YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 14 Agustus 2012

Ragil yang Bebas


Aku hanya bisa menangis. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Ketika airmata tak berlaku lagi bagimu sebagai rasa iba atau kasihan padaku. Bisa karena terbiasa, mungkin itu yang saat ini erat melekat pada diriku. Ya, sepertinya aku telah terbiasa menerima semua sikapmu, telah terbiasa menghadapi semua perlakuanmu. Otakku menjerit, hatiku menangis tapi tubuh ini hanya bisa pasrah. Seakan aku ikhlas akan semua tindakan burukmu. 

Ayah, tidakkah kau letih dengan semua ini?

Hari ini aku kembali menerima hujaman tanpa syarat. Entah apa salah dan dosa yang telah aku perbuat. Seolah itu tak ada beda di matamu. Padahal aku merasa sikapku sudah begitu manisnya, semua suruhan dan keinginanmu aku lakukan. Hanya karena kau adalah Ayahku. Hormatku tak akan berkurang, apalagi sayangku, walau sehebat apapun jeratan pilu yang telah kau gores pada diriku. 

Ayah, tidakkah kau juga sayang padaku?

"Ragil! Bangun, Ragil! Ragil!" seseorang berteriak memanggil namaku sambil menopang tubuh mungilku.

Aku terkapar tak berdaya, luka lebam atau darah yang mengucur tak kurasakan. Aku hanya sempat mendengar beberapa orang bersuara lantang. Tuhan, apakah itu suara para malaikatmu? Apakah Engkau telah membawaku ke surgamu? Hingga aku tak akan menikmati seluruh kebatilan itu lagi. Lalu aku bertemu Ibu, menyapa dalam mimpi putihku ini. Ibu memelukku penuh kasih sayang, pelukan yang selama ini aku rindukan. Pelukan yang pernah Ayah janjikan padaku di depan pusara Ibuku, namun sirna dengan hadirnya iblis-iblis itu dalam diri Ayahku. Ibu, kau begitu hangat, secuil luka pun tak lagi kurasakan. 

Ayah, mengapa kau terus menyiksaku?

"Alhamdulillah, Ragil, kamu sudah sadar. Kamu sudah koma selama satu minggu," mas Eka tersenyum di sebelah tempat tidurku.

Aku masih dirawat di rumah sakit ini, mas Eka dan para tetangga telah menyelamatkan aku dari liarnya sikap Ayahku. Mengeluarkan aku dari sendi-sendi penyiksaan dan terpaan penuh luka. Aku yang teraniaya oleh keluargaku sendiri, sekarang telah bebas dari sakit yang berkepanjangan. Mas Eka dan para tetangga yang sudah tidak sanggup menatap perlakuan biadab Ayahku, sekarang memberikan label merdeka untuk hidupku tepat di hari kemerdekaan negeri ini. Hari dimana bocah seumurku meluapkan kegembiraannya dengan berbagai lomba dalam perayaan kemerdekaan.

"Ragil, setelah ini kamu akan tinggal bersamaku, kamu harus sembuh biar kamu bisa sekolah lagi seperti dulu," ucap mas Eka padaku.
"Bagaimana dengan Ayahku?" tanyaku kemudian.
"Dia masih ditahan di kantor polisi, Ayahmu harus belajar dari semua kesalahan terbesarnya ini," jawabnya tegas.
"Tapi dia Ayahku, aku nggak akan bisa membencinya, mas," kataku lagi.
"Nggak ada seorangpun yang menyuruhmu untuk membencinya, kita hanya harus memberi sedikit pelajaran untuknya, sampai kapanpun nggak akan ada yang bisa memutuskan ikatan darah antara anak dan ayah. Kamu punya hak untuk hidup bebas, Gil. Kamu bisa mengunjunginya kapanpun, tapi tidak sekarang," ujarnya menjelaskan.

Aku tertunduk menangis mendengar kata-kata mas Eka. Dia benar, semua orang harus belajar dari kesalahannya, sekecil apapun. Semua orang berhak untuk bebas dan merdeka atas hidupnya, termasuk juga aku. Bocah laki-laki yang masih berusia 6 tahun yang semestinya sedang bebas bermain sepak bola, bermain kelereng, bersekolah, terkekeh penuh gelak tawa. 
Merdeka, tanpa siksaan Ayah di sisiku...





#1bulan1cerpen

Kain Merah Putih

Aku membuka lemari dengan perlahan, kubuka salah satu laci yang telah lama kubiarkan terkunci. Untunglah kuncinya masih bisa tersambung, tidak berkarat sedikitpun. Aku mengeluarkan sebuah kain berwarna merah putih. Sudah bertahun-tahun, seharusnya lusuh atau warnanya mulai pudar, tapi ini tidak. Kain ini masih tetap kokoh dengan jahitan, warna dan kenangan di dalamnya. Kenangan yang tiap detiknya tak akan pernah mau aku ganti dengan apapun, yang tak akan sanggup aku lepaskan sedikitpun apalagi membuangnya menjadi sebuah kenangan usang. Bagiku semua kenangan ini adalah lebih berharga dari intan berlian sekalipun.

Mengenalmu, menjadi sahabat, dan menikah, disaat genderang perang masih mengalun di negeri ini, disaat penjajah masih sibuk mengeruk semua isi bumi negeri ini. Masa penjajahan adalah masa dimana hati kita juga ikut terpaut satu sama lain. Seperti halnya rasa nasionalisme ini yang semakin kuat terpatri di jiwa kita. Pernikahan kami teramat sangat sederhana. Kamu yang berjuang untuk negeri ini, mempertaruhkan hidup dan mati sampai titik darah penghabisan. Dan aku yang ikut berjuang dari sisi kemanusiaan, membantu para pejuang yang terluka di ranah perang kala itu. Kain merah putih ini adalah mas kawin kita, bentuk cinta sejati kita pada negeri ini.

Aku mengambil sebuah bingkai yang terpampang di dinding sebelah lemari ini. Foto yang usang, tapi guratannya masih cukup jelas. Ini bukan foto pernikahan kita, tapi di hari itu kita berfoto penuh kegembiraan yang meluap. Pekikan kemerdekaan, jabat tangan penuh haru, dan airmata bahagia. Aku memeluk kain merah putih dan foto usang ini. Aku sangat merindukan semua kebersamaan kita dulu. Tak terasa airmata ini menetes di pipiku, bukan untuk sebuah kesedihan melainkan rasa cinta dan bangga akan semua itu, dan kangenku yang teramat dalam padamu.

"Eyang, sudah siap? Yuk, kita berangkat," suara Genta, cucuku, membuatku sedikit tersentak.

Genta membantuku berjalan dengan langkahku yang mulai goyah dan tak seimbang. Kekuatanku sudah tak seperti dulu lagi, saat kita masih sama-sama muda, Galih. Tapi jiwaku yang penuh cinta ini tak pernah sedikitpun goyah untuk negeri ini. Kain merah putih ini masih lekat dalam pelukanku bersama foto usang ini. Hampir setiap tahun semua cucu-cucu dan anak-anak kita menemaniku mengunjungimu Galih. Tepat di tanggal 17 Agustus. Kemeriahan yang sama seperti yang ada dalam foto ini, saat aku mengandung anak pertama kita.

Galih, kapankah kita akan bertemu lagi? Ini adalah tahun ke 30 dimana kita tak dipersatukan lagi. Setiap tahunnya aku hanya bisa mengunjungi makammu dengan bendera kecil yang terbuat dari kayu, tertancap di sisi makammu. Setelah sekian lama, kain merah putih ini akhirnya aku hadirkan kembali dan kubawa tepat ke pusaramu. Mungkin akan menjadi kunjungan terakhirku, entahlah. Aku rindu. Aku rindu dengan semangat merah putihmu yang tak pernah pudar. Aku rindu dengan jiwa patriotmu melawan para penjajah. Aku rindu dengan cintamu yang begitu besar bukan hanya padaku dan anak-anak, tapi pada negeri ini, Indonesia...



#cerpenmerahputih

Bandara. #6 Harsya


Aku masih mengangkat papan nama di pintu kedatangan, semoga saja manusia ini cepat hadir batang hidungnya karena aku harus segera bersiap-siap untuk acara nanti malam, surprise party ulang tahun pacarku :) Sebenarnya ini bukanlah menjadi tugasku, menjemput anak sahabat Mama yang akan berlibur di Indonesia, seharusnya ini tugas mas Hagi karena ia yang lebih mengenalnya sejak kecil. Aku kenal mukanya pun nggak. Tapi mas Hagi mendadak sakit, jadi tugas penjemputan ini dialihkan padaku. Bandara hari ini cukup ramai, beberapa keluarga tentara atau prajurit tampak juga sedang menyambut kedatangan anggota keluarga mereka. Tak berapa lama, seorang pria muda berkulit putih dengan ransel biru, celana pendek, tshirt, sepatu model converse, rambut cepak, menghampiri diriku.

"Harsya?" tanyaku.
"Iya lah, kalau bukan namaku yang ada di papan itu aku mungkin sudah ikut orang lain," jawabnya sambil cengengesan.

Siang-siang sudah kebagian jemput orang tengil kayak begini, pikirku dalam hati.

"Baguslah, yuk cepat, aku masih banyak urusan, mas Hagi sakit jadi nggak bisa jemput," kataku cepat.
"Eh tunggu, aku lapar mau makan dulu," Harsya langsung masuk ke sebuah restoran cepat saji.

Aku hanya bisa pasrah. Harsya berusaha menawari aku tapi aku tolak. Aku lebih minat untuk sampai rumah lebih cepat mempersiapkan ulang tahun pacar nanti malam.

"Jadi kamu adiknya Hagi? Hagi sakit apa? Eh, kamu yakin nih nggak mau makan?" Harsya berusaha membuka obrolan sambil makan.
"Aku nggak lapar. Mas Hagi mendadak tadi pagi badannya panas, nggak tahu kenapa," jawabku sekenanya.
"Tante Nita apa kabarnya, sehat? Sudah lama banget nggak ketemu. Aku terakhir ke Indonesia lima tahun lalu, sebenarnya Papa nawarin aku kerja disini tapi aku masih mau kuliah nerusin S2," Harsya meneruskan obrolannya.

Aku hanya manggut-manggut mencoba bersabar menunggunya makan. Kalau satu jam lagi orang ini masih sibuk ngobrol dan makannya nggak selesai, mungkin aku tinggalin saja kali ya? Heran, jadi cowok makan saja lama banget. Ya, aku lihat makannya memang cepat tapi ngobrolnya ngalor ngidul dan bikin aku semakin nggak tenang. Berkah apa ini disuruh jemput manusia macam ini.

"Kamu lagi buru-buru ya?" tanya Harsya kemudian.
"Ah...akhirnya kamu sadar juga, iya aku memang lagi buru-buru, aku harus siap-siap untuk surpise party pacarku dan kamu dari tadi nggak selesai-selesai ngobrolnya," sahutku dengan nada mulai meninggi.
"Maaf, maaf, makan itu kalau ada temannya memang paling enak kalau sambil ngobrol," Harsya menjawab sambil tertawa.

Wajahku mulai kelihatan kesal sepertinya tapi sikap Harsya tetap santai, merapihkan bekas makanannya dan mencuci tangannya. Aku masih menunggunya, kulihat ia seperti meminta sesuatu di tempat pemesanan. Ya ampun, masih belum kenyang juga? Harsya masih pesan es krim dan kali ini ia juga membelikan aku. Aku tak menolak. Percaya atau tidak, es krim ini sesungguhnya membuatku jadi sedikit lebih tenang. Tapi ketenangan yang tak memakan waktu lama. Di pintu masuk restoran aku melihat Ferry bersama seorang perempuan. Ferry adalah pacarku. Dan perempuan itu sepertinya bukan saudaranya atau kerabatnya, karena mereka terlihat cukup mesra. Ferry menarik sebuah koper, mungkin koper perempuan itu.

"Sedang apa kamu disini?" aku menegurnya.

Ferry dan perempuan itu terlihat cukup terkejut dengan kehadiranku. Terlebih lagi Ferry. Ia pasti sangat nggak mengira aku akan berada di bandara ini. Ferry masih diam tak menjawab pertanyaanku. Perempuan itu malah yang penasaran padaku dan bertanya siapa dan hubungan aku dengan Ferry. Tanganku seperti lebih cepat berpikir dari pada otakku.

"Byaaarr...!" wajah Ferry sudah penuh soft drink yang sengaja aku lemparkan padanya.

Lalu Harsya langsung menarik lenganku untuk pergi sebelum restoran ini berubah jadi kapal pecah karena amarahku. Ferry berusaha mengejarku tapi perempuan itu menahannya. Mungkin mereka sadar kalau posisi mereka sudah salah. Atau malah bersyukur karena aku tahu lebih dulu tanpa perlu mereka jujur padaku. Sial kamu, Fer...

Aku terdiam di dalam mobil di parkiran bandara ini. Harsya tak memperbolehkan aku menyetir dengan kusutnya pikiranku. Mulutnya yang sejak tadi begitu cerewet sekarang diam tanpa nada. Harsya membiarkan aku dengan sikapku dan kekecewaanku tentang Ferry. Anehnya, aku tak menangis sedikitpun. Walau cemberut masih menghiasi rautku.

"Aku mau es krim," ucapku.
"Sebentar, aku belikan," jawab Harsya segera keluar dari dalam mobil.
"Nggak usah, aku ikut, makan di dalam saja," ujarku sambil berjalan masuk kembali menuju ke dalam bandara.
"Temenin aku makan es krim ya," pintaku sambil menghentikan langkahku sementara.
"Bukannya kamu bilang tadi kamu lagi buru-buru untuk persiapan surprise party pacarmu?" tanya Harsya menggodaku.

Aku cemberut sambil memposisikan kedua tanganku di pinggang. Harsya tertawa sambil berlari melihat sikap amarahku. Hari ini aku harus berterima kasih pada banyak orang, pada mas Hagi karena sakitnya (digetok mas Hagi deh kalau tahu aku bersyukur karena dia sakit), pada Mama yang sudah memaksa aku menjemput Harsya, pada Tuhan, dan tentu saja pada Harsya. Tuhan mungkin mengirim Harsya supaya aku mengenal Ferry dari sisi lain, supaya aku lebih membuka mata dan hatiku.

Minggu, 12 Agustus 2012

Bandara. #5 Rindu

Aku menatap bingkai yang terpampang di dinding ruang keluarga ini, sebuah bingkai sumpah prajurit. Mungkin bingkai sumpah prajurit ini telah lebih dahulu ada sebelum aku terlahir di bumi ini. Tepat di sebelahnya, bingkai seorang pria berseragam PDL lengkap, begitu gagahnya. Pria itu adalah Ayahku. Pria yang sejak aku masih dalam kandungan Bunda bertekad menjadi pecinta serta pahlawan sejati bagi negeri ini. Buatku ia adalah Ayah yang hebat. Beliau tidak hanya menyayangi aku sebagai anaknya, namun juga seluruh rakyat di negeri ini.

Kebesaran jiwanya, pengabdian serta ketulusan hatinya, sesungguhnya ia telah banyak mengajarkan aku tanpa ia harus ada bersamaku setiap detiknya. Hanya Bunda, hanya Bunda yang setia menemani kalbu rinduku pada sosok Ayah yang sebenarnya. Yang itupun tak sepenuhnya aku dapatkan karena ia Bundaku, bukan Ayahku. Aku tetap butuh sosok Ayah dalam hidupku, untuk seseorang yang selalu melindungiku sebagai laki-laki, untuk seseorang sebagai tempatku berbagi selain Bunda, untuk seseorang saat aku sungkem bersimpuh maaf dan terima kasih di akad nikahku, untuk seseorang yang selalu aku rindu setiap aku merasakan rindu ini.

Ayah, betapa rindu ini hanya mampu aku titipkan pada sahabat-sahabatmu yang hadir dikala bebas tugas. Betapa rindu ini hanya mampu aku sematkan pada doa-doaku di setiap ibadahku. Betapa rindu ini hanya dapat aku ceritakan pada bingkai fotomu di sebelah bingkai sumpah prajuritmu.

Aku rindu....

Lalu Bunda, seperti telah terbiasa dengan semua ini. Ia merangkulku dengan tegarnya. Memelukku dengan sabar dan ikhlasnya.

Rindu ini selalu terjawab dengan kebanggaan tersendiri tentangmu, Ayah...

Hari ini, hari ini akan menjawab semua rinduku padamu Ayah. Di bandara ini aku tak kuasa menahan semua sabar dan ikhlasku tentang Ayah yang selama ini jauh dariku. Bandara ini juga penuh dengan orang-orang yang sama halnya seperti aku dan Bunda. Menjemput rindu yang selama ini kami simpan dalam hati... Menjemput rindu yang selama ini hanya mampu kami genggam sendiri...




Note : Mencoba menyambung cerita dari #Bandara #1 Firah :)

Sabtu, 11 Agustus 2012

Bandara. #4 Koper dan Ransel


Aku masih asyik membaca novel sambil menunggu jadwal keberangkatanku tiba. Sesekali aku palingkan pemandanganku pada ruang sekitar. Orang-orang masih sama sepertiku, menunggu. Beberapa ada yang berbincang seru, tertidur di bangku, mendengarkan musik, membuka laptopnya dan membaca seperti aku. Sebuah ransel kecil milik seorang prajurit sengaja diletakkan di atas bangku di sebelahku. Mungkin isinya sangat berharga hingga ia tak mau menaruhnya di bawah atau sembarang tempat. Bagiku itu hanya ransel biasa. Entah dengan isinya. Aku hanya membalas senyumnya saat sang prajurit itu mengambil ransel kecilnya dan memeluknya. Sepertinya ia tak sabar menunggu keberangkatan ini sampai-sampai ia mengangkat ranselnya berulang kali, memeluknya dan meletakkannya kembali di atas bangku. Aneh.

"Mbak, maaf, boleh saya minta tolong?" tanya sang prajurit padaku.
"Ya, ada apa?" sahutku.
"Saya harus ke toilet, bisa saya titip tas ransel dan koper kecil ini? Saya nggak lama," katanya kemudian.
"Iya, silahkan," jawabku tersenyum.

Sang prajurit segera berjalan tergesa-gesa meninggalkan koper dan ransel kecilnya. Aku melanjutkan membaca novelku. Tak lama pengumuman keberangkatan kami tiba, aku mencari-cari sang prajurit yang belum juga nampak. Aku mulai khawatir, khawatir akan keduanya, koper dan ranselnya juga sang prajurit. Aku masih mencoba menunggu dengan sabar, namun akhirnya aku putuskan untuk membawanya bersamaku ke dalam pesawat. Aku pikir nanti pasti kami pun akan bertemu di dalam pesawat.

Hampir satu jam perjalananku ke kota ini, aku tiba dengan selamat.

Ya Tuhan, aku baru teringat akan sang prajurit! Aku segera membawa turun koper dan ransel ini. Dimana sang prajurit itu ya? Gara-gara orang itu aku jadi kewalahan membawa koper dan ransel ini. Harusnya ia satu pesawat denganku dan harusnya ia mencri koper dan ranselnya yang sejak sebelum penerbangan didekapnya dengan erat. Aku jadi penasaran sama isinya, jangan-jangan... Ah, tapi nggak mungkin, koper dan ransel ini lolos mesin deteksi. Kalau tidak, mungkin aku sudah digeledah habis-habisan. Bodoh juga aku, kenapa mau dititipkan dan membawanya juga? Aku mulai kesal dengan koper dan ransel ini. Mungkin aku akan sedikit drama, meninggalkan koper dan ransel ini di toilet atau kutinggalkan begitu saja. Tapi baru kulangkahkan kaki ini, seorang petugas malah menegurku mengingatkan akan koper dan ransel ini. Sial...

Aku mulai memeriksa ransel dan koper ini tanpa membukanya, mungkin akan kutemukan sedikit petunjuk. Syukurlah, ada alamat dan nama seseorang yang ditempel di salah satu sisi bagian koper. Tapi nama perempuan, ini pasti bukan nama sang prajurit. Kalau aku yang mengantar apa akan terjadi suatu kesalah pahaman? Bagaimana kalau aku dikira sebagai perempuan lain dari sang prajurit? Aku mulai dilanda kebingungan. Sebagai langkah awal, aku selamatkan koper dan ransel ini di dalam kamarku. Ya, aku putuskan untuk membawanya pulang. Bahkan aku tegaskan pada keluargaku bahwa itu bukan koper dan ransel oleh-oleh, jadi tak seorangpun berani membukanya.

Hari ini aku putuskan untuk mencari alamat pemilik koper dan ransel ini. Lumayan jauh dari rumahku. Aku hanya berharap niat baik ini tak malah jadi bumerang untukku sendiri. Hampir dua jam perjalanan dan aku sampai pada sebuah rumah berpagar hijau pupus di sebuah komplek perumahan. Aku beranikan diri bertamu sambil membawa koper dan ransel ini.

"Selamat siang, apa benar ini rumah Ibu Dewi?" tanyaku pada seorang perempuan muda yang keluar membuka pintu untukku.
"Ya, saya Dewi, ada apa ya? Silahkan masuk," jawabnya dengan raut bingung.
"Maaf, perkenalkan nama saya Siska, dua hari lalu saya nggak sengaja dititipkan seseorang sebuah koper dan ransel ini. Seharusnya kami satu pesawat, tapi lama saya menunggunya dari toilet nggak datang juga," ujarku pada perempuan itu.
"Anda pacar barunya?" pertanyaannya kali ini membuatku terkejut.
"Eh, waduh, bukan, begini mbak, maksud saya, saya hanya nggak sengaja dititipkan koper dan ransel ini waktu saya sedang menungu jadwal pesawat, tapi lama saya tunggu kok nggak kembali juga, jadi saya bawa masuk koper dan ransel ini karena saya pikir kami akan bertemu di dalam pesawat," aku mencoba membela diri.
"Apa ia memakai seragam prajurit?" tanyanya kemudian.
"Nah, iya tepat! Ia memakai seragam prajurit. Apa ia suami mbak? Apa ia sudah sampai?" jawabku lega.
"Mungkin kami akan berpisah, mas Raka tak menginginkan bayi kami, ia telah cemburu dan menuduh saya berselingkuh, ia nggak mengakui kalau anak ini anaknya," ia mulai bercerita lirih.

Aku tertegun mendengar ceritanya.

"Mbak, apa mbak nggak ingin tahu apa isi di dalam koper dan ransel ini? Setahu saya, suami mbak sangat menjaga koper dan ransel ini sampai memeluknya," tanyaku.

Sebenarnya aku yang dilanda penasaran sejak beberapa hari lalu. Dan perempuan muda ini sedikit kaget dengan ucapanku. Ia segera membuka isi koper tersebut dan ia semakin terkejut saat melihatnya. Koper ini penuh berisi baju-baju dan perlengkapan bayi, bahkan di dalam koper tersebut telah tersedia ukiran nama untuk sang bayi. Di dalam ransel kecilnya terdapat beragam mainan-mainan bayi, dan sebuah tiket pesawat. Tiket ini pasti yang membuat ia tak bisa ikut masuk ke dalam pesawat.

"Mbak, bagaimana mungkin suami mbak nggak mengakui bayi itu kalau isi koper dan ranselnya semua untuk sang bayi?" kataku meyakinkannya.

Ia tertegun haru menatap semua isi koper dan ransel, memeluk sang bayi sambil menangis. Ia pasti rindu sang prajurit. Aku segera berpamitan, meninggalkan ia dan bayinya beserta koper dan ranselnya. Tak berapa lama aku melihat sang prajurit datang, menggendong sang bayi untuk pertama kalinya sambil memeluk sang istri.
Kalau saja hari itu aku tak di bandara, mungkin akan lain ceritanya. Mungkin pesan ini hanya akan tertinggal dan bermukim di bandara, tanpa tahu mengapa ia meninggalkannya...

Jumat, 10 Agustus 2012

Bandara. #3 Delay


Aku benci delay! Aku benci keterlambatan saat semua jadwal sudah seharusnya berjalan dengan baik! Bukan hanya aku saja yang bersungut-sungut kesal tapi hampir semua penumpang pesawat ini. Aku masih sibuk dengan telepon genggam dan notebook guna mengatur ulang semua pekerjaanku. Sepertinya kesibukanku sedari tadi menyita pemandangan seorang gadis kecil. Ia tersenyum memandangku sambil memeluk bonekanya. Aku sedikit memberi kode untuk ia menyingkir dari pandanganku. Tapi ia tak bergeming, ia malah tertawa. Aku celingukan kiri kanan mencari dimana orangtuanya.

"Mana orangtuamu?" tanyaku.
"Kakak sibuk sekali, kakak kelihatan lagi kesal," ucapnya.
"Heh, mana orangtuamu? Kenapa kamu sendirian disini?" kataku sedikit galak. "Orangtuaku sudah meninggal kak," sahutnya tersenyum.

Aku tersentak kaget.

"Meninggal?"

Gadis cilik itu mengangguk.
Seketika rautnya berubah haru.

"Aku rindu orangtuaku, kalau aku sudah sebesar kakak, aku pasti nggak akan sesibuk kakak, karena saat aku sibuk aku pasti akan makin rindu sama orangtuaku,"ujarnya kemudian.

Ya Tuhan, aku jadi ingat Mama, sejak aku bekerja dan tenggelam dengan kesibukanku aku mulai jarang bercerita, menegurpun seadanya.

"Berapa umurmu?" tanyaku dengan nada iba.
"Enam tahun,"jawabnya tersenyum.
"Kenapa orangtuamu meninggal?" tanyaku lagi.
"Kecelakaan pesawat kak, kalau saja orangtuaku tak memaksa mengganti pesawat karena delay..." ia mulai tertunduk menahan sedihnya.

Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa penerbangan ini mengakhiri delay-nya.

Baguslah...

Eh, kemana gadis cilik tadi? Aku baru menyadari bahwa ia sudah tak di dekatku lagi. Di kejauhan aku lihat ia tengah asyik bercerita pada seorang perempuan muda.

"Kak! Ini Bundaku!" teriak gadis cilik itu kemudian.

Aku tersenyum membalas lambaian tangan sang bunda. Segera aku tarik koper kecil ini agar aku dapat langsung masuk ke dalam pesawat.
Dan aku menghentikan langkahku pada suatu keanehan.
Ini penerbangan terakhir hari ini, pukul 11 malam, bukankah orangtua gadis kecil tadi sudah meninggal ya?
Gila! Delay yang penuh makna! Aku setengah berlari mencoba berbaur dalam keramaian orang sekitar...

Kamis, 09 Agustus 2012

Bandara. #2 Pertautan

Bandara Heathrow siang ini begitu penuh sesak layaknya pasar tradisional. Bandara utama yang melayani London, Britania Raya ini memang termasuk bandara tersibuk ke-5 di dunia. Liburan panjang musim ini menambah sibuk jadwalnya bandara Heathrow. Dan kamu masih sibuk menatapku penuh senyum. Sesekali aku mengalihkan pandanganku pada hiruk pikuk orang-orang agar mata ini tak bertabrakan dengan tatapanmu. Kalaupun akhirnya mata kita beradu temu, kita hanya bisa diam beberapa detik sambil tersenyum. Obrolan kita semakin lekat hingga tak sadar bahwa hati kita beralih terpikat. Kamu selalu saja ada cerita sejak awal perkenalan kita diatas awan lewat traktiran secangkir coffee latte. Lalu kamu merobek kertas memo dari dalam buku kecilmu, menggambar sesuatu, entah apa.

"Kamu akan berada di sini, dan aku akan berada di sini," kamu menggambar sesuatu pada kertas memo.
"Jarak yang lumayan jauh," sahutku kemudian.

Kamu menggambar peta kecil berbentuk peta Inggris, memperjelas dimana aku akan tinggal selama di Inggris dan begitu juga kamu. Jauh. Ya, kita memang akan berjauhan. Aku akan berada di London dan kamu di Liverpool.

"Simpanlah peta kecil ini, mungkin suatu saat kamu butuh," katamu sambil memasukkan kertas kecil itu ke dalam saku jaketku.
"Untuk mengingat kamu?" jawabku pelan.
"Mungkin," kamu tersenyum mencubit pipiku.

Lalu telepon kami berbunyi hampir berbarengan. Wajahmu agak berubah, dan aku agak terdiam. Sepertinya ini hanya akan jadi pertautan hati diatas awan, antara Jakarta-Heathrow. Kita sama-sama tersadar bahwa hati ini hanya akan tergantung di langit selamanya.

"Jaga dirimu baik-baik," ujarmu sambil bersalaman denganku.
"Terima kasih untuk semuanya, senang berkenalan denganmu," sahutku agak tercekat.

Dan langkah kami sempat terpaku saling menatap. Sekali lagi kamu menjabat erat tanganku, tapi kali ini kamu memberanikan diri memelukku. Hangat. Seketika itu pula kamu melepaskan pelukmu. Tanganmu tampak melambai kearah yang bersebelahan dengan kerumunan para tentara yang telah bersiap mengemban tugas mulai, di bandara ini. Nyaris. Kamu dan aku menyatu diantara hati yang telah setia menunggu kami.

Mobil kami melaju pelan bersebelahan di tengah kemacetan area bandara. Sesekali kamu terlihat mencuri tatapan kearahku sambil memeluk perempuanmu, dan aku hanya bisa meratapi semua ini dalam rangkulan tunanganku. Ya, mungkin memang sudah selayaknya rasa kita tergantung indah di atas langit, karena ada hati yang telah lebih dahulu berpijak di bumi...

Rabu, 08 Agustus 2012

Bandara. #1 Kembali

Aku merapihkan dasimu yang terpasang gagah di tubuh tegapmu. Sesekali aku melirikmu yang masih saja lekat menatapku tanpa jeda, tersenyum. Jam terbangmu sebentar lagi akan tiba, ini adalah penerbangan pertamamu sebagai seorang pilot. Seragam ini membuatmu terlihat semakin ganteng dan menawan.

"Aku pasti akan sangat merindukanmu," ucapmu manja.
"Aku akan setia menyimpan rindumu, kamu juga harus setia menyimpan rinduku ini, tinggal 2 minggu lagi, bersabarlah," jawabku tersenyum.

Pernikahan kami tinggal 2 minggu lagi, tapi tugas tetaplah tugas.

"Kamu pasti akan cantik sekali saat kita menikah nanti," kamu mulai merangkulku erat.
"Kalau kamu kangen, genggamlah ini sambil menatap awan, ada aku dibalik gelungan awan-awan putih biru itu," kamu memberikan hiasan pesawat kecil padaku.
"Persiapkanlah dirimu sayang, aku pasti segera kembali," bisikmu mesra.

Aku tersenyum, tangan kami masih erat berpegangan di bandara ini.

Sepertinya ini sudah menjadi takdirku, memiliki calon suami seorang pilot. Aku begitu tegar dihadapmu tapi tidak dengan hatiku. Saat pasangan pengantin lain begitu seru mempersiapkan pernikahannya bersama calon pasangannya, aku hanya bisa 'memiliki' kamu beberapa hari saja. Kamu yang baru menyelesaikan pendidikan di luar negeri harus segera menjalani tugas selanjutnya. Dan semua persiapan perikahan ini aku persiapkan sendiri dengan bantuan kedua keluarga besar. Mungkin nanti nasibku akan sama seperti istri-istri para tentara itu, batinku melihat sekumpulan tentara dengan keluarganya.

Dua hari lagi pernikahan kami baru akan berlangsung, tapi pagi ini aku kerahkan seluruh tenagaku untuk mengenakan pakaian pengantinku. Aku kuatkan diri ini merapihkan rambutku, menyematkan jilbabku, dan mengoleskan make up secantik mungkin. Aku ingin terlihat cantik di depanmu. Hiasan pesawat kecil ini melekat erat dalam genggamanku. Aku melangkah keluar kamar, menarik nafasku setegar mungkin menuju bandara. Ya, hari ini kamu akan kembali, aku dan kamu akan bertemu lagi di bandara seperti saat kamu berpamitan.

Ya Tuhan, langkah ini begitu beratnya, aku tak sanggup. Melangkahkan kaki ini menuju peti matimu dan baju pernikahanmu di tanganku. Aku hanya berharap aku tak rapuh, Tuhan. Hanya itu. Orang-orang memandangku iba dan haru. Tak pernah kubayangkan melewati semua ini tanpa mu, dan tak pernah ada di benakku sebelumnya akan memelukmu kembali dengan penuh air mata. Kecelakaan ini menyayatku terlalu dalam. Kamu hanya terdiam penuh luka yang tak mungkin aku ganti dengan hembusan nafasku sekalipun. Nyawa ini tak akan bisa kamu ganti dengan apapun, juga hati ini. Aku akan tegar untukmu, aku akan kuat demi kamu, dan aku akan bertahan dengan rindu dan cinta ini hanya karena kamu. Mungkin mulai esok awan-awan putih biru itu akan sepenuhnya menjadi temanku, hiasan pesawat kecil ini akan selamanya menjadi sahabatku, bukan untuk mengenang kepergianmu, tapi membawa semua rasa ini menjadi kenangan tanpa akhir...