YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 31 Oktober 2012

Bakso Gerobak Bang Yusuf

"Kamu tahu nggak apa yang bikin kangen setiap kali aku mudik ke tempat ini?" tanya Amanda padaku tersenyum.
"Apa?" tanyaku balik.
"Bakso," jawab Amanda cepat.
"Bakso? Bakso di Jakarta juga banyak, dari bakso sebesar gundu sampe sebesar bola basket juga ada di Jakarta," kataku meledeknya.
"Eits, jangan salah, bakso bang Yusuf ini dijamin enak dan sehatnya sejagad raya, bikinan rumahan yang bahan-bahannya nggak ngebohong," ujar Amanda membanggakan bakso andalannya.

Lalu kami berputar arah sesuai petunjuk Amanda menuju tempat mangkal bang Yusuf. Setengah jam sudah kami mengitari tempat ini tapi bakso gerobak bang Yusuf tak juga kelihatan menetap disudut jalan. Amanda masih serius mencari-cari dimana kiranya bakso bang Yusuf berada. Tapi yang kami lihat malah sederetan warung lesehan memenuhi jalan ini. Setengah jam kami berputar-putar mengelilingi jejeran warung lesehan namun nihil, gerobak bakso bang Yusuf tak nampak sedikitpun.

"Pak, mau tanya, dulu saya pernah langganan bakso di sekitar sini, bapak tahu nggak kira-kira pindah kemana?" tanya Amanda pada seorang Bapak tukang sapu jalanan.
"Walah mbak, bang Yusuf meninggal sebulan yang lalu karena kecelakaan, kasihan mbak, ditabrak bis wisata yang rem nya blong pas lagi jualan," ujar bapak tua itu menjelaskan.

Amanda terkejut mendengar ceritanya, aku tak kalah kaget mengetahui kejadian yang mengenaskan tersebut.



#15HariNgeblogFF

Selasa, 30 Oktober 2012

Hujan Akhir Oktober

       Perempuan itu berlari kecil di persimpangan jalan, hujan rintik-rintik mulai turun dan lampu lalu lintas belum juga berubah menjadi hijau. Setelah ini ia pasti masuk menuju warnet, menggantungkan mantelnya, menuju tempat favorit-nya di sudut warnet dekat jendela lalu memesan susu putih hangat. Selalu seperti itu, dan aku mulai menghafal hampir setiap gerak-geriknya. Aku tak berusaha sedikitpun menculik perhatiannya demi sebuah perkenalan ataupun pertemanan. Bukan karena aku tak tertarik dengan perempuan unik dan manis sepertinya, tapi mungkin belum ada hujan yang tepat untukku mencari celah pertemuan. Hujan pagi hari, siang hari ataukah sore hari.
         Hari demi hari menjadi Oktober yang kian manis untukku. Pagi itu tiba-tiba hujan turun begitu lebatnya hingga semua orang terlihat berlari menepi untuk berteduh. Tapi kamu masih berdiri di perrsimpangan jalan dengan pasrah. Entah mengapa aku tergerak membawakan payung hijau toska itu untukmu. Sedikit berlari aku menuju persimpangan jalan tempatnya berdiri.

"Pakai payungku saja," kataku tersenyum menyodorkan sebuah payung.
"Terima kasih," jawabmu sambil jalan berbarengan menuju warnet.
"Sebenarnya sudah terlanjur basah juga, tapi terima kasih sudah meminjamkan payungmu," katamu kemudian.
"Setidaknya kamu tak basah kuyup, di dalam warnet dingin nanti kamu bisa masuk angin," aku memberi alasan.

Entah itu alasan atau bentuk perhatian kecil, tapi perempuan itu tersipu malu mendengar ucapanku. 

"Namaku Astri, namamu siapa?" tanya perempuan itu padaku.
"Namaku Bimo," sahutku cepat.

Setelah itu kami berdua seperti selalu menantikan hujan. Menatap setiap rintiknya dari balik jendela warnet saling membalas obrolan kami di sebuah situs. Padahal tatapan kami seringkali bertemu, entah senyum, tawa atau sekedar ledekan. Sampai suatu saat Astri tak kunjung hadir di warnet ini, tak juga di persimpangan jalan menunggu lampu hijau berganti merah. Aku mencoba memesan minuman andalannya, susu putih hangat. Pojokan warnet itu sekarang telah kosong, sesekali terisi namun bukan Astri. Kuteguk susu putih hangat sebagai pelipur rasa rindu ini pada Astri. Lalu aku mencoba berpindah ke pojokan favorit Astri, menatap hujan di akhir Oktober dari jendela warnet. Tanpa sadar, Astri telah menatapku terlebih dahulu dari luar jendela warnet, tersenyum menunduk dan berlalu dipelukan seorang lelaki tua. Aku termangu...



#15HariNgeblogFF

Maukah kamu....

"Kami bertemu di sebuah reuni sekolah, padahal kami dulu tak saling kenal, Ray mengajak berkenalan ketika aku sedang duduk menikmati musik. Saat itu obrolan kami langsung dekat, seolah kami telah mengenal sebelumnya. Lalu Ray mengajakku berdansa," Shaira bercerita sambil tersenyum memandang Ray.
"Maukah kamu, berdansa denganku? Saat itu mungkin kata-kata itu begitu norak didengar untuk jaman sekarang," Ray menambahkan sambil tertawa menggenggam tangan Shaira.
"Dan kami dekat, bersahabat lalu berpacaran. Tak butuh waktu lama bagi kami memupuk rasa cinta ini menjadi semakin besar dan semakin besar, aku ingin ini menjadi selamanya, lalu..." Shaira meneruskan ceritanya dan berhenti sebentar menatap Ray.
"Maukah kamu menikah denganku? Menjadi ibu dari anak-anakku? Maukah kamu menjadi sahabat terbaikku sepanjang masa dengan penuh cinta?" Ray mencoba membantu Shaira meneruskannya.
"Lalu kami menikah tepat setelah hujan berakhir dan disaksikan pelangi, hanya keluarga terdekat dan sahabat, kesederhanaan yang romantis," Ray memeluk Shaira erat.

Aku tertegun memandang cerita pasangan yang sudah tak lagi remaja, bahkan nyaris termakan usia. Mereka masih sibuk bermabuk cinta, masih saling menggali cinta yang tak pernah usai, masih saling berpegangan tangan dalam ketidak sempurnaan. Tak nampak ego yang saling menjulang tinggi, hanya aura cinta yang kuat terlihat.



Train - Marry Me
#FF2in1

Arinda

        Tak ada manusia yang sanggup menolak sebuah kesempurnaan cinta. Apalagi dari wanita sepertimu, Arinda. Kupikir dulu kehadirannya hanyalah sebuah bumbu kesepian hidupku, tapi aku salah. Aku salah besar. Ketulusan Arinda akan cinta ini membuatku sadar dan merasakan apa itu cinta yang sebenarnya. Arinda adalah wanita yang tanpa aku duga mampu menepis semua kesenduanku. Entah bagaimana hidupku tanpa Arinda, karena jiwa yang pernah redup tanpa hiasan bunga ini sekarang menjadi penuh bunga, lebih indah dan lebih berwarna. 
        Arinda, ia akan selalu menjadi yang terbaik untukku, janji untuk menutup semua pintu hati ini mungkin tak ia gubris. Karena Arinda begitu tulus membawa cinta ini, utuh tanpa cela. Aku masih menatapnya dari kejauhan, tersenyum melihatnya bermain air pantai. Senyum Arinda, senyum itu yang tak pernah pudar dari rautmu yang secantik embun pagi. Aku selalu merindukan senyum itu. 
Arinda, terima kasih telah merangkulku dengan rindumu, telah memelukku dengan cintamu.... 





Adera - Lebih Indah
#FF2in1

Senin, 29 Oktober 2012

BISIKAN RINAI

       Berada di dalam Trans Jakarta atau yang biasa disebut sebagai busway, adalah pengalaman pertama bagi bocah perempuan berusia 4 tahun ini. Hanya kegembiraan dan keriangan yang terpancar di wajahnya. Sesekali memandang antusias jejeran gedung-gedung tinggi atau tempat-tempat bersejarah. Ia tahu tempat bersejarah dari cerita sang Bunda sepanjang perjalanan. Sang Bunda berjanji akan mengajaknya ke tempat-tempat tersebut bulan depan sekalian mengenalkan Monas padanya. Melewati patung kuda di dekat Monas, bocah manis itu mendongakkan sedikit lehernya, mencoba melihat sebuah iringan patung kuda. Siang itu hujan cukup deras, rinai hujan menjadi pemandangan kedua dari sekian tempat yang menarik perhatiannya. 
           Tak lama seorang ibu muda masuk dengan sedikit perjuangan, berusaha untuk tidak jatuh diantara penumpang lain, berpegangan erat pada sebuah gantungan, sambil menjaga perutnya yang sedang hamil besar. Parahnya, tidak seorangpun tergerak memberikan tempat duduk untuk si ibu hamil. Bocah perempuan sibuk mencolek-colek sang Bunda yang tertidur, dari pangkuannya. Sang Bunda tetap terdiam. Lalu ia menyandarkan tubuhnya pada sang Bunda.

"Bunda, bunda, kita berdiri aja yuk, kasih bangkunya buat tantenya, kasihan tantenya sama ade bayinya," bisiknya pada sang Bunda.

Sang Bunda segera bangun menyadari bisikan bocah mungilnya, memberikan bangkunya pada si ibu hamil untuk duduk. Si ibu hamil tersenyum sambil duduk dan mengucapkan terima kasih.

"Siapa namamu, anak cantik?" tanya si ibu hamil tersenyum.
"Rinai," sahutnya cepat membalas senyum si ibu hamil.

Sang Bunda hanya tersenyum, berdiri sambil memeluk Rinai, bisikan Rinai di siang hari ditengah rinai hujan yang begitu manis. Bunda tak menyangka bocah kecilnya sudah mampu bersikap seperti tadi.





#15HariNgeblogFF

Saya dan 10 tahun lagi

      Yang pasti terjadi di 10 tahun ke depan adalah umur saya udah kepala 4 (okeh tuir) :) Tapi yang menyenangkan mutlak adalah menyaksikan pertumbuhan anak-anak, RAF dan SAF. Kalo ngobrolin 10 tahun ke depan itu artinya umur mereka sekitar 14 tahun dan 10 tahun. Abang SMP dan ade masih SD, oh can't wait that moment :) Nggak tahu gimana sikonnya tapi mungkin lagi ribet ngadepin anak abg yang sibuk berperang melawan ego dan mencari jati diri hahahaaa.... Dan itu pasti jadi cerita seru tersendiri. Emak-emak kayak saya, yang dulu juga berargumen dalam pencarian jati diri di masa abg, udah harus siap ngadepin abg sendiri hohoho.... Ngadepin abg sama ngadepin cewek kecil umur 10 tahun yang entah nanti lagi booming soal apaan. Bakal jadi beda penanganan ya hehehe... Papanya ngurusin abangnya yang mentas jadi abg, bundanya ngurusin cewek kecil yang mungkin mulai banyak nanya kenapa abangnya diomelin :p
      Satu hal yang menjadi passion saya semoga kejadian di 10 tahun ke depan. Bekerja dari rumah, sibuk nulis dan menghasilkan buku yang bagus-bagus :) amiiinn.... Bisa kerja sambil ngurus anak-anak, suami udah punya usaha sendiri. Sekarang tinggal kuat-kuat gali modal buat 10 tahun ke depan hahahaa.... Asli deh, saya pengen banget liat anak-anak besar dengan tangan saya sendiri sebagai ibu mereka, bukan dengan pembantu. Itu beda banget rasanya. Ikut melihat proses mereka dari hari ke hari. Cita-cita jangka panjang selalu ada, dan itu masih soal menulis dan buku. Pengen banget punya toko buku atau perpustakaan  tapi nggak kayak konsep sekarang ini. Yang udah ada, buku selalu bertemu kopi. Saya malah selalu pengen punya perpus atau toko buku dimana aja. Saya mau buku juga bisa deket sama minuman yang seger-seger,  nggak selalu kopi, bisa erat sama sajian seperti pasta, kwetiau, atau bakso dan somay. Buat saya menulis nggak harus ditemenin kopi, bahkan saya lebih suka susu putih anget, kadang-kadang malah es krim, atau sambil nyeruput sop buah :) Dan nggak semua tulisan bermula dari kehangatan kita dengan kopi. Itu menurut saya loh. Terkadang konsep mewah suka bikin orang enggan masuk di dalamnya, dan tak jarang konsep mewah malah bikin orang jadi malas menambah ilmu. Karena yang terjadi sekarang orang lebih suka konsep kafe, ngetik sambil begaya dengan cangkir kopinya. Jujur, dulu sebelum nikah saya pernah kayak gitu, mejeng di kafe, nulis tapi malah nggak konsen. Kopi mahal udah abis disruput, tulisan nggak selesai. Tapi pas lagi di roti bakar biasa, semua tulisan malah lancar, nggak pake kopi, malah pake jus alpukat. Ini saya yang ndeso kali ya hahahaha.... Tapi beneran loh, itu cita-cita saya banget, mungkin nggak bisa cepet terwujud tapi semoga bisa.
       10 tahun lagi, mungkin saya sedang menikmati rumah impian saya dan suami :)  Rumah sederhana, pekarangan luas, nggak bertingkat. Punya ruang perpus dan menulis untuk saya, dan ruang untuk nonbar bola, wuhuu...seru yaa! :) Rumah apa coba yang sederhana punya perpus ama ruang nonbar? Hahahahahaaa... Yah namanya juga impian hehe... 10 tahun lagi, itu artinya usia pernikahan saya dan suami 15 tahun, wooww...semoga kami semakin saling menguatkan, makin saling sayang. Dan semoga anak-anak selalu sehat, pintar-pintar, sholeh dan sholehah, membanggakan keluarga selalu :) 10 tahun lagi, apakah orangtua kami masih ada ya? Biar mereka bisa ikut merasakan hasil kerja keras kami, anak-anak yang telah mereka didik dengan baik....




#Ngeblograme2

Minggu, 28 Oktober 2012

Sumpah di Dadaku

      Ada kagum teramat dalam yang tersirat dari wajah Rico pada sang kakek saat menatap nisannya. Di hari pahlawan ini Taman Makam Pahlawan begitu ramainya. Pejabat dan petinggi negeri ini menjadi pemandangan yang biasa di makam ini. Rico lalu bercerita bagaimana hebatnya sang kakek di masa penjajahan, dan ia tak pernah bosan kala sang kakek menceritakan tentang masa mudanya. Bahkan setiap malam dongeng sang kakek tentang jaman perang menjadi dongeng yang ditunggu-tunggu Rico. Hampir setengah dari hidup yang Rico jalani adalah berkat kasih sayang sang kakek. Ibunya telah tiada sejak Rico berusia 5 tahun, sedangkan ayahnya harus bekerja di negeri orang di sebuah lepas pantai dan pertemuan dengan ayahnya hanya bisa dihitung waktu. Maka sang kakek adalah sosok yang sangat ia hormati dan cintai. 
     Menjadi bocah berusia 5 tahun tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Rico sangat bergantung pada sang kakek. Ia mungkin tak bisa menggantikan sosok ibu apalagi berperan sebagai ibu, namun sang kakek selalu ada disaat Rico menangis merindukan ibu, merintih memanggil ibu dan tersenyum bertemu ibu di mimpinya. Kakek mengajarkan Rico tentang hidup, berjuang, belajar dan bersikap sebagai laki-laki sejati. Selalu ada airmata di setiap liku hidup, pejuang sekalipun, ucap sang kakek. Dan kakek tak pernah berusaha memarahinya saat Rico bersedih. Ia memahaminya. Bukan airmata yang membuatmu lemah, namun perjuangan setelah airmata itu keluar dari matamu, akan menjadi layak atau hanya terbuang sia-sia? Kata-kata itu selalu terkenang dibenak Rico hingga sekarang ini. 
      Hal yang tak mungkin aku palingkan dari sikap Rico adalah caranya menghargai perempuan, dan itu ia dapatkan dari sang kakek. Sampai saat ini, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri buatku tentang Rico. Selama 5 tahun kebersamaanku dengan Rico, tak secuilpun ia pernah mencoba menorehkan luka di hatiku. Menurutnya dengan cinta yang kami punya sebanyak ini, kami tak boleh menyia-nyiakannya. Aku sempat mengenal kakek, waktu itu usia pacaran kami masih seumur jagung dan kakek sudah terlihat sangat sepuh. Tapi satu yang aku kagum, ia tidak pikun. Katanya karena ia terbiasa menulis dan hobi membaca sejak remaja. Hebat! Dan saat kakek harus berpulang, tak lama setelah kami berkenalan. Seolah pesan dan ucapan kakek sebelum ia pergi menjadi sumpah tersendiri di dadaku. Ya Kek, aku akan menjaga cucumu dengan baik. Rico merangkulku  penuh cinta sambil tersenyum menatap nisan sang kakek.




#15HariNgeblogFF

Sabtu, 27 Oktober 2012

DANDELLION

       Natali memasuki sebuah toko bunga, mengamati berbagai jenis bunga yang terdapat di dalam toko bunga ini lalu mengernyitkan dahinya. Sekali lagi ia mengitari ruang di dalam toko bunga ini namun raut kebingungan semakin terlihat. Sang pelayan toko bunga mencoba membantunya, menanyakan jenis bunga apa yang ia cari, namun Natali hanya tersenyum. Lalu ia meraih sebuah mawar putih dan memberikannya pada sang pelayan toko bunga. Ada ketidakyakinan pada dirinya mengapa ia memilih bunga mawar putih. Ragu-ragu langkahnya keluar dari toko bunga, dan memilih duduk di sebuah bangku kecil untuk sementara waktu. Setengah jam sudah ia duduk terdiam di depan toko bunga memegang seikat mawar putih. Menangis sambil menelepon seseorang. Tak lama seorang pria blasteran Indo-Jepang datang menghampirinya, memeluknya erat penuh cinta.

"Aku tak menemukan dandellion," ucapnya dalam tangis.
"Natali, sudahlah, Tanpopo tak peduli kamu datang membawa dandellion atau tidak, ia hanya butuh kehadiran kamu," jawabnya meyakinkan Natali, istrinya.
"Tapi Popo sangat suka dandellion, ia pasti rindu meniupkan setiap parasut-parasut berbulu indah," ucap Natali lirih.
"Popo kecil yang sangat lucu menyenangkan, sama seperti dandellion yang selalu menyenangkan. Kamu ingat, setiap kita ribut Popo selalu menjadi penyambung rindu kita untuk berbaikan. Sekarang biarkan Popo dengan dunianya yang baru, biarkan ia tersenyum bangga melihat kita, Popo cuma butuh doa kita yang tak pernah putus kita ucapkan," ujarnya tersenyum menenangkan Natali.
"Tanpopo, mama kangen..." kata-kata Natali menerawang.

Tanpopo kecil, di usianya yang masih 3 tahun harus kalah dengan penyakit kanker-nya dan menjadi penghuni surga.




#15HariNgeblogFF

Kamis, 25 Oktober 2012

Beras Merah

       Pasar tradisional pukul 09.00 pagi ini, kesibukannya nggak kalah sama pegawai-pegawai kantoran di kota-kota besar. Tukang sayur, tukang ayam potong, tukang daging, sampai toko kelontong di pasar ini semua berlomba menjajakan dagangannya dengan suara riuh. Namaku Yudo, hobiku fotografi, sengaja pagi ini aku membawa kameraku ke pasar tradisional ini mencari model-model dadakan dan alami. Bakul jamu yang dipanggul dengan tegarnya, ayam-ayam yang ribut berkokok menanti waktu pemotongan, penjual kelapa yang bergantian memasukkan butiran kelapa ke dalam mesin parut, tukang beras yang menata dan mengangkat karung-karung beras untuk dijual.

"Ini semua berasnya pesanan ya bang?" tanyaku pada si penjual beras merah sambil mengamati karung-karung yang baru saja diangkatnya dari dalam toko.
"Heh, sembarangan aja manggil 'bang' ," sahutnya cepat menatapku.

Dibukanya topi yang menutupi wajah dan rambutnya yang tergelung dalam topi, tergerai...cantik...
Aku takjub memandangnya, tak kusangka ada makhluk cantik ayu di pasar tradisional sekumel ini. 

"Eh, aduh, maaf, aku kira kamu bukan perempuan," ucapku terbata-bata.
"Kamu bukan orang sini ya?" tanya perempuan muda itu.

Aku mengangguk cepat sambil tersenyum lalu mengarahkan kameraku pada wajahnya. Ia setengah menangkis, menolak untuk difoto. Aku tersenyum tak jadi membidik wajah cantiknya. Aku tak mau memaksa, dari pada nantinya terjadi keributan di pasar ini. 

"Kamu wartawan?" tanyanya sambil mengamatiku.
"Bukan, ini hanya hobi saja," jawabku.
"Boleh aku tahu nama kamu?" aku balik bertanya.
"Canting," sahutnya sambil mengulurkan tangannya.
"Yudo," balasku.

Tak lama seorang wanita setengah tua menghampirinya.

"Nak Canting, persediaan beras merahnya habis, ibu-ibu masih ramai menunggu di posyandu," katanya agak tergopoh-gopoh.
"O iya bu, biar saya siapkan dulu ya, nanti saya menyusul kesana, nggak lama," jawabnya sambil segera menutup toko.
"Loh, tokonya kan baru buka, kenapa kamu tutup?" tanyaku bingung.
"Masih ada yang lebih penting," sahutnya cepat.

Lalu Canting menuju parkiran mengambil sepedanya, aku masih mengikutinya dan ikut mengambil sepedaku. Sekilas aku lihat ia tersenyum. Mungkin ia bingung untuk apa aku mengikutinya. Kami sampai di sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang cukup luas. Rumah yang asri dan sejuk sekali. Aku lihat ia dengan sigap menyiapkan sebuah makanan, mencuci beras, memotong sayuran dan merebusnya. Tak lama kemudian beras merah telah menjadi nasi pulen yang hangat. Canting menatanya dalam sebuah rantang besar. Sejak awal ia mulai memasak aku sibuk mengabadikan semuanya dengan kameraku. Ini hal yang tak boleh aku lewatkan begitu saja. Canting dengan sigap mengayuh sepedanya menuju posyandu. Ibu-ibu menyambutnya dengan antusias. Yang lain membantu Canting membagikan nasi beras merah dan bubur beras merah untuk para bocah-bocah di posyandu ini. 

"Terima kasih bu dokter," ucap seorang ibu muda menggendong anaknya yang berusia 1 tahun.

Canting mengangguk tersenyum sambil membelai anak ibu muda tersebut. Aku malah yang terperangah kaget melihat semua ini. Jadi, Canting seorang dokter? Penjual beras merah itu seorang dokter?

"Aku mau balik ke pasar, mau buka toko lagi, kamu mau ikut?" pertanyaannya membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya iya, aku ikut," jawabku meraih sepeda.



#15HariNgeblogFF

Rabu, 24 Oktober 2012

Tukang Balon

      Menunggu adalah sesuatu yang paling menyebalkan menurutku. Apalagi sore ini taman kota terlihat cukup ramai, banyak orangtua yang membawa anak-anaknya bermain menikmati suasana taman kota, belum lagi abg-abg yang asyik berkumpul sambil bernyanyi-nyanyi dengan beberapa alat musik, ada juga yang bercanda tawa dengan pasangannya. Sedangkan aku, aku diam sendiri duduk di bangku taman sambil mencoba mencari kesibukan dengan memainkan telepon genggamku. Rayi kemana sih, lama banget? Aku mencoba menghubungi telepon genggamnya namun tak ada jawaban, entah masih di jalan atau masih tidur di rumah. Ayolah Ray, jawab teleponku, kita nggak boleh melewatkan kesempatan ini, gumamku dalam hati.
         Aku mengamati sekelilingku, tukang martabak mini, tukang es goyang, tukang ketoprak, tukang minuman, tukang mainan, semua sudah sibuk menjajakan dagangannya. Mungkin mereka telah siap sedia sejak pagi tadi, karena minggu pagi taman kota juga ramai dengan orang-orang yang berolah raga. Ini akan menjadi project pertama kami, tapi Rayi malah tak tepat waktu sesuai perjanjian. Sengaja kami memilih taman kota karena tempatnya yang tak terlalu sesak seperti di pasar tradisional. Percobaan pertama ini tidak boleh gagal, aku dan Rayi telah mempersiapkan sematang mungkin.

"Kinar! Bantuin dong!" seseorang berteriak memanggil namaku.
"Tunggu! Lama banget Ray, telat 15 menit nih," aku setengah berlari menghampirinya.
"Ternyata gowes dari rumah ke taman kota bawa tabung butuh perjuangan banget Nar, belum lagi ada tanjakan aku harus dorong sepedanya," Rayi lalu duduk beristirahat.
"Ya udah nih minum dulu, semangat Rayi, demi project kita," aku tertawa sambil menyodorkan minuman dingin.
"Eh ramai juga ya, kita mulai aja yuk, keburu magrib nanti," ujar Rayi.

Lalu Rayi langsung mengeluarkan balon-balon dan menyulutkannya pada mulut tabung gas menjadi balon besar berbentuk lucu. Tak lama balon-balon telah terkumpul banyak dan para peminat mulai berdatangan. Project pertama yang lumayan sukses sepertinya, menjual balon demi membantu pak Lesman si tukang balon keliling yang sedang terbaring sakit.

"Ih, tukang balonnya ganteng banget nih," ucap salah seorang ibu muda tersenyum menggoda Rayi.

Aku dan para pembeli balon tertawa mendengarnya, Rayi hanya tersipu malu.




#15HariNgeblogFF

Senin, 22 Oktober 2012

Nomor Punggung 16

       Kota tua selalu punya daya tarik tersendiri pada setiap sudut ruangnya, dari sejarahnya sampai kisah dibaliknya. Buat aku kota tua Jakarta tak pernah habis untuk diceritakan pada anak cucu kita nantinya. Yang patut disayangkan apabila tempat-tempat bersejarah di kota tua ini harus berjuang sendiri melawan aturan-aturan yang berdasarkan ego, dimusnahkan, dirubuhkan dan dihilangkan. Aku berjalan menyusuri sebuah gedung bersejarah yang terletak di Jalan Pos No. 2, Jakarta Barat ini. Memasuki sebuah museum Seni Rupa dan Keramik yang dibangun sejak 12 Januari 1870. Beberapa rombongan anak-anak Sekolah Dasar ramai berkumpul di depan pintu masuk museum. Persis seperti aku di jaman sekolahku dulu. Lalu kami semua masuk bersama sambil mengikuti pemandu wisata museum tersebut. Aku memperhatikan tiap ruangan dengan antusias. Sesekali tak mengikuti arah sang pemandu wisata. Tiba-tiba aku seperti merasakan ada sesuatu berlalu dengan cepat disudut mataku. Entah apa. Aku mencoba tak peduli. Tak lama bayangin itu muncul lagi di depan mataku, berbarengan saat aku sedang serius memperhatikan sebuah keramik tua. Sepertinya aku sudah harus waspada tentang bayangan tadi.

"Pak, pernah lihat yang aneh-aneh di gedung ini? tanyaku pada pemandu wisata.
"Sering mbak, kita sudah biasa, memangnya ada yang menggoda mbak ya?" jawabnya.

Aku hanya tersenyum.

"Disini kebanyakan penampakan jaman Belanda mbak, tapi ada juga yang orang pribumi karena dulu gedung ini sempat juga dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan asrama militer TNI," ujarnya menambahkan.
"Kalo atlet pelari ada nggak Pak?" tanyaku lagi.
"Ooo.. jadi mbak ini digoda sama si pelari itu toh? Entah dia pelari atau bukan, tapi mungkin salah satu dari tentara KNIL atau TNI, ya mungkin meninggal saat sedang berlatih militer ditempat ini. Nomor punggung 16 bukan?" sang pemandu wisata menjelaskan dan menebak sosok yang aku lihat sambil tertawa.
"Nah, iya Pak, tepat sekali," sahutku cepat.




#15HariNgeblogFF



WILLY SAGNOL

      Manusia jenis apa yang menolak tugas meliput berita ke luar negeri? Terutama Perancis. Bahkan 2 teman kantorku Keyla dan Ajeng meleleh setelah mendengar daerah penugasanku berikutnya ini. Aku menolak keras. Mereka iri teramat sangat. Tapi pengalaman sekolah yang kuukir di Perancis ternyata malah semakin memperkuat alasan penugasan ini dibanding sikap penolakanku pada mister big boss. Pasrah, terima nasib. Benar kata Ajeng, harusnya aku senang karena mungkin hal ini bisa jadi kesempatanku untuk reuni dengan teman-teman disana. Tapi itu artinya aku juga harus siap 'reuni' dengan masa laluku tentang Brian. No, ini bukan soal cinta, tapi sebaliknya, kebencian teramat dalam.
       Aku berdiri di depan Shakespeare & Co, sebuah toko buku kecil yang terletak di kota Paris. Toko buku yang pernah menjadi latar film "Before Sunset" dan "Midnight in Paris" ini memang termasuk toko buku bersejarah yang banyak dikunjungi wisatawan penikmat buku. Tak begitu luas, tapi memiliki atmosfer yang berbeda saat berada di  dalamnya. Memasuki Shakespeare & Co seperti ikut menjadi bagian dari sejarahnya, itu menurutku.  Dan ikut menjadi bagian dari kisah kebencianku terhadap Brian, salah seorang mahasiswa yang juga berasal dari Indonesia. Sejak dulu aku perempuan penggila bola, dan tim Perancis menjadi tim kecintaanku selamanya, bukan karena si botak Zidane tapi lebih pada Willy Sagnol. Semua berita tentang Willy Sagnol aku bundel dengan rapi menjadi 1 buku. Saat itu aku menitipkan buku kumpulan Willy Sagnol pada toko buku ini, tapi Brian menghancurkan semua jerih payahku. Ia sainganku di kampus, nilai-nilainya selalu bertukar posisi padaku di tingkat paling baik. Dan aku tahu ia tak menyukai bola. Sengaja ia meminjam buku Willy Sagnol, lalu melenyapkannya! Yup, ia menghilangkan buku terbaikku... Menggantinya dengan apapun tak bisa menutupi sakit hatiku padanya. Lalu ia hanya meminta maaf ditengah amarahku yang memuncak dan pergi tanpa kabar atau niat baik apapun. Gila!
      Hilangnya buku Willy Sagnol praktis membuat mood belajarku menurun, dan Brian tertawa puas melihat kekecewaanku. Namun aku tak gentar oleh sikapnya, hari demi hari aku berusaha keras mengejar nilai-nilaiku yang merosot hingga akhirnya lulus dengan nilai sempurna. Brian semakin jengkel padaku. Aku kembali ke Jakarta dengan puas tanpa peduli perasaannya dan bagaimana hidupnya setelah aku mengalahkannya.

"Prita...!" seseorang memanggilku.
"Apa kabar? Senang bisa bertemu denganmu disini," ucapnya tersenyum.
"Brian? Ya, aku baik," sahutku agak terkejut melihatnya.
"Ini...mungkin buku ini masih kamu perlukan, aku minta maaf mungkin karena buku ini kita tak pernah saling mengenal dengan baik. Entah kenapa aku yakin kamu akan kembali kesini makanya aku sengaja tak mengembalikannya," Brian memberikan sebuah buku padaku.
"Ya Tuhan, buku Willy Sagnol-kuuu....! Thanks yaa!" aku tersenyum sumringah dan spontan memeluknya.
"Eh, sori..sori..." aku langsung melepaskannya saat mengingat kebencianku padanya.
"Sebenernya buku itu nggak pernah hilang, aku menyimpannya dengan baik sampai aku sendiri bekerja di toko buku ini. Semua itu cuma trik aku sih, tapi kayaknya malah jadi kacau banget," Brian tertawa.
"Trik?" aku sedikit bingung.
"Iya, dari dulu aku kan suka sama kamu, Ta," ucap Brian menatapku.
"Huh, jail!" aku memukul badan tegapnya dengan buku.
"Aduh, sakit, Ta, itu kan bukunya tebel banget," Brian meringis.



#15HariNgeblogFF
    


Shakespeare & Co

Read more at: http://ciricara.com/2012/09/26/inilah-7-toko-buku-paling-indah/
Copyright © CiriCara.com
Shakespeare & Co

Read more at: http://ciricara.com/2012/09/26/inilah-7-toko-buku-paling-indah/
Copyright © CiriCara.com kjkjkj
Shakespeare & Co

Read more at: http://ciricara.com/2012/09/26/inilah-7-toko-buku-paling-indah/
Copyright © CiriCara.com

Sabtu, 20 Oktober 2012

Catatan Berseri Pada Februari

        Laki-laki setengah tua itu hadir kembali, tak seperti hari-hari sebelumnya ia nampak begitu necis dan sumringah, senyum tak habis tersirat dari wajahnya yang mulai menua. Seikat bunga mawar putih dan sebuah kado telah ia persiapkan dengan sangat cantik. Tak lama seorang perempuan muda memasuki kafe dan tersenyum sambil berjalan menuju tempat ia duduk. Ya, ia memang perempuan yang selalu datang menemani laki-laki itu menghabiskan waktu di kafe ini. Keduanya selalu tampak dekat, obrolannya terlihat begitu mengalir penuh tawa dan sedikit mesra. Sang lelaki menyambutnya dengan berdiri sambil memberikan bunga dan kadonya lalu mengecup keningnya. Perempuan itu tersenyum haru tak menyangka dengan perlakuan sang lelaki. Pasangan beda generasi yang sedang dimabuk cinta... Satu jam berlalu, sang lelaki tiba-tiba mengeluarkan sebuah kado istimewa yang lainnya untuk sang perempuan muda itu. Memegang punggung tangan kiri perempuannya dengan lembut sambil menyematkan sebuah cincin berlian indah. Perempuan muda itu nampak terkejut dan seketika raut wajahnya berubah amarah.

"Shaira, maukah kamu menikah denganku?" ucap sang lelaki.
"Om... Om terlalu salah menilai semua ini, saya tak bisa menjadi pasangan hidup siapapun, saya hanya perempuan bayaran,hidup saya hanya untuk menghibur demi uang, bukan cinta..."

Perempuan muda itu keluar dari kafe meninggalkan pelanggannya yang masih termangu dengan cincin berlian ditangannya.

"Tikaaa...! Ngapain ngelamun aja dari tadiii....!" teriakan Lisa membuyarkan pemandangan kafe yang begitu dramatis sore itu.

Aku tersentak karena beberapa pelanggan telah berjejer menunggu untuk memesan. Aku tersenyum tersipu malu. Setiap sore hari kafe memang selalu ramai, dan selama 3 tahun aku bekerja disini, cerita si om dan perempuan mudanya menjadi catatan berseri tersendiri untukku di Februari ini.




#15HariNgeblogFF


Kamis, 18 Oktober 2012

Selembar Nota Lusuh

       Danau Situ Gintung, danau yang selama 3 tahun menjadi persinggahan kami untuk saling bercerita. Namaku Abdul, dan dihadapan luasnya danau ini aku dan Clara menghabiskan waktu yang tak pernah lelah menyapa rasa rindu kami. Clara, perempuan cantik yang baik hati, sederhana dan tak macam-macam. Itulah mengapa aku memilihnya untuk menjadi pasangan hidupku. Aku dan Clara bertemu di kawasan wisata danau ini. Waktu itu sekolahku mengadakan reuni akbar dan Clara adalah sepupu dari teman sekolahku. Pembawaan Clara yang ceria, ramah dan apa adanya, aku yakin pasti ia perempuan baik-baik. Kesempatan mengenal Clara tak aku sia-siakan, saat itu juga aku langsung meminta nomer teleponnya dan ia menerima pertemananku dengan sangat baik. Clara tinggal di sekitar danau, oleh karena itu ia diajak sepupunya untuk ikut ke acara reuni akbar sekolahku. Jujur, aku sendiri baru tahu kalau disini ada danau yang cukup bagus untuk dinikmati ditengah-tengah suasana kota. Seorang Clara, bukan saja mengenalkanku akan danau ini, tapi juga pada hidupnya. Menitipkan semua rindunya padaku, cinta dan sayangnya untukku, senyuman dan tatapannya yang teduh menghangatkan.
      Aku menyusuri tanah kawasan danau ini dengan kekuatan penuh. Tragedi itu begitu membekas dibenakku, tanpa sedikitpun bisa kucegah. Clara, pada siapakah rindu ini akan kucurahkan kelak? Sedangkan rumahmu saja sudah tak jelas karena rata dengan tanah. Seharusnya waktu itu aku bisa bersamamu, mendampingimu ataupun berada tepat disisimu. Kamu pasti tak akan menanggung semua luka ini sendirian. Tak akan menerima semua derita ini seorang diri. Dan tak akan pergi selamanya dari aku... Di tanganku masih menggenggam erat selembar nota lusuh yang kutemukan diantara sisa puing-puing tanah rumahmu.

"Ini nota pembelian baju pengantin kita, Ra. Harusnya hari ini kita menikah..."



#15HariNgeblogFF

Cerita dibalik Ultah

               Ulang tahun, yang terpenting bagi saya adalah semua orang inget tanggal lahir saya. Nggak penting mau ada pesta apa nggak. Intinya kalo ada yang nggak inget pasti jengkel, sebel, ngambek hahaha... Maksa banget ya? Tanggal lahir bagi sebagian orang menjadi hal yang sangat sakral dan special karena pada tanggal tersebut banyak orang suka melakukan hal-hal istimewa, ataupun orang disekelilingnya. Sejak saya kecil sampai umur 17 tahun, alhamdulillah orangtua selalu punya rejeki buat ngerayain ulang tahun saya. Mentok diumur 17 tahun itu setiap saya ulang tahun paling cuma ada ucapan, kue ultah kadang-kadang, atau makan sekeluarga. Sebenernya yang bikin ulang tahun jadi seru itu seringkali bukan diri kita sendiri. Beberapa ulang tahun saya sebelumnya justru yang bikin rame itu ya temen-temen sekolah.
                 Ulang tahun saat masih bersekolah apalagi SMA itu nggak pernah bisa dilupain. Mulai dari diceplokin telor, diguyur minyak jelantah, disiram kecap sama tepung terigu, kadang waktu itu jadi kepikiran bentar lagi jangan-jangan gue digoreng nih! Hahaha.... Tapi emang ya, ulang tahun jaman sekolah nggak pernah gagal untuk dibuang jauh-jauh, malah maunya disimpen baik-baik jadi kenangan yang sewaktu-waktu bikin kita ketawa sendiri. Dari mulai ulang tahun diceplokin sampe 'ditembak' biar jadi pacar juga pernah hiihiiihi...lucu... Tapi menurut saya yang paling norak adalah pas ulang tahun dikasih bunga hmmm...sumpah yaaa itu nggak bangeuuttt.... Bukannya nggak suka bunga, tapi saya bukan tipe cewek yang terharu biru saat dikasih bunga. Bukan nggak romantis juga sih, tapi saya mendingan dikasih makanan daripada bunga hehehe.... Suka panik aja kalo dikasih bunga, takutnya ekpektasi cowok sama ekspresi saya jauh banget dari pengharapan hahahaha.... Dari dulu pengen banget ulang tahun dikasih kado cerpen or novel buatan pacar sendiri, tapi karena sukanya cowok badung jadi nggak ada yang gape bikin cerpen hihihihii....
               Jadi ulang tahun yang mana yang bikin saya sangat berkesan? Semua punya kesan, kisah dan cerita tersendiri. Ulang tahun ke-17 dibikinin pesta di rumah, iks pake gaun broken white booo....inget banget itu gaun belinya hasil perjuangan nyari di PIM sama gank Chelsie hahahaha..... Pake acara ke salon segala pulak... Hampir 1 angkatan kali semua numplek di rumah jadi satu. Seru dan norak, iya norak, kenapa juga harus pake gaun hidiihhh....hahahaaa.... Kado ulang tahun yang berkesan itu dari gank Chelsie. Mereka ngasih kartu ucapan bikin sendiri, bentuknya bulet terus tulisannya muter gitu, sampe sekarang masih disimpen :) Pas udah nikah, tanggal special jadi hal istimewa bareng keluarga kecil, suami dan anak-anak. Belum lama sempet juga dikerjain suami, udah jam 12 tengah malam suami pura-pura tidur, saya ngambek karena harusnya kan suami yang jadi orang nomer satu kasih ucapan eh malah tidur. Saya bangunin malah pura-pura kaget, siyaaall...abis itu suami ketawa...beuh...jewer juga deh... Ulang tahun di 2008, kado istimewa saya adalah kelahiran anak pertama saya, Randy. Lahir seminggu setelah saya ultah. The best gift ever... Tapi dari semua ulang tahun, hal terharu dan agak menohok saat papa mertua harus pergi selamanya, 4 hari sebelum saya ultah di 2010. Itu menjadi ulang tahun yang penuh tangisan, malah nggak ngarep banget dikasih ucapan sama siapapun rasanya. Kalo aja bisa minta kado istimewa sama Tuhan, saya mau minta papa mertua balikin ke tengah-tengah kita :') Tapi nggak mungkin juga ya, jadi ultah di tahun itu cuma bisa kasih doa sebanyak-banyaknya buat papa Zulfan...



#Ngeblograme2

Rabu, 17 Oktober 2012

(Bukan) Tim Kesayangan

"Tim, dimana kamu?" tanya Delisha sambil meraba -raba dengan tongkatnya. 
"Guk..." 

Suara Tim seolah menjadi jawaban ketenangan bagi hati Delisha. Sejak kecil Tim adalah sahabat setianya, hingga ia mengalami kecelakaan dan mengakibatkan kebutaan pada kedua matanya 5 tahun lalu. Tim masih setia dengan dirinya, bahkan semakin setia menjalani hari-harinya dan rasa cintanya pada pantai. Tim yang selalu menemaninya saat Delisha bercengkerama dengan pasir-pasir putih pantai ini. Tim yang begitu sabar menunjukkan arah menuju pantai yang tak begitu jauh dari rumahnya. Walau kini Delisha tak mampu berkejaran dan bermain berlarian dengan Tim, tapi Tim masih saja tak ambil pusing, masih saja berusaha mengajaknya untuk berlarian bergumul dengan hangatnya pasir pantai. Ia tak peduli Delisha bisa melihat pantai nan indah ini atau tidak. Seolah ia hanya ingin Delisha bahagia, tertawa, mengeluarkan suara riangnya persis sebelum Delisha buta.

"Tim, kamu tahu, kamu akan selalu menjadi sahabat terbaik dalam hidupku, lebih dari apapun," ucap Delisha sambil mengelus-elus tubuh Tim dengan manja.

Delisha lalu duduk terdiam, menghela napasnya cukup panjang lalu tersenyum pada luasnya jagad pantai. Gelungan ombak yang kian sore semakin terdengar kencang, angin pantai yang mulai menyentuh dinginnya dan  Tim yang ikut duduk tenang disebelahnya. Tiba saat obor-obor pantai menyala, Tim menggigit ujung tongkat Delisha dan mengarahkannya menuju rumah.

"Sudah mulai gelap mbak, hati-hati pulangnya," ujar seorang pria.

Delisha mengangguk tersenyum. Pria itu bernama mas Jalu, Delisha mengenalnya karena ia adalah pria pemantik obor pantai.  Begitu mas Jalu menjawabnya saat Delisha pertama kali membalas sapaannya. Menurutnya mas Jalu pria yang ramah dan baik, entah seperti apa rupanya.

"Tim, mungkin ia akan menjadi salah satu pria yang nanti akan kutemui setelah operasi mataku besok," bisik Delisha pada Tim.

Sore ini Delisha berjalan menyusuri pantai seorang diri, tanpa kehadiran Tim. Ia tak mengerti mengapa Tim tak nampak setelah ia berhasil membuka matanya kembali dan dapat melihat dengan jelas. Tiba-tiba dari kejauhan seekor anjing berlari kencang kearahnya, mengendus-endus kedua kakinya berharap Delisha memeluknya. Delisha mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan sikap anjing tersebut seolah mengenalnya begitu dekat. Anjing itu bersama dengan seorang pria yang membawa...

"Astaga! Kamu pria pemantik obor itu?? Apakah ini anjingmu?" tanya Delisha beruntun.
"Delisha, apa kamu tak mengenal sahabatmu yang selama ini setia menemani perjalananmu di pantai ini? Apa kamu tak ingat siapa yang menggiring tongkatmu menuju rumahmu setiap sore?" mas Jalu balik bertanya.
"Ya, aku ingat, tapi entah dimana sekarang Tim berada, padahal aku sangat rindu padanya," sahut Delisha.
"Delisha, ini adalah anjing yang selama ini setia bersamamu, ia mungkin bukan Tim kesayanganmu tapi ia melebihi Tim yang pernah ada," ucap mas Jalu.
"Apa maksudmu?" Delisha semakin bingung.
"Tak lama` setelah kamu mengalami kecelakaan, Tim mati ditabrak motor, aku bingung dengan apa aku harus menghiburmu, lalu aku menemukan anjing ini. Kenalkan, namaku Jalu, laki-laki yang seharusnya menjadi tunanganmu saat kamu dan keluargamu mengalami kecelakaan. Aku yang melatih Tim palsu untuk bisa setia padamu, aku yang selama ini mengatur semua ini," Jalu bercerita panjang.

"Dan kamu orang yang selama ini juga setia menjaga aku?" Delisha meyakinkan pemikirannya.

Mas Jalu mengangguk pelan. Baginya semua pengorbanan ini tak seberapa dibanding rasa cintanya terhadap Delisha dan demi kebahagiaan Delisha. Airmata Delisha mulai beriringan mengalir di pipinya. Ia telah memeluk Tim yang bukan Tim kesayangannya. Ia telah menitipkan semua rindu dan bahagianya bukan pada Tim yang sesungguhnya. Delisha menatap anjing kampung itu penuh airmata.

"Aku rindu memelukmu, Tim," Delisha menggapai anjing tersebut dan memeluknya erat.
"walau kamu bukan Tim kesayanganku..." ucapnya lagi.

Mas Jalu tersenyum melihatnya, ia tak menyangka Delisha akan mudah menerima kehadiran anjing kampung itu.

"Terima kasih telah menjagaku selama ini... Dengan penuh cinta," ucap Delisha tersenyum meraih tangan mas Jalu. 

Rabu, 03 Oktober 2012

PLN, padamu kuberharap...



                "Yaaa....mati lampuuuu! Siapa nih yang nyetrikaaa..!" Kata-kata itu sering sekali kita dengar saat listrik mati tiba-tiba. Padahal kalau kita boleh bersikap adil sedikit saja, nggak selayaknya kita menyalahkan sebuah setrika, iya kan? :) Listrik mati itu kan bisa banyak sebabnya, tapi cercaan dan makian ternyata juga semakin banyak yang keluar dari mulut kita. Lalu apa yang pertama kali kita lakukan saat mati listrik? Kalau saya, jujur, langsung mati gaya hehehe... Ya iya lah gimana nggak mati gaya, mau mandi nggak bisa, secara mandinya pakai shower nggak punya bak mandi (orang kaya ceritanya hehe), mau cuci baju dan cuci piring juga nggak bisa karena kebetulan saya sudah nggak cuci baju dan cuci piring di kali lagi :) mau setel tv nggak mungkin, setel radio juga sama, mau buka komputer apalagi. Tapi derita yang paling tersiksa saat mati listrik adalah saat baterai hp sudah sekarat nggak bisa nge-charge dan saat mau buang air besar tapi nggak ada air (ya karena faktor orang kaya tadi, habis BAB harus di flush). Ada lagi kebiasaan beberapa orang saat mati listrik, yaitu langsung telepon cs-nya, tanya daerah rumahnya kenapa mati listrik dan nggak lupa marah-marah. Ya ampun, kasihan loh itu. Ngerti masalahnya juga nggak, tahu-tahu di telepon warga buat ditanya secara paksa plus dimarahin. Karena mungkin saja sang cs saat itu belum terima kabar tentang penyebab mati listriknya. Ya gimana juga, pas mati listrik warganya sekonyong-konyong langsung telepon. Tapi saya nggak menyalahkan warga juga, gimanapun juga saya sebagai warga termasuk dalam daftar rakyat Indonesia yang sering dirugikan oleh sang PLN http://plnbersih.com/ Salah satunya adalah kondisi saya yang masih menyusui dan stok ASIP di freezer mulai sekarat mendekati masa cair. Grrr....mau ngamuk nggak sih? Sudah mompa rajin-rajin, disimpan baik-baik eh tahu-tahu gardu PLN http://plnbersih.com/ bermasalah. Saya mewakili ibu-ibu menyusui mana mau terima alasan apapun pak, bu, ASIP kami kalau sampai mencair karena nggak ada listrik itu sepenuhnya jadi kesalahan orang PLN http://plnbersih.com/ Ya namanya juga ibu-ibu galau karena ASIP nya, semua orang nggak ada yang lewat buat disalahin termasuk para pejabat PLN http://plnbersih.com/ hahahhaa..berat yaa... 
                 Balik lagi soal mati listrik yang tak pernah ada habisnya. Sungguh sebenarnya saya sebagai salah satu warga dan rakyat di Indonesia ini sangat kecewa dengan segala bentuk alasan pemutusan listrik tersebut, tapi tetap masih berharap para pejabat PLN http://plnbersih.com/ mampu menjalankan perannya sebersih mungkin dan sejujur mungkin tanpa korupsi, kolusi dan nepotisme. Apalagi sekarang katanya menegakkan Good Corporate Governance (GCG) dalam penyediaan tenaga listrik bagi masyarakat. Jangan sampai dicemooh rakyat karena cuma "slogan" apalagi cuma tulisan biasa, nggak beda sama tulisan "malu". Kenapa saya sebut "malu" ? Karena kata "malu" sudah terlalu sering diacak-acak manusia sampai manusia nggak tahu malu. Nggak malu untuk korupsi, nggak malu untuk merebut hak rakyat sendiri dan nggak malu untuk memberi pelayanan seadanya buat masyarakat. Saya masih berharap PLN http://plnbersih.com/ mampu menjadi 1 departemen yang bisa menjadi contoh baik bagi departemen lain, tanpa korupsi, kolusi atau nepotisme. Janganlah menyalahkan sistem yang sejak dahulu sudah berjalan begitu baik, tapi berkacalah pada diri sendiri, apa yang sudah saya berikan untuk rakyat ini, apakah saya sudah menjalankan sistem ini dengan sebaik mungkin atau tidak? Gampang toh? Intinya pak, bu, para petinggi PLN http://plnbersih.com/ yang terhormat, lakukan yang terbaik untuk masyarakat, maka masyarakat pasti akan merespon dengan baik dari setiap pelayanan tersebut. Nggak perlu berlebihan, yang penting sistem ini dijalankan sesuai aturannya sebaik mungkin, pas pada porsinya tanpa kurang suatu apapun. Kalaupun tarif harus naik, harus ada alasan yang jelas, harus ada timbal balik yang menguntungkan rakyat bukan malah mencekik rakyat. Setiap kenaikan itu harus transparan, hal apa saja yang mendasari kenaikan tersebut. Bukan dinaikkan karena para petinggi butuh jubah untuk menutupi korupsinya. Saya percaya semua itu bisa dicapai oleh PLN http://plnbersih.com/ :) Pak, Bu, saya dan rakyat yang lain masih sangat butuh listrik, saya yakin Bapak dan Ibu juga, dan anak-anak kita, calon pemimpin bangsa ini, kalau dari sekarang sibuk memperkaya diri sendiri, habislah sudah bangsa ini, nggak ada yang bisa kita wariskan untuk anak cucu kita. Berbenahlah dari sekarang menuju kebaikan, demi pasokan listrik di bumi Indonesia tercinta ini :) Semangat PLN http://plnbersih.com/ ! Jangan berhenti menerangi Indonesia...