YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 26 Februari 2012

Review Waktu Untuk Merindu

Rindu yang tersalur dalam buku ini bukanlah semata rindu akan cinta. Namun ada kisah terdalam yang disampaikan secara lugas dan tegas. Saya seperti terhipnotis pada konflik "Run Out Of Time" karangan Agni Giani. Kerinduannya sudah terasa sejak awal kata yang dituliskan.

Nulis Buku Club Balikpapan, kisah-kisah yang kalian goreskan justru terlihat seperti penulis hebat nan terkenal. Dan saya semakin tak sabar ingin menelusuri konflik-konflik rindu di tiap lembarnya. Dialog-dialognya sangat sederhana namun memiliki porsi yang pas. Ada kerinduan yang tak habis-habis walau dengan perih, tapi tetap tersusun indah untuk dirasa.

Selamat merindu!

Kamis, 23 Februari 2012

Belajar dari ketiadaan

Pagi ini menjadi pagi yang mendung buat salah satu sahabat saya. Sang ibunda tersayang kembali ke pangkuan Ilahi. Dan ini mengingatkan saya akan Papa mertua. Kepergiannya sama persis seperti Papa. Tanpa sakit, tanpa pesan, tapi terlihat tenang dengan senyuman. Saya seperti iri dengan kepergian mereka yang mendadak tanpa membuat susah orang lain. Orang-orang baik selalu pergi dengan cara baik.

Kematian, apapun caranya, tetaplah menjadi cerminan buat kita menggali di setiap ladang amal yang ada. Saya nggak punya hak menggurui apalagi membuat orang-orang muak dengan nasehat. Karena Tuhan aja tidak menghakimi sampai saat kita mati. Setiap kepergian buat saya adalah ujian kekuatan diri. Saya mungkin masih bisa tersenyum bahagia karena saya masih hidup lengkap bersama kedua orangtua saya. Tapi saya nggak bisa menyembunyikan kesedihan terdalam saya saat Papa mertua saya pergi. Terlepas dari orangtua kandung atau bukan. Ia telah ada di satu sisi ruang hati saya.

Belajar dari ketiadaan, mulai dari Opa, Eyang, Dino (keponakan saya), dan Papa Zul, saya jadi mengerti apa arti kembali pada-Nya. Ketiadaan itu hanyalah raga, bukan jiwa. Toh saya masih bisa merasakan keberadaan mereka, walau hanya sekilas sebagai bunga tidur. Saya selalu senang saat mereka hadir dalam tidur saya, sungguh itu suatu berkah. Walau itu membuat saya haru biru :') Setidaknya itu 'membunuh' rasa rindu saya pada kehangatan mereka.

Dan saya belajar dari ketiadaan, dimana hidup kita memang seperti tarik-tarikan antara kebajikan dan kebajingan. Karena kematian bukan semata mencari muara surga atau kecebur di neraka. Dari ketiadaan saya belajar bagaimana seharusnya kita hanya mencari ridha dalam hidup.

Sabtu, 18 Februari 2012

hiduplah dengan saya

Ketika saya masih sibuk bermain karet atau lompat tali dengan bocah seumuran saya, ketika itu pula saya merasa tak ada yang lebih penting dari ini, dari berkumpul bersama teman-teman saya. Tawa yang saya yakin takkan terulang di masa depan saya. Dan saya menikmati setiap adu galasin ini tiap pagi sebelum bel masuk kelas berbunyi dan kami berbaris untuk masuk kelas. Termasuk main tak jongkok dan tak benteng yang kadang membuat saya berputar ke sekolah sebelah hanya demi untuk 'hong' benteng lawan.

Lalu saya seperti dipaksa berhadapan dengan hal kewanitaan, saya pasrah. Tapi itu membuat saya sedikit malu,saya mendadak tidak menikmati lompat karet, tak jongkok, galasin ataupun tak benteng. Saya adalah peralihan masa remaja. Masa yang membuat saya cukup tercengang, masa dimana saya mengenal arti sebuah pertemanan. Pria, rokok, cimeng, drugs. Bukan, bukan saya mencobanya, tapi lingkungan mengenalkan saya apa arti semua itu untuk hidup saya. Ternyata teman hanyalah sampah saat saya harus bermain dengan mereka sambil melihat mereka menggenggam kemunafikan. Ternyata teman hanyalah musuh yang 'membunuh' saya dari belakang saat saya mendengarnya menyebut saya bukan teman sebenarnya karena saya bukan dari kalangan itu. Tapi toh saya tetap berterima kasih pada bekas luka, karena dari luka saya belajar.

Lalu untuk pertama kalinya saya diperkenalkan dunia dengan sosok pria. Tak ada yang istimewa selain hanya menyebutnya 'patjar'. Hanya itu.

Yang ada pada saya adalah 6 orang sahabat saya, tempat kami saling bertukar cangkir kehidupan. Saya dan mereka mungkin di masa depan akan seperti film favorit kami yang sering diputar dirumah saya. Masih dalam bentuk piringan atau laser disc. Entah saya berperan sebagai siapa. Buat saya, 'now and then' adalah film kehidupan. Maka seperti itu mungkin saya akan menyebut masa depan saya, film yang berputar, tulisan yang tak pernah habis bercerita. Dan saya hanya mencoba menjadi diri saya diantara cela, makian, amarah, kekesalan, tanpa dendam. Hanya mencoba menjadi diri saya ditengah senyum, tawa, haru, bahagia, tanpa kesombongan.

Maka hiduplah dengan saya.

Jumat, 10 Februari 2012

Tak Hanya Seorang Papa

Mengenal seorang Papa selama 33 tahun buat aku itu anugerah yang nggak akan bisa terganti dengan apapun. Jujur, semua nasihat-nasihat itu mungkin cuma numpang lewat di kuping. Tapi prilaku dan sikap Papa sejak aku kecil, nggak pernah aku lupa. Justru sikap-sikap Papa jadi pembelajaran buat anak-anaknya, apalagi aku. Sebagai orang Jawa, Papa terdidik dari orangtua yang penuh tata krama dan sopan santun, dan itu diturunkan pada kami anak-anaknya. Menjadi orang pendiam seperti Papa bukan malah bikin ia nggak mengenal apapun, karena diamnya itu Papa senang belajar. Tangan Papa itu seperti penuh keajaiban. Mungkin karena terbiasa ngulik dari kecil. Di rumah ini, sebut benda apa yang nggak diakalin sama Papa, pasti semua dari pola pikir Papa. Kalau Papa hidup di dunia kartun, itu sama seperti Handy Manny :)

Papa yang pendiam bukan berarti nggak suka humor. Aku ingat saat aku kecil dulu, tiap kami makan bersama, Papa selalu ngebanyol, cerita lucunya banyak. Biasanya cerita-cerita lucu itu jadi bumbu tersendiri di sela-sela nasihat-nasihatnya yang bejibun. Tapi cara Papa memberi kami masukan biasanya nggak langsung pad intinya, maklum orang Jawa kebanyakan basa basi jadi muter-muter dulu :) Papa paling sering bercerita jaman kecil, mulai dari jaman Jepang, jaman Belanda, jaman G30 S/PKI, jaman rezim Soeharto, atau cerita gimana kerasnya didikan mbahkung kami. Cerita-cerita itu buat kami, sejarah yang sebenarnya.

Papa yang penyabar, ternyata tak selamanya sabar. Pernah juga ia marah besar pada mas ku karena ade-adenya ditinggal main ke rumah teman saat hujan besar. Dan melayanglah salah satu sepatunya hehehe... Papa sebenarnya emang paling sabar kalo ngadepin anak-anak kecil. Kayaknya tiap anak kecil langsung adem gitu sama auranya Papa yang selalu ngemong. Yang pasti kesabaran Papa teruji banget saat ngadepin masalah anak-anaknya :) Mulai dari mas, aku sampe ade ku. Termasuk soal kerjaannya yang setau aku, Papa nggak ambisius mengejar posisi. Semua dijalanin dengan sabar, nggak rakus sama kedudukan apapun. Padahal begitu banyak yang nawarin Papa untuk duduk di kursi enak, tapi Papa tetaplah Papa, yang sabar dengan posisi apa adanya :)

Jujur adalah salah satu kunci keberhasilan hidup, itu yang sering Papa bilang. Jujur soal perasaan, jujur soal keadaan, jujur soal apa yang ada di diri kita. Hebatnya Papa, berjuang hidup di Jakarta dari kampung karena kejujurannya. Entah jaman yang makin gila atau apa, tapi jaman Papa muda, kejujuran sangat dihargai orang. Sekarang? Nggak tahu deh, mungkin kalo jujur-jujur banget malah diketawain ya hehe.. Oleh karena pengalaman saya, Papa banyak kasih masukan, sumbang saran untuk kehidupan saya nantinya soal kejujuran yang nggak bisa dibeli, nggak bisa ditawar, dan nggak bisa ditolerir dengan apapun. Kejujuran tetaplah kertas bening berbayang. Jujurlah dengan apa yang ada di dalam perasaan kita, maka hidup akan menghargai kita. Seandainya pun banyak orang yang nggak jujur sama kita, satu saat kita tinggal menertawakan kebohongan mereka. Simple kan? Aaahh...Papa emang hebaattt! :')

Ternyata manusia emang nggak bisa lepas dari ego, begitu juga Papa. Cuma beda kadar aja. Atau mungkin karena laki-laki? Ah tapi perempuan juga banyak yang ego nya tinggi. Kenapa harus bermain gender? :) Dengan ego Papa yang setinggi itu, buat aku ia tetap suami yang baik, karena cintanya yang teramat sangat buat Mama. Dan Papa menjadi sumber inspirasiku saat masih taraf pencarian jodoh dulu hahaha... Itulah kenapa mereka berdua bisa tua bersama. Aku iri, bukan karena nggak bisa, tapi justru terpacu menjadi seperti mereka. Menjadi tua bersama orang yang dicintai itu memang indah banget.

Buat aku, Papa tak hanya sekedar seorang Papa. Dari hidupnya aku ikut tumbuh, dari pola pikirnya aku ikut berkembang, dan dari cintanya aku menjadi wanita tegar, kuat, dan penuh sabar. Terima kasih Papa... Semoga Allah selalu kasih Papa kesehatan dan selalu meridhai hidup Papa...Peluk dan ciumku selalu untuk Papa :')

Selasa, 07 Februari 2012

dan aku jatuh cinta (lagi)

"...YA, AKU SEDANG JATUH CINTA (LAGI)."

"...YA, SAMA KAMU (LAGI)."