YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 29 Mei 2012

The Coffee Shop Chronicles



* Pengarang : Aditia Yudis, Wangi Mutiara Susilo, Yuska Vonita, dkk

Dalam buku ini, total ada 29 kisah yang ditulis oleh 21 orang penulis. Ternyata membuat kisah di sebuah coffee shop punya berjuta pandangan, dan ini adalah kelebihan dari buku keren ini. Bukan tentang kopi, jenis apalagi pembuatannya. Namun soal cerita manis, drama yang pahit, kisah yang miris dan bertekstur horor dibalik tiap hirupan, seruputan, endusan dan aromanya.

Awalnya saya pikir ini keseluruhan tentang surat pendek seorang Tuan Arsitek yang ditanggapi oleh Nyonya Pengarang, cuma itu. Tapi ternyata malah bermunculan tokoh lain seperti Penulis, Barista, Desainer, Kekasih, Pengantin, sampai Nenek, yang dibuat oleh para penulis dengan latar yang sama serta interaksi dengan para tokoh sebelumnya. Yang menarik buat saya satu lagi adalah Cangkir. Iya Cangkir, di buku ini Cangkir punya ceritanya sendiri, hebat kan!

Buku dengan paket komplit, itulah saya menyebutnya. Karena kekuatan para penulis dan gaya penulisan mereka. Simaklah berbagai alur yang ada di dalamnya saat para penulis mengisahkan ceritanya. Mimik wajah dan raut kita saat membaca mewakili isi buku ini. Yuk sama-sama menyesap kopi bareng dengan buku ini :)

Cerita Sahabat




Sore itu sepulangnya dari kantor saya langsung menuju Plaza Senayan dengan agak terburu-buru. Ya, saya takut ketinggalan launching buku mbak Alberthiene & friends. Pokoknya sore itu saya harus dapat tanda tangan plus foto. Eh tapi saya belum punya bukunya, oke nanti langsung beli aja disana. Sampai di Konikuniya suasana sudah ramai dan seru. Saya celingukan mencari sosok bernama Chicko, salah satu penulis dalam buku tersebut yang kebetulan adalah teman suami saya. Alhamdulillah ketemu Chicko malah dikasih buku plus tanda tangannya. Norak yak eh bodo amat hahahaa... Akhirnya tiba saat ngantri tanda tangan dan saya nggak bawa pulpen, cakeeppp... Bermodal minjem dari sesama fans maka terkumpulah tanda tangan itu. Dan saya pulang dengan hati riang :) Langsung dibaca tapi baru sekarang sempat kasih review :)

Alexander Thian : sang sosok #selebtwit menulis paling banyak di cerpen Aku Mau Putus (betapa Monas juga punya arti), Aurora, Cinta di Batas Angan, dan Vendetta (speechless sama yang ini, keren banget).

Rahne Putri : salah dua #selebtwit hehe krn yang pertama Alex *kriuk Kita dan Angkasa, Jawaban dan Sihir Hujan.

Alberthiene : Blok D nomor 16, ending yang tak disangka-sangka :) Juga ada cerpen Pengakuan.

Verry Barus : memiliki gambaran sendiri tentang perempuan-perempuan masa kini dengan Kontak Jodoh-nya .

Tjai Edwin : Anak Laki-laki Yang Belum Mengenal Cinta dan Tentang Hujan. Cerita yang pertama itu temanya amat sangat nggak biasa loh :)

Dillon Gintings : Cateutan Akika Jilid Dua (awalnya kocak banget walau berakhir menyedihkan), Yuk Mari, Tidak Di Sini dan Mungkin Nanti.

Faye Yolody : cerpen yang paling saya suka dan yang paling mengena : Djodoh Wo Bu Ai Ni dan Untung Ada Tyas!, tapi Perempuan Dusun dan Hilang sangat menyentuh :)

Ollie : Rendezvous, cerita cinta berawal dari dunia maya ini mengingatkan akan perjalanan kisah cinta saya juga hahahhaa... Jejak Pelangi juga nggak kalah bagusnya.

Rendy Doroii : Sang pramugara ganteng yang bercerita lewat Bintang, Mentari dan Hujan, Kisah Aku, Pelangi Malam Hari dan Permainan Hati :)

Chicko Handoyo Soe : cerpen Telephone-nya bikin gimana gitu ya ahak..ahak... :))

Jia Effendie : Langit Jeruk itu nanceb banget, nggak kalah sama Malam di Moko.

Faizal Reza Iskandar : Judul cerpen terpanjang di buku ini, entah dari mana datangnya hehe... Saat Shinichi Kudo Berpamitan Kepada Ran Mouri dan Tidak Kembali Lagi, serta cerpen Sangat Sederhana.



Buruan yuk beli, baca, trus tenggelam dengan olahan rasa yang penuh warna bersama para cerita sahabat :)

Senin, 28 Mei 2012

99 Cahaya di Langit Eropa



Buku memang selalu bisa membuat saya berkeliling dunia tanpa transportasi nyata apapun. Seperti halnya buku ini telah menghipnotis saya masuk ke dalam benua yang secuilpun belum pernah saya singgahi. Dan yang terpenting adalah bahwa Eropa bukan hanya soal Menara Eiffel atau Colosseum tapi lebih luas dari itu. Saya yang sejak kecil juga hidup berdampingan dengan agama lain, merasakan bahwa perjalanan Islam di Eropa yang sudah berlangsung sangat lama ini juga menyentuh berbagai bidang peradaban.
Sejarah, budaya dan teknologi ternyata memang sulit terpisahkan karena sifatnya yang saling mengisi.

Salah satu yang menarik adalah keberadaan mantel keramat di komplek istana Hofburg, di Schatzkammer Museum. Mantel pengangkatan raja Katolik Eropa di Sisilia yang seharusnya penuh ikonisasi Katolik. Tapi disekitarnya justru muncul gambar-gambar berbau Timur Tengah, padahal raja Roger seorang penganut Katolik yang taat.

Perjalanan Cordoba dan Granada adalah perjalanan 'titipan' sang Ayah. Cordoba, kota seribu cahaya yang menginspirasi banyak orang Eropa. Granada, dinasti islam terakhir yg mencoba bertahan di Spanyol.

Demikian review saya tentang buku 99 Cahaya di Langit Eropa yang membuat saya sangat iri sama perjalanan mbak Hanum Salsabiela Rais beserta sang suami :)

Kamis, 24 Mei 2012

Jar Cake


Nadra membuang semua isi kulkasnya dengan kesal. Dipegangnya salah satu jar cake yang tersisa di dalam kulkas ini lalu dilemparnya ke tong sampah. Jar cake selalu mengingatkannya pada Izal. Semua jar cake pemberian Izal tak lagi ada. Kekesalannya pada Izal telah memuncak sejak Izal ia sebut sebagai laki-laki paling egois sejagat raya. 2 Bulan ini Izal hanya sibuk dengan bisnis, bisnis dan bisnisnya. Segala hal yang Nadra inginkan demi hubungan mereka seolah hanya dianggap angin lalu oleh Izal. Sibuk adalah alasan paling tepat untuk Izal saat ini. Dan siang ini Nadra tak sengaja bertemu Izal di toko kue tempat Izal biasa membeli jar cake. Tapi kali ini Izal bersama seorang perempuan cantik. Jadi terjawab sudah kesibukan Izal selama ini. Nadra malas kalau harus membahasnya apalagi dengan perdebatan, ia langsung berlalu. Izal tak juga berusaha mengejarnya. Nadra pasrah dengan airmatanya yang entah untuk alasan apa ia teteskan. Perempuan tadi sama-sama memegang jar cake dengan rasa yang sama persis seperti kesukaannya, greentea. Aku pikir jar cake itu hanya buatku, Zal.

Pagi ini Nadra duduk di tangga kecil teras rumahnya. Menatap tong sampah yang penuh akan jar cake kesukaannya. Ada rasa sesal. Namun semua jar cake itu pemberian Izal. Atas cintanya, sayangnya, amarahnya, rindunya, sampai permintaan maafnya saat mereka berselisih paham. Bukan dengan bunga atau coklat. Izal memberi label tentang isi hatinya pada setiap jar cake pemberiannya, agar saat Nadra melahapnya ia dapat ikut merasakan apa yang Izal rasakan saat itu. Tak jarang Nadra senyum-senyum sendiri saat ingat cerita dibalik semua jar cake itu. "Ah, rasanya ingin aku tutup saja itu toko kue yang jual jar cake," ucapnya dalam hati.

"Hai Nadra, aku harap sore ini kamu mau bertemu denganku di taman kota."

Nadra membaca isi inbox email nya dari Izal. Ia ragu apakah Izal pantas ia maafkan atau tidak. Haruskah ia mengikuti keinginan Izal untuk bertemu sore ini?

Dan sore ini Nadra mendapat surat mungil di meja resepsionis. Dari Izal. Hanya surat kecil dan soal pertemuan sore ini.

Nadra memutuskan untuk mengikuti permainan Izal dan menuju taman kota. Sampainya disana ia hanya terpaku melihat begitu banyak jar cake berbentuk namanya. Inikah cara terkini untuk Izal meminta maaf padanya? Izal telah menunggunya.

"Selamat ulang tahun Nadra sayang, ini adalah hasil kesibukanku selama 2 bulan terakhir, seribu jar cake dan seribu anak yatim seperti keinginanmu, maafkan atas sikapku ya," ucap Izal mencium keningnya mesra.

Nadra masih termangu melihat begitu banyak jar cake di taman kota ini. Ia bahkan lupa hari ulang tahunnya. Ya, ia memang pernah mengatakan pada Izal soal keinginannya saat ulang tahun makan jar cake bersama seribu anak yatim. Sesaat kemudian seribu anak yatim muncul dan duduk memegang jar cake masing-masing. Nadra terharu. Untuk saat ini ia tahu untuk apa airmatanya ia teteskan. Ia teringat ucapan Ayah untuk selalu membagikan makanan kesukaannya pada anak yatim. Ya Tuhan, berada diantara seribu anak yatim ini aku seperti merasakan surga-Mu. Dan Izal, laki-laki super baik hati yang selama ini ia cintai yang telah mewujudkannya, mendadak tak terlihat egois secuilpun. Malah aku yang merasa jahat, mengira Izal telah mengesampingkannya padahal perempuan itu hanya sepupunya yang lama tinggal di Aussy. Izal merangkulnya mesra.

"Nadra, maukah kamu menjadi ibu dari seribu anak yatim ini dan ibu dari anak-anakku?" Izal melamarnya.

Nadra hanya mampu mengangguk cepat dan memeluknya penuh haru. Tak mungkin ia menolak laki-laki sebaik Izal. Apalagi menolak menjadi ibu dari seribu anak yatim ini. Izal menyuapinya sesendok jar cake greentea. Jar cake kali ini punya rasa yang tak akan bisa Nadra lupakan sampai kapanpun. Labelnya bertuliskan : "will you marry me?"

Rabu, 23 Mei 2012

Putus

Nara memainkan cincin emas putih yang melingkar di jari manis kirinya. Sesekali pandangannya terhenti pada sebuah telepon selular. Tak ada suara apa-apa. Wajahnya lalu menatap bingkai foto tak jauh dari telepon selularnya. Fotonya dan Padma dengan senyum bahagia di sebuah pantai. Foto itu saat kami berlibur ke Lombok setahun yang lalu. Saat Padma masih bekerja di Jakarta, saat Padma masih begitu mencintainya, saat kami masih baik-baik saja. Kesibukan memang selalu menjadi langkah awal hubungan yang merenggang. Tepat di akhir tahun lalu, Padma menerima pekerjaan baru di sebuah pelayaran, praktis hal ini membuat kami jauh. Masih di awal tahun, Padma masih menyempatkan hatinya untuk merindukan aku, tunangannya. Setidaknya masih banyak kata rindu yang ia ucap dari kejauhan. Padahal tak perlu diucapkanpun aku tahu ia rindu, seperti juga aku. Tapi beberapa bulan ini kata rindu itu begitu sulit aku genggam. Hubunganku dan Padma kian datar.

"Halo...halo...Nara..." ucap Padma diujung telepon.
"Ya, halo...Padma...halo..." Nara bersuara agak kencang.
"Tuuuttt..." percakapan mereka terhenti.

Padma mungkin baru akan meneleponku 2 hari lagi. Dan itupun tak selalu menjadi obrolan yang sukses.

"Aku kangen..." kataku di suatu sore. Terdengar jeda beberapa detik.
"Ya, aku juga..." sahutnya.

Hanya itu, dan sebelumnya Padma tak pernah hanya membalas "aku juga". Padma berubah.

"Halo, Nara...Nara..." Padma agak berteriak memanggil namaku.
"Ya Padma, aku dengar," sahutku.
"Aku...Aku rasa aku nggak bisa kembali lagi ke Jakarta," katanya.

Jeda sekian detik terdengar lagi.

"Aku rasa kita lebih baik memutuskan pertunangan ini dan menjadi teman. Aku rasa kita lebih baik putus," suaranya yang masih terdengar agak berteriak semakin mengikis telingaku dengan keputusannya.

Kamu rasa? Lalu kamu tak peduli dengan rasaku. Selalu kamu.

"Tapi kenapa?" aku mencoba mencari alasannya soal putus.
"Banyak hal Nara, aku rasa putus dan berjalan sendiri itu yang terbaik," jawabnya.

Suara jeda dan sinyal yang mulai buruk ini mulai menyiksaku.

"Padma... Padma... Haloo..." Nara masih mencoba memanggil namanya.

"Tuuuuuuttt....." jaringan telepon terputus.

Aaahh...menyebalkan! Ini sama halnya dengan hubungan kita Padma. Putus.

Makanan Favorit Sepanjang Masa

Tema #Ngeblogramerame minggu ini adalah makanan. Biar lebih menyatu dengan tema maka saya putuskan untuk ngetik sambil nyemil hahahaaa.... Tapi maksudnya tentang makanan iki piye? Makanan terenak? Makanan paling memabukkan? (minum itu mah ya?) Oh, ternyata makanan kesukaan dan makanan yang kita nggak suka. Sip deh, ayo kita mulai :)

Ini adalah makanan kesukaan saya :

1. Telur
Sejak kecil mulai nge-fans sama makanan berbentuk bulat lonjong ini. Paling asoy dinikmatin kalau diceplok. Makan apapun kalau ada unsur telurnya sudah pasti maknyos. Tapi saya cuma suka sebatas telur ayam dan bebek, selain itu nggak tega makannya, apalagi telur penyu.

2. Rendang
Rendang daging, rendang paru, rendang telur, eeeenaaaaakkk banget kalau dimakan pakai nasi anget-anget nyemmm..... Selama ini rendang yang enak adalah buatan mertua hehehee.... kalau rendang paru buatan emaknya Nilam, sahabat saya.

3. Durian
Durian adalah buah yang paling enak dan bikin hati tentram kalau dimakan hahahhaaa... Enaknya nggak kira-kira euy...

4. Bakso
Asal nggak pakai saos ama mecinnya, bakso selalu bikin segerrr apalagi kalau lagi puyeng :) Biasanya langganan saya lewat depan rumah, namanya bakso bewok sama bakso gepeng si joko.

5. Kulit ayam KFC
Ini makanan yang paling nggak rela di share sama siapapun, anak ataupun suami. Kulit ayam dada original KFC adalah save d best for last :)

Ada makanan kesukaan, ada pula makanan yang bikin ogah nyentuh, susah banget buat ditelen, nggak sudi banget dikunyah. Makanan itu adalah : Pare, Pete alias Petai, Ketimun, Nanas dan Sushi. Silakan kalian menjauh dari akuuhh.... :)


Jadi sudah jelas kan teman-teman, makanan kesukaan saya apa saja? Biar enak kalau mau traktir saya gitu hahhahaha....




#Ngeblogramerame

Jumat, 18 Mei 2012

Burung Pemarah dan Babi Muda



Kenalkan, namaku Kingkin si burung merah. Sifatku yang pemarah membuat aku dijuluki burung jutek. Sehari-hari aku membantu juragan kecilku di kebun untuk mengumpulkan buah-buahan. Tapi pekerjaanku tidaklah mudah, ada Palastra si babi yang suka mencibir dan mengganggunya.

"Hei burung jutek dan pemarah, apa kamu tidak bosan dengan pekerjaanmu itu? Lebih baik kamu menjadi pekerja di ladang Pak Gendut," katanya dengan wajah sinis.
"Diam kamu, pekerjaanku ini lebih baik tahu daripada pekerjaanmu yang hanya mencibir dan mengganggu aku," sahut Kingkin kesal.
"Kamu yakin setia bekerja pada tempat yang benar?" Ujar Palastra.
"Apa maksudmu?" Kata-kata Palastra mulai mengusiknya.
"Cobalah kamu cari tahu apa sebenarnya yang dilakukan oleh juragan kecilmu,"Palastra si babi tersenyum puas.

Tinggallah Kingkin yang mulai goyah dengan kesetiaannya selama ini dan tergugah untuk mencari tahu. Siang ini setelah Kingkin bekerja mengikut sang juragan kecil, ia memutuskan untuk mengikutinya. Sang juragan kecil terlihat agak susah membawa 3 karung buah ke sebuah rumah kecil. Itu buah-buah yang Kingkin petik, pikirnya. Lalu berkumpulah sang juragan kecil bersama 3 temannya. Mereka tampak senang dan tak ada pemandangan aneh sampai salah satunya berkata tentang hasil curian hari ini. Apa??? Jadi selama ini Kingkin membantu pencuri? Bodohnya ia. Mungkin Palastra sudah mengetahuinya hingga ia mengejeknya begitu puas. Kingkin sangat kecewa, marah dan juga sedih pada dirinya sendiri. Esoknya Kingkin berpura-pura sakit, ia sudah tak sudi membantu pencuri cilik itu. Ditengah jalan ia bertemu dengan Palastra. Ia hanya tersenyum jahil melihat Kingkin mulai tak setia pada juragan kecilnya.

"Daripada kamu tersenyum sinis begitu, lebih baik kamu temani aku bertemu Pak Gendut," ujar Kingkin.

Babi muda itu berjalan santai menemani Kingkin bertemu siempunya ladang. Setelah itu mereka beristirahat di pelataran rumput yang luas.

"Kenapa kamu memutuskan bekerja di tempat lain? Aku lihat kamu sangat setia padanya," tanya Palastra.

Kali ini rautnya begitu baik, tak sinis seperti biasanya. Dan Kingkin mulai merasa ia adalah teman yang baik meski agak nyinyir.

"Cukuplah aku membantunya selama 3 tahun ini, menjadi busur di ketapelnya untuk mencapai buah-buah di ladang orang, 3 tahun menerima nasib sebagai burung pemarah sekaligus bodoh," jawab Kingkin penuh sesal.
"Tapi kamu kan memang burung pemarah dan selamanya akan menjadi burung pemarah," Palastra tertawa. Kingkin ikut tertawa.
"Ya kamu benar, aku memang burung pemarah karena wajahku yang tercipta sebagai burung pemarah. Terima kasih Palastra, kamu walau suka mencibir masih baik padaku, maafkan kalau aku suka buruk sangka mengira kamu hanya bisa mencela aku," kata Kingkin tersenyum.

Sejak saat itu Kingkin si burung pemarah dan Palastra si babi muda bersahabat erat.



#proyekfabel

Selasa, 15 Mei 2012

Cinta Abinaya dan Ganita


Suatu pagi di desa pesisir pantai Hijau, seorang lelaki muda bernama Abinaya sedang menyiapkan perahunya, ia dan 2 orang tetangganya akan berangkat mencari ikan. Seperti biasa sebelum mulai berlayar ia selalu menitipkan sebuah kaleng bekas berisi koin-koin pada seorang wanita, Ganita namanya. Kaleng bekas itu telah ia tutup rapat dan agak sulit untuk membukanya.

"Ganita, Ganita," panggil Abinaya di depan rumah Ganita.
"Eh, kamu Bi, mau berangkat?" Ganita menghampirinya.
"Iya, aku titip ini ya,ingat, jangan kamu buka sebelum aku ijinkan," katanya tersenyum memberikan kaleng bekas berisi koin.

Ganita mengangguk tersenyum. Ia seolah telah hafal peringatan dari Abinaya. Kaleng bekas berisi koin itu telah banyak terkumpul di kamar Ganita, semuanya ia susun dengan rapi dan bersih tak berdebu. Pernah ia sangat penasaran dengan isi kaleng bekas itu dan ia berusaha sekuat tenaga untuk membukanya namun tangannya malah terluka. Sejak saat itu ia setia untuk tak membukanya meski didera penasaran yang luar biasa. Ia hanya bingung untuk apa Abinaya menitipkan kaleng bekas berisi koin itu setiap kali ia akan berlayar.

Di senja yang menawan, Abinaya pulang dari berlayar dan Ganita telah setia menunggu duduk bersila diatas pasir putih. Ia tersenyum melihat Abinaya tiba dan sibuk membawa hasil berlayar hari itu. Abinaya dan Ganita telah bersahabat sejak kecil dan rasa persahabatan mereka seperti sedikit bergeser menjadi rasa cinta. Namun Abinaya tak pernah menyatakan langsung pada Ganita, ia hanya menunjukkannya dari sikap dan prilaku. Ia tahu bahwa Ganita juga mencintainya tanpa harus ia tanyakan atau mengungkapkannya. Ganita jatuh cinta akan kedewasaan Abinaya dan kerja kerasnya sebagai nelayan. Dan Abinaya sebagai laki-laki hatinya terlena pada kecantikan dan kesederhanaan Ganita.

"Hasil tangkapan hari ini banyak sekali," ujar Ganita lembut. Abinaya mengangguk dan duduk disamping Ganita.
"Senja yang sangat cantik," ucap Abinaya tiba-tiba. Ganita menoleh menatap Abinaya.
"Nggak mau kalah sama kamu cantiknya," Abinaya meneruskan kata-katanya sambil tersenyum menatap Ganita.

Ganita tertawa. Abinaya selalu suka melihat Ganita tertawa, lepas tanpa beban. Lalu Abinaya memegang telapak tangan kanan Ganita, dihempaskannya segenggam pasir putih ke telapak tangan Ganita. Ganita hanya mengikuti arah permainan Abinaya.

"Maksudnya apa?" tanya Ganita.
"Telapak tangan kamu nggak bisa menggenggam pasir ini, isinya terlalu penuh. Sama seperti sayangku ke kamu, banyaaaakk," kata Abinaya menggenggam tangan Ganita.

Dan senja ini mereka habiskan diatas pasir putih, kepala Ganita bersandar pada bahu Abinaya.

"Kebakaran! Kebakaran!" teriakan warga mengejutkan keduanya. Mereka segera mengikuti arah beberapa warga menuju tempat kebakaran. Itu kearah rumahnya. Ganita berlari kencang, Abinaya hanya terdiam tak mampu mengejarnya. Ia teringat kaleng-kaleng bekas berisi koin-koin titipan Abinaya. Beberapa warga tak mampu menghalangi kekuatan Ganita yang mencoba masuk. Ganita segera menarik sprei tempat tidurnya, menghamburkan semua kaleng-kaleng bekas itu ke dalam sprei dan membawanya keluar. Tapi Ganita terjebak kobaran api. Ia begitu panik, tersudut oleh kejaran api yang menggeliat panas. Ganita berusaha mencari celah untuk keluar. Abinaya berusaha untuk menolong, namun warga menahan tubuhnya dengan kuat. Warga lain berupaya keras memadamkan api.

"Ganitaaaa! Ganitaaa! Cepat keluar!" teriakannya diikuti oleh warga.

Ia tertunduk lesu manakala tak menemukan Ganita keluar dari kobaran api yang mulai mereda. Abinaya segera mencari sosok Ganita diantara puing rumah yang terbakar. Tubuh Ganita telah terpanggang, begitupun kaleng-kaleng bekas pemberiannya. Ia sadar waktunya tak akan lama lagi. Kaleng-kaleng bekas berisi koin-koin itu adalah nyawa baginya. Beberapa tahun lalu ia hampir saja dikutuk oleh nenek tua, sebagai permintaan maaf Abinaya harus menitipkan sebuah kaleng bekas berisi koin dan kertas bertuliskan nama perempuan yang sangat dicintainya dan harus dititipkan pada perempuan itu. Jika kaleng-kaleng bekas itu terbuka, rusak, hilang atau terbakar, maka Abinaya akan berubah menjadi batu. Itulah mengapa ia sangat berharap pada Ganita untuk tidak membukanya, perempuan yang sangat ia cintai, yang menjaga nyawanya selama ini. Sambil berjalan kearah pantai Abinaya membawa tubuh Ganita dalam pelukannya. Ia tak peduli keadaan Ganita yang telah rusak terbakar. Diletakkannya Ganita diatas pasir putih, malam itu ia merebahkan tubuhnya disamping tubuh Ganita. Tangan Ganita digenggamnya erat. Air pantai mulai naik dan menutupi sebagian tubuh mereka.

"Aku ikhlas dengan kutukanmu, tapi setidaknya biarkan aku mati bersama Ganita, perempuan yang sangat aku cintai," pintanya pelan. Abinaya menutup matanya.

Tiba-tiba air pantai yang semakin naik dan mulai menutupi hingga leher Abinaya, merubah tubuh Abinaya dan Ganita menjadi batu. Malam itu mereka pergi dalam keabadian cinta.

Pagi hari para warga dikejutkan oleh sosok Abinaya dan Ganita yang telah menjadi batu dipinggir pantai, sambil berpegangan dan tersenyum.



#7HariMendongeng

Senin, 14 Mei 2012

Semut dan Gajah



Di sebuah kampung rimba hiduplah sebuah koloni gajah angkuh. Ya, kekuatan gajah yang sangat dominan dalam menguasai sebagian wilayah pasokan makanan bagi kehidupan kampung rimba, bahkan tanpa lawan tanding yang seimbang. Walaupun harimau dan singa yang dijuluki raja hutan, mereka tetap tidak memiliki keberanian untuk memangsa dan mengganggunya. Begitu angkuhnya dengan kekuatan tersebut hingga menjadikan sikap mereka lebih dari para raja rimba. Para gajah selalu tertawa penuh kesombongan saat membandingkan dirinya pada binatang lain. Mungkin yang bisa menyamai kekuatannya hanya gorila atau kingkong, tapi di kampung rimba tak ada gorila atau kingkong. Tidak ada yang ditakutinya meski mereka memiliki taring besar seperti Harimau dan Singa sekalipun. Karena keduanya pastilah menghindar bila telah berpapasan dengan para Gajah yang dengan angkuh menghentak-hentak kaki ke bumi dan melambai-lambaikan belalainya seakan ingin merobohkan semua yang menghalangi perjalanannya.

Suatu hari koloni gajah berjalan dan menginjak semut kecil. Mereka terus saja berjalan tanpa peduli apa yang ada dibawahnya. Semut-semut lain langsung berlarian menyelamatkan diri. Para gajah tak merasa salah sedikitpun. Teriakan semut kecil tak terdengar oleh mereka. Karena dia berada dalam kekecilan yang pasti. Sementara dunia luas tetap saja enggan menoleh dan mencari dimana suara yang samar itu berawal.

Semut-semut kecil manatap saudaranya yang sedang terkapar kesakitan. Kesedihan dan luka terdalam tengah mereka rasakan. Kematian yang tak akan pernah bisa dimengerti kedatangannya. Lalu para korban segera dilarikan ke dalam istana, sebuah istana sarang semut di dalam tanah. Beberapa semut segera menyiapkan upacara penguburan bagi teman mereka. Ini akan menjadi ritual penghormatan terakhir yang menyedihkan. Seekor semut mengumumkan tentang kematian saudaranya serta upacara ritual tersebut.

"Assalamualaikum, telah mati dengan tenang, saudara kita yang terinjak oleh para gajah dengan kesombongan dan keangkuhan mereka. Bagi para pelayat yang akan hadir pada upacara ritual silakan berkumpul di istana raja, sekian, wassalam," seekor semut berkata dengan lantang.

Tak berapa lama upacara pun berlangsung khidmat penuh isak tangis dan keresahan karena mungkin hal ini akan terjadi dan terjadi lagi. Karena para gajah seringkali berucap :

"Menyingkirlah dari jalan kami atau kalian akan menyesal!"

Selesai upacara penguburan, raja semut mengumpulkan rakyatnya untuk membicarakan perihal kelakuan para gajah angkuh.

"Aku rasa kita tak mungkin melawan para gajah itu raja, mereka jauh sangat lebih besar dari kita," ujar seekor semut.
"Ya raja, sepertinya kita butuh superhero seperti Superman, Ironman, Spyderman, Batman," ujar yang lain.
"Atau Gatot Kaca," semut yang satu menyahut.

Raja semut hanya tersenyum melihat rakyatnya begitu peduli terhadap sesama hingga menyampaikan ide-ide diluar kenyataan. Lalu raja semut masuk ke dalam istana untuk rapat, sementara rakyatnya dibiarkan menikmati hidangan yang tersedia. Kerajaan semut selalu memberi makan seluruh rakyatnya tanpa terkecuali dan tanpa pilih-pilih, demikianpun halnya dengan fasilitas yang dapat digunakan oleh rakyatnya karena ini adalah hasil kerja keras rakyatnya. Sikap raja yang selalu merangkul rakyatnya diikuti pula oleh rakyatnya. Rakyat semut selalu bersikap sopan, menghormati dan segan pada raja. Beberapa jam berlalu dan sang raja telah kembali berada diatas altarnya.

"Rakyatku! Sebagai kaum yang tersolid di jagad raya ini, kita harus menyamakan tujuan dan cara kita, menjaga keutuhan dan jangan sampai terpecah belah! Dan kali ini kita sepakat akan memberi pelajaran pada koloni gajah angkuh!" raja berkata dengan tegas.

Raja lalu memberitahukan rencana peringatan keras untuk koloni gajah. Semut sebagai kaum pekerja segera berangkat menuju kawanan gajah.


Pagi yang mulai menyembulkan sinarnya, kampung rimba masih sepi dan tenang. Tiba-tiba terdengar jeritan dan gaduh yang memecah pagi itu. Raja gajah yang tinggi besar mengamuk! Seketika kampung rimba bergetar seperti ada gempa. Raja gajah menabrak beberapa pohon diantara koloni gajah dan tersungkur kesakitan. Raja masih menahan sakitnya yang luar biasa, terdiam sejenak lalu kembali mengamuk kesakitan.

"Saaakkiiiiiittt!!!! Ampuuunnn!!!" Raja gajah berteriak dan berlari, pohon rerumputan kecilpun terlindas olehnya.

Dan raja gajah itu menabrak batu yang besar. Dia kembali tersungkur. Kepalanya terluka karena terbentur batu yang keras itu. Setelah terlihat tidak bisa berdiri lagi. Kawanan gajah berkumpul mengelilingi rajanya.

"Ayah, ada apa? Siapa yang sudah berani melawan koloni gajah seperti kita? Katakan Ayah, biar kita hancurkan," ucap sang putra raja sambil mengelus kepala sang Ayah.

Raja gajah tidak segera menjawab, nafasnya masih tersendat-sendat karena lelah berlarian. Matanya terlihat meringis menahan sakit karena terkena benturan dengan pohon dan batu besar. Tak lama raja terbangun.

"Semut. Semut telah menyakiti aku," katanya.

Para gajah saling berpandangan, ada juga yang cekikikan tertawa. Bagaimana mungkin semut dapat menyakitinya? Ukurannya jauh lebih kecil dari para gajah. Lalu gajah berdiri dengan bantuan sang anak dan pengawalnya. Raja Gajah terlihat marah karena dirinya telah ditertawakan.

"Ayah, mereka itu begitu kecil, bagaimana mungkin mereka bisa menyakiti kita?" sang anak memberanikan diri meyakinkan Ayahnya.
"Dengarlah! Aku serius! Para semut itu bisa menyakiti kita dengan sangat kejam," ujar raja gajah kesal.
"Kita hancurkan saja sarang dan semua penghuni di dalamnya. Kita harus bertindak cepat," ucap salah satu gajah sambil menghentakkan kakinya.

Gajah lain ikut mengangguk setuju. Seketika suasana menjadi sangat gaduh dengan kekesalan pada para semut.

"Diaaamm! Jangan bodoh!" teriak raja melepas kegaduhan.
"Raja semut telah memperingatkan aku bahwa di dalam telinga kalian saat ini telah berisi semut, sejak semalam mereka telah bergerak masuk dan nanti malam mereka secara serentak akan menyakiti kita semua. Menyiksa kita karena kita telah melukai mereka kemarin. Ini pembalasan dari mereka," ujar raja menjelaskan.

Koloni gajah langsung panik dan saling melihat telinga teman yang ada di sampingnya. Ya, para semut tampak tersenyum bangga sambil melambaikan tangan. Berbagai jenis semut telah ada di dalam telinga tiap gajah.

"Ayah, bagaimana kita bisa mengeluarkan mereka dari telinga?" tanya sang anak dengan suara panik dan mulai menangis.
"Yang aku tahu, semua semut sangat gigih dan kuat, mereka lebih baik mati daripada melepaskan gigitannya. Jadi tidak ada yang bisa kita lakukan selain mengikuti apa yang mereka mau," jawab raja.
"Rakyatku, saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba memahami diri kita sendiri untuk berubah. Membuang jauh kesombongan dan rasa angkuh karena porsi kita yang lebih besar dari warga kampung rimba ini. Lihatlah, kita kalah hanya oleh kekuatan semut, bukan kekuatan singa atau harimau, kekuatan mereka lebih solid dari yang kita duga," kata-kata raja membuat koloni gajah tertunduk malu.

Mereka sadar bahwa selama ini telah bersikap keterlaluan pada semua warga kampung rimba terutama para semut. Lalu raja gajah terdiam, mengernyitkan dahinya seolah berkomunikasi dengan raja semut. Tak lama kemudian para gajah merasakan ada yang berjalan keluar dari telinga mereka. Para semut meninggalkan telinga gajah dan kembali ke sarangnya.

Kini para gajah tak lagi bersikap semena-semena terhadap yang lebih kecil, tak lagi sombong atau angkuh. Mereka telah menyadari arti kekuatan yang sebenarnya. Kampung rimba terlihat lebih tenteram karena koloni gajah sudah mau hidup berdampingan dengan siapapun.



#7HariMendongeng

#10 Hal ini layak saya syukuri

Adakah seseorang di dunia ini yang bisa hidup sendiri? Nggak ada dan yakin nggak akan bisa. Sejak wujud saya masih cuma sebuah titik dalam kantung rahim ibu saya pun saya butuh orang lain, tidak hanya ibu saya. 33 Tahun menjadi manusia sedikitpun nggak pernah ada yang saya sesalin, yang ada cuma rasa syukur, syukur dan bersyukur. Apalagi untuk orang-orang tertentu atau momen-momen tertentu yang memang layak untuk disebut sebagai rasa syukur saya terhadap mereka. Mau tahu nggak apa saja? ;)

* Dikasih kesempatan hidup dari Allah
Kondisi Mama saya yang dulu sempat memiliki hormon yang berantakan setelah punya anak pertama, membuat Mama harus jadi percobaan kedokteran demi rencana punya anak ke-2. Selama 3 tahun akhirnya para dokter berhasil 'membenahi' hormon yang berantakan itu dan muncullah saya di rahim Mama. Baru lahir 2 minggu akibat dikasih susu pakai botol tiba-tiba saya keselek susu. Saat itu dokter bilang kalau terlambat sedikit saja saya mungkin bisa kritis dan mungkin bisa nggak tertolong. Yah apalah saya yang waktu itu cuma bayi yang megap-megap nggak berdaya. Lalu Allah memberi kesempatan hidup itu buat saya. Jiwa saya selamat setelah dirawat selama 2 minggu. Rupanya Allah benar-benar mau saya menikmati hidup yang penuh warna ini :) Terima kasih Allah...

* Keluarga
Buat saya keluarga adalah tempat dimana saya akan selalu kembali pada mereka. Orangtua, Kakak, Adik saya sampai mertua dan ipar-ipar. Semua hal membahagiakan sampai penuh tangisan adalah pelukan mesra dari mereka untuk saya. Cara mereka untuk mendewasakan saya yang kadang bikin saya geleng kepala, tapi ya itulah keluarga yang sampai saya mati mungkin akan selalu menggandeng semua kisah saya.

* Pernikahan
Berjodoh dengan seorang lelaki Padang memang cita-cita saya hahahaha.... Lucu ya minta jodoh kok orang Padang? Sebenernya nggak cita-cita juga tapi kok tiap suka sama cowok sering banget orang Padang ya? Berhubung saya juga suka banget sama rendang daging dan rendang paru mungkin jadi berjodoh hahahaa... analisa kacrut... Anyway, pernikahan buat saya adalah pembelajaran hidup tanpa henti, kekurangan saya dan suami adalah ladang amal buat pernikahan kita sendiri. Banyak hal selama 5 tahun ini yang kita pelajari, bahwa menikah bukan sekonyong-konyong koder soal cinta tok tanpa ada isi didalamnya, tapi lebih pada memupuk cinta, membesarkan cinta, dan menghargai cinta.

* RAF dan SAF
Bersyukur dikasih rejeki yang nilainya lebih dari apapun. RAF dan SAF adalah harta yang tak henti saya syukuri, juga suami saya tentunya. Tapi ada titik dimana saya harus sadar diri bahwa mereka cuma titipan, yaitu saat RAF baru lahir seminggu dan bilirubinnya mencapai 22 terpaksa harus disinar masuk inkubator 3 hari. Tangisan saya nggak berhenti, 3 hari nggak boleh memeluk RAF itu tersiksa banget. Apalagi harus pulang ke rumah tanpa ada RAF, cuma bisa mandangin box nya :( Tapi justru malam itu saya seperti dikasih kekuatan dari anak sendiri untuk tetap kuat, tegar dan ikhlas. Alhamdulillah RAF sehat, sekarang umurnya 4 tahun. Bawel, kritis, perfeksionis, peka dan sensitif, itulah RAF :) Kalo SAF baru 6 bulan, lagi senang guling-guling di kasur sama joget-joget ikut irama lagu :)

* Talenta
Bersyukur sekali dikasih talenta dalam bidang menulis. Talenta yang sebenarnya sejak SD kelas 3 sudah saya miliki tapi baru 'berani' nulis serius sebesar ini. Dari dulu cuma berani curhat di buku harian, nulis cerita dan puisi di kertas dan buku tanpa berani untuk publish. Pembaca saya hanya seputar sahabat yang berkomen bagus tanpa ada kritik. Puas? Ya nggak lah. Saya justru butuh orang-orang yang bilang kalau tulisan saya kurang ini kurang itu, lebih pas begini atau begitu. Semoga tulisan-tulisan saya punya arti dan semoga buku pertama saya cepat terwujud, amiiinn :)

* Pengalaman Hidup
Bersyukurlah pada pengalaman hidup, hidupmu ataupun orang lain. Belajarlah dari pengalaman karena banyak hal yang bisa kita ambil, secara logika, secara perasaan. Pengalaman, apapun rasanya tetap indah bagi saya :)

* Mengenal Pak Ismed & Ronny
Saya kenal Pak Ismed di tempat saya pertama bekerja. Pak Ismed adalah orang yang mengajarkan dan mengenalkan saya pada sholat Dhuha. Pak Ismed nggak khusus mengajarkan saya sholat Dhuha, tapi lebih pada memberi contoh. Awalnya saya hanya melihat kebiasaannya tiap pagi, lama-lama saya banyak tanya sama beliau dan cari info soal sholat Dhuha. Dan mulailah saya pagi itu sholat Dhuha untuk yang pertama kalinya.
Saya kenal Ronny dari milis hrfm, dan Ronny yang mengenalkan saya pada hijab secara nggak langsung. Kegigihan Ronny yang selalu saya tolak mentah-mentah buat ikut ngaji di Sunda Kelapa akhirnya terpaksa saya coba. Pertama kali hadir nggak pakai hijab atau kerudung biasa sama sekali, cuma pakai jeans sama kaos biasa. Cuek. Minggu berikutnya nolak lagi, males ah. Ini cowok ngajak nge-date kek malah ngajak ngaji mulu hahahaa... Desakan Ronny yang memuncak pas bulan puasa 2004. Ronny dan rombongan ngaji ngajak i'tikaf. Ngapain lagi tuh saya nggak ngerti hehe... I'tikaf pertama di Sunda Kelapa, biasa saja. I'tikaf ke-2 kita ke Mesjid At-tin. Mungkin ini yang disebut masa-masa lu 'dicolek banget' sama Allah. Dan ramadhan itu pun saya berhijab, setelah 'colekan' Allah sangat mengena, setelah banyak berdialog sama bang Nandang juga, bertukar pikiran sama Ronny, curhatan sama Hafid, dan setelah dapat pencerahan dari berbagai pandangan.

* Para Pembenci Saya
Kenapa harus bersyukur sama orang-orang yang membenci saya? Pastinya. Karena tanpa mereka yang membenci dan hobi mencibir saya, saya nggak akan belajar jadi kuat. Dan tanpa disadari sebenarnya salah satu yang bikin kita berganti jadi orang yang lebih baik itu ya mereka. Karena kita terpacu sama celaan, hinaan dan sikap mereka yang seneng banget kita terpuruk. Dan bersyukurlah, karena para pembenci ini pahala kita makin berlimpah hahahaa....

* Hadirnya Listrik
Asli deh, saya bener-bener kesel kalau mati lampu di rumah, langsung mati gaya bro! Nggak ngerti lagi mau ngapain. Mau marah-marah atau komplen sama PLN juga kadang merasa sia-sia, udah lama masuknya eh cuma ditanggepin seadanya, ya iya lah, emang mereka tahu gimana di lapangan dan keadaan gardunya?

* Telur dan Susu
2 Hal yang sangat saya syukuri keberadaannya karena telur dan susu itu wenaaaakkk bangeeettt....Telur itu menu paling simple sedunia, nggak perlu dimacem-macemin, diceplok biasa udah enak. Dan susu jadi minuman paling melezatkan sekaligus menyehatkan. Kecuali susu basi dan telur penyu. Ya, saya nggak tega kalau harus melahap telur penyu.

Puas nggak bacanya? Kepanjangan? Yah, padahal saya mau ngajuin tema #100 hal memuakkan dalam hidup hahahahaha.... Klenger d bacanya, burger sih enak klenger hihihii... Yang pasti saya bersyukur bisa kenal teman-teman di #Ngeblogramerame :)



#Ngeblogramerame

Minggu, 13 Mei 2012

Gayatri

Di sebuah desa di Bali, seorang Catra terdiam menggerakkan jari jemarinya, menumpahkan semua warna di dalam wadah-wadah dan membentuknya menjadi indah. Ini hasil yang ke sekian. Ia selalu tak pernah puas tapi orang-orang yang melihat berbeda. Menurut mereka guratan jemari Catra sangat bermakna.

Kali ini seorang gadis berdiri menunggu pesanannya, tapi Catra hanya terdiam dalam ruangnya. Haruskah gadis itu menunggu? Ia bahkan tak mampu meminta jemarinya untuk bekerja. Gadis itu bernama Gayatri. Sosoknya lembut dan sederhana. Mereka belum saling mengenal, Gayatri malah belum pernah bertemu Catra. Pesanannya hanya ia sampaikan lewat telepon dan Gayatri bilang akan menunggu hingga selesai. Secepat itu telepon ditutup secepat itu pula Catra terkesima. Suaranya syahdu penuh dinamika. Lalu Catra berusaha keras untuk bekerja, demi pesanan Gayatri. Ia mengintipnya dari balik ruang, Gayatri sangat mempesona. Ia sangat fokus, konsentrasinya terpusat pada wadah terkanvas. Tapi nihil, ia gagal. Dibukanya pintu ruang dan menghampiri Gayatri.

"Saya nggak bisa, maafkan saya," ujar Catra. Gayatri mengernyitkan dahinya.
"Kenapa? Apa pesanan saya terlalu sulit?" tanyanya.
"Bukan. Yang sulit adalah perasaan ini. Saya mencintai kamu," kata-kata Catra lugas. Gayatri tersenyum.
"Saya pikir hati saya akan bertepuk sebelah tangan, ternyata saya salah. Lukisan-lukisanmu telah lebih dulu membuat saya jatuh cinta padamu," jawab Gayatri.
"Kamu tak malu dengan keadaan saya? Saya hanya hidup dengan jari jemari tanpa kaki yang dapat membawamu berkeliling dunia," ujar Catra.
"Hatimu yang penuh cinta selalu melekat dalam karyamu, dan saya sudah puas berkeliling hingga ke dunia yang tak pernah saya singgahi," Gayatri berdiri dibelakang kursi rodanya.
"Saya mencintaimu, utuh. Menikahlah dengan saya," bisik Gayatri mesra.

Catra tersenyum puas, ia merasakan jari jemarinya ingin menari. Gayatri mendorong kursi rodanya ke dalam ruang Catra. Mengikuti gerakan Catra dengan jemarinya. Mengikuti hatinya yang terpatri bersama Catra. Gayatri, ini adalah sihir yang tak mampu aku tolak. Ini bahkan menjadi bagian sihir yang aku nanti. Di setiap lukisan abstrakku meski tanpa kuas sekalipun.



#7HariMendongeng

Jumat, 11 Mei 2012

Kancil dan Undur-undur

Siapa bilang si Kancil anak nakal dan suka mencuri mentimun? Di desa Berkisah, seorang Kancil adalah anak yang pemalu, tubuhnya mungil dan sukanya main undur-undur. Suatu hari Kancil yang sedang asyik bermain undur-undur di samping rumahnya dikagetkan oleh kehadiran 3 orang temannya yang membawa bejana besar. Ia begitu penasaran dengan isi di dalamnya.

"Hei Kancil, apa kamu tahu apa yang kami bawa ini?" tanya salah seorang temannya. Kancil menggeleng.
"Isinya adalah seribu undur-undur, apa kamu mau?" jawabnya. Mata Kancil terbelalak, bagaimana mungkin teman-temannya bisa memiliki seribu undur-undur?
"Kami akan memberikan gratis untukmu tapi ada syaratnya," sang teman melirik nakal. "Apa?".
"Karena namamu Kancil, kami ingin kamu membawakan sekeranjang mentimun milik Pak Kendra," ujar sang teman.

Kancil terkejut, syaratnya sangat berat. Kebun mentimun pak Kendra memang luas, mentimunnya termasuk yang terbaik di kampung ini, panennya tak pernah gagal. Tapi meminta sekeranjang mentimun pada pak Kendra adalah mimpi buruk. Pak Kendra terkenal galak dan pelit di kampung ini, jangankan meminta sekeranjang mentimun, meminta biji mentimunnya saja rasanya butuh perjuangan besar. Tinggallah Kancil terdiam kebingungan mencari cara agar dapat meminta mentimun pada pak Kendra, tapi baru memikirkannya saja Kancil sudah ketakutan. 3 Hari adalah waktu yang diberikan oleh teman-temannya. Dan hari ke-2 telah berjalan artinya besok jika ia ingin memiliki seribu undur-undur itu ia harus membawa sekeranjang mentimun, namun 1 mentimunpun belum ditangannya. Ataukah ia terpaksa harus mencuri? Ibu dan Ayah pasti akan marah besar kalau ia sampai mencuri. Demi seribu undur-undur ia melangkahkan kakinya menuju rumah pak Kendra, mungkin jika ia berkata jujur pak Kendra akan menghargai dan memberikan mentimun dengan cuma-cuma. Langkahnya mendadak berat manakala ia semakin mendekati rumah pak Kendra. Tiba di depan rumah pak Kendra, Kancil hanya bisa mondar-mandir tak menentu. Kehadirannya ternyata diketahui oleh pak Kendra, ia memanggil pembantunya dan menyuruh Kancil masuk. Tubuh Kancil gemetar, ia tak berani menatap pak Kendra. Pikirannya mengenai sekeranjang mentimun hilang, yang terpikir hanya cara keluar dari rumah ini dengan selamat.

"Bocah kecil, apa yang kamu lakukan di depan rumahku?" tanya pak Kendra tegas.
"Aku..aku..aku..ngng..aku.." Kancil gugup, ia mencuri-curi pandangan kearah pak Kendra. Dilihatnya leher pak Kendra terlilit sebuah syal, tubuhnya terbungkus mantel, wajahnya agak pucat.
"Apakah anda sakit?" Kancil memberanikan diri bertanya.
"Ya, sudah seminggu ini aku sakit, dokter hingga tabib tak bisa menyembuhkan sakitku," jawabnya dengan nada suara agak menurun dari ketegasannya.
"Sudahkah anda mencoba undur-undur? Ibuku bilang undur-undur bisa menyembuhkan segala penyakit," Kancil kini lebih tenang bercerita. "Undur-undur? Benarkah?" Pak Kendra terlihat antusias.
"Dimana aku bisa mendapatkan undur-undur?" tanyanya.
"Di samping rumahku," sahut Kancil cepat. Ia kembali terpikir soal tantangan teman-temannya.
"Aku akan memberikan undur-undur asalkan anda bisa memberi aku mentimun, 1 undur-undur ditukar dengan sekeranjang mentimun, dan anda butuh 10 undur-undur untuk sekali minum selama 1 minggu. Ingatlah, minum obat sehari 3x," Kancil mengajukan syarat.
Pak Kendra setuju. Baginya sekeranjang mentimun tak seberapa dibanding sakit yang menyiksanya itu.

Esoknya Kancil datang membawa undur-undur dan sekeranjang mentimun telah ia dapatkan, bahkan lebih. Tepat siang hari 3 teman-temannya datang membawa bejana besar. Mereka menanyakan perihal sekeranjang mentimun. Kancil yang tengah asyik bermain segera masuk dan membawa 10 keranjang mentimun. Teman-temannya terkejut. Mereka tak menyangka Kancil bisa mendapatkan lebih dari sekeranjang mentimun. Lalu Kancil menagih janji soal seribu undur-undur itu. 3 Temannya hanya tersenyum kikuk,
bejana yang mere bawa hanyalah bejana kosong tanpa seribu undur-undur.

"Kamu pikir bagaimana kami bisa mendapatkan seribu undur-undur di kampung ini?" Ujar salah seorang temannya membela diri.
"Tega sekali kalian berbohong padaku!" Kancil kesal. Direbutnya bejana itu karena penasaran, dibukanya tutupnya dan meraba isi bejana yang tertutup rapat. Ia tersenyum.
"Bejana ini memang berisi seribu undur-undur, kalian tidak bohong," katanya.

Ketiga temannya kembali terkejut. Bagaimana mungkin bejana kosong yang mereka bawa hanya untuk mengelabui Kancil kini benar-benar berisi seribu undur-undur? Ajaib!

Selanjutnya mereka pulang dengan hati bingung, dan membawa sekeranjang mentimun sesuai janji Kancil. 9 keranjang sisanya ia berikan pada Ayah untuk dijual di kota dan laku keras. Siang itu Kancil kembali ke rumah pak Kendra dan mengambil mentimun sesuai perjanjian. Begitu seterusnya hingga kehidupan Kancil dan orangtuanya berubah menjadi kaya raya. Kesembuhan pak Kendra berkat undur-undur Kancil tersebar sampai ke negeri seberang, bukannya semakin berkurang undur-undur Kancil semakin beranak pinak dan menjadi penyembuh bagi masyarakat. Kancil yang baik hati tak pernah meminta imbalan, pemberian apapun sebagai ucapan terima kasih ia terima dengan ikhlas. Kini pak Kendra bukan lagi sosok yang ia takuti karena pak Kendra sekarang adalah sahabatnya yang ramah dan tidak pelit pada warga.



#7HariMendongeng

Apsara

Siang itu tim pengacara telah hadir di ruang keluarga berikut semua penghuni rumah ini. Pak Hariawan selaku ketua tim nampaknya juga sudah siap membacakan isi surat wasiat dari mendiang Kakek Rustam. Beliau adalah Ayah kami yang baru saja meninggal seminggu yang lalu. Kakek Rustam memiliki banyak harta di kampung ini, belum lagi asetnya di 3 kota besar. Wajah-wajah penuh harap atas pembagian jatah warisan Kakek Rustam yang teramat banyak menghiasi hari yang cukup panas itu. Beberapa anaknya masih ada yang menangisi kepergiannya, entah sungguhan atau berpura-pura.

"Baiklah, saya akan mulai membacakan isi surat wasiat yang telah diwariskan Kakek Rustam kepada para ahli warisnya," Pak Hariawan mulai membuka pembicaraan.
"Ardika Respati, sebagai anak laki pertama diwariskan semua perkebunan milik Kakek Rustam, Shasri Andara, sebagai anak perempuan pertama diwariskan semua rumah milik Kakek Rustam beserta usaha kontrakan dan kost-kost an, Mayang Canting, sebagai anak ketiga diwariskan berbagai emas dan perhiasan milik Kakek Rustam, Gani Haradi, sebagai anak keempat diwariskan peternakan di seluruh daerah milik Kakek Rustam, Andini Ranjani, sebagai anak bungsu Kakek Rustam diwariskan Apsara, untuk semua cucu-cucu Kakek Rustam diwariskan semua mobil mewah yang dibagikan secara adil. Demikian isi surat wasiat ini saya bacakan, Kakek Rustam sangat berharap apapun yang diwariskan olehnya dijaga dan dipupuk dengan baik," Pak Hariawan menjelaskan panjang lebar.

Semua anak dan cucu Kakek Rustam nampak berbahagia dengan pembagian warisan Kakek Rustam seakan tak peduli lagi dengan kepergiannya. Mereka malah menertawakan Andini, sang adik bungsu. Ia dan suami hanya mendapatkan Apsara, seekor kucing hutan betina berwarna kuning keemasan. Apsara adalah kucing kesayangan Kakek Rustam. Lima tahun lalu Kakek Rustam menemukan Apsara di hutan dekat perkebunan tebu miliknya. Saat itu Apsara kecil terjepit diantara runtuhan pohon tebu dan Kakek Rustam yang menyelamatkan dan merawatnya. Kemanapun Kakek Rustam pergi Apsara selalu setia bersamanya. Andini dan suami yang belum memiliki keturunan, praktis hanya mendapatkan Apsara sebagai warisan dari sang Ayah.

"Sudahlah Andini, kamu jangan menangis, Kakek Rustam telah begitu adil membagikan semua warisannya, kamu hanya tinggal menjaganya dengan baik," ujar Pak Hariawan.
"Aku tak menangisi apa yang telah Ayah wariskan padaku, aku sedih, bagaimana bisa semua kakak-kakak ku tertawa bahagia disaat Ayah baru saja pergi seminggu yang lalu. Aku lebih merindukan Ayah dari pada semua warisannya," sang suami memeluknya erat.

Pak Hariawan terkejut dengan kata-kata Andini, selama ini yang ia tahu Kakek Rustam tak begitu membanggakan anak bungsunya ini karena Andini dan suami lebih memilih hidup sendiri dengan sederhana sebagai pedagang dibanding tinggal dibawah harta Kakek Rustam.

Andini dan suami merawat Apsara dengan baik dan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri. Apsara terlihat semakin sehat, bulu-bulu keemasannya semakin terlihat bercahaya. Suatu hari sehelai bulunya rontok, dan Andini hendak membuangnya. Namun kaki Apsara menahannya dengan kuat. Seolah tak ingin bulunya yang rontok dibuang begitu saja. Mungkin Apsara sedih kalau bulunya aku buang, pikirnya. Maka Andini menyimpan sehelai bulu Apsara yang rontok di dalam sebuah kotak. Malamnya Andini bermimpi Apsara bisa berbicara, ia menyuruh Andini untuk menjual bulunya yang rontok pada sebuah toko emas. Andini terbangun dan bercerita pada sang suami. Mereka tak percaya begitu saja, baginya itu hanya mimpi. Saat Andini dan suami sedang berdagang di pasar, mereka melewati sebuah toko emas. Apsara mengeong kencang dan tak mau beranjak pergi. Mereka teringat mimpi itu. Maka dengan rasa tak percaya, dibawanya sehelai bulu Apsara ke toko emas. Ajaib, sehelai bulu Apsara laku terjual dengan harga tinggi. Hasil penjualan bulu Apsara dijadikan tambahan modal untuk dagangan mereka. Apsara tersenyum mengeong manja.

Seiring waktu, semua harta warisan pemberian Kakek Rustam pada kakak-kakak Andini habis ludes tak tersisa. Perkebunan yang rugi diserang hama, rumah beserta kost yang terbakar, perhiasan dan emas yang habis terjual, peternakan yang bangkrut karena semua hewannya mati terserang penyakit, serta mobil-mobil anak-anaknya yang terpaksa mereka gadaikan demi menyambung hidup. Andini dan suami kini hidup lebih dari berkecukupan, setiap kali bulu Apsara rontok mereka menjualnya dan bukan hanya untuk menambah modal usaha, tapi juga untuk disumbangkan pada rakyat jelata yang membutuhkan. Kakak-kakak Andini sempat berburuk sangka dengan menuduh Andini memiliki tuyul dan semacamnya. Namun mereka tak menggubris cemoohan para kakak. Andini malah menawarkan bantuan agar kakak-kakaknya dapat kembali hidup layak. Mereka menyerah dan menerima bantuan Andini. Tapi rasa penasaran tak berhenti dalam hati mereka.

"Andini, sebenarnya apa yang kamu pelihara hingga kamu bisa kaya raya seperti ini?" tanya Ardika.
"Tak ada kak, aku hanya memelihara Apsara. Kakak lupa, cuma Apsara yang diwariskan Ayah padaku. Ayah meminta kita untuk menjaga baik apa yang diwariskannya dan cuma itu yang sampai saat ini aku lakukan," sahut Andini tersenyum.

Pak Hariawan berdecak kagum sesampainya di kampung ini dan mengetahui kabar tentang anak-anak Kakek Rustam.

"Sungguh Kakek Rustam tak salah memilih ahli waris, dan Apsara bukanlah warisan yang salah," ucapnya tersenyum.




#7HariMendongeng

Kamis, 10 Mei 2012

Harta Karun Sepanjang Masa

Seorang pemulung berjalan letih dengan anak lakinya berada di dalam gerobak. Hari ini sangat terik hingga teronggokan terasa begitu pekat. Sang anak yang masih berusia 5 tahun menanyakan kapan kira-kira mereka akan sampai di tempat penjualan hasil hari ini. Ia sudah sangat tidak kuat menahan haus. Sang ayah mempercepat langkahnya. Jika ia telah menjualnya pada bandar besar maka uang yang didapat hari ini sangat lumayan. Dan anaknya tidak hanya akan bisa membeli minum tapi makanan sekaligus. Sebentar lagi mereka akan sampai, ia telah menjanjikan hal menggiurkan bagi si bocah kecil. Makan enak.

Tiba di tempat bandar besar si pemulung merapatkan gerobaknya, mencari tempat yang teduh agar bocah kecil tak menunggu kepanasan. Dibawanya 2 papan besi yang lumayan berat itu. Tak lama keluarlah si pemulung dngan wajah sumringah.

"Ayo nak, sekarang waktunya kita makan enak!" ujar si pemulung pada anaknya.

Anaknya berseru senang sekali, ia bahkan memohon untuk bisa nambah saat makan nanti. Sang ayah hanya tertawa. Si pemulung juga telah berencana akan membeli nasi untuk istri dan 2 anaknya yang lain.

"Heh! Bagi duit!" bentakan perampok tiba-tiba menghentikan langkah si pemulung.

Bocah kecil nampak ketakutan, si pemulung memeluknya sambil mengeluarkan uang yang baru saja di dapatnya.

"Ambillah bang, mungkin rejeki kami memang hanya sampai disini," ucap si pemulung.

2 Perampok sibuk mengacak-acak gerobaknya, salah satunya mengamati si pemulung dan anaknya.

"Heh bocah! Sini!" perampok bertopi terbalik itu memanggil anak si pemulung.
"Anak saya nggak bisa berjalan bang," ujar si pemulung. Bocah kecil terlihat semakin ketakutan.

"Ngapain sih bang, anak cacat gitu mau diculik apa? Nggak laku" kata teman si perampok.

"Anak saya memang cacat bang, tapi ia harta karun paling berharga buat saya. Silakan abang-abang ambil uang sekaligus dengan gerobaknya, tapi jangan anak saya," ucap si pemulung seraya berjalan menggendong anaknya meninggalkan gerobak dan 2 perampok itu.

Baru beberapa langkah si perampok bertopi memanggilnya. Temannya hanya diam bingung melihatnya. si pemulung kembali menghampiri.

"Kita berdua sebenernya bukan bener-bener perampok bang, saya terpaksa, anak istri saya butuh makan," ujar si perampok.
"Bang, posisi kita sama, anak dan istri saya juga butuh makan, tapi mereka harta karun saya bang. Abang tahu nggak gimana menjaga harta karun? Sedikitpun nggak akan saya nodai dan nggak akan saya jual. Saya jaga dengan memberi mereka makan yang halal," ucap si pemulung.
"Bang, uang ini kita bagi dua saja, biar anak dan istri abang juga bisa makan," si pemulung balik memberikan si perampok uang dan pergi membawa gerobaknya.

Dua perampok hanya terdiam melihat kepergian si pemulung bersama bocah kecilnya.







#7HariMendongeng

Rabu, 09 Mei 2012

Soto Betawi

















"Bang, soto betawinya satu, jangan pakai tomat ya," teriakku pada bang Juki. "Siap! Biasa ya neng," sahutnya dari dalam dapur tempat ia meracik soto betawi.

Warung soto betawi bang Juki ini adalah langgananku sejak dulu. Awalnya hanya warung tenda kecil depan kantor tapi karena rasanya yang teramat enak dan nikmat banyak orang yang ketagihan dan laku keras. Warung pun berganti menjadi sebuah ruko tapi tetap tak meninggalkan gerobak soto betawinya. Dan bang Juki sudah hafal pesananku. Tak jarang untuk acara di rumah aku memesan soto betawi padanya. Siang ini warung soto betawi bang Juki terlihat agak sepi.

"Tumben agak sepi ya, bang," tanyaku.
"Iya neng Yuri, mungkin orang udah banyak yang libur kali, besok kan tanggal merah," jawabnya.
"O iya ya besok tanggal merah. Tutup dong ya, bang,"kataku tersenyum.
"Iya neng, tapi saya senang kalau tanggal merah begini, saya sama keluarga bisa libur gratis," sahut bang Juki sumringah.
"Libur gratis bang? Dari mana?" tanyaku bingung.
"Ya sama mas bos, dari dulu itu udah jadi janjinya mas bos ke saya, kalau ada tanggal merah itu rejeki buat saya dan keluarga untuk liburan," bang Juki menjelaskan.
"Wah enak banget bang," aku tertawa.

Seketika itu datanglah seorang pria muda membawa sebuah panci besar, entah berisi apa, tapi sepertinya daging-daging untuk soto betawi bang Juki. Bang Juki langsung berdiri dan membantunya. Tak lama, pria muda tadi langsung pergi lagi dengan mobilnya.

"Siapa bang?" tanyaku.
"Oh, itu, anak saya neng," jawabnya tersenyum.

Anaknya bang Juki ganteng banget! Kok bisa? Setahu aku istrinya juga nggak cantik-cantik banget, putih sih memang. Tapi anaknya bisa seganteng itu? Yuri cukup takjub.

"Umur berapa bang?" tanyaku penasaran.
"Masih muda neng, badannya aja yang bongsor," sahut bang Juki.

Yuri hanya mengangguk tersenyum, lalu kembali ke kantornya.

Hari ini warung soto betawi bang Juki ramai penuh sesak, Yuri melongok kearah gerobak dari kejauhan. Itu bukan bang Juki. Ia menghampiri si pria muda.

"Kamu anaknya bang Juki? Bang Juki kemana?" tanyaku.
"Bapak sakit mbak, kemarin habis libur masuk angin parah," jawabnya.
"Waduh, gimana nih," Yuri terlihat bingung.
"Ada apa mbak? Kok bingung gitu?" ia balik bertanya.
"Saya butuh ketemu bang Juki, saya mau tanya resep soto betawi sekalian mau minta ajarin cara masaknya. Rumah bang Juki dimana ya?" ujar Yuri.
"Wah kalau sakit begini mana mungkin juga Bapak bisa ngajarin mbak."
"Iya juga ya," Yuri semakin bingung. Lalu Yuri bergegas kembali ke kantornya.

Malam ini adalah malam perjodohan yang paling tak bisa ditolak oleh Yuri. Orangtuanya memaksa untuk mempertemukan ia dengan anak relasi kantor Ayahnya. Ditambah sedikit pemaksaan dari sang Ibu untuk Yuri memasak perdana soto betawi di pertemuan ini. Kenapa harus soto betawi? Kenapa nggak telur ceplok sama kecap manis dan nasi putih aja? Kenapa nggak nasi goreng aja? Bumbunya kan lebih gampang dicari di supermarket. Yuri hanya ngedumel dalam hati. Sungguh soal masak dan perjodohan ini sangat memberatkan hatinya. Dan menu pun berubah dengan masakan istimewa Ibu. Setidaknya ada yang membuat hatinya lega. Dari dalam kamar ia mendengar relasi Ayah telah datang ke rumahnya, berikut anak lelakinya yang akan dijodohkan dengan dirinya. Ibu memanggilnya untuk segera keluar.

"Kamu? Kamu bukan anaknya bang Juki?!" aku terbelalak kaget melihat sosok di hadapanku.
"Kenalkan, namaku Danu," ia tersenyum.

Danu adalah anak relasi Ayah yang dulu kuliah kuliner di Perancis. Bang Juki dulu adalah tukang kebun di rumahnya. Danu menyuruhnya untuk berdagang soto betawi hasil olahan menunya. Jadi bang Juki hanya bertugas berjualan, soto betawi itu hasil masakan Danu. Ia telah lebih dulu tahu tentang Yuri dari bang Juki.

"Mau aku kasih resep soto betawinya bang Juki?" bisiknya tersenyum di sebelahku.
"Percuma, aku nggak bisa masak," sahutku ketawa.
"Kalau aku ajarin masak berdua, mau?" tanya Danu menatapku.

Aku mengangguk penuh senyum bahagia. Nggak mungkin aku menolak soto betawi, apalagi menolak kamu yang akan jadi koki gantengku :)

Raru

Deraya berusaha menggapai sebuah piring di dekatnya, sulit. Piring itu masih terlalu jauh. Tak lama Raru mendekatkan piring itu padanya. Deraya tersenyum, lalu menciumnya. Hari ini sang kakek tua tak menghampirinya, aneh. Biasanya ia tak pernah absen menyapa walau sedang sakit sekalipun. Mungkin sakitnya begitu parahnya hingga ia tak mampu walau merangkak. Deraya mencoba mengajak Raru bermain, terkadang malah Raru yang mengajaknya bercanda. Sekedar mengisi kejenuhan ditiap waktunya.

Deraya hidup di desa yang hijau nan asri, namun sepi dan jauh dari penduduk lainnya. Jarak dari rumah satu ke rumah lain memang agak berjauhan.
"Raru, sudahlah, kalau kamu tak bisa tak apa, biar aku saja," Deraya tersenyum dan sekuat tenaga meraih boneka kecil yang terselip diantara bambu-bambu.
Tapi Raru tak ingin mengecewakanku, ia tetap berusaha mengambil boneka yang terselip itu. Yak, bisa. Mereka tersenyum berpandangan.

Malam ini sang kakek tua menghampirinya dengan suara batuk yang sangat mengganggu, tubuhnya ikut membungkuk mengikuti nada batuknya. Ia tampak berusaha menahan sakitnya yang semakin menjadi-jadi. Ia menatap Deraya di depan pintu. "Brak!" Sang kakek tua jatuh pingsan dan tak bergerak sedikitpun. Deraya sangat ketakutan. Raru pergi meninggalkannya.
"Raruuuuu...! Raruuu..! Jangan tinggalkan akuuu...!" Deraya berteriak sambil menangis. Ia takut setengah mati, malam itu selama hampir 3 jam dirinya berdiam ditemani sang kakek yang tergeletak tak bernyawa. Deraya masih saja terus menyebut nama Raru. Ia tak menyangka Raru akan pergi secepat itu.

Raru datang kembali, Deraya lega. Perasaannya semakin lega saat Raru membawa beberapa warga yang membantu melepaskan kakinya yang terpasung selama hampir 10 tahun. Sakit hati sang kakek yang ditinggal mati oleh istrinya mengorbankan Deraya terpasung sekian lama. Padahal ia tidak gila. Selama ini tak ada warga yang berani melepaskannya dari ikatan itu. Hanya Raru yang menemaninya. Hanya Raru sang anjing yang setia membawa makanan dan minuman untuknya. Hanya Raru teman dikala Deraya kesepian. Dan karena Raru, ia terlepas dari pasung itu. Raru adalah pahlawan bagi dirinya.

Kini desa itu disebut sebagai desa Pasungan, bahkan ada yang menyebutnya desa Raru. Jiwa kepahlawanan Raru membuat desa itu menjadi desa yang banyak dikenal orang. Dengan pesona hijau nan asrinya, warganya yang ramah dan kisah dibaliknya.



#7HariMendongeng

Selasa, 08 Mei 2012

My Partner in Crime

Serius mau tahu 'partner in crime' saya? Merasa bener-bener punya partner in crime itu waktu saya SMA. Namanya Nilam, sahabat saya di gank Chelsie. Saking 'crime' nya dalam segala hal saya sampai kasih istilah, mata lu mata gw juga. Jadi apapun yang Nilam lihat, itu pasti saya udah langsung nalar akan kemana arahnya. Kita berdua udah kayak bisa telepati aja. Pernah satu saat kita lagi ketawa seru banget, tiba-tiba mendadak berhenti dan diam secara berbarengan. Diam tapi pandangannya kemana-mana. Sok cuek gitu. Nilam cuma ngeluarin 1 kata, ehem! Saya jawab, yoih! Itu artinya sudah tiba waktu kita untuk mem-bully seorang cowok hahahaha.... Mem-bully cowok yang juga temenan deket kita juga loh, buat becandaan aja. Entah mau dijitakin, dicubitin, dijambakin, pokoknya bukan diciumin ajah hihihii... Selanjutnya yang lain ikut partisipasi dan kita mundur hahahaa pencetus doang...

Nilam adalah partner saya di segala kerusuhan dan bidang bolos sekolah. Tipe kita berdua yang sangat mood-mood an sebagai remaja kala itu seringkali jadi alasan buat kita mengisi kebosanan di sekolah dengan bolos, madol alias cabut. Blok M selalu jadi tempat kita berlabuh saat bolos. Nggak belanja, cuma iseng aja jalan-jalan, sok nanya-nanya barang kayak yang mau beli, kadang ngerjain SPG yang males kerja biar pada kerja, dan berakhir makan di AH. Enaknya bolos naik kopaja 609 itu karena kita berdua sering gratis. Salah satu supir kopaja yang tetangga Nilam dan bukan supir sebenernya, itu cowok cuma suka iseng ikut narik kalo lagi off kerja. Itu cowok cakep, putih, bening banget lah di kalangan supir-supir hahahaaa.... Sasaran empuk buat kita nyebut namanya tiap naik kopaja dan berakhir gratis dan saya cuma bilang : "Bang, si Hermin nggak narik ya? Ini adenya nyariin." Nilam cuma ketawa. Melihat kita duduk di depan ngobrol ama supir praktis si kenek nggak mungut bayaran hahahaha...kacau dah...

Bersama Nilam biasanya saya sering banget alasan sakit, padahal males masuk pelajaran guru tertentu. Atau acting sakit biar nggak upacara dan gosipan di ruang BP atau ruang UKS hehehe... Kita dulu pernah punya pacar yang juga sahabatan, jadi pacar saya dan pacar Nilam juga sahabatan. Eh itu kenapa ya bisa kita jadian? Padahal itu cowok biasa aja, cuma kita pikir seru aja kalo sahabatan ama sahabatan jadian hihihi... Setiap jalan juga berempat tapi kita jalan berdua di depan, cowok-cowok itu jalan berdua di belakang hahaha... Kalo mau nonton tinggal gantian, cowoknya Nilam yang bayar apa cowok saya, nah kita berdua sih cuek aja hihihii kejam.... Ini kenapa saya jadi kangen rendang paru buatan emaknya Nilam ya? :)

Ternyata bersatu menjadi partner in crime itu nggak cuma sebatas di SMA karena pas kita kuliah ini pun masih berlanjut. Padahal saya kuliah beda kampus sama Nilam. Tapi dasar iseng, kita berdua malah sering ikut masuk kelas di beda kampus itu. Kadang Nilam ikut masuk di jam pelajaran di kampus saya, kadang saya juga ikut di kampus Nilam. Kadang juga saya di kelasnya pura-pura jadi Nilam, Nilamnya mah lagi diluar kelas hehehe... Kalo tiba saat absen? Ya pede aja ikut ngisi absen hehe... Seringnya kami saling 'bertukar' kampus otomatis saling mengenal teman kampus satu sama lain. Saya sampe mikir, ini ke kampus orang tapi banyak tegoran sama anak kampus sini macam bener anak kampus sini aja :))

Layaknya partner in crime, kita berdua juga suka ribut atau kesel-keselan. Tapi mengingat keseruan kita yang terlalu dalam, semua jarang banget jadi besar. Pasti tahu-tahu udah baik lagi aja semua. Udah balik ngisengin orang lagi, udah balik bikin onar lagi, udah berisik lagi. Halah saya jadi kangen nyeleneh bareng Nilam. Masih mungkin nggak sih secara kita udah sama-sama punya 2 anak :)




#Ngeblogramerame

Sabtu, 05 Mei 2012

when Jabrik met Handa

Pertemuan : 3 Juni 2006, di parkiran mobil di depan cafe Kemang.

Perkenalan : Awal perkenalan saya malah menyebutnya cowok sok, ganteng sih tapi saat lagi dikenalin sama temen itu sikapnya sok banget. Ditambah kesibukannya sama hp. Asumsi saya saat itu cowok ini sibuk telponan sama ceweknya. Keki dong? Yah mayan deh. Diajak ngobrol di jalan juga yang nggak konsen gitu, masih sibuk sama telpon. Pas udah deket baru tahu kalo diawal perkenalan itu kamu sibuk sama provider selular hahahhaa...tapi ya tetep, kamu udah punya cewek, persis seperti asumsi saya. Kesimpulan perkenalan : kamu adalah cowok yang cuek, sok n blagu.

Masa kedekatan : yaitu masa dimana saya butuh temen curhat soal cowok. Tahu dong siapa? Awal deket itu saut-sautan di friendster, saling kirim message, lanjut ym-an dan tukeran nomer telp. Kamu memanggil saya Handa, maunya beda dari yang lain kata kamu. Masa-masa yang begitu intens itu buat saya tetep hambar (hambar-hambar pisang) karena kamu udah punya cewek. Males dong ganggu hubungan orang. Tapi semakin saya berkuat hati untuk menjauh, banyak hal yang bikin kita makin deket dan makin deket. (Alasan klasik ogah menjauh).

Pacaran : Piala Dunia dan Holiday Camp. Dua hal yang menjadi saksi untuk kita berkomitmen. 2 hari holiday camp bikin saya kangen banget, ternyata kamu juga, alhamdulillah nggak bertepuk sebelah tangan. Kamu yang lagi konsen sama piala dunia tapi masih rela diganggu untuk urusan cinta :) Saya yang lagi sibuk sama urusan holiday camp juga berasanya mau pulang aja buat ketemuan, ahiieeww... Tapi malam itu kita ngobrol puanjaanggg dan lamaaa (iklan coki-coki). Dan 9 Juli 2006 kita keukeuh jadian (keukeuh saking cintanya hiyaah...). Pulang dari event itu kita ketemuan. Tempat nge-date kita pertama kali bukan ditempat romantis ala candle light dinner. Cukup di warung pecel ayam pinggir jalan deket rumah saya. Karena kita bukan pasangan romantis. Suara ayam atau lele yang lagi digoreng itu nggak kalah romantis kok, bener deh :) Kenapa saya memilih kamu? Karena kamu dewasa, dibalik sikap cuek kamu. Karena kamu lucu, dibalik tingkah nyebelin kamu. Karena kamu apa adanya sebagai cowok, nggak pernah jaim soal apapun. Hampir 4 tahun saya nggak punya cowok, tiba-tiba punya cowok lagi rasanya gimana gitu. Ada yang merhatiin, ada yang sayangin, kadang ngomelin hahahaha...Naluri dan insting perempuan itu nggak bisa terganti oleh apapun. Awal ketemu kamu adalah saat dimana insting saya berjalan cepat. Ok, ini bakal jadi calon suami gw. Alhamdulillah tanda-tanda kedekatan kami makin jelas adanya. Saya suka tipe cowok badung (daerah Jawa Barat eh Bandung itu mah), bukan karena biar ikut jadi badung juga, tapi kapasitas ngadepin cowok badung sama alim itu jauh banget gregetnya. Lebih seru, lebih penuh tantangan, lebih hidup. Dan nanti saat kita punya anak, para ayah mantan cowok badung lebih tahu bagaimana ngadepin anak-anaknya yang bakal badung juga :)

Makin serius : ultah kamu di Oktober 2006, kamu memberanikan diri ketemu dan ngobrol serius sama Mama Papa. Saya deg-degan. Nggak berani ikut duduk bareng hahaha.... Alhamdulillah orangtua saya menerima dengan lapang dada (hoy anak gw laku jg hoy):))

Perkenalan keluarga inti : ultah Papa saya di November 2006, keluarga inti kamu dateng untuk sekedar berkenalan. Kebetulan ada momen Papa ultah jadi dibarengin aja.

Perkenalan keluarga inti : berdekatan dengan ultah Dini, ade kamu, Desember 2006, gantian keluarga saya yang diundang untuk ramah tamah di rumah kamu.

Lamaran : 25 Februari 2007, keluarga besar saya telah siap menyambut kehadiran keluarga besar kamu. Saya jadi inget alm.Papa Zul :') Lamaran yang cukup seru, saya senang karena keluarga kami berbaur. Ngobrolin soal kesiapan menjelang hari H dengan segala pernak perniknya. Kamu ganteng dengan batik hijau :) Eh iya, ini pas ultahnya sepupu deket saya loh, Renny.

Akad & Resepsi : 5 Mei 2007, akad pagi jam 08.00, saya dengan kebaya broken white, kamu dengan beskap broken white dan blangkon, ganteng :) Pagi ini saya resmi menjadi istrinya Jabrik. Senang dan terharu. Siang jam 11.00 resepsi, kita dengan baju adat minang warna hijau, saya dengan sunting yang menjulang. Hari ini pas hari ultah sepupu deket saya juga, Ceasar.

When Jabrik met Handa, sesungguhnya dipertemukan sama seseorang yang sempat saya benci. Tapi mungkin itu hanya alur, karena mungkin bertemu dimanapun dengan tangan siapapun kita mungkin memang berjodoh. Yang menarik adalah tiap momen kita selalu deketan sama ultah orang-orang tersayang. Puncaknya ya tanggal nikah kita yang sama dengan ultah sepupu saya. Dan ini bikin kita sering bareng ngerayain karena kita pasti ketemuan buat acara keluarga. Pertemuan saya dan kamu sebenernya kalo aja kita ngeh dari dulu, kita sama-sama pernah 1 kampus. Mama saya yang tiap pagi nganter saya ke kampus dan selalu parkir buat makan bubur dulu, sering banget marah kalo keduluan sama vw putih yang parkir neduh dibawah pohon. Nah, itu vw taunya mobil kamu :) Di kampus juga saya udah sering liat kamu, karena kamu senior saya, tapi saat itu saya malah biasa aja tuh. Dan kamu pasti malah nggak tahu saya karena area main kita yang beda. Pernah liat kamu juga kalo lagi di kamis (kantin miskin) aja. Itupun karena ngobrol sama temen kamu, kamu malah lagi seru maen gaplek hahahaa... Ya sebenernya lagi ngegebet temen kamu juga hahahaa... Tapi ya siapa yang tahu soal jodoh? Lewat perkenalan saya dengan temen kantor kamu itu malah bikin kita berjodoh. Saya baru nyadar kalo kamu senior yang pake vw itu ya pas kita kenal deket. Lucu ya. Tahun 1997 1 kampus tapi baru kenal 2006. Jadi sampe sekarang kalo ditanya sama temen, kenal suami dimana? Saya bilang dari temen kampus. Oh dulu 1 kampus sama suami? Iya, tapi dulu nggak kenal. Nah loh, bingung deh hehe...Itulah kekuatan jodoh :)

This day 5 years ago, 2 became 1



5 tahun itu begitu cepat, dan yang ada di dalamnya adalah kita dengan segala keriangan kita, dengan semua ujian dan cobaan kita, dengan doa dan kekuatan kita. Tak pernah secuilpun aku menganggap dan menerima semuanya dengan sia-sia. Sekecil apapun tawa yang hadir dalam perjalanan kita ini. Dulu, pernahkah aku mengeluh? Sering. Tapi akhirnya keadaan menyadarkan aku untuk tak mengeluh sama sekali. Karena sekali aku mengeluh maka selamanya isi hidup kita ini hanyalah mengeluh. Dan perlahan aku belajar untuk tak hidup bersama keluhan, begitupun kamu.

5 tahun itu begitu dramatis, karena segalanya numplek secara hampir bersamaan. Dan kita hanya mencoba untuk selalu bersabar, sabar dan bersabar. Kekuatan-kekuatan itu bukan bersumber dari kita seutuhnya tapi dari anak-anak. Dan Allah, tentunya. Juga perasaan kita. Teristimewa, kamu.

5 tahun itu begitu berwarna, sehingga kita tak mungkin menghapus dan menggantinya dengan warna hitam sekalipun. Kita lebih memilih menikmati tiap alur warna ini dibanding harus menutupnya hanya dengan 1 warna. Terlalu membosankan. Idealnya hidup memang lebih indah bila berwarna. Kita tak pernah sekalipun mencoba memilih warna apa yang kita ingin, kita hanya mencoba merasakan kala warna menyentuh hati kita.

5 tahun itu adalah 5 Mei 2007, saat 2 hati menjadi 1, disitulah kita. Kita yang sampai detik ini masih selalu mencoba menarik semua keegoan kita satu sama lain. Kita yang selalu berusaha menjadi apa yang diinginkan dari kebersamaan kita. Sudahkah kita mengerti apa yang sedang kita harapkan? Sudahkah kita paham mengapa pijakan-pijakan ini kita susun bersama? Tahukah kamu mengapa kita harus selalu berpegang erat?

Hari ini 5 tahun yang lalu, 2 hati menjadi 1. Untuk saling menggenggam semua keluh kesah, untuk saling menampung tawa dan bahagia, untuk saling merangkul airmata dan duka, untuk saling memeluk haru dan kecewa. Untuk perjalanan yang bukan karena keterpaksaan, berat hati atau kebimbangan. Ini untuk aku dan kamu, dan masa depan kita.

Love Us,



-Shanty Adhit-

Jumat, 04 Mei 2012

Mari Mengulik Masa Sekolah



Masa sekolah selalu menjadi ajang arogansi yang kuat bagi banyak remaja. Tanpa disadari saya pun pernah ada di dalamnya. Dan mengulik tentang masa sekolah kenangannya terlalu membludak untuk diceritakan, maklum saya cukup gaul hahaha... SMP tak banyak yang dapat diungkap karena masa transisi dari lulus SD menjadi 'hampir' remaja. Jadi kenangannya saya kotakkan saja di masa SMA.

SMA saya berada di area Srengseng, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Bukan SMA unggulan tapi di sekolah inilah saya belajar banyak hal. Untuk apa SMA unggulan kalau kita nggak bisa dapat sesuatu dari sekolah tersebut bukan? Singkat cerita, dimulailah OSPEK itu. OSPEK yang bikin kesel, bikin gedeg, ya apalagi kalau bukan soal seniornya yang sok galak. Terutama senior cewek tentunya. Hal yang paling bikin remeh saat OSPEK adalah minta tanda tangan senior diikuti dengan suruhan-suruhan yang sering nggak masuk akal. Halah, apa pula maunya orang-orang? Dan bener aja, dengan atribut kuncir nggak penting ini ditambah hiasan kalung pete dan bawang putih, saya termasuk junior yang ikut kena omelan sadis mereka. Seminggu OSPEK tahu-tahu disamperin senior gank cewek, dibilang saya ganjen sama salah satu senior cowok. Sekedar info aja, dari SD sampe kuliah rambut saya bondol bin trondol, lebih kayak laki daripada perempuan, ngumpulnya sama cowok-cowok, kelakuan kayak cowok, untung aja saya nggak brewokan mbak... Masih juga dibilang ganjen, heran... Tingkah sok mereka saya jabanin (kalo orang Betawi bilang), saya sengaja ikut LDKS yang ada si senior cowok itu. Penasaran seberapa ganteng sih tuh laki? Manis sih tapi biasa aja, cowok baik-baik dan alim, nggak ada tantangannya. Tapi hasrat hati niat bikin keki berat, akhirnya saya gebet dan kami jadian. Hell... emang enaaakkk.... mereka cuma melongo asem hahahahaha...

Dulu saya masuk golongan IPS, sebenarnya lebih milih Bahasa tapi peminatnya kurang jadi kelas Bahasa gagal buka. Pelajaran fav saya dari SD memang Bahasa, mulai SMP meningkat jadi suka Bahasa Inggris, SMA jadi suka Bahasa Perancis. Saya selalu suka belajar bahasa, apalagi bahasa cinta hiyaaaahh... Pelajaran yang saya nggak suka, Kimia. Lebih ke nggak ngertinya sih soal nuang-nuang cairan yang akhirnya jadi berasap gitu hehehe.... Pernah lagi pelajaran kimia diusir keluar gara-gara temen sebangku sibuk minum es kelapa, dikira gurunya saya juga ikutan, bermaksud membela diri malah kena juga diusir, apes...

Apalah artinya SMA tanpa gank. Ini sebenernya tanpa disengaja. Libur kenaikan kelas 2, saya dan ke-6 temen cewek liburan ke Cipanas. Kebetulan temen ada yang punya saudara disana jadi kita bisa nginep gratis. Banyak hal seru, rame, plus haru pas di Cipanas. Ini malah bikin kita jadi deket. Dan terbentuklah gank Chelsie. Bukan tim Chelsea loh :) Seperti di film dan sinetron, gank kita juga pernah ribut sama gank cewek lain. Gank cewek yang bener-bener feminin, cantik, berasa paling cantik tapi otaknya kosong hihiihi...

Hal paling kompak dan mengharukan adalah saat salah satu anggota gank kami, Melmon, ribut sama wakil kepala sekolah yang juga guru Geografi. Menurut kami gurunya terlalu lebay ngadepin hal sepele. Solidaritas tinggi kami tunjukkan. Nggak hanya kita ber-6 yang ikutan berdiri dijemur ditengah lapangan dari pagi sampe sore, tapi semua temen-temen deket kami para cowok-cowok gank kresek. Guru-guru lain ikut bingung kenapa jadi banyak gitu yang dijemur? :)

Masa-masa boring dan masa-masa madol alias cabut bolos sekolah. Biasanya paling sering bolos bareng Nilam, sahabat saya. Kemana? Ke Blok M udah paling bener hehehe... Makanya tiap hari di tas selalu ada kaos, kadang bawa jeans pendek sedengkul jadi nggak perlu pake rok sekolah. Badung? Ya nggak papa, masih badung wajar. Termasuk punya cowok banyak di sekolah? Ya nggak papa, namanya juga masa mengenal seseorang. Mau ganti cowok berapa kali yang penting bisa jaga diri. Nggak jual diri, nggak narkoba, nggak mabu'-mabu'an.

Dan siapa guru yang paling males saya hadapi? Guru sejarah, namanya Bu Rosanta. Udah jalannya nonggeng, sok galak, berasa paling cakeb, tiap pelajaran sejarah pasti saya kena disuruh maju, nge-fans kali nih guru hehe... Pernah pas disuruh jawab saya nggak bisa trus Bu Rosanta marah2 trus saya ngedumel trus kedengeran ribut deh jadinya hahahaa... Eh tau-tau Bu Rosanta hamil n anaknya lahir pas di tanggal lahir saya. Tuh kan kalo nggak nge-fans apa coba? hhahaha...Guru paling bingung ngajar adalah guru bahasa Inggris, bingung aja gitu kalo ngajar, kayak yang keabisan bahan hihihiGuru yang paling killer? Nggak ada. Saya nggak pernah takut ama guru apapun, kalo pun males ngadepinnya ya karena males sama pelajarannya trus gurunya kalo ngajar nggak enak.Guru paling asik itu guru fisika ama ppkn, bisa diajak ngobrol di kantin kayak ngobrol sama temen.Guru paling reseeeee.....pak yoyooo...guru geografi, ini guru sampe bosen negor saya ama gank saya biar nggak berisik hhahaaaha....termasuk guru yang menyebut gank saya adalah gank provokator...bodo ah pak...tadinya pas kelas 2 itu kita 1 gank jadi 1 kelas, pas pak yoyo ini tau kita sekelas eh langsung dipisahin aja gitu halah....Guru paling sabar adalah guru agama, eh tapi kesabarannya melumer juga ngadepin Melmon waktu itu karena si Melmon diusir disuruh belajar diluar hahhaaahaa...Guru paling menyenangkan adalah guru seni musik,diajarin teknik nyanyi, diikutin lomba paduan suara mulu spesialisasi alto hehehee...

Tempat paling asik buat ngobrol n gosipan ya di kantin. Kantin kita ada 2, di depan sama belakang. Kalo di depan nggak enaknya letaknya yang sebelahan sama ruang guru, jadi kalo pelajaran kosong nggak bisa jajan. Nah kalo kantin belakang bisa sok mau ke toilet padahal jajan, kantin belakang ini ada yang namanya es lempar. Iya, itu sebutan buat es kelapa yang dilempar khusus untuk kelas yang di lantai 2 hehehe....

Pacar? Wah dulu di SMA pacar saya banyak hahahaa.... Pacaran sama senior pernah, sama yang se-angkatan sering, tapi kalo sama junior nggak doong...nggak demen brondong hahhhaha... Mulai dari anak basket, anak band, anak rohis (kalo anak rohis bagian saya yang bikin rusak hahahaha), anak pecinta alam. Pacaran itu jangan diambil sisi negatif dan joroknya, cari sisi baiknya. Dari pacaran yang gonta ganti mulu itu pengetahuan saya jadi luas. Jadi kenal jenis-jenis lagu, dari yang slow sampe bikin pegel kuping, jadi kenal anak-anak band dari sekolah ke sekolah lain, diajarin basket, kenal sama sekolah-sekolah lain karena diajak basket, nambah pengetahuan soal agama dari anak rohis, banyak lah sisi baiknya. Gonta ganti pacar itu bukan karena nggak setia, yang nggak setia itu kan pas lagi punya pacar trus selingkuh nah itu nggak setia, kalo saya mau punya pacar baru ya putusin dulu pacar lama hahahaa... Namanya juga proses mencari yang terbaik ya puas-puasin aja, yang penting sekarang udah jadi istri ya jadi istri yang setia dong :)

Seru ya masa SMA :) Iya seru kalo kita menikmati, nggak dibikin stress dan nggak berlebihan ngadepinnya. Segalanya kalo ukurannya dibikin pas pasti nikmat. Pas nilai-nilai anjlok pas dapet cowok pinter, jadi deh diajarin. Pas nggak bisa basket pas dapet cowok anak basket yang bantuin guru ngambil nilai basket, jadi deh nilai basket dikatrol sama pacar. Pas nggak apal doa-doa pas dapet cowok agamais, jadi deh diajarin agama. Pas mau nyari temen yang seru-seru pas masuk SMA ini, jadi deh serunya berulang-ulang sampe sekarang :)



#Ngeblogramerame