badut Bagas boleh suka sama badut Milly? Boleh sayang sama badut Milly?" ucapku pelan.

Milly langsung beraksi layaknya badut. Mengeluarkan kode-kode agar aku menebaknya, menebak isi hatinya tepatnya. Aku tertawa sambil membalas gerak-geriknya. Keadaan kami seperti sedang beraksi di depan khalayak ramai. Membiarkan tubuh kami menari, sedikit berpantomim, beraksi konyol dan tanpa sadar banyak orang tertawa menonton pertunjukkan kami. Lalu aku mengeluarkan beberapa trik sulap, mengubah coklat cair menjadi sebuah coklat utuh berbentuk hati dan memberikannya pada Milly. Tubuh kami begitu dekat, hati kami terikat, tak berbeda dengan rindu dan cinta kami yang kian melekat.

"Aku juga sayang kamu, Gas. Besok kita dagang bakso bareng lagi ya?" ucap Milly sambil mengerlingkan mata kirinya.

Ah, Milly... Kamu badut paling cantik yang luar biasa untukku...





PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1