YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Senin, 30 Januari 2012

Is This A Love Letter?

Dear Kamu,

Apa kabarmu hari ini? Semoga kamu selalu sehat dan dilindungin Allah SWT. Aku menulis ini bukan karena apa-apa, cuma ingin berbagi hati dan rasa yang selama hampir 5 tahun ini kita jalanin. Kamu pasti tahu sebesar apa rasa ini, bahkan mungkin tanpa aku ungkap semua. Tapi kamu tahu apa yang membuat aku begitu cinta? Setiap masa dan kenangan yang kita buat. Semua rasa dan hati yang selalu kita bagi. Seutas benang yang kamu rajut untukku, dan sekarang...semua itu kita bagi bersama untuk anak-anak.

Kamu ingat pertemuan itu? Bahkan kita sudah saling suka sejak pertama berjabat erat. Kamu sambil sibuk dengan hp mu, sementara aku berasumsi bahwa kamu laki-laki cuek. Tapi itulah kamu, apa adanya. Tanpa basa basi, tanpa malu-malu, tanpa ada yang berusaha untuk ditutup-tutupin. Kita jatuh cinta tanpa sekuntum mawar putih. Kita jatuh cinta tanpa rayuan-rayuan gombal. Kita jatuh cinta dengan apa adanya kita.

Ingatkah kamu tempat pertama kita nge-date? Cuma warung pecel ayam pinggir jalan. Tapi romantis, bahkan banyak yang kita bahas dengan tawa. Dan kamu tahu apa yang membuatku nyaman? Kamu selalu ada saat aku jatuh. Kamu selalu ada untuk merangkul sedih dan tawaku. Dari semua itu, kamu tahu apa yang membuatku selalu rindu? Kamu... Kamu seutuhnya dan apa adanya, bagus atau jelek, marah atau senang, suka atau duka, bahkan sampai kamu tua, beruban, keriput, atau apapun itu, nantinya....

So, is this a love letter? Buat aku, semua ini lebih dari sebuah surat penuh cinta, tapi surat penuh kerinduan akan masa-masa kita, yang sekarang kita jalanin bersama anak-anak kita...


Big hug & Kiss




Your Wife

Kamis, 26 Januari 2012

Menikahlah denganku

Lalu berapa lama lagi aku akan menunggu? Satu jam, dua jam, satu hari, dua hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun? Bertahun-tahun? Aku merasa semua hanya soal waktu. Tapi apa ini termasuk waktu yang tepat? Aku sibuk bertanya-tanya dalam hati. Begitu besar inginku mendapatkanmu, menjadikan kamu pasangan abadiku.

Aku terdiam di depan pintu kamar yang sedikit terbuka. Masa kritismu telah lewat, kamu terlihat semakin baik.

"Dika, ngapain kamu disitu?" tanyanya dari dalam kamar. Ardika hanya tersenyum gugup. Meyakinkan dirinya untuk melangkah masuk. Ia ingat cintanya, cinta yang begitu besar pada wanita ini. Tak mungkin ia mengelak waktu lagi.

"SAH, menikahlah denganku, jadilah bagian dari hidupku," Ardika memegang tangan Farisah, menatapnya dengan penuh kasih sayang. Ia tak memperdulikan keadaan Farisah dengan lemah jantungnya. Ia hanya ingin wanita ini menjadi miliknya sepenuhnya, walau tanpa jantungnya sekalipun.

"SAH!!!"

Ardika berlari di lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa, menuju ruang ICU. Dilihatnya wanita itu terbaring lemah. Wanita yang sangat ia cintai. Ardika hanya bisa melihat dari kejauhan. Beberapa suster dan keluarga menarik lengannya untuk keluar. Ia tak mampu mengelak. Terduduk pasrah di lantai rumah sakit yang dingin. 15 menit ini terasa seperti menunggu sepanjang hidup.

"Alhamdulillah, keadaannya mulai stabil," dokter memberi kepastian. Ardika menggenggamnya erat penuh cinta. Kalau saja ia bisa menggantikan posisinya, kalau saja ia bisa menukar jantungnya untuk wanita yang sangat ia sayangi.

"SAH!!! SAH!!!" Ardika teriak memanggil-manggil Farisah. Hanya satu jam Ardika dan keluarga tenang akan keadaannya. Dokter dan suster sibuk memperjuangkan hidupnya. Ardika tertunduk lemas. Airmatanya semakin mengering. Ia rindu Farisah, sangat.

Rabu, 25 Januari 2012

Ini Bukan Judul Terakhir

Ia mengeluarkan biolanya, memainkan dengan penuh rasa. "Apa yang kau rasa?" tanyanya padaku. "Kesal, amarah," jawabku. Ia tertawa, bagaimana mungkin aku bisa mnebak isi hatinya padahal aku tak menyimak dengan baik permainannya.

Esoknya ia membawa gitarnya, memainkannya di teras rumahku. "Kalau ini?" tanyanya seperti kemarin-kemarin. "Kosong, hampa," jawabku sekenanya. Ia tersenyum, seolah berkata hebatnya aku bisa menerka perasaannya.

Hari ini kau datang tanpa apapun. "Dimana alat musikmu? Sudah kau jual?" tanyaku iseng. "Kalau aku jual, kamu tak bisa menebak isi hatiku lagi," jawabnya tersenyum. "Jadi ini akan jadi judul terakhir musikmu?" aku balik bertanya. "Bukan, ini bukan judul terakhir, buku ini masih akan selalu hadir sampai kau tak bisa menerka perasaanku lagi lewat lagu-laguku," sahutmu memberikan novel karya terbarumu. Aku hanya terdiam tersipu.

Selasa, 24 Januari 2012

Kalau Odol Jatuh Cinta

Masih utuh, tak tersentuh. Bahkan masih tersusun rapi dalam kotak ini. Ia menutupnya kesal. Kenapa hal ini jadi berkepanjangan? Padahal ia menganggap semuanya hanya hal sepele. Tapi ternyata, kamu menganggapnya sebagai hal besar. Tidakkah kamu ingin menekan salah satu sisinya?

Pagi ini semua katupnya terbuka. Aku kaget. Aku mencarimu di tiap sudut rumah. "Kenapa semua katupnya terbuka? Kamu yang membukanya?" tanyaku gugup. "Iya, kenapa?" jawabmu ketus. Aku diam. Odol-odol itu simbol rasa rindu kita saat kita ribut. Semakin kita sering menekannya kita semakin rindu. Tapi kamu masih ketus padaku. "Aku...begitu kangennya aku sama kamu, sampai semua tak sadar aku tekan, aku rasa aku jatuh cinta lagi sama kamu," katamu pelan. Aku menarik tanganmu ke kamar mandi. Mengambil sisa odol dan mencoleknya di bibirmu. Mengecup bibirmu yang hangat. "Kalau odol jatuh cinta, sikat gigi tak mampu menolak," aku tersenyum.

Senin, 23 Januari 2012

Merindukanmu itu seru

Kenapa besok lama sekali ya? Aku rindu. Dengan tiga tanda seru. Kita memang hanya bisa bertemu seminggu sekali, karena kesibukanku yang mengharuskan aku kost di daerah lain. Aku menekan nomer telepon,"aku kangen," kataku.

Aku berjalan secepat mungkin, menerobos orang-orang yang menghalangi perjalananku. Stasiun ini tampak begitu penuh dan sesak, mungkin karena akan libur panjang. Oleh-oleh buatmu sudah terbungkus rapi dan kugenggam erat. Kamu pasti suka. Aku memasuki pekarangan rumah dengan hati penuh kerinduan. "Akhirnya sampai juga," kataku dalam hati sambil tersenyum. "Tereee...ya ampun...mama kirain siapa, baru dateng bukan ketemu mama dulu malah langsung sibuk ama kura-kura," Mama geleng-geleng kepala. "Maaf, Ma, aku kangen banget sama Kuri, makin ndut ya ma," jawabku tersenyum memeluk kura-kura kesayangan.

Tentangmu yang selalu manis

Aku selalu suka kamu. Entah karena apa. Buat aku kamu satu kemasan yang tak bisa aku tolak, tak mampu aku hindari. Mencium kamu tanpa batas, apalagi wanginya kamu. Cinta dan sayangku ini semakin hari semakin bertambah. Apapun keadaanmu, apapun wujudmu, apapun rasamu. Kamu selalu membuatku rindu.

Sejak kecil aku selalu suka, buat aku, martabak coklat keju memang punya rasa tersendiri di hati aku. Manismu yang juga hangat selalu membuat aku kangen. Hmm... Nyam nyam.... Kamu memang selalu manis...

Senyum Untukmu yang lucu

Pagi yang cerah, seharusnya. Menunggu memang hal yang membosankan, bahkan menakutkan buatku. Tak ada juga kabar yang bisa membuatku lega. Kamu masih disana, jauh dari pelukanku. Aku rindu, sangat rindu. Tapi kamu cuma diam, tak bersikap sedikitpun.

Air susu ini begitu berlimpah untukmu, nak. Aku terus memompanya dengan penuh semangat. Aku berjalan menuju ruang kaca, penuh bayi dalam tiap inkubator. Kamu begitu lucu, nak. Aku menahan tangisku, membendung airmata ini sekuat tenaga, agar kamu hanya melihatku dengan senyum, senyum untukmu yang lucu. Agar kita bisa saling menguatkan, nak.

Inilah Aku tanpamu

"Maaf hari ini nggak ada sarapan, aku sakit," kataku dari balik selimut. Kamu memegang keningku, acuh tak bernada. "Minum obat ya," tanyamu datar. "Sudah, tadi pagi-pagi sekali," jawabku. "Ya sudah istirahat, aku berangkat dulu ya," katamu sambil mengecup keningku. Seharian ini aku terbaring lemas, demam tinggi dan sakit kepala ini menyiksa. Deadline artikel tinggal menghitung hari, aku mencoba memaksa diri. Ya Tuhan, kenapa otak ini buntu? Aku sama sekali nggak bisa berpikir apalagi untuk mendapatkan tulisan yang benar-benar berbobot.

Malam ini akupun menjadi semakin linglung. Terlewat untuk menyiapkan makan malam, bahkan untuk sekedar membuatkanmu minuman sepulang kantor. Ditengah sakit ini sebenarnya aku masih bisa menyuruh si mbak membeli makanan, menyuruhnya membuatkan minuman buatmu. Tapi semua tak aku lakukan. Mendadak lupa, bingung, linglung, ini semua malah bikin aku susah istirahat. "Kita ke dokter ya," katamu. Aku hanya diam menuruti saranmu.

"Inilah aku tanpamu, Bi, kalau saja kamu menyadari, aku nggak butuh dokter, aku nggak butuh obat, aku cuma butuh kamu, butuh maafmu, butuh sayang tulusmu, butuh sikapmu yang kemarin sempat hilang," kataku memegang tanganmu yang menyelimutiku. Kamu tersenyum, senyum yang sejak kemarin aku tunggu, dan pelukan yang kurindukan.

Kamis, 19 Januari 2012

Aku benci kamu hari ini

Pagi ini kamu bangun tanpa senyuman, dan pelukan untukku, padahal aku telah lebih dulu membangunkanmu dengan kecupan. Kamu terlihat terburu-buru menuju kamar mandi, "aku kesiangan, kamu kok nggak bangunin aku!" katamu kesal. Aku cuma diam sekaligus bingung. Kenapa jadi aku yang kena omel? Biasanya kalau kamu mau berangkat pagi, dari malam sebelumnya kamu sudah berpesan. Lalu kamu pergi tanpa menyentuh sarapan istimewa buatanku, dan tanpa menciumku.

Seharian ini tak ada kabar darimu, satu-satunya sms : "hari ini aku sibuk, jgn ganggu aku." Tak lama seseorang mengetuk pintu rumahku, seorang kurir dari toko kue mengantar sebuah kue yang cantik dengan sebuah tulisan : "Selamat ulang tahun sayangku" Aku tersenyum riang, aku tahu kamu tak pernah lupa hari ulang tahunku. Aku mengabarimu tentang kue tersebut. "Sayang, kue itu bukan untuk kamu!" suaramu ditelepon begitu tegas. Aku bingung, lantas siapa yang kamu sebut 'sayang'? Aku masih bingung penuh tanya tanpa kamu memberikan kejelasan. Apalagi mengucapkan selamat yang terlambat. Dan kamu mengirim office boy untuk mengambil kue itu dari rumah.

Malam ini kamu pulang sangat larut, aku mencoba menahan penasaranku siang tadi. Aku lihat kamu begitu lelah merebahkan tubuh di kasur empuk ini. Tapi aku harus bertanya soal kue itu. "Boleh aku tahu buat siapa kue tadi?" tanyaku pelan. "Kenapa? Kamu curiga? Itu bukan urusan kamu!" jawabmu dengan nada tinggi. "Aku cuma tanya, aku nggak bermaksud curiga kok," kataku membela diri. "Aku tidur diluar aja, males dicurigain sama kamu!" bentakmu sambil membawa bantal ke ruang tv. Aku kaget, sampai menangis karena kesalnya. Kamu jahat! Aku benci kamu hari ini!

"Selamat ulang tahun sayangku," katamu tertawa sambil membawa sebuah kue ulang tahun. Aku melihat kearahmu, dan kue cantik itu. Itu kue yang dikirim tadi siang. "Maaf aku sudah ngerjain kamu," ujarmu sambil mencium keningku. Kamu tertawa dengan puasnya, sementara aku mulai ngambek dan menjewermu. "Aku nggak mungkin lupa ulang tahunmu, kamu kan wanita istimewa buat aku," katamu tersenyum membujukku. "Aku benci kamu hari ini, kamu sudah bikin aku kesel banget," sahutku mencolek kue ke pipimu. "Cuma hari ini kan?"

Rabu, 18 Januari 2012

Sepucuk surat (bukan) dariku

Dua hari ini serasa hanya sepi, bahkan nyaris kosong. Kamu jadi enggan menyapa, apalagi berbagi senyum. Tawa itu mendadak hening sejak pertengkaran kita. Aku hanya bisa diam saat kamu mencapai titik amarah yang tinggi. Membujuk dibalik semua kesalahanku tapi entah kamu menerima atau tidak. Aku hanya berusaha. MAAFIN AKU...

Surat itu aku lipat dan aku simpan dalam sangkar jerami tempat burung-burung singgah, diatas pohon. Aku tak berani memberikannya, kamu pasti masih marah, malah suratku nanti kamu robek-robek tanpa dibaca. Aku mengamati dari teras rumah, beberapa burung sedang mematuk-matukkan paruhnya pada suratku. Ah, sudahlah, pun surat itu hancur aku tak bisa apa-apa.

Sore itu kamu sudah ada di rumahku, duduk di teras sambil memegang sepucuk surat. Padahal aku tahu kamu masih marah. Aku menjadi agak kikuk membawakanmu secangkir teh manis hangat. Aku hanya diam. Kamu masih membacanya. Lalu aku memberanikan diri bertanya," kamu sudah membacanya?" Kamu seperti baru menyadari keberadaanku. "Iya, sudah," jawabmu. Aku tersenyum sambil tersipu. "Aku pikir cuma dengan surat itu kamu bisa maafin aku," kataku berusaha menatapmu. "Siapa bilang ini surat dari kamu?" kamu balik bertanya. "Tapi itu memang suratku, aku yang membuatnya, itu kan tulisan aku," sahutku meyakinkan. "Surat ini bukan dari kamu, ini dari burung-burung yang berusaha meminta maaf padaku karena serpihan surat lainnya telah mereka hancurkan," jawabmu tegas. Aku cuma tertegun.

Senin, 16 Januari 2012

Jadilah milikku, mau?

"Sudahlah, kamu ambil saja barang itu, toh nggak ada orang yang tahu," bisiknya. Bejo merasa ragu mengambil keputusan itu. Ia masih berpikir apa yang akan terjadi jika ia benar-benar mengambilnya. "Kamu nggak usah pikirin, semarah apapun itu, kamu pasti akan dimaafkan," bisiknya lagi. Iya sih benar juga, semarah dan sekesal apapun mas Tarjo pasti akan memaafkannya.

"Kapan lagi kamu bisa memiliki barang itu, Jo," bisiknya. Bejo mulai terseret dalam godaan dan rayuan mautnya. "Ingat, seminggu yang lalu kamu telah mengambil barang tante mu itu, tak dimarahi kan? Tak ketahuan pula," bisiknya lagi.

Esoknya dan esoknya lagi, Bejo kembali mengulang sikap buruknya, dan godaan demi godaan semakin besar ia dapatkan. Ia semakin asyik mencuri barang-barang milik keluarganya. "Bagaimana tawaranku? Jadilah milikku, mau?" ucap sang iblis di telinga kirinya. Bejo hanya tersenyum. Ia tak menyangka bisa sedekat itu berkawan dengan sang iblis.

Kepada Sang Empunya Hidup

Hari ini telah Kau tambahkan usiaku di dunia nan fana ini, buat aku itu lebih dari apapun. Kesempatan hidup yang Kau berikan setiap tahunnya tentu mempunyai arti banyak. Tapi terkadang aku sia-siakan, aku kesampingkan. Maafin aku ya, aku ini memang manusia nggak tahu diri, mana sombong pula. Untuk saat ini tapi aku benar-benar bersyukur padaMu. Di usia setua ini aku sudah menikah, dikasih amanat 2 anak yang ganteng dan cantik, suami yang sayang banget sama aku. Belum lagi keluarga yang sayang dan perhatian sama aku, plus temen-temen yang juga nggak kalah hebatnya.

Hari ini mungkin usia hidupku yang sesungguhnya di dunia menjadi berkurang. Itu yang membuatku sedikit berpikir keras. Gimana nggak? Aku belum punya bekal banyak buat bertemu denganMu, apalagi untuk mempertanggungjawabkan sikapku di dunia ini. Padahal sungguh, begitu ingin aku menjadi bagian dari surgaMu. Tapi toh hidup seseorang bukan hanya sebatas keinginannya mencapai surga atau kecemplung di neraka. Buat aku sekarang menjalani hidup ini cuma cari ridha, iya ridha dari Mu. Nggak mau mikir masuk surga atau neraka, karena itu hak Mu.

Tuhan, Kau sang empunya hidup, Kau yang Maha Tahu berapa lama lagi sisa waktuku di dunia ini. Kau yang Maha pembuat rencana, entah apa lagi yang Kau rencanakan untuk hidupku ini. Suka atau duka, tangis atau tawa, senang atau susah. Kalau aku masih boleh meminta, aku hanya minta untuk dipinjamkan sabarMU, kuatMu, ikhlasMu, walau sesaat. Kalau aku masih boleh meminta, tolong beri aku waktu yang lebih panjang untuk aku berbuat baik, setidaknya untuk orangtuaku, mertuaku, suamiku, anak-anakku, keluargaku dan teman-temanku. Bahkan aku begitu ingin diberi waktu untuk merangkul musuh-musuhku. Biar kedua tangan ini bisa lebih banyak memberi bukan menerima, biar kedua kaki ini lebih banyak melangkah ke jalan lurus bukan jalan tak bertuan, biar kedua mata ini bisa lebih melihat pemandangan indah dan kebaikan, biar kedua telinga ini bisa lebih mendengar suara-suara pembaca ayatMu, biar mulut ini bisa lebih baik bertutur kata dan lebih banyak menuturkan ayat-ayatMu, biar otak ini bisa lebih berpikir positif, biar organ-organ tubuh ini bisa lebih punya manfaat, biar jiwa ini bisa lebih punya makna selama singgah dalam badanku.

Tuhan sang empunya hidup, cukuplah sudah yang telah Kau berikan selama ini. Hidupku telah Kau bumbui dengan segala rasa. Hidupku telah Kau sisipkan orang-orang tercinta. Apalagi yang bisa aku minta selain berucap syukur dan makin mendekatkan jiwaku dengan Mu.



HambaMu...

Minggu, 15 Januari 2012

Aku maunya kamu, titik

Mataku terbelalak melihatmu pagi ini, kamu begitu cantik. Aku tak menyangka keadaanmu saat ini begitu memukau. Rambutmu lurus terurai rapi, kulitmu putih bersih, sepatu-sepatu itu terlihat pas di kakimu. Kulihat beberapa lelaki juga mengincarmu, tapi aku memaksa agar kau menjadi milikku. Bahkan terlihat sangat memaksa. Sepenuh hati aku ingin membawamu serta pulang, mengenalkannya pada orangtuaku.

Ya, aku maunya kamu, titik. Cuma kamu. Buat aku, kuda poni lain terlihat biasa dan tak menarik. Aku sudah jatuh cinta padamu...

Dearest : RAF & SAF

Assalamualaikum,
Apa kabar anak-anak bunda yang ganteng dan cantik? Sehat-sehat saja kan? Kangen sekali bunda pada kalian, nggak pernah ada habisnya. Buat bunda kalian itu bukan hanya anak yang memang ditakdirkan untuk bunda tapi lebih dari penyempurna hidup bunda. Saat abang RAF lahir dulu, kebahagiaan bunda ini tak terhingga. Makanya saat abang RAF harus dirawat seminggu setelah lahir, bunda panik luar biasa. Tangis ini tak bisa lagi menguatkan bunda, takutnya bunda kehilanganmu nak... Tapi abang, walaupun kamu begitu mungil karena lahir di usia 8 bulan, kamu begitu kuat menjalani semua. Dan itu menjadi sumber kekuatan bunda juga untuk ikhlas menerima kenyataan tentang bilirubin mu yang mencapai 22.
Abang RAF, kamu anak laki-laki bunda satu-satunya, kelak kamu akan menjadi pemimpin, baik dalam keluarga, untuk agama, ataupun negeri ini. Maka jadilah seorang laki-laki sejati, laki-laki penuh tanggung jawab. Terhadap apapun bentuk tanggung jawab itu. Karena bunda nggak pernah mengajarkanmu untuk menjadi laki-laki cengeng dan pengecut. Airmata itu boleh menetes di pipimu tapi untuk membuatmu semakin bangkit dan kuat, bukan membawamu dalam kesedihan dan keterpurukan tanpa ujung. Abang RAF, jadilah laki-laki jujur karena kelak itulah yang wanitamu harapkan dalam rumah tanggamu. Jujur akan membawamu ke jalan kebahagiaan dan kemajuan imanmu selalu. Abang RAF, pesan bunda yang terpenting, jaga imanmu sebagai laki-laki, jangan pernah tinggalkan sholatmu karena ia yang membimbing hidupmu sampai akhir jaman. Abang RAF,jagalah adik perempuanmu satu-satunya.
Ade SAF, bunda cuma punya 1 anak perempuan, dan itu kamu. Ade SAF akan selalu jadi perempuan cantik buat bunda. Saat lahir dulu, ade begitu sehatnya, sampai kami menyebutmu si ndut :) Ade SAF, kamu telah membawa kebahagiaan tersendiri di hati bunda. Belajarlah untuk selalu menjadi wanita sabar. Karena kesabaran membawamu ke jalan ketenangan, apalagi dalam rumah tanggamu kelak. Jadilah perempuan sholehah, jaga imanmu apalagi auratmu. Karena disitulah laki-laki akan menghargaimu sebagai wanita muslimah. Jadilah perempuan jujur dan setia, karena nantinya anak-anakmu akan belajar itu semua darimu sebagai ibunya. Ade SAF, jangan tinggalkan sholatmu karena disitulah imanmu bermuara. Ade SAF, walaupun kamu perempuan, jangan biarkan airmata dan kesedihan berlarut dalam hidupmu. Jadilah wanita kuat dibalik derasnya tangisanmu, jadilah wanita tangguh yang tak gentar menjalani cobaan apapun di dunia ini.
Abang RAF dan ade SAF, anak-anak bunda yang ganteng dan cantik, warnailah selalu hidup kalian dengan senyum, jalani setiap hal yang telah kalian putuskan dengan hati yang legowo. Bunda nggak punya apa-apa di dunia ini untuk bunda wariskan selain pelajaran hidup dan ilmu untuk hidup. RAF dan SAF yang sangat bunda sayangi dan bunda cinta sepanjang masa, betapa bunda bangga teramat sangat memiliki kalian sebagai anak-anak bunda. Kalian selalu memberi coretan terindah buat bunda. Jika nanti bunda tua dan mati, bunda hanya minta jangan pernah putus doa kalian untuk bunda, seperti nadi kita yang sempat menyatu dalam rahim, seperti darah kalian yang selalu bercampur dalam tubuh bunda. Jaga sikap kalian dalam setiap langkah, buat bunda tersenyum bangga saat melihat dari surga. Peluk cium untuk RAF & SAF selalu :)


Wassalam,



Bunda Shanty

Sabtu, 14 Januari 2012

Dear Bocah

Saat aku belum bersamamu, aku hanya lajang tak bermakna, hidupku kaku, persis seperti ranting tak bertuan. Mungkin aku pernah tak memiliki harap dalam jiwa, apalagi kesempatan berjuang. Aku hanya angin yang lalu.

Lalu kamu penuhi warna, yang selama 4 tahun ini tak pernah ku minta. Senyummu tulus tanpa dusta, pelukmu penuh ikhlas tanpa cela, bahkan tangismu penuh hangat didekapku.

Bocahku, kamu akan selalu menjadi nadiku, airmata dan tawaku.


Peluk cium,



Bundamu tercinta

"Kamu manis," kataku.

Perjalanan di kota Bandung ini mengingatkan aku sama kamu. Iya, pertemuan kita yang tanpa sengaja terucap oleh teman dan dikenalkan darinya. Aku sendiri tak ingat pasti tanggal berapa. Yang aku ingat dibalik wujudmu yang hitam,"kamu manis," kataku. Tanpa malu-malu aku membawamu ke tempat aku menginap, menghabiskan waktu di cuaca Bandung yang dingin. Ditemani wedang jahe, kamu nggak kalah hangatnya.

Malam itu begitu inginnya aku membawamu ke Jakarta, ke rumahku. Tapi sepertinya kita belum berjodoh dan harus berpisah di kota kembang ini. Maunya sih kamu bisa menemaniku setidaknya dalam perjalanan pulangku, tapi ternyata...

Siang ini aku mencarimu, mungkin kita dapat mengulang cerita yang lalu. Agak lupa dengan daerah ini, aku sempat berputar-putar. Sempat beberapa kali bertanya pada warga setempat dimana tempatmu tapi justru aku semakin bingung.

"Akhirnya kita ketemu juga," aku tersenyum. Betapa rindunya aku sama kamu, hitammu, manismu. Aku melahap brownis kukus yang masih hangat ini :)

Jumat, 13 Januari 2012

dag dig dug...

Pria besar ini masih saja coba memaksaku. Penolakanku tak digubrisnya, malah ia terus merayuku. "Aku nggak mau! Aku kapok, aku nggak mau!" aku mulai berteriak. Kenapa kamu masih saja memaksa, merayu agar aku terbujuk melakukannya. Aku bergegas berlari masuk, tapi kamu justru memegang tanganku erat, menarikku untuk tetap didekatmu. Sepertinya sebentar lagi aku mulai menangis. Ah, benar saja, tatapanmu yang tajam dan menakutkan membuatku langsung menangis. Kenapa kamu sedikitpun nggak mau menghargai aku, keputusan aku?

Aku takut, takut setengah mati, buat aku ini seperti mengulang kejadian minggu lalu. Tapi hari ini aku dipaksa untuk melakukan hal itu lagi, bersamamu. Keringat ini mendadak terasa sebesar butiran jagung yang ada di sekujur tubuh, jantung ini berdegup kencang, sekencang paksaan dan rayuanmu yang tak mungkin aku tolak. Ya Tuhan, sumpah aku takut, apa aku benar-benar harus melakukannya lagi? Kedua tanganku sepertinya mulai bergetar kuat, tak beda jauh dengan keadaan kedua kakiku. "Bisa nggak sih kamu nggak menatapku seperti itu?" tangisku dalam hati. Tatapanmu semakin memojokkanku.

Aku tahu kamu memang laki-laki keras kepala, egois, kalau sudah maunya ya harus dituruti. Kalau saja bukan karena rasa sayangku yang besar, aku nggak mau mengikuti keinginanmu ini. Sambil menarik napas panjang aku berusaha memegangnya, pelan-pelan aku naik dan mengayuhnya dengan dag dig dug... "Ayaaaahhhhh!!!! Aku takuuuttt!!!" aku berteriak memegang stang sepeda yang mulai berbelok-belok. "Gubraaaakkk...!!!" "Cikaaa...kamu nggak papa?" Ayah berlari menuju selokan tempat aku jatuh dari sepeda. "Aku kan udah bilang, aku nggak mau! Aku kapok!" teriakku kesal. Ayah hanya tertawa geli.

Kamis, 12 Januari 2012

"Halo, siapa namamu?"

"Bagas, cepat pulang, Rafika sudah sadar," suara Mama Ina di telepon membuatku bahagia bercampur haru. Aku bergegas merapihkan meja kerjaku, perasaan yang selama 2 tahun ini sudah aku nantikan. Tak lupa aku membawakan bunga lily kesukaan Rafika, bunga yang juga aku berikan di setiap pagi sejak Rafika terbaring karena kecelakaan. 2 tahun Rafika tidur dalam komanya dan baru terbangun di sore ini. Sungguh perasaan yang antusias sekali. Merawat dan menjaganya dengan penuh kasih sayang dan penuh harapan.

Sayangnya jalanan sangat tidak bersahabat, hujan besar dan kemacetan ibu kota membuatku harus menahan semua peluh rindu untuk Rafika. Aku teringat masa itu, masa yang selalu penuh warna, masa yang kamu katakan tak pernah ingin kamu ganti dengan apapun. Pelukan yang tak pernah aku dapatkan dari wanita manapun selain Ibuku, perhatian yang tak pernah terganti oleh perempuan lain, rangkulan mesra saat aku rapuh, lentiknya jari jemarimu yang menghapus airmataku dalam sedihku, dan tatapanmu... Aku rindu tatapan itu, aku rindu tatapan manja mata coklatmu.

Rafika, kamu adalah momen terindah dalam hidupku, berbagi warna denganmu adalah inginku selalu, apalagi menyatukan nadiku dengan jiwamu, menjadi kita... Kita yang sempat tertunda...

Lantas mengapa aku jadi ragu berjalan di lorong ini? Padahal aku sangat berharap menyapamu, memelukmu, melepas kerinduan kita. Pelan-pelan aku buka pintu kamar, kulihat kamu duduk diatas kursi roda dengan pandangan jauh ke depan, apakah menatap masa depan kita? Seketika kamu melihatku, tersenyum... Senyum yang sangat aku tunggu.

"Halo, Rafika," ucapku pelan. "Halo, siapa namamu?" sahut Rafika tersenyum. Aku tersentak diam. Ya Tuhan, ia tidak mengenalku??? Sedikitpun??? "Rafika terkena amnesia, Gas," ujar Mama Ina dalam tangisnya. Rafika, aku suamimu...

Rabu, 04 Januari 2012

Jgn Jadikan Aku Istrimu (Renungan buat suami)

Jangan jadikan Aku Istrimu,

jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain,

kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu,

melihatmu begitu pulas,

wajah mantan pacarku yang terlihat begitu sempurnapun takkan mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.



Jangan Jadikan Aku istrimu,

jika nanti kamu enggan bangun hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam,

sedang selama 9 bulan aku harus membawanya di perutku,

membuat badanku pegal dan tak bisa tidur sesukaku.



Jangan Jadikan Aku Istrimu,

jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka maupun sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita.

kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku,

padamu aku hanya ingin berbagi dan aku bukan hanya teman tidurmu yang tidak bisa di ajak bercerita sebagai seorang sahabat.



Jangan Jadikan Aku Istrimu,

jika nanti kamu langsung tertidur setelah kita bercinta,

kamu harus tahu aku menikmati kebersamaan denganmu dan mendengar rayuan gombalmu yang lebih terdengar lucu dari pada romantis adalah saat2 yang ku tunggu..



Jangan Jadikan Aku Istrimu,

jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menceraikan diriku

kamu tahu betul kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen kita untuk hidup bersama.



Jangan Jadikan Aku Istrimu,

jika nanti kamu memilih tamparan dan kata2 kasar untuk memperinagtkan kesalahanku, sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa.



Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,

jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu dengan teman-temanmu.

Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dengan setrikaan yang menumpuk dan aku bahkan tidak sempat menyisir rambutku, anak dan rumah bukan hanya kewajibanku karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu dan jika boleh memilih aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu tahu bagaimana rasanya.



Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,

jika nanti kamu lebih sering berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga.

Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.

Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga larema kita tidak hidup hari ini saja.



Jangan Pilih Aku Jadi Istrimu,

jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu.

Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan ku biarkan kata-katamu menyakitiku bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan,

bukan hanya seseorang yang sedap di pandang mata tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi menyapa.

Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.



Jangan Pilih Aku Sebagai Istrimu,

jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang.

Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tuguhku karena aku tidak punya waktu untuk diriku sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.



Jangan Buru-buru Menjadikan Aku Istrimu,

jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.

Kamu tidak tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon dan tidak ingin apa yang di sebut "kewajiban" membuatku terisolasi dari pergaulan aku semakin d sibukkan dengan urusan rumah tangga.

Menikah bukan untuk menghapuskan identitas kita sebagai individu tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.



Jangan Buru-buru Menikahiku,

jika saat ini kamu masih ingin meraih impian mimpi muda aku hanya akan menjad ipenghalang untuk langkahmu itu,

meski menikah denganmu adalah

impian terbesarku,

aku tidak akan keberatan menunda itu demi cita-citamu karena aku juga punya cita-cita dan aku tahu bagaimana rasanya jika berhasil meraihnya.



Jangan Buru-buru Menikahiku,

jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaanya.

Bagiku hidup lebih lebih dari angka yang kita sebut umur,

aku tidak ingin menikah karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.

Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidupku yang tidak ingin ku sesali hanya karena terburu-buru.



Jangan Buru-buru Menikahiku,

jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan,

aku takkan keberatan membetulkan genting rumah dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.



Hapus Aku Dari Daftar Calon Istrimu,

jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu.

Kamu harus tahu meski cintamu sudah ku perjuangkan,

aku takkan ragu untuk meninggalkanmu.



Jangan Jadikan Aku Istrimu,

jika kamu masih berpikir kamulah cinta pertamaku sedang setiap hari aku masih harus mendengar nama-nama mantanmu dan berusaha sekuat tenaga menghilangkan rasa cemburu yang mungkin tidak beralasan tapi kamu harus yakin,

kamulah cinta terakhir dan satu-satunya cinta yang ingin ku jalani sampai akhir hayatku...



Jangan Jadikan Aku Sebagai Istrimu,

jika kamu pikir bisa menduakan cinta kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang ku pilih mengkhianatiku.



Jangan Jadikan Aku Sebagai Istrimu,

jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu jika kamu belum tahu satu saja alasan karena aku harus menerimamu sebagai suamiku. 



#dari blognya om Ruly