YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 29 Juni 2012

Review Film Favorit

Sejujurnya, saya nggak begitu sering nonton film di bioskop hehehee... Dan bukan pemerhati film-film yang bakal booming or masuk box office. Biasa aja. Tapi ada beberapa film yang mengena di hati, mari kita bahas :)

1. Now and Then

Film drama komedi yang muncul sekitar tahun 1995 ini berkisah tentang persahabatan 4 orang gadis cilik yang tumbuh bersama di kisaran tahun 1970-an saat musim panas dan sepakat untuk reuni saat mereka dewasa. Melanie Griffith berperan sebagai Teeny, seorang aktris yang sering menikah. Demi Moore berperan sebagai Samantha, seorang penulis yang kerap terlihat serius, berpakaian serba hitam, rantai dan merokok. Rosie O'Donnell berperan sebagai Roberta, seorang dokter kota. Rita Wilson berperan sebagai Chrissy, seorang ibu rumah tangga yang sedang menunggu kelahiran bayi pertamanya. Thora Birch memainkan karakter Melanie Griffith remaja dengan sangat cantik. Gaby Hoffman memainkan karakter Demi Moore remaja dengan pas, serius dan cerdas. Ashleigh Aston Moore memainkan karakter Chrissy di usia 12 dengan apik. Christina Ricci memainkan karakter Rosie O'Donnell remaja dengan sangat meyakinkan.

Selama pertengahan musim panas, 4 remaja berbagi rahasia. Menyelinap tengah malam dari rumah hanya untuk berkumpul di kuburan, sok memecahkan kematian seseorang bernama "Dear Johny", sebuah tragedi yang bahkan orang dewasa nggak akan mau membahasnya. Dalam adegan lain, mereka membuat list para teman pria yang senang mengejek dan menghina salah satu gadis. Termasuk membuang baju para bocah lelaki itu saat mereka sedang berenang di danau. Reuni 4 perempuan ini berbarengan dengan penantian Chrissy atas bayi pertamanya dan berakhir dengan kelahiran bayinya.

Film ini dulu sering saya pinjam di rental LD bersama 6 teman perempuan saya. Yup, dulu bentuknya masih Laser Disc, jadul ya hehe... Saya suka banget film ini, seru, tentang persahabatan jaman kecil dan setelah kita dewasa, ternyata banyak banget kejadian diluar perkiraan kita, soal harapan, keinginan atau cita-cita.


2. Armageddon

Film yang amat sangat mengharukan dan nggak pernah bosen buat ditonton berulang-ulang. Bercerita tentang ancaman meteor yang akan menabrak bumi dan meluluhlantakkannya. NASA berinisiatif untuk memecahkan masalah ini dengan mengerahkan tukang bor profesional dari berbagai kota. Bruce Willis berperan sebagai tukang bor profesional dan juga seorang ayah bagi Liz Tyler. Ben Affleck yang berperan sebagai kekasih Liz Tyler bertugas untuk menanam bom di inti meteor tersebut.

Durasinya lumayan panjang dan lama. Tak lupa juga diceritakan latar belakang masing-masing personil dalam pengeboran luar angkasa ini. Bagian menegangkan saat para pengebor mulai berangkat ke angkasa sana dan semakin seru ketika kesulitan mulai mengisi perjuangan mereka disana sampai nyawa beberapa personil pengebor harus melayang. Tiba saat Bruce Willis menggantikan Ben Afleck untuk meledakkan meteor dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Itu adalah adegan paling mengharu biru dan selalu bikin saya nangis. Pengorbanan terbesar sepanjang masa untuk manusia di muka bumi bertaut dengan cinta dan kasih sayang pada anak perempuannya.

Dan bumi terselamatkan, meteor berhasil dihancurkan sebelum menabrak bumi. Seluruh umat manusia di belahan dunia bersyukur. Diantara duka karena kehilangan sang ayah, sekaligus bangga akan pengorbanannya, Liz Tyler masih bisa bahagia karena kekasihnya selamat. Soundtrack yang keren dari Aerosmith mampu ‘meledakkan’ dunia dengan I dont wanna miss a thing nya dan suara khas dari bapak asli Liz Tyler ini (Steven Tyler). Belum lagi ‘Leaving on the Jet Plane’ dari Chantal Kreviazuk sebagai penghantar para pengebor berangkat juga mendayu biru bikin nuansa sendu.


3. Fast to Furious 5

Filmnya yang sejak baru muncul pertama kali keren, yang ke-5 ini pasti makin keren sangat, diperankan oleh Brian O'Conner (Paul Walker), Mia (Jordana Brewster), Dominic Toretto (Vin Diesel). Terlepas dari cerita linier, plotnya sangat menarik karena punya banyak lika-liku. Yang menjadi puncaknya yaitu sejumlah urutan kejadian yang membuat penonton terpaku. Dari mulai kejadian di kereta api, penyergapan dan pengejaran menjadi urutan yang menonjol dan klimaks. Berbeda dengan film sebelumnya, walaupun nggak ada balap mobilnya, tapi semua tetap dibuat menakjubkan. Rasa persahabatan yang terlihat antara anggota tim Dom bekerja dengan baik, sisanya adalah pemandangan mobil yang menderum hebat, hot girls dan indahnya Rio De Janeiro. Dialognya bagus. Jadi secara keseluruhan, script nya berhasil membuat penonton terlibat.




#Ngeblograme-rame

Rabu, 27 Juni 2012

Group Band Favorit




Yes! Saya memang pecinta boyband semacam NKOTB, Backstreet Boys, Westlife or Take That. Bahkan konser NKOTBSB tanggal 1 Juni 2012 itu bikin saya susah banget buat moved on, tapi apa daya hidup haruslah realistis hahahaa.... Mengenal NKOTB seperti berbalik ke masa saat saya masih SD sekitar kelas 5 atau 6 dan SMP kelas 1 saat mereka pertama kali konser di Jakarta. Cewek baru mentas abg ini dulu pernah mohon-mohon buat nonton NKOTB atau sekedar ikut jumpa fans nya. Namun apa daya hanya airmata yang mampu mewakili, orangtua menolak keras buat nonton konser karena menilai saya masih terlalu kecil. Dan konser pun berlalu tanpa bisa saya hadiri apalagi ikut histeris nyanyi bareng. Well, ternyata nonton konser mereka masih jadi rejeki saya, meski harus nunggu bertahun-tahun dan melalui perjalanan puaaannjaaang banget. Emak-emak ini akhirnya sukses histeris dan nyanyi bareng dengan ratusan emak-emak muda lainnya :) Terima kasih tak terhingga buat suamiku tercinta :*

Bon Jovi adalah band favorit selanjutnya yang alhamdulillah pernah nonton konsernya dengan gretong gara-gara Eka. Eka dan saya dulu adalah fans berat Anjasmara, jaman saya SMA kelas 1. Kita sempat beberapa kali ikut setiap Anjas ada acara dimanapun di Jakarta ini eh tapi kita deket malah pas ke Bandung acara majalah Mode. Eka yang saat itu menang kuis di radio dan dapat 2 tiket langsung ngajak saya karena ia tahu saya suka dengan Bon Jovi. Seru??? Pastinya! Kaos udah keren banget berdua, gambar superman. Eka warna abu-abu, saya warna putih, berasa paling oke se-Ancol. Taunya sampai sana bejibun yang pakai kaos gambar superman hahahahaa.... Malesnyaa... Ditambah lagi Eka malah hadir dengan sepatu hak tinggi, halah makjan mau kemana pula pakai sepatu hak. Saya tetap eksis dengan sepatu teplek biar bisa jingkrak-jingkrak. Konser yang sangat heboh, saya nyanyi lompat-lompat sampai bisa ke depan stage, tetep sih jauh dari bang Jovi hehehe...Eka malah jauh di belakang karena hampir pingsan dengan sepatu hak tingginya, yalageee...

Jadi kesimpulannya jenis musik apapun saya nggak terlalu milih, selama enak di kuping dan memang bagus buat dijadiin idola. Kalau grup musik lain ya banyak juga tapi yang paling membekas di hati ya dua grup itu eh 2 atau 3 tuh nyebutnya :) Buat saya musik mereka abadi (tanpa soesman), nggak ngebosenin, nggak latahan, dan membuat hati nyeessss.... halah hahahaaa...




#NgeblogRame-rame

Selasa, 26 Juni 2012

Mungkin (Takkan) Ada Lagi


Sesungguhnya saripati dari keindahan Raja Ampat adalah kepulauan Wayag. Kepulauan Wayag terletak di Desa Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Dari Sorong, perjalanan memakan waktu hingga 6 jam dengan menyewa kapal. Perjalanan terpanjang dalam liburan kami ke Bukittinggi, Danau Toba, pulau Lengkuas, Surabaya, Banjarmasin atau pun Wakatobi. Kepulauan Wayag terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil. Pulau- pulau kecil tersebut merupakan pulau-pulau karang yang ditumbuhi pepohonan. Saat mengarungi kepulauan ini dengan kapal, kami terhipnotis oleh lautan yang berwarna biru kehijauan, terumbu karang dan ikan-ikan yang terlihat jelas di bawah air, serta pemandangan yang indah dengan perpaduan lautan yang cantik dan pulau - pulau kecil yang menarik.

"Kalian harus datang ke tempat ini saat ada di Kepulauan Wayag," ujar Reza tersenyum seraya menunjukkan suatu tempat.

Reza adalah sahabat Ditya yang berdarah Papua. Reza bukan mengajak kami pada keindahan bawah laut, melainkan suatu pendakian ke puncak pulau ini dengan kemiringan hampir 90 derajat. Dibutuhkan stamina dan fisik yang kuat untuk tiba di puncaknya yang memakan waktu sekitar 30 menit.

"Ya Tuhan, ini seperti pemandangan yang aku lihat di tv, gugusan pulau karang dan lautan yang biru," ucapku antusias dengan senyum lebar.
"Mungkin (takkan) ada lagi pemandangan seindah dan secantik ini, Za. Ini lebih dari apapun, ini sempurna!" Ditya tersentak kagum dan takjub.
"Ya, semoga nggak akan ada tangan-tangan usil yang akan menyentuhnya dengan cara dan alasan gila apapun," sahut Reza santai.

Cahaya matahari yang sedang terik ini menambah pesonanya terumbu karang di dalam lautnya, ada warna tersendiri yang menyembul keluar. Warna biru kehijuan yang mendominasi lautan di sekitarnya. Kamu memelukku erat sambil memanjakan mata kami dengan menatap gugusan pulau-pulau nan syahdu.



*selesai


#15HariNgeblogFF2

Langit pun Tersenyum


Salah satu surga bawah laut paling indah di dunia, ada di Indonesia. Ia dikenal dengan Taman Nasional Wakatobi, sebuah hamparan pesona eksotik bawah laut yang terletak di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Ibu kota Wakatobi adalah Wangi-Wangi. Kabupaten Wakatobi terdiri dari empat pulau utama, yaitu Wangiwangi, Kalidupa, Tomia, dan Binongko. Jadi, Wakatobi adalah singkatan nama dari keempat pulau utama tersebut. Sebelum 18 Desember 2003, kepulauan ini disebut Kepulauan Tukang Besi dan masih merupakan bagian dari Kabupaten Buton.

"Ada berapa jenis ikan di taman nasional ini, pak?" tanyaku pada sang pemandu wisata.
"Ada sekitar 93 jenis ikan, ada juga beberapa jenis burung laut yang bersarang di taman nasional ini, dan beberapa jenis penyu," sang pemandu wisata menjelaskan.
"Wah, kesukaan kamu tuh penyu," ujarmu.

Aku mengangguk tersenyum. Di kejauhan aku seperti melihat ada suatu pergerakan yang bukan seperti gerakan air laut. Semakin aku meyakinkan kedua mata ini melihatnya.

"Pak, itu paus?!" kataku antusias.
"Iya, itu tamu istimewa kami namanya paus sperma, karena belahan bumi lain di bulan November membeku maka kawanan paus sperma hadir di taman nasional ini. Di Wakatobi ini juga menjadi tempat bermainnya ikan pari manta, salah satu jenis ikan yang khas dan unik yang ukuran tubuhnya tergolong raksasa," jawab sang pemandu wisata sambil tersenyum bangga.

Aku masih terbelalak dengan keindahan Wakatobi ini. Ditya masih merangkulku dengan mesra, pemandangan yang tak kalah indah saat dulu kami ke pulau Lengkuas atau Danau Toba. Kamu begitu menikmati semua kecantikan ini sampai-sampai senyummu bersaing hebat dengan langit biru Wakatobi. Iya, tak hanya kamu yang tersenyum memandangnya tapi langit pun tersenyum.



*bersambung



#15HariNgeblogFF2

Aku Tak Mengerti


Museum Kota Makassar terbakar dan beberapa koleksi antik tidak dapat diselamatkan, sangat disayangkan. Padahal museum ini memiliki lebih dari 600 koleksi, mulai dari benda-benda arkeolog berbagai motif batu yang ditemukan di Benteng Somba Opu, keramik Cina dan Jepang, foto-foto, koleksi dokumen tentang Makassar, koleksi uang dan masih banyak lagi. Liputan itu mengingatkan aku akan masa kuliahku di jurusan pemandu wisata. Dan di depan Museum Kota Makassar itulah aku ditinggal sendirian oleh rombongan kampusku.

"Kok bisa?" tanya Ditya penasaran.
"Waktu di kapal laut aku inisiatif minum obat anti mabuk laut biar perjalanan bisa dinikmati dengan tenang, eh bukannya menikmati perjalanan seharian malah nggak bisa bangun, giliran untuk ambil nilai aku malah kayak orang mabok nggak bisa konsentrasi, padahal aku sudah yakin dari Jakarta bisa menguasai bahan, jadi aku dihukum ditinggal sendirian di depan museum," aku bercerita panjang.
"Makanya selama kita liburan ke Bukittinggi, Danau Toba, pulau Lengkuas sampai mudik Surabaya, aku nggak akan mau lagi minum obat anti mabuk laut, kapok," ujarku menambahkan sambil tertawa.

Ditya tertawa mendengar ceritaku di masa kuliah. Aku mencubitnya.

"Hal yang sampai saat ini aku tak mengerti adalah kenapa aku bisa dihukum? Padahal aku nggak pakai narkoba, itu obat warung biasa. Tapi hal yang awalnya sulit aku terima akhirnya jadi pelajaran banyak buatku. Ditinggal di depan museum sendirian nggak membuat aku takut, aku masuk ke museum seharian, dari mulai cuma lihat-lihat sampai ketemu dan kenal sama pengurus museum. Bapak pengurus museum bercerita banyak tentang museum dan koleksi-koleksinya. Uniknya, ia bercerita sampai saat waktu makan siang dan ia mengajakku untuk makan siang bersama. Hukuman yang membawa berkah, karena setelah itu di perjalanan aku diminta untuk menjelaskan tentang Museum Kota Makassar oleh dosen kuliahku dan penjelasanku sangat memuaskan. Perut kenyang, nilai bagus, jadi di sisi mana yang aku tak mengerti?" aku menjelaskan pada Ditya sambil tersenyum.
"Kadang manusia memang harus dihukum dulu biar mengerti soal langkahnya," ucap Ditya.



*bersambung



#15HariNgeblogFF2

Memori Tentangmu


Dear Ditya,

Apa kabarmu? Semoga kamu sehat selalu. Masih ingatkah kamu padaku? Aku yang setia menunggumu di pulau Dewata walau kita berjauhan. Aku yang setia menantimu untuk mengisi hari-hariku di tanah kelahiranku. Aku yang setia mendengarkan semua cerita tentang kehidupan Jakartamu. Aku yang setia menghirup semua amarahmu untuk aku ganti dengan senyuman. Dan kamu yang selalu setia ada di pelataran komplek Pura Besakih hanya untuk membiarkanku dengan ibadahku. Aku rindu itu semua tapi rasanya kita bukan yang dulu, kamu bukan lagi aku yang menjaga. Kalaupun aku mengirim surat ini tak ada maksud untuk membuat luka perempuanmu, atau mengingatkan masa itu, apalagi menyadarimu bahwa aku ada. Aku hanya ingin berterima kasih atas segalanya. Memori tentangmu adalah kebahagiaan terbesarku, pun dalam tidur panjangku nanti. Sampaikan salamku terhadap perempuanmu dan rasa iri ku yang besar, karena pasti ia sangat menjagamu dan menyayangimu dengan tulus. Tapi aku ikhlas, seikhlas aku melepas raga ini dari dunia fana, seikhlas melepas jiwa ini untukku bawa serta menghadap Tuhanku. Tunjukkanlah surat ini pada perempuanmu, agar kepercayaan kalian tetap terjaga. Dan saat kalian membaca surat ini, mungkin aku telah ada di sisi Tuhanku.



Salam,



Astri



Aku menghela nafas panjang sambil melipat surat berwarna putih gading itu. Ditya hanya terdiam tak sedikitpun berbicara. Aku menatapmu dan meraih tanganmu lembut.

"Simpanlah surat ini, ini adalah surat terindah yang pernah aku baca," ucapku masih dengan tatapan yang sama.
"Kenapa begitu? Aku malah mau membuangnya, aku nggak mau kamu berpikiran macam-macam tentang aku karena surat ini," sahutmu cepat.
"Yank, aku tahu ia mantanmu, tapi hormatilah perasaannya yang sampai di akhir hayatnya masih menyayangimu, bahkan ia menghormati aku sebagai istrimu dan pernikahan kita. Kecuali ia sempat mengganggu hubungan kita, itu lain soal. Atau kamu masih menyimpan perasaan yang sama," aku berusaha menjelaskan.
"Boleh aku minta tolong?" tanyamu kemudian.
"Soal apa?" jawabku.
"Tolong kamu simpan surat itu, karena aku nggak mau menyimpan apapun soal masa lalu," pintamu dengan tegas.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Ditya, memori itu memang tentangmu dengannya tapi menjalani masa depan denganmu itu lebih penting dari sekedar mengukir sebuah kenangan.



*bersambung



#15HariNgeblogFF2

Sasirangan



"Mengapa bisa ada pasar terapung, tan?" tanyaku pada tante Dewi yang tinggal di daerah Banjarmasin ini.
"Karena daerah kami dipengaruhi oleh banyaknya sungai, danau dan rawa yang mengelilingi kota ini sehingga pasar terapung menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat di Banjar. Proses jual beli pun dilakukan diatas perahu," jawab tante Dewi.

Pagi ini aktivitas pasar terapung sudah sangat ramai, ada yang berjualan sayuran, buah, alat rumah tangga dan lain-lain. Proses persiapan di rumah untuk berdagang sudah dimulai sejak pukul 3 pagi, tapi pasar terapung baru digelar pukul setengah enam pagi. Pasar terapung yang berada di Lok Baintan ini telah ada sejak puluhan tahun lalu. Disini, pasar terapung sebagai pasar tradisional dilakukan di hulu sungai Martapura dan dibuka hanya pada hari Minggu dan hari libur saja. Ini pengalaman menarik buatku dan Ditya karena kami baru pertama kali mengunjungi Kalimantan. Biasanya liburan kami hanya bertumpu pada pulau Jawa dan Sumatera. Seperti halnya pulau Lengkuas, Bukittinggi, Surabaya ataupun Danau Toba, semua memiliki daya tarik tersendiri. Selalu ada pengalaman unik didalamnya. Aku dan Ditya akhirnya mencoba ikut menjadi bagian dari keramaian pasar terapung. Tante Dewi yang berbicara pada penjual manakala kami menanyakan harga atau barang yang kami tuju. Banyaknya perahu membuat perahu kami ikut bersenggolan dengan perahu lain. Seorang nenek yang sudah sangat sepuh tiba-tiba mencolek tubuh Ditya.

"Ada apa, Nek?" kamu bertanya ramah pada nenek tersebut.

Nenek tua itu hanya menyodorkan sebuah kain pada Ditya, dan Ditya menolak karena ia merasa tak ingin membeli kain. Namun tante Dewi menyarankan untuk mengambilnya dan berusaha bertanya pada nenek itu dengan bahasa Banjar.

"Katanya ini kain yang ia buat sendiri saat ia muda, ia membuatnya dengan cinta karena kain itu mempertemukan ia dengan sang suami tercinta. Ia nggak mau dibayar, ia cuma mau kamu menerimanya dan berikanlah pada orang yang paling kamu sayang, karena ia mungkin nggak akan bisa menyimpan kain itu lagi. Sebaiknya kamu terima dengan baik, Dit," ujar tante Dewi.

Ditya mengikuti saran tante Dewi dan menerima kain pemberian nenek sepuh itu. Nenek itu nampak senang, ada senyum tipis melukis wajahnya yang telah penuh dengan keriput. Dan ia berlalu dengan perahunya. Kain yang sangat indah dan cantik, seratnya pun masih kuat tak rapuh sedikitpun.

"Ini kain apa namanya, tan?" tanya Ditya saat kami beristirahat.
"Sasirangan, Sasirangan adalah kain adat suku Banjar yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup, ini Sasirangan dengan motif kembang kacang, ini Sasirangan terindah yang pernah tante lihat," sahut tante Dewi memperhatikan Sasirangan di tangannya.
"Cocok dong ya kalau aku kasih untuk yang paling cantik dan paling aku sayang?" kamu melirikku tersenyum.
"Huuu..gombal.." ucapku tertawa.

Tante Dewi ikut tertawa melihat kelakuan kami.



*bersambung



#15HariNgeblogFF2

Kamis, 21 Juni 2012

Aku Kembali



Aku kembali. Bersama kenangan masa kecil saat aku selalu mudik ke kota ini. Surabaya selalu punya sesuatu untuk dirindukan. Bahkan di sudut jalan ini, sudut yang sekarang berdiri sebuah bank, dahulu aku sempat hilang di jalan ini dengan keramaian dan kemeriahan ulang tahun Surabaya. Tapi aku tak menangis, aku hanya diam di sudut jalan ini menanti Ibu dan Ayah mencariku, sambil menikmati tarian-tarian. Pasti kala itu mereka panik mencari bocah kecil berumur 5 tahun ditengah hiruk pikuk warga. Sedangkan aku ditemukan terduduk diatas trotoar sambil bertepuk tangan. Dan aku mengenal Cak Dar, tukang becak yang mengajakku berkeliling tanpa sedikitpun aku curiga ia akan menculikku. Ia malah mengembalikan aku ke trotoar di sudut jalan ini. Melihatku Ibu langsung memelukku tanpa sepatah kata omelan pun keluar dari mulutnya. Padahal Ibu biasanya cerewet luar biasa. Lalu kami pulang, dan aku baru kembali lagi bersama suami dan anakku. Betapa aku rindu suasana itu... Mungkin Cak Dar juga sudah setua Ayah sekarang.

"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Ditya.
"Aku inget jaman kecil, Ayah nggak pernah absen mudik ke kota ini, makanya aku cuma tahu daerah Jawa, belum pernah ke Bukittinggi, Danau Toba, apalagi pulau Lengkuas," jawabku tersenyum.
"Mungkin itu yang bikin kamu ingin punya suami orang Padang, bosen sama orang Jawa," katamu meledek.

Aku tertawa mencubitnya.

Perjalanan di Surabaya kali ini tidak hanya membuka kenangan lama nan indah, tapi sekaligus merajut kenangan baru bersama Ditya dan Arfa.



*bersambung




#15HariNgeblogFF2

Rabu, 20 Juni 2012

Genggaman Tangan


Pemandangan yang begitu teduh, menatap air terjun grojogan sewu. Anginnya yang sejuk melepaskan semua lelah perjalanan kami dari Solo ke Karanganyar walau hanya sekitar 1 jam. Arfa, anakku, terlihat sangat antusias dengan hebatnya air terjun ini, kamu memegang tangan mungilnya dengan erat. Aku masih menikmati curahan alam indah ini sampai tiba-tiba aku merasakan genggaman tangan yang cukup kuat. Aku menoleh dengan cepat. Tak ada seorangpun di sampingku, tapi tanganku tertahan oleh seseorang, aku yakin!

Bukan, ini bukan kamu Ditya. Kamu masih asyik bergurau bermain bersama Arfa. Genggaman tanganmu pun tak begini rasanya. Aku berusaha melepaskannya sekuat tenaga, tapi ini pasti akan membuatku terlihat seperti orang gila karena tak seorang pun yang sadar keberadaannya. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri, duduk bersila di sebuah batu besar, agak jauh dari Arfa dan Ditya. Aku diam, dengan berjuta tanya di otakku.

"Sha, aku lah kedua matamu, aku yang mengantarmu menikmati indahnya pulau Lengkuas untuk yang pertama kali, aku yang membawamu merasakan Danau Toba, dan aku, aku yang sempat menyapa di mimpimu di Malioboro. Cinta ini terlalu besar buatmu, Sha, maka aku beranikan diri menggenggammu di Tawangmangu."

Bisikan itu menerpa di telinga kananku dan aku seperti mengenal baik suaranya. Respati! Tapi bagaimana mungkin? Ia memang sempat mampir di mimpiku di Malioboro, tapi ini... Ini terlalu nyata... Aku melirik ke sebelah kananku, mencoba meyakinkan Respati benar-benar hadir. Tapi nihil, ia tetap tak ada.

"Respati, kenapa kamu bisa ada disini?" aku bertanya padanya.

Tak ada jawaban. Genggaman tangan ini masih kuat mengikat.

"Respati, kalau kamu memang mencintaiku, pergilah, atau kamu meminta kembali mata ini? Ambillah, aku rela. Apa yang bisa kita selamatkan dari masa lalu kita? Nggak ada," ucapku pelan.

Dan genggaman tangan ini pun terlepas dengan perlahan. Angin air terjun grojogan sewu ini semakin dingin, entah karena hari yang semakin sore atau karena Respati....



*bersambung


#15HariNgeblogFF2

Selasa, 19 Juni 2012

Odong-odong


Mang Diding mengayuh odong-odongnya dengan sigap, meniti pinggiran jalan yang ramai akan kendaraan. Ia membelokkan odong-odongnya ke suatu komplek perumahan. Sore itu langganannya telah berkumpul di depan rumahku, termasuk Ara putri kecilku. Setibanya disana semua langganannya berebut naik ke atas odong-odong mang Diding. Ia mengayuhnya diiringi lagu dari tape kecil yang seadanya. Aku memegangi Ara dari belakang, tubuhnya belum terlalu kuat untuk duduk di atas odong-odong ini tapi keinginannya begitu besar. Kali ini Ayu, sepupu Ara ikut menaiki odong-odong. Tubuhnya sudah agak lebih besar dari Ara, begitupun usianya.

"Ini ponakannya, bu?" tanya mang Diding padaku.
"Iya," sahutku cepat.

Mang Diding masih asyik mengayuh dan sesekali meladeni pertanyaan atau permintaan bocah-bocah ini. Mereka terlihat riang gembira dengan odong-odong.

"Bu, itu siapa? Sodaranya ibu?" tanya mang Diding sambil menunjuk kearah rumahku.
"Iya, itu kakak ipar mang, nih bapaknya Ayu," jawabku.
"Hah, beneran bu ini anaknya?" mang Diding kembali bertanya.
"Iya mang, masa iya saya bohong, memang kenapa?" aku jadi penasaran melihat wajahnya.
"Bu, maaf ya, bapak itu setahu saya rumahnya nggak disini, tapi di komplek dekat pasar sana, anaknya juga bukan ini, anaknya itu masih hampir setahun, langganan saya juga kok," ungkap mang Diding.
"Mang Diding yakin?" aku terkejut mendengarnya.

Dua hari setelah pengakuan mang Diding, mas Adnan memang pergi, mbak Shara bilang ada tugas di luar kota. Entah benar apa tidak.

"Mbak, ikut yuk, aku sama Ibu mau jalan-jalan," aku mengajak kakak ku pergi di hari libur itu.

Lalu kami berhenti di suatu rumah bernuansa biru, berpagar putih.

"Itu bukan mobilnya mas Adnan ya, mbak?" kataku.
"Iya tuh, kok ada disini ya? Ini rumah siapa sih, Sya?" ia mulai merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.
"Coba kamu saja yang ketok pintunya, Ra," pinta Ibu.

Mbak Shara langsung mengetuk pintu dengan rasa penasaran yang teramat besar. Tak lama pintu pun dibuka oleh seorang pria yang sangat dikenalnya.

"Mas Adnan?! Ngapain disini? Ini rumah siapa?" ia langsung menghujam Adnan dengan bermacam pertanyaan.

Aku melihat mas Adnan sangat terkejut dengan kehadiran kami di rumahnya bersama perempuan itu. Seorang perempuan muda yang keluar menghampirinya dengan menggendong seorang anak kecil tak lebih dari setahun.

"Ada apa, mas? Siapa perempuan ini?" ia bertanya.
"Saya istrinya, siapa kamu?!" mbak Shara menjawab dengan ketus.
"Saya istrinya," perempuan itu pun menjawab dengan pernyataan yang sama, sebagai istrinya.
"Plaak!" mbak Shara menampar sang suami dengan berjuta emosi tinggi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Mas Adnan hanya terdiam lemas, raganya terlihat pasrah, entah hatinya...

"Kamu tahu dari mana soal ini semua?" mbak Shara bertanya padaku dalam perjalanan pulang.
"Mang Diding, tukang odong-odong," jawabku pelan.

Mbak Shara menarik nafas panjang, tak ada airmata, hanya amarah yang memuncak...

Ramai


Aku menjentikkan jari tengah dan jempolku, stak! Semua benda mendadak berhenti. Lalu aku turun dari becak ini, melewati sekumpulan ibu-ibu di depan penjaja batik, kelihatannya semacam ibu-ibu arisan, aku tersenyum. Seorang bapak tampak sedang membawa dagangannya entah hendak dibawa kemana, mukanya mulai pucat lapar diterik siang ini. Beberapa anak kecil mengelilingi penjual perahu kertas, tawanya lepas. Dua mbok-mbok setengah baya membopong gulungan anyaman tikar, mungkin itu asli buatan mereka. Ada wanita muda yang cantik sedang memegang kipas bambu kertas, wajahnya agak kesal dengan cuaca siang ini, takut kecantikannya memudar mungkin. Sepasang bule sedang menawar harga suvenir wayang, mungkin untuk oleh-oleh di negaranya. Mobil-mobil berjajar bersamaan dengan bis-bis besar, baru awal libur sekolah tapi jalan Malioboro hampir penuh sesak. Aku melihat ke sekelilingku, cukup semarak memang jika semua ini memiliki bunyinya sendiri. Aku berjalan sambil tersenyum, menikmati jalan ini tanpa ada yang bisa meleraiku.

Dan aku terhenti karena Respati. Ia sama bergeraknya denganku. Memberiku isyarat untuk menghidupkan semuanya kembali. Respati masih saja posesif. Itu sebab aku meninggalkannya di Malioboro, tanpa pesan. Aku membencinya. Aku berusaha menjauh namun Respati semakin senang mengikutiku. Ia masih saja posesif. Lalu aku jentikan kembali jari-jari ini, hanya agar jalan Malioboro kembali ramai, dan Respati berhenti mengejarku. Aku mencari kamu, memanggil-manggil namamu ditengah keramaian ini.

"Ditya! Ditya! Ditya!" aku berteriak kencang.
"Yank, hey, bangun, kamu mimpi apa?" kamu membangunkanku dan memelukku agar aku tenang.

Dan aku masih setengah sadar dari tidurku. Mimpi yang aneh, ucapku dalam hati.



*bersambung


#15HariNgeblogFF2

Senin, 18 Juni 2012

Biru, Jatuh Hati


Aku selalu suka pantai sejak kecil, tempat dimana aku bisa berteriak bebas dan lepas, bisa bercerita pada angin, pada debur ombak, pada pasir putihnya. Atau pada titik yang hanya menoleh pada matahari terbit atau matahari terbenam. Pantai selalu dapat menggugah rasaku jadi bening tanpa karang bebatuan. Pantai tak pernah menolak semua amarahku, tak pernah balik membagi emosinya padaku, tak juga kamu. Kamu yang lebih menyukai nuansa pegunungan, namun aku tak merasa kita sebuah perbedaan. Bagiku kita seperti kunci dan lubang kunci yang saling mengisi.

Berdiri di pantai Pangandaran yang mulai ramai dikunjungi orang, kamu tak bersamaku. Hari ini outing kantorku jadi aku tak bisa mengajakmu dan Arfa. Agak berat untuk menolak karena aku ditunjuk sebagai tim yang harus menyiapkan segalanya. Pantai Pangandaran adalah pantai pertama yang aku kunjungi saat kecil dulu bersama rombongan sekolahku. Terlihat agak berbeda memang, dulu pantai ini lebih bersih dari jamahan manusia.

Aku duduk di pasir putih, pemandanganku begitu luas. Dari kejauhan samar-samar kulihat seorang pria juga duduk terdiam. Celana jeans birunya dilipat sebetis, kaos putihnya agak pas di tubuhnya. Pria itu mengingatkan aku pada kamu, aku selalu jatuh hati melihatmu memakai jeans biru dan baju putih, kaos ataupun kemeja. Gayanya pun persis sepertimu. Tapi kamu, kamu pasti sedang di rumah. Aku mencoba menghubungimu tapi tak ada jawaban. Kamu sedang apa Ditya? Terakhir kita ke pantai adalah pantai Lengkuas, itu adalah pantai yang tak bisa dan tak akan aku lupakan. Pria dengan jeans biru sukses membuatku rindu dan jatuh hati lagi padamu. Entah aku sedang melamun atau apa, tapi mendadak pria itu sudah menghilang dari pandanganku.

"Katanya outing kok malah bengong disini sendirian?" seseorang tiba-tiba duduk dan merangkulku.
"Ditya! Kok bisa? Jadi cowok tadi itu beneran kamu?" aku meyakinkan diri tak percaya.
"Hayo, cowok mana? Bandel ya liatin cowok lain? Lagian kamu gerak gerik suami sendiri nggak hafal," kamu pura-pura ngambek.

Aku tertawa. Aku masih tak percaya kamu menyusul aku ke Pangandaran. Aku memeluknya erat.

"Happy anniversary ya mantan pacarku," kamu mengecup keningku tersenyum.
"Anniversary kita kan udah lewat?" ucapku.
"Iya tapi ini kan anniversary jadian kita dulu, kamu lupa ya?" katanya mengingatkan.
"Ah biru, gimana mungkin aku nggak jatuh hati lagi sama kamu," sahutku.
"Biru?" kamu bertanya bingung.
"Iya kamu, pria dengan jeans biru di pantai yang biru dibawah langit biru, aku jatuh hati...lagi..." aku menatapnya tersenyum.

Tanganmu semakin erat memelukku, begitupun kerinduanmu, hati dan cinta terbesarmu, untukku.



*bersambung


#15HariNgeblogFF2

Sehangat Serabi Solo


Solo masih terlihat asri dan tenang, warganya pun masih ramah saling menyapa baik sesama penduduk setempat ataupun turis lokal seperti kami. Aku dan Ditya sudah lama tak berlibur jauh, terutama Solo, semenjak aku hamil dan kesibukan kami mengurus anak. Tiba-tiba aku merindukan semua itu, Bukittinggi, pulau Lengkuas, Danau Toba. Aku tersenyum sendiri, Arfa menggoyang-goyangkan tangan kananku. Arfa, anak kami yang kini berusia hampir 4 tahun. Tingkahnya yang lucu, cerewet, aktif dan kadang sok tau dan sok tua juga :) Hari ini kami membawa Arfa ke Solo, mengajaknya naik kereta seperti keinginannya dan mengenalkannya pada alam Solo yang indah. Ia begitu senangnya. Lalu kami mampir di Pasar Klewer, salah satu pasar batik terbesar di Indonesia. Mulai dari batik cap kain katun seharga belasan ribu sampai jutaan rupiah tersedia disini. Aku berdiri di salah satu toko, kulihat anakku sedang berusaha menegur dan bermain dengan salah satu bocah pedagang batik.

"Sudah lama jualan batik, bu?" tanyaku pada seorang mbok tua pedagang batik.
"Sudah dek, dari jaman penjajahan, dari simbok kecil," jawabnya bangga tersenyum.
"Wah, beneran mbok?" aku terperanjat.
"Iya. Loh dulunya Pasar Klewer ini kan difungsikan sebagai tempat pemberhentian kereta, terus banyak yang berjualan," simbok mulai bercerita.
"Dulu ini namanya Pasar Slompretan, asalnya dari suara kereta yang mirip dengan suara terompet ditiup," ia seperti mengenang tempat ini.
"Dari dulu itu ya sudah banyak yang jual batik tapi dengan cara dipanggul di pundak, nah karena dipanggul itu batiknya kelihatan berkleweran jadi orang lebih banyak menyebut Pasar Klewer," ujar simbok dengan suara khas Jawa nya.
"Dari mana toh dek?" tanyanya kemudian.
"Dari Jakarta mbok," jawabku tersenyum.

Cerita simbok hampir membuatku lupa kalau aku menunggu Ditya bersama Arfa. Tapi Arfa mendadak tak ada di hadapanku. Aku panik. Padahal aku yakin masih melihat Arfa di dekatku bergurau dengan bocah itu.

"Mari dek, simbok bantu cari, si Tole itu biasanya ndak jauh mainnya, cuma sekitar sini terus balik ke simboknya," ucap simbok dengan santai berusaha menenangkanku.
"Lah itu, bener kan, itu anakmu dek," simbok tersenyum.

Dari kejauhan aku melihat Arfa tengah asyik bercanda sambil melahap serabi Solo dengan bocah itu. Aku sendiri tak pernah tahu anakku suka dengan serabi. Sesekali ia merobek serabi dan memberikannya pada bocah itu. Lalu mereka tertawa. Dunia anak yang kadang sulit ku mengerti. Aku terharu. Arfa tak sedikitpun merasa jijik, ia menikmati permainan itu. Seorang lelaki tiba-tiba menggandeng tangan mungilnya, memberi isyarat untuk pulang. Arfa mengeluarkan coklat Kinder Joy, memberikannya pada bocah itu. Mereka bersalaman, mungkin akan berjumpa lagi saat mereka dewasa. Ditya lalu menggendongnya dan menghampiriku.

"Bunda mau serabi?" tanya Arfa tersenyum.
"Mau," sahutku tersenyum meraih serabi dari tangan Arfa.

Enak, ini serabi terenak menurutku. Aku jadi teringat perbincangan Arfa dan bocah itu, perbincangan yang hangat, sehangat serabi Solo ini.



*bersambung


#15HariNgeblogFF2

Sabtu, 16 Juni 2012

Sepanjang Jalan Braga


Suara ring tone dari telepon selular berbunyi beberapa kali. Jam 3 dini hari. Aku mengambil telepon selular, ternyata milik Ditya yang berbunyi. Aku membangunkannya sambil memberikan telepon selularnya.

"Halo," suara Ditya terdengar parau.
"Halo, Gas, tolong aku, aku di jalan Braga," terdengar suara wanita dari kejauhan.
"Maaf mbak, salah sambung, saya nggak tinggal di Braga," jawabmu agak kesal.

Telepon terputus, perbincangan selesai.

Jam 4 dini hari, telepon selularmu kembali berbunyi.

"Ya, halo, ini siapa?" nada suaramu mulai tinggi.
"Halo, Gas, tolong aku," suara wanita yang sama.
"Mbak, salah sambung!" kamu langsung memaki penelepon itu.

Kulihat kamu mematikan teleponmu, kali ini benar-benar off, tanpa nada dering.

Jam 5 pagi, alarm telepon selularku berbunyi, aku terbangun dan langsung mematikannya. Tak lama kamu ikut terbangun dengan wajah agak kesal. Aku tahu pasti tidurmu sangat terganggu malam ini karena telepon selularmu. Padahal kami masih lelah sepulang dari Danau Toba. Lalu telepon selularmu berbunyi lagi. Aku agak terkejut, seingatku kamu telah mematikan dari powernya. Kamu menjawab dengan nada biasa.

"Halo, ini siapa ya mbak?" kamu langsung bertanya pada wanita yang menelepon.
"Halo, Gas, terima kasih," ucap wanita itu dan telepon pun ditutup.
"Ini siapa ya? Aneh. Yank, kamu ganti nada dering di hape aku?" kamu bertanya.
"Nggak yank, kenapa?" sahutku cepat

Ditya hanya terdiam bingung. Ia lalu menyalakan televisi seperti kebiasaannya setiap pagi, melihat berita pagi hari. Aku membuatkannya teh manis hangat dan duduk menemaninya di depan tv.

"Dini hari tadi seorang wanita muda ditemukan tewas di Jalan Braga, Bandung. Korban diduga ditikam beberapa kali di dalam mobilnya dan tubuhnya sempat diseret beberapa meter di sepanjang Jalan Braga. Kejadian ini diduga terjadi pada pukul 1 malam, korban diduga dibunuh karena kasus percintaan. Polisi masih mengembangkan kasus dengan menanyakan tunangan korban, Bagas."


"Praaang....!"

Ditya terkejut. Cangkir yang dipegang dibiarkan jatuh, matamu masih terbelalak kaget kearah tv. Kamu langsung melihat telepon selular, lalu menatapku. Tatapan kami penuh pertanyaan.



*bersambung


#15HariNgeblogFF2

Jumat, 15 Juni 2012

Kerudung Merah


Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang, Berastagi dan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. 2 jam penerbangan dari Jakarta ke Medan sukses membuatku tidur lelap, entah karena apa tapi tangan ini begitu erat menggenggam tanganmu. Di bandara Polonia telah menunggu sebuah mobil yang langsung mengantar kami ke daerah Danau Toba.

"Yakin nggak mau jalan-jalan di kota Medan dulu?" tanyamu seraya menggoda.

Aku mencubitnya sambil cemberut. Kamu malah tertawa sambil memelukku seolah puas telah menggodaku. 6 jam perjalanan yang cukup melelahkan, namun terbayar puas dengan pemandangan danau Toba yang permai dan udara sejuk menyegarkan. Di tengah Danau Toba terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir yang berada pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Di tengah Pulau Samosir ini masih ada lagi dua danau indah yang diberi nama Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang. Daerah sekitar Danau Toba memiliki hutan-hutan pinus yang tertata asri. Di pinggiran Danau Toba terdapat beberapa air terjun yang sangat mempesona. Di pinggiran Danau Toba terdapat satu objek wisata bernama Tanjung Unta karena daratan yang menjorok ke danau ini memang menyerupai punggung unta.

"Yank, yank," aku memanggil Ditya dari kamar hotel.

Ditya tak menjawab, aku langsung mengunci kamar dan keluar dari hotel. Panik. Entah kemana kamu pergi. Berlibur di daerah ini sepertinya akan membuatku penuh kepanikan, beda saat kami ke Padang dan pulau Lengkuas.

"Yank, sini!" suaramu terdengar dari kejauhan.
"Kamu dari mana sih, bikin aku panik," aku marah-marah padanya.
"Kenapa, kamu takut aku pergi ya?" kamu mulai menggodaku.
"Pokoknya nanti malam kamu aku ikat biar nggak bisa pergi seenaknya," aku masih ngomel-ngomel.
"Jelek ah, masih cemburuan aja, nggak abis-abis. Kamu kan yang minta kita pergi ke danau Toba," Ditya mencubit pipiku.
"Iya, tapi..."
"Yank, aku kan cintanya cuma sama perempuan cantik berkerudung merah," katamu tersenyum.
"Hah? Siapa lagi tuh kerudung merah?" nadaku mulai tinggi lagi.
"Ya kamu, kan kamu yang ada di depanku, perempuan cantik dengan kerudung merah," sahutmu tertawa memelukku.

Aku langsung melirik warna kerudungku, iya warnanya memang merah. Aku lupa. Aku tersenyum malu, mungkin pipiku semerah kerudungku saking malunya karena cemburuku yang besar terhadap masa lalunya.




*bersambung


#15HariNgeblogFF2

Euro 2012


Ini tentang pesta sepakbola Eropa atau Piala Eropa yang upacara pembukaannya digelar Jumat, 8 Juni 2012 di Polandia dan Ukraina. Upacara pembukaan yang meriah di National Stadium yang terletak di Warsawa, Polandia. 20 Menit yang akan menjadi kenangan dan kesan pada 150 juta pasang mata di berbagai penjuru dunia. Melalui layar televisi tentunya bagi yang nggak mampu nonton langsung hehehe...

Perancis adalah pilihan saya di Euro 2012 ini, sejak SMA saya selalu menyukai Perancis. Ditambah lagi sekarang Perancis bisa dibilang sedang berada di puncak permainan mereka. 21 laga terakhir yang tak terkalahkan, 15 menang dan 6 seri. Yang saya suka adalah mereka punya pemain dengan karakter menyerang luar biasa. Franck Ribery, Karim Benzema, Oliver Giroud, Hatem Ben Arfa, Samir Nasri (agak ragu mau nyebut yang terakhir hahahaha...) Semoga Laurent Blanc bisa mengarahkan anak buahnya untuk nggak sombong akan kekuatan tim lain.

Ini menurut saya looohh.... :)



France pour Euro 2012, etre des champions! :)




#Ngeblogramerame

Kamis, 14 Juni 2012

Jingga Diujung Senja


Aku merapihkan isi lemari yang telah semakin penuh dengan barang-barang. Beberapa aku sortir, yang tak terpakai aku buang. Isi lemari ini sebagian milikku dan sisanya milik Ditya. Surat-surat berharga milik kami, foto-foto pernikahan kami dan foto-foto masa muda kami. Ini foto bulan madu kami di Padang, dan ini foto terbaru saat Ditya mengajakku ke pulau Lengkuas. Aku tersenyum menatapnya.

"Kamu sedang apa?" tanya Ditya memasuki kamar.
"Membereskan lemari," sahutku.
"Kok senyum-senyum?" kamu menyusulku duduk disampingku.
"Lucu lihat foto-foto," jawabku.
"Eh, ini fotoku jaman kuliah," katamu sambil tertawa.
"Iya, foto jembatan Musi nya bagus ya," ucapku mengamati foto.

Lalu kamu terdiam sambil memegang foto itu.

"Jingga diujung senja, di bumi Sriwijaya," katamu kemudian.

Aku masih tak mengerti.

"Foto itu mengingatkan aku akan seorang gadis kecil penjual buku keliling, saat kami makan di pinggiran sungai Musi, ia memohon agar bukunya dibeli karena seharian itu ia belum makan. Aku mengajaknya makan bersama kami, dan semua teman memborong habis buku-bukunya, lalu ia memberikanku buku berjudul Jingga Diujung Senja. Bukunya hanya terdiri dari lembaran-lembaran yang disatukan dengan tali rafiah," Ditya bercerita panjang.
"Anak kecil yang malang," kataku.
"Sesengguhnya ia begitu hebat, karena buku itu dibuatnya sendiri, dengan tulisan tangan dan cover yang digambarnya sendiri," kamu meneruskan cerita sambil tersenyum.

Ada rasa bangga di wajah Ditya pada gadis kecil penjual buku keliling.

"Mungkin hanya gadis kecil itu yang menjual buku keliling di kota Palembang, ide yang cemerlang tapi tak satupun memahami," ucapmu sambil memandangku.

"Siapa nama gadis kecil itu?" tanyaku pada Ditya.
"Jingga," jawabmu pelan.



*bersambung


#15HariNgeblogFF2

Rabu, 13 Juni 2012

Pagi Kuning Keemasan


"Seperti apa pagi ini, yank?" pertanyaan yang selalu kutanyakan saat pagi menyapa dan juga ketika senja.

Dan kamu tak pernah bosannya mendeskripsikan semua pemandangan pagi dan senja itu untukku. 4 tahun ini semua pertanyaan itu adalah pertanyaan wajib bagiku.

"Apa kamu nggak pernah bosan?" tanyaku pada Ditya.
"Bosan soal apa?" kamu balik bertanya.
"Menghadapi semua pertanyaanku tentang pagi dan senja," kataku.
"Nggak pernah ada yang membosankan kalau soal kamu, pertanyaanmu soal pagi dan senja selama 4 tahun ini membuat hidupku lebih berwarna," jawabmu mengecup punggung tangan kananku.
"Aku selalu rindu melihat warna, bagiku pagi dan senja adalah dua warna yang selalu punya alurnya sendiri," ucapku tersenyum.
"Yank, minggu depan ada orang yang mau mendonorkan matanya untukmu, aku harap kamu mau mencobanya lagi," ujarmu kemudian.
"Ya, tentu saja aku mau," sahutku penuh antusias.
"Aku selalu kagum dengan semangatmu," kamu memelukku erat.

Selama 4 tahun ini belum ada satupun mata yang cocok untuk didonorkan padaku. Seminggu setelah kami pulang dari Padang, selepas bulan madu kami 4 tahun lalu, aku mengalami kecelakaan tunggal yang menyebabkan kebutaan pada kedua mataku.

Minggu yang penuh gejolak, antusias dan juga penuh harap. Hari ini aku telah menjalani semua operasi dengan sangat sukses. Hal pertama yang ingin aku lihat adalah kamu. Iya, kamu. Begitu rindunya aku melihat rupamu dengan nyata selama 4 tahun ini. Dan hari ini harapanku menjadi nyata, melihatmu penuh kepuasan dengan kedua mata baruku. Senyumanmu yang begitu hangat, tak berubah.

Dua hari setelah memiliki mata baru, Ditya mengajakku ke suatu tempat. Entah apa, kejutan katamu. Aku memejamkan mataku, ini seperti kembali ke masa kebutaanku dan aku masih menikmatinya. Udaranya masih terasa dingin, tanganmu mencoba menghangatkan dari desiran angin pagi diatas perahu ini.

"Sekarang bukalah matamu," bisikmu pelan.

Pelan-pelan aku buka kedua mataku, sekejab ada pemandangan takjub di sekelilingku. Aku masih terpana melihatnya. Ya Tuhan, terima kasih aku masih diberikan kesempatan melihat semua keindahan ini, ucapku dalam hati. Laut yang teramat indah dengan air berwarna biru. Ada pantulan warna kuning keemasan dari langit yang membuatnya menjadi sempurna. Banyak pulau-pulau kecil dan kami menuju tepian pulau tempat mercusuar berada. Pulau Lengkuas. Ditya membantuku turun dari perahu, kedua kakiku langsung menyentuh pasir putih. Pagi kuning keemasan perlahan mulai memudar, langitnya begitu biru cerah.

"Ini mengingatkanku akan pulau Cingkuak di Padang, kamu ingat?" kataku tersenyum.
"Ya, tapi dengan keindahan yang berbeda," sahutmu sambil menarik tanganku mendekati mercusuar.

Pulau Cingkuak adalah pulau yang cukup indah, sekitar 3 jam dari kota Padang. Dan pulau itu menjadi pulau terakhir yang dapat aku nikmati dengan kedua mataku sebelumnya. 4 tahun lalu.

"Kamu, pulau Cingkuak dan pulau Lengkuas punya keindahan yang berbeda di mataku, dan aku tak ingin kehilangan salah satunya," katamu kemudian sambil memelukku erat.

Aku menatapnya mesra, menatap kedua matanya yang penuh cinta dan tak berkurang sedikitpun saat kedua mataku tak dapat menatapnya utuh, dahulu.

Di kejauhan, seorang pria tersenyum dalam bayang-bayang pulau Lengkuas.

"Kedua mataku adalah bentuk cintaku yang teramat besar untukmu, Sha, semoga kamu menikmati semua keindahan itu dari kedua mataku," lalu ia menghilang bersama desiran angin pantai Lengkuas.





*bersambung


#15HariNgeblogFF2

Selasa, 12 Juni 2012

Menanti Lampu Hijau



Sore ini aku masih duduk diatas tempat duduk batu, menikmati pemandangan di pelataran Jam Gadang yang ramai akan badut-badut kartun dan orang-orang berjualan. Sesekali kulihat beberapa orang berfoto dengan badut-badut itu. Aku hanya tersenyum saat mereka menghampiriku. Siang tadi aku dan Ditya baru saja sampai di Padang, dan Ditya langsung membawaku ke tempat Jam Gadang ini. Ia tahu betapa inginnya aku melihat Jam Gadang nan indah ini. Tak seperti aku, Ditya malah sibuk jalan-jalan ke dalam pasar di sekitar Jam Gadang, entah membeli apa. Ia sudah jauh lebih dulu mengenal Padang dibanding aku, karena orangtuanya yang memang asli orang Minang. Kulihat dari kejauhan Ditya membawa tas plastik, mungkin oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta. Lalu sore mulai menepi berganti senja.

"Beli apa?" tanyaku tersenyum.
"Kain songket, oleh-oleh buat teman kantor," jawabnya.
"Masih betah?" Ditya balik bertanya.
"Iya, kenapa?" sahutku tersenyum.
"Nggak papa, aku kangen," katanya setengah berbisik.

Aku tertawa mendengarnya, aku mengerti pasti sedari tadi ia telah menyimpan rindunya. Dan Ditya selalu punya mantra ajaib yang membuatku sulit menolak semua kerinduannya.

"Aku sudah kangen sejak kita sampai di Padang tadi siang," ucapku menatapnya.
"Kok nggak bilang? Tahu begitu kan jalan-jalan ke Jam Gadangnya bisa besok," nadanya terdengar agak ngambek.

Aku tertawa mencubit pipinya dengan mesra.

"Sayang, aku kan hanya menanti lampu hijau darimu, kapan kita memulai bulan madu kita," kataku sambil berjalan mengalungkan pelukanku di pinggangnya.

Kamu tersenyum sumringah. Hangat, malam itu Jam Gadang menatap kami penuh cinta. Jarum jam nya seolah lupa menggerakkan kewajibannya untuk berdetak.






*bersambung


#15HariNgeblogFF2

Senin, 11 Juni 2012

Cinta Sikat Gigi


Malam ini kamu terlihat sangat kelelahan, rupamu seperti menanggung beban puluhan kilo. Aku menatapnya penuh mesra. Kamu selalu hebat di mataku.

"Kamu kelihatan capek sekali," kataku.
"Hari ini banyak yang harus aku bersihkan, susahnya minta ampun," jawabmu sambil mengeluh.
"Sabarlah, ini sudah menjadi tugas kita," aku berusaha menghiburnya.
"Tapi kamu hebat, seberat apapun tugasmu, kamu mampu menyelesaikan dengan baik," kataku lagi sambil tersenyum.
"Yang hebat itu kamu, kamu nggak pernah mengeluh sedikitpun," kamu balik memujiku.

Aku hanya tersenyum. Kalau saja kamu tahu, hari ini aku menangis dengan serunya. Sang pemilik sikat gigi sudah membeli sikat gigi baru, itu artinya posisiku akan tergantikan. Dan yang paling menyedihkan tentu saja tentang kita yang harus berpisah. Tapi aku masih menyimpan semua ini, aku bingung harus bagaimana aku tanpamu. Di ruangan ini kita kerap berbagi bersama, bercerita tentang isi hati kita yang terdalam, merasakan hal yang tak pernah siapapun miliki, hanya kita.

Dan hari itupun datang juga. Sang pemilik meletakkanku di pinggiran wastafel. Kamu terdiam melihatku. Tepatnya kita terdiam melihat semua ini. Tak mampu menolak, tak bisa melawan, apalagi membantah situasi ini. Aku berusaha menyembunyikan kesedihan dan airmataku. Berpisah denganmu adalah hal terberat dari menyikat gigi kuda sekalipun. Mulai malam ini sepertinya kita tak akan menggenggam kebersamaan kita lagi. Aku menatap tong sampah di sebelah wastafel, tempat yang akan menjadi persinggahan terakhirku di ruangan ini. Aku akan sangat merindukanmu...

"Kenapa kita harus berpisah?" tanyamu dari dalam wadah.

Suaranya terdengar datar namun penuh kesal.

"Aku senang kita pernah bersama," jawaban yang bukan diharapkan olehmu pastinya.
"Aku lebih bahagia kita nggak berpisah, sakit rasanya. Kamu yang membuat aku kuat selama ini, bukan diri aku. Lalu aku harus bagaimana tanpamu?" ujarmu panjang.

Kata-katamu membuatku sulit menahan rasa ini, aku menangis. Malam ini aku menangis dengan luka yang tak mampu kubendung. Teramat dalam cinta ini buatmu.

"Praaakk...!"

Sang pemilik menggerutu kesal dan membuang sikat giginya ke dalam tong sampah.

"Apa yang kamu lakukan?" aku terkejut melihatmu berada di tong sampah bersamaku.
"Aku kan sudah bilang, aku lebih bahagia kita tak berpisah," kamu tersenyum.

Ah, aku rindu senyum itu, senyum yang tak akan aku dapatkan dari sikat gigi manapun, hanya kamu. Kali ini walau keadaanmu terbelah dan rusakpun aku tetap mencintaimu.

Minggu, 10 Juni 2012

Sobat

Satu rajutan persahabatan telah terbentuk
Seutas yang bermakna duka diikat dengan jalinan penuh tawa
Hati kita saling mengisi cerita
Arti airmata hanya kita yang tahu
Luka hanya kita yang rasa
Tapi senyuman dan tawa tetap milik kita
Sobat, akankah kita selalu berpegangan erat?




Shanty - 28 Juli 2002
Kamar, 07.00 wib

Aku

Lahirku dari rahim yang terselubung
Kau hempaskan aku dari teriakan Ibuku
Aku melihat dunia dengan tangisan
Tanpa mengerti mengapa aku Kau hidupkan

Tahunku kian bertambah
Aku kenal kau sebagai Ibuku
Aku kenal kau sebagai Ayahku
semua perhatikanku
Oh, seribu alasan inikah Kau beri aku nafas?

Wahai Tuhan, besarnya jasa Mu...

Tengadahkan rautku pada Mu
Terima kasih Kau hidupkan aku...




Shanty - 22 Maret 2002
Mobil, 19.30 wib

Sesuatu...

Sesuatu yang hilang saat kau datang dan berlalu
Adalah ombak tak temukan pantai
Nelayanpun termangu, tak tahu kemana perginya ikan
Ternyata hari-hari bagaikan bayang
Impian itu indah, meski tak menjadi nyata
Haruskah kuberlari?
Atau kubiarkan luka di kaki menganga...
Namun akan sampai kapankah?
Dinding itu terlalu lebar untukku!
Aku lemparkan saja dikau kembang
Yang kupetik dari rembulan malam
Ambillah...sebagai tanda tulusnya aku
Namun jangan kau campakkan, cukup kau kubur dalam taman hatimu
Itu sudah cukup dan berarti banyak buatku...




Anyer, 15 Oktober 1994

Bunda

Bunda, ada apa dengan hari esok?
Mungkinkah malam terus menemaniku?
Apakah bulan tetap menjaga dari kegelapan?
Bersinar sampai tiba matahari berganti

Bunda, katakanlah...
Segalanya tentang esok
Meskipun telah terjadi
Sebab aku mungkin tak akan pernah tahu esok




Shanty - 23 Januari 1999
Rumah, depan tv

Karena kamu

Mengapa kau sentuh hatiku
Membuatku jadi pilu dan biru
Hingga ku tak ragu-ragu
Aku menyukaimu

Saat kau melihatku
Dari balik mata indahmu
Menatapku dengan senyummu
Ah, kau begitu lucu

Pura-pura saja tak tahu
Tapi aku semakin terpaku
Gerakanku tiba-tiba jadi kaku
Kata-kataku jadi beradu
Beda dengan gayamu
Terlihat wajar tanpa malu-malu

Sejak jumpa saat itu
Rinduku terbelenggu
Kau buat kenangan terbaru
Bagai nada dalam lagu
Yang menyimpan sesuatu
Seperti kata I Love You




Shanty - 4 April 1998
Kampus APT, kelas kewiraan, 11.00 wib

Tak Mampu

tak biasa lagi aku
tuk merangkai kata-kata
kata cintaku
kata rinduku

semua sudah kubiarkan
kupendam dan kutelan
aku terus lelap
tenggelam dibenakku




Shanty - 17 Maret 1998
Waserda Perbanas, 13.30 wib

Kenanganku

Kalau aku lihat buku ini,
aku jadi ingat kamu
Banyak hal telah tercurahkan,
semuanya tentang kita

Entah apa lagi yang akan dituliskan,
bila kamu masih ada disini
Beribu kata mungkin akan tercipta
disini, di buku kecil kita

Aku jadi kangen kamu,
senyuman dan kocaknya gayamu,
pelukan dan perhatianmu
Jujur saja, aku masih sayang

Tapi waktuku telah habis
Kamu, bukan lagi aku yang menjaga
Mungkin bila waktuku datang kembali
Lihat ya, aku akan ungkapkan semua rinduku...



Shanty - quatre Janvier 1997
Meja Belajar

Buatmu...

Andai saja aku ini peri
kugerakkan tongkat dan sayap indahku
Kan kucipta dirimu
Tuk selalu ada di hati dan di sisiku
Sekarang dan selamanya

Kalau saja ini nyata
aku akan selalu menyayangimu
tapi walau ini hanya mimpi,
aku tetap menyukaimu

Terserah bila kau tahu
aku selalu memperhatikanmu
Karena perhatianku ini
mewakili segenap rasa cintaku...



Shanty - deux Janvier 1997
Meja Belajar

Mimpi

Ketika kulihat dirimu tersenyum padaku,
Ku tahu aku menyukaimu
Ketika kutatap matamu seakan ada sesuatu,
Tapi entah apa

Apa yang ada didirimu hanya untukku,
hanya sekilas...
Namun apa yang selama ini kurasa,
hanyalah mimpi semata

Hilang, lenyap, musnah...
Seperti secarik kertas yang ditelan api
Hanya sebatas itu, dan...
Itupun mimpi...



Shanty - 1996
Class Room 2E

Jika,

Jika,
Kau tidak rindu padaku, tolong kembalikan rinduku padaku...

Jika,
Kau menolak salamku, tolong kembalikan salamku padaku...

Jika,
Kau tak mimpi aku, tolong bangun dari tidurmu...

Jika,
Kau benci aku, tolong katakan bencimu padaku...

Tapi jika,
Kau cinta padaku, tolong simpan cintaku di hatimu...



Shanty - 1995
Meja Belajar

Sabtu, 09 Juni 2012

Laki-laki ganteng itu Papaku :)


Tubuh yang tak begitu tinggi sekitar 165-an cm, tidak gemuk, kulit coklat, hidung mancung, raut penuh ramah dan agak pendiam. Di hatinya cuma ada kejujuran, baginya itu modal awal untuk menaklukkan Jakarta sejak beberapa tahun silam menjadi seorang perantau. Meninggalkan kota kelahirannya dan berpisah dengan orangtua sedari kecil adalah bagian dari jalan hidupnya. Tak ada bermanja atau merengek tentang inginnya terhadap suatu hal. Menjadi mandiri dan dewasa oleh keadaan mungkin itu lebih tepatnya. Pertautan hidup membawanya mengenal seorang wanita yang kemudian dipanggilnya sebagai istri. Cinta dan kesetiaan, begitu banyak pelajaran darinya. Bahwa pernikahan adalah suatu kerjasama sepasang suami istri yang pondasinya kepercayaan dan komunikasi. Bahwa pernikahan tak cukup hanya cinta tapi memang butuh cinta didalamnya. Bahwa menjalani pernikahan tak semudah pacaran yang penuh rencana indah dan impian tanpa cela.

Ia adalah laki-laki penuh kerja keras, loyalitas tinggi dan kesabaran. Namun juga tak lepas dari sisi egois dan penuh perhitungan, itu terkadang memberi opini orang bahwa ia pelit. Padahal ia hanya mencoba menghargai hasil yang susah payah telah ia capai. Rasanya rugi kalau harus menghamburkan sesuatu yang sudah digali dengan penuh peluh dan airmata. Maka ia sangat menjaga keluarganya, istri dan anak-anaknya. Harta yang sampai akhir hayat tak akan ia sia-siakan secuilpun. Itulah mengapa ia terlihat agak keras kepala, berpendirian kuat dan tak labil. Meski kadang argumentasinya sering tak sejalan dengan pemikiran saat ini. Ia lebih antusias berbicara sejarah, tentang jaman kecil yang penuh penjajahan. Tentang jaman muda yang penuh gejolak di masa pemerintahan yang berganti alur. Ia seorang yang cukup teliti, hobinya bermusik, bersepeda dan ngulik soal barang-barang di rumah. Keunikannya terletak di tangannya yang ajaib, hampir semua barang yang rusak bisa ia perbaiki seperti layaknya kartun Handy Manny :)

Kini ia menikmati hari penuh tawa bersama cucu-cucunya, 5 orang cucu yang akan mengiringi sisa usianya dengan kasih sayang di masa pensiunnya . Rambut putih, raga yang lebih kurus dari semasa muda, kekuatan yang masih tersisa, namun aura itu tak pernah sedikitpun memudar. Kegantengan yang ia warisi pada 2 cucu laki-lakinya. Ya, laki-laki ganteng itu Papaku. Dan jika aku bertemunya di kurun waktu ku, aku pasti akan naksir berat :) Love you Papa...

Jumat, 08 Juni 2012

My Favorite Hangout Place

Ngobrolin soal resto favorit di Jakarta ini sebenernya buanyak banget. Tapi inilah resto yang paling sering saya kunjungin bareng suami dan anak-anak. Biasanya memang punya konsep berbau anak-anaknya :).

Pizza Hut : Entah kenapa saya dan keluarga lumayan sering makan di resto ini. Tempatnya yang mayan asik, biasanya lebih suka milih yang tempat duduknya sofa. Pizza, fettucini, chicken wings, nyam nyam...


Bakmi GM : Kesukaan saya dan anak saya pada mie bakso membuat resto ini jadi salah satu resto favorit. Kalau suami lebih ke nasi, nasi ayam GM atau nasi gorengnya. Biasanya di GM ada small playground gitu jadi anak saya sebelum atau setelah makan bisa main perosotan. Tapi yang juara menurut saya adalah pangsit gorengnya yang khas banget dicocol sausnya....kriuukkk...nyemm..nyemm...



Time Zone or Fun World : Ini tempat yang bener-bener bikin fun plus bangkrut tanpa sadar hhahahaa... Saking enaknya kadang suka nagih isi ulang mulu tau-tau udah abis puluhan ribu hihiiiihi...


Sebenernya pengen bisa nyari wangsit lagi dengan nongkrong seharian di cafe kecil, duduk di sofa empuk sambil nulis dan liat hilir mudik orang-orang, tapi berhubung sekarang anak-anak masih kecil-kecil jadi tempat hangout beralih ke konsep family :)

Kamis, 07 Juni 2012

Paketum Ku, Paketum Kita semua :D




Malam, 18 Mei 2012, suami bbm saya : "Jadi juga yank." Saya agak bingung, saya tanya balik, "apanya?". "Jadi ketua Indomanutd." Saya langsung ketawa. Bukan, bukan ngetawain ngeledek, tapi ngebayangin ekspresi muka suami yang saya tahu pasti di pikirannya langsung kebayang banyak hal mengenai forum bolanya. Saya yakin juga bukan beban buat suami, suami pasti juga senang. Suami cuma bingung dan haru begitu percayanya orang-orang sama kemampuannya jadi ketua. Saya pastinya ikut senang dengan kabar itu, karena Indomanutd udah seperti keluarga buat kami. Saat itu saya cuma jawab, alhamdulillah, jadi pak pres juga (pake icon ketawa) artinya masih ada yang percaya sama kamu untuk ngurus forum ini jadi lebih baik, selamat yaa... kiss kiss paketum :*

Peresmiannya menjadi seorang ketua Indomanutd se-Indonesia di Gathnas Semarang, hanya bisa saya lihat dari foto dan cerita teman-teman, karena saya harus menjaga putri kecil kami yang masih terlalu riskan untuk dibawa jalan-jalan ke luar kota. Tapi dibalik itu semua saya bangga, saya bangga memiliki suami yang sangat dipercaya penuh sama teman-teman di forumnya, bangga karena posisinya sebagai ketua itu nggak hanya sekedar ketua yang nggak tahu apa-apa tahu-tahu ditunjuk, tapi ketua yang memang paham luar dalam isi forumnya, tentang bolanya, semuanya. Pengetahuannya soal bola sendiri dulu sempat membuat saya kaget. Dan jiwa pertemanannya yang nggak memilih tua muda, teman baru or lama, cowok atau cewek sekalipun, semua paketum hormatin. Kecuali yang tengil-tengil, itu bagian pak menhan hahahaaa.... Tapi itu kalau yang tengil cowok, kalau yang cewek nah ketemu saya aja langsung :))

Menjadi ketua Indomanutd untuk yang pertama kalinya, semoga nggak bikin paketum semakin naik darah ngurusinnya hahahahaa.... Semoga dengan kepercayaan dari teman-teman Indomanutd, paketum bisa menjalani tugas dengan baik (bu ani banget nggak sih gw ngomongnya hahahahaaa) Semoga semakin bisa membagi waktu antara keluarga, tugas kantor dan forum. Semoga teman-teman Indomanutd juga selalu senang hati riang gembira membantu paketum. Semoga dengan terpilihnya menjadi ketua jadi jalan amal buat menjadi lebih sabar dan bijak walau udah taat pajak. Kalaupun ada masa dimana paketum emosi ya harap dimaklumi saja, paketum juga manusia :)



Peace Love United Respect,



Shanty Adhitya