YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 29 Desember 2012

PostCardFiction : Dear Dua Malaikat


Dear Dua Malaikat,

Hidup yang tak pernah aku mengerti, atau tak butuh untuk dimengerti, yaitu saat raga kita menyatu dalam satu tali pusat. Kalian telah merasa apa yang aku rasakan, melihat apa yang aku lihat, mendengar apapun yang aku dengar. Dalam rahimku, melalui sela kulit ariku. Bahkan kalian menukar airmataku dengan senyuman kebahagiaan, mengganti gumpalan asa ku menjadi lautan harapan penuh cinta. 

Sungguh Tuhan tak pernah menukar tawa satu umat untuk yang lain. Lalu menggantinya dengan kepedihan. Kalian adalah dua malaikat yang bukan hanya Tuhan titipkan begitu saja untukku. Kalian malaikat pembawa berjuta doa yang akan mengiringi jalanku ke surga-Nya. Suatu saat nanti...

Dua Malaikatku, entah apa arti ada ku di dunia ini tanpa kalian, mungkin penuh lara atau malah mati sia-sia. Hidup tak lagi selayaknya hidup. Dan sebenarnya, aku yang bergantung pada kalian, bukan kalian bergantung padaku. Karena aku tanpa kalian hanyalah kosong.

Aku menjadi manusia yang sangat butuh kalian, untuk menjadi kuat, untuk menjadi tegar, untuk menjadi sabar. Aku menjadi manusia yang selalu rindu akan kalian, untuk menjawab semua rinduku yang selalu ada. Aku pernah penuh amarah, penuh kesal dan sesal, namun hanya sebatas emosi manusia.

Dua Malaikatku, terima kasih telah menjadi malaikat-malaikat kecil terindah dalam hidupku yang selalu penuh maaf. Aku sangat mencintai kalian. Terima kasih telah menjadi bagian dari rahimku yang pernah menghangatkan kalian selama 8 dan 9 bulan. Aku tak bisa menjanjikan menjadi yang terbaik untuk kalian, selain selalu ada untuk kalian dengan kedua tanganku untuk merangkul, memeluk, dan menghapus tangis penuh cinta.



Untuk Dua Malaikatku : RAF & SAF


Bunda,

Shanty






Rabu, 12 Desember 2012

Kita...

"Jangan pernah bertanya sudah berapa lama kita bersama, tapi tanyakan sampai kapan kita akan bersama," katamu memeluk erat dari belakang.

"Sampai kapan?" aku balik bertanya.

"Sampai selamanya dong, sampai kita tua bersama, sampai Tuhan mempertemukan kita kembali di surga," jawabmu cepat sambil tersenyum.

"Nice... Bagus juga gombalan kamu," aku tertawa.

Kamu malah mencium keningku, menatap mataku teduh penuh cinta, ini selalu jadi rindu yang tak pernah usai kamu berikan untukku.

"I love you, Key... Kamu adalah segala kebaikan yang aku miliki, semua kelebihan yang aku punya," ucapmu setengah berbisik.

"Dan kamu adalah semua hal yang mampu membuatku terdiam tanpa kata, terlena di setiap kecupan, terbangun penuh pelukan, menghangat di sudut bibirmu," kataku dalam hati.

Tanganmu membelaiku lembut, bibir kita menyatu tak bedanya dengan hati kita, matamu terpejam lalu terbuka persis diujung mataku. Senyuman yang selalu membuatku menunggu untuk tetap hadir di hidupku. Kamu... Selamanya...

Ketika Genggaman Tangan Itu Lepas

Kita tak pernah tahu ketika genggaman tangan itu lepas dari tangan dan hati kita. Dan kita tak pernah tahu ketika sela-sela jemari ini merenggang menyingkir dari genggaman. Bahkan kita tak pernah mengerti mengapa kita melepas genggaman tangan yang telah membawa biduk kita di 10 tahun ini. Aku masih terdiam, ketika kamu tak lagi bisa membawa tangan ini bersama hangatnya genggamanmu. Lalu semua kisah baru yang meluncur menjadi alasan di matamu. 

"Maafkan aku," ucapmu pelan.

Menggenggamku kali ini terasa hanya sebuah torehan, bukan lagi rindu yang kupeluk. Aku menatapmu tapi kupikir sia-sia karena rasa itu tak lagi sama.

"Aku tak butuh alasan kita melepas semua ini, aku hanya ingin kita mengurusnya segera dengan baik," kataku sambil menarik nafas melepaskan tanganmu.

"Maafkan aku mengecewakan semua ini," kamu menatapku.

Sungguh, tatapan itu seperti tak ada artinya lagi, kosong tanpa pemiliknya.

"Rico, sudahlah, percuma semua maafmu kalau ternyata hanya aku yang menghargai kebersamaan ini, ternyata hanya aku yang sibuk membangun cinta didalamnya, dan hanya aku yang dengan tulus menggenggammu dengan erat," aku mencoba menahan buliran airmata ini.

"Seandainya aku tak menggerakkan hatiku terlalu dalam, seandainya aku tak membiarkan rasa ini semakin larut untuknya," sahutmu.

"Semua keadaan ini adalah kesalahan kita, mungkin kamu memang membuka hatimu terlalu luas, mungkin aku yang memang kurang menjaga kita," jawabku getir.

Lalu kamu meraih tanganku, genggaman erat tanpa rasa, hambar... 
Aku melepasnya, pun airmataku... 
Ketika genggaman tangan itu lepas, kita hanya bisa menanggalkan semua impian dan mimpi yang selama ini kita rajut, walau penuh cinta...

Rabu, 31 Oktober 2012

Bakso Gerobak Bang Yusuf

"Kamu tahu nggak apa yang bikin kangen setiap kali aku mudik ke tempat ini?" tanya Amanda padaku tersenyum.
"Apa?" tanyaku balik.
"Bakso," jawab Amanda cepat.
"Bakso? Bakso di Jakarta juga banyak, dari bakso sebesar gundu sampe sebesar bola basket juga ada di Jakarta," kataku meledeknya.
"Eits, jangan salah, bakso bang Yusuf ini dijamin enak dan sehatnya sejagad raya, bikinan rumahan yang bahan-bahannya nggak ngebohong," ujar Amanda membanggakan bakso andalannya.

Lalu kami berputar arah sesuai petunjuk Amanda menuju tempat mangkal bang Yusuf. Setengah jam sudah kami mengitari tempat ini tapi bakso gerobak bang Yusuf tak juga kelihatan menetap disudut jalan. Amanda masih serius mencari-cari dimana kiranya bakso bang Yusuf berada. Tapi yang kami lihat malah sederetan warung lesehan memenuhi jalan ini. Setengah jam kami berputar-putar mengelilingi jejeran warung lesehan namun nihil, gerobak bakso bang Yusuf tak nampak sedikitpun.

"Pak, mau tanya, dulu saya pernah langganan bakso di sekitar sini, bapak tahu nggak kira-kira pindah kemana?" tanya Amanda pada seorang Bapak tukang sapu jalanan.
"Walah mbak, bang Yusuf meninggal sebulan yang lalu karena kecelakaan, kasihan mbak, ditabrak bis wisata yang rem nya blong pas lagi jualan," ujar bapak tua itu menjelaskan.

Amanda terkejut mendengar ceritanya, aku tak kalah kaget mengetahui kejadian yang mengenaskan tersebut.



#15HariNgeblogFF

Selasa, 30 Oktober 2012

Hujan Akhir Oktober

       Perempuan itu berlari kecil di persimpangan jalan, hujan rintik-rintik mulai turun dan lampu lalu lintas belum juga berubah menjadi hijau. Setelah ini ia pasti masuk menuju warnet, menggantungkan mantelnya, menuju tempat favorit-nya di sudut warnet dekat jendela lalu memesan susu putih hangat. Selalu seperti itu, dan aku mulai menghafal hampir setiap gerak-geriknya. Aku tak berusaha sedikitpun menculik perhatiannya demi sebuah perkenalan ataupun pertemanan. Bukan karena aku tak tertarik dengan perempuan unik dan manis sepertinya, tapi mungkin belum ada hujan yang tepat untukku mencari celah pertemuan. Hujan pagi hari, siang hari ataukah sore hari.
         Hari demi hari menjadi Oktober yang kian manis untukku. Pagi itu tiba-tiba hujan turun begitu lebatnya hingga semua orang terlihat berlari menepi untuk berteduh. Tapi kamu masih berdiri di perrsimpangan jalan dengan pasrah. Entah mengapa aku tergerak membawakan payung hijau toska itu untukmu. Sedikit berlari aku menuju persimpangan jalan tempatnya berdiri.

"Pakai payungku saja," kataku tersenyum menyodorkan sebuah payung.
"Terima kasih," jawabmu sambil jalan berbarengan menuju warnet.
"Sebenarnya sudah terlanjur basah juga, tapi terima kasih sudah meminjamkan payungmu," katamu kemudian.
"Setidaknya kamu tak basah kuyup, di dalam warnet dingin nanti kamu bisa masuk angin," aku memberi alasan.

Entah itu alasan atau bentuk perhatian kecil, tapi perempuan itu tersipu malu mendengar ucapanku. 

"Namaku Astri, namamu siapa?" tanya perempuan itu padaku.
"Namaku Bimo," sahutku cepat.

Setelah itu kami berdua seperti selalu menantikan hujan. Menatap setiap rintiknya dari balik jendela warnet saling membalas obrolan kami di sebuah situs. Padahal tatapan kami seringkali bertemu, entah senyum, tawa atau sekedar ledekan. Sampai suatu saat Astri tak kunjung hadir di warnet ini, tak juga di persimpangan jalan menunggu lampu hijau berganti merah. Aku mencoba memesan minuman andalannya, susu putih hangat. Pojokan warnet itu sekarang telah kosong, sesekali terisi namun bukan Astri. Kuteguk susu putih hangat sebagai pelipur rasa rindu ini pada Astri. Lalu aku mencoba berpindah ke pojokan favorit Astri, menatap hujan di akhir Oktober dari jendela warnet. Tanpa sadar, Astri telah menatapku terlebih dahulu dari luar jendela warnet, tersenyum menunduk dan berlalu dipelukan seorang lelaki tua. Aku termangu...



#15HariNgeblogFF

Maukah kamu....

"Kami bertemu di sebuah reuni sekolah, padahal kami dulu tak saling kenal, Ray mengajak berkenalan ketika aku sedang duduk menikmati musik. Saat itu obrolan kami langsung dekat, seolah kami telah mengenal sebelumnya. Lalu Ray mengajakku berdansa," Shaira bercerita sambil tersenyum memandang Ray.
"Maukah kamu, berdansa denganku? Saat itu mungkin kata-kata itu begitu norak didengar untuk jaman sekarang," Ray menambahkan sambil tertawa menggenggam tangan Shaira.
"Dan kami dekat, bersahabat lalu berpacaran. Tak butuh waktu lama bagi kami memupuk rasa cinta ini menjadi semakin besar dan semakin besar, aku ingin ini menjadi selamanya, lalu..." Shaira meneruskan ceritanya dan berhenti sebentar menatap Ray.
"Maukah kamu menikah denganku? Menjadi ibu dari anak-anakku? Maukah kamu menjadi sahabat terbaikku sepanjang masa dengan penuh cinta?" Ray mencoba membantu Shaira meneruskannya.
"Lalu kami menikah tepat setelah hujan berakhir dan disaksikan pelangi, hanya keluarga terdekat dan sahabat, kesederhanaan yang romantis," Ray memeluk Shaira erat.

Aku tertegun memandang cerita pasangan yang sudah tak lagi remaja, bahkan nyaris termakan usia. Mereka masih sibuk bermabuk cinta, masih saling menggali cinta yang tak pernah usai, masih saling berpegangan tangan dalam ketidak sempurnaan. Tak nampak ego yang saling menjulang tinggi, hanya aura cinta yang kuat terlihat.



Train - Marry Me
#FF2in1

Arinda

        Tak ada manusia yang sanggup menolak sebuah kesempurnaan cinta. Apalagi dari wanita sepertimu, Arinda. Kupikir dulu kehadirannya hanyalah sebuah bumbu kesepian hidupku, tapi aku salah. Aku salah besar. Ketulusan Arinda akan cinta ini membuatku sadar dan merasakan apa itu cinta yang sebenarnya. Arinda adalah wanita yang tanpa aku duga mampu menepis semua kesenduanku. Entah bagaimana hidupku tanpa Arinda, karena jiwa yang pernah redup tanpa hiasan bunga ini sekarang menjadi penuh bunga, lebih indah dan lebih berwarna. 
        Arinda, ia akan selalu menjadi yang terbaik untukku, janji untuk menutup semua pintu hati ini mungkin tak ia gubris. Karena Arinda begitu tulus membawa cinta ini, utuh tanpa cela. Aku masih menatapnya dari kejauhan, tersenyum melihatnya bermain air pantai. Senyum Arinda, senyum itu yang tak pernah pudar dari rautmu yang secantik embun pagi. Aku selalu merindukan senyum itu. 
Arinda, terima kasih telah merangkulku dengan rindumu, telah memelukku dengan cintamu.... 





Adera - Lebih Indah
#FF2in1

Senin, 29 Oktober 2012

BISIKAN RINAI

       Berada di dalam Trans Jakarta atau yang biasa disebut sebagai busway, adalah pengalaman pertama bagi bocah perempuan berusia 4 tahun ini. Hanya kegembiraan dan keriangan yang terpancar di wajahnya. Sesekali memandang antusias jejeran gedung-gedung tinggi atau tempat-tempat bersejarah. Ia tahu tempat bersejarah dari cerita sang Bunda sepanjang perjalanan. Sang Bunda berjanji akan mengajaknya ke tempat-tempat tersebut bulan depan sekalian mengenalkan Monas padanya. Melewati patung kuda di dekat Monas, bocah manis itu mendongakkan sedikit lehernya, mencoba melihat sebuah iringan patung kuda. Siang itu hujan cukup deras, rinai hujan menjadi pemandangan kedua dari sekian tempat yang menarik perhatiannya. 
           Tak lama seorang ibu muda masuk dengan sedikit perjuangan, berusaha untuk tidak jatuh diantara penumpang lain, berpegangan erat pada sebuah gantungan, sambil menjaga perutnya yang sedang hamil besar. Parahnya, tidak seorangpun tergerak memberikan tempat duduk untuk si ibu hamil. Bocah perempuan sibuk mencolek-colek sang Bunda yang tertidur, dari pangkuannya. Sang Bunda tetap terdiam. Lalu ia menyandarkan tubuhnya pada sang Bunda.

"Bunda, bunda, kita berdiri aja yuk, kasih bangkunya buat tantenya, kasihan tantenya sama ade bayinya," bisiknya pada sang Bunda.

Sang Bunda segera bangun menyadari bisikan bocah mungilnya, memberikan bangkunya pada si ibu hamil untuk duduk. Si ibu hamil tersenyum sambil duduk dan mengucapkan terima kasih.

"Siapa namamu, anak cantik?" tanya si ibu hamil tersenyum.
"Rinai," sahutnya cepat membalas senyum si ibu hamil.

Sang Bunda hanya tersenyum, berdiri sambil memeluk Rinai, bisikan Rinai di siang hari ditengah rinai hujan yang begitu manis. Bunda tak menyangka bocah kecilnya sudah mampu bersikap seperti tadi.





#15HariNgeblogFF

Saya dan 10 tahun lagi

      Yang pasti terjadi di 10 tahun ke depan adalah umur saya udah kepala 4 (okeh tuir) :) Tapi yang menyenangkan mutlak adalah menyaksikan pertumbuhan anak-anak, RAF dan SAF. Kalo ngobrolin 10 tahun ke depan itu artinya umur mereka sekitar 14 tahun dan 10 tahun. Abang SMP dan ade masih SD, oh can't wait that moment :) Nggak tahu gimana sikonnya tapi mungkin lagi ribet ngadepin anak abg yang sibuk berperang melawan ego dan mencari jati diri hahahaaa.... Dan itu pasti jadi cerita seru tersendiri. Emak-emak kayak saya, yang dulu juga berargumen dalam pencarian jati diri di masa abg, udah harus siap ngadepin abg sendiri hohoho.... Ngadepin abg sama ngadepin cewek kecil umur 10 tahun yang entah nanti lagi booming soal apaan. Bakal jadi beda penanganan ya hehehe... Papanya ngurusin abangnya yang mentas jadi abg, bundanya ngurusin cewek kecil yang mungkin mulai banyak nanya kenapa abangnya diomelin :p
      Satu hal yang menjadi passion saya semoga kejadian di 10 tahun ke depan. Bekerja dari rumah, sibuk nulis dan menghasilkan buku yang bagus-bagus :) amiiinn.... Bisa kerja sambil ngurus anak-anak, suami udah punya usaha sendiri. Sekarang tinggal kuat-kuat gali modal buat 10 tahun ke depan hahahaa.... Asli deh, saya pengen banget liat anak-anak besar dengan tangan saya sendiri sebagai ibu mereka, bukan dengan pembantu. Itu beda banget rasanya. Ikut melihat proses mereka dari hari ke hari. Cita-cita jangka panjang selalu ada, dan itu masih soal menulis dan buku. Pengen banget punya toko buku atau perpustakaan  tapi nggak kayak konsep sekarang ini. Yang udah ada, buku selalu bertemu kopi. Saya malah selalu pengen punya perpus atau toko buku dimana aja. Saya mau buku juga bisa deket sama minuman yang seger-seger,  nggak selalu kopi, bisa erat sama sajian seperti pasta, kwetiau, atau bakso dan somay. Buat saya menulis nggak harus ditemenin kopi, bahkan saya lebih suka susu putih anget, kadang-kadang malah es krim, atau sambil nyeruput sop buah :) Dan nggak semua tulisan bermula dari kehangatan kita dengan kopi. Itu menurut saya loh. Terkadang konsep mewah suka bikin orang enggan masuk di dalamnya, dan tak jarang konsep mewah malah bikin orang jadi malas menambah ilmu. Karena yang terjadi sekarang orang lebih suka konsep kafe, ngetik sambil begaya dengan cangkir kopinya. Jujur, dulu sebelum nikah saya pernah kayak gitu, mejeng di kafe, nulis tapi malah nggak konsen. Kopi mahal udah abis disruput, tulisan nggak selesai. Tapi pas lagi di roti bakar biasa, semua tulisan malah lancar, nggak pake kopi, malah pake jus alpukat. Ini saya yang ndeso kali ya hahahaha.... Tapi beneran loh, itu cita-cita saya banget, mungkin nggak bisa cepet terwujud tapi semoga bisa.
       10 tahun lagi, mungkin saya sedang menikmati rumah impian saya dan suami :)  Rumah sederhana, pekarangan luas, nggak bertingkat. Punya ruang perpus dan menulis untuk saya, dan ruang untuk nonbar bola, wuhuu...seru yaa! :) Rumah apa coba yang sederhana punya perpus ama ruang nonbar? Hahahahahaaa... Yah namanya juga impian hehe... 10 tahun lagi, itu artinya usia pernikahan saya dan suami 15 tahun, wooww...semoga kami semakin saling menguatkan, makin saling sayang. Dan semoga anak-anak selalu sehat, pintar-pintar, sholeh dan sholehah, membanggakan keluarga selalu :) 10 tahun lagi, apakah orangtua kami masih ada ya? Biar mereka bisa ikut merasakan hasil kerja keras kami, anak-anak yang telah mereka didik dengan baik....




#Ngeblograme2

Minggu, 28 Oktober 2012

Sumpah di Dadaku

      Ada kagum teramat dalam yang tersirat dari wajah Rico pada sang kakek saat menatap nisannya. Di hari pahlawan ini Taman Makam Pahlawan begitu ramainya. Pejabat dan petinggi negeri ini menjadi pemandangan yang biasa di makam ini. Rico lalu bercerita bagaimana hebatnya sang kakek di masa penjajahan, dan ia tak pernah bosan kala sang kakek menceritakan tentang masa mudanya. Bahkan setiap malam dongeng sang kakek tentang jaman perang menjadi dongeng yang ditunggu-tunggu Rico. Hampir setengah dari hidup yang Rico jalani adalah berkat kasih sayang sang kakek. Ibunya telah tiada sejak Rico berusia 5 tahun, sedangkan ayahnya harus bekerja di negeri orang di sebuah lepas pantai dan pertemuan dengan ayahnya hanya bisa dihitung waktu. Maka sang kakek adalah sosok yang sangat ia hormati dan cintai. 
     Menjadi bocah berusia 5 tahun tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Rico sangat bergantung pada sang kakek. Ia mungkin tak bisa menggantikan sosok ibu apalagi berperan sebagai ibu, namun sang kakek selalu ada disaat Rico menangis merindukan ibu, merintih memanggil ibu dan tersenyum bertemu ibu di mimpinya. Kakek mengajarkan Rico tentang hidup, berjuang, belajar dan bersikap sebagai laki-laki sejati. Selalu ada airmata di setiap liku hidup, pejuang sekalipun, ucap sang kakek. Dan kakek tak pernah berusaha memarahinya saat Rico bersedih. Ia memahaminya. Bukan airmata yang membuatmu lemah, namun perjuangan setelah airmata itu keluar dari matamu, akan menjadi layak atau hanya terbuang sia-sia? Kata-kata itu selalu terkenang dibenak Rico hingga sekarang ini. 
      Hal yang tak mungkin aku palingkan dari sikap Rico adalah caranya menghargai perempuan, dan itu ia dapatkan dari sang kakek. Sampai saat ini, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri buatku tentang Rico. Selama 5 tahun kebersamaanku dengan Rico, tak secuilpun ia pernah mencoba menorehkan luka di hatiku. Menurutnya dengan cinta yang kami punya sebanyak ini, kami tak boleh menyia-nyiakannya. Aku sempat mengenal kakek, waktu itu usia pacaran kami masih seumur jagung dan kakek sudah terlihat sangat sepuh. Tapi satu yang aku kagum, ia tidak pikun. Katanya karena ia terbiasa menulis dan hobi membaca sejak remaja. Hebat! Dan saat kakek harus berpulang, tak lama setelah kami berkenalan. Seolah pesan dan ucapan kakek sebelum ia pergi menjadi sumpah tersendiri di dadaku. Ya Kek, aku akan menjaga cucumu dengan baik. Rico merangkulku  penuh cinta sambil tersenyum menatap nisan sang kakek.




#15HariNgeblogFF

Sabtu, 27 Oktober 2012

DANDELLION

       Natali memasuki sebuah toko bunga, mengamati berbagai jenis bunga yang terdapat di dalam toko bunga ini lalu mengernyitkan dahinya. Sekali lagi ia mengitari ruang di dalam toko bunga ini namun raut kebingungan semakin terlihat. Sang pelayan toko bunga mencoba membantunya, menanyakan jenis bunga apa yang ia cari, namun Natali hanya tersenyum. Lalu ia meraih sebuah mawar putih dan memberikannya pada sang pelayan toko bunga. Ada ketidakyakinan pada dirinya mengapa ia memilih bunga mawar putih. Ragu-ragu langkahnya keluar dari toko bunga, dan memilih duduk di sebuah bangku kecil untuk sementara waktu. Setengah jam sudah ia duduk terdiam di depan toko bunga memegang seikat mawar putih. Menangis sambil menelepon seseorang. Tak lama seorang pria blasteran Indo-Jepang datang menghampirinya, memeluknya erat penuh cinta.

"Aku tak menemukan dandellion," ucapnya dalam tangis.
"Natali, sudahlah, Tanpopo tak peduli kamu datang membawa dandellion atau tidak, ia hanya butuh kehadiran kamu," jawabnya meyakinkan Natali, istrinya.
"Tapi Popo sangat suka dandellion, ia pasti rindu meniupkan setiap parasut-parasut berbulu indah," ucap Natali lirih.
"Popo kecil yang sangat lucu menyenangkan, sama seperti dandellion yang selalu menyenangkan. Kamu ingat, setiap kita ribut Popo selalu menjadi penyambung rindu kita untuk berbaikan. Sekarang biarkan Popo dengan dunianya yang baru, biarkan ia tersenyum bangga melihat kita, Popo cuma butuh doa kita yang tak pernah putus kita ucapkan," ujarnya tersenyum menenangkan Natali.
"Tanpopo, mama kangen..." kata-kata Natali menerawang.

Tanpopo kecil, di usianya yang masih 3 tahun harus kalah dengan penyakit kanker-nya dan menjadi penghuni surga.




#15HariNgeblogFF

Kamis, 25 Oktober 2012

Beras Merah

       Pasar tradisional pukul 09.00 pagi ini, kesibukannya nggak kalah sama pegawai-pegawai kantoran di kota-kota besar. Tukang sayur, tukang ayam potong, tukang daging, sampai toko kelontong di pasar ini semua berlomba menjajakan dagangannya dengan suara riuh. Namaku Yudo, hobiku fotografi, sengaja pagi ini aku membawa kameraku ke pasar tradisional ini mencari model-model dadakan dan alami. Bakul jamu yang dipanggul dengan tegarnya, ayam-ayam yang ribut berkokok menanti waktu pemotongan, penjual kelapa yang bergantian memasukkan butiran kelapa ke dalam mesin parut, tukang beras yang menata dan mengangkat karung-karung beras untuk dijual.

"Ini semua berasnya pesanan ya bang?" tanyaku pada si penjual beras merah sambil mengamati karung-karung yang baru saja diangkatnya dari dalam toko.
"Heh, sembarangan aja manggil 'bang' ," sahutnya cepat menatapku.

Dibukanya topi yang menutupi wajah dan rambutnya yang tergelung dalam topi, tergerai...cantik...
Aku takjub memandangnya, tak kusangka ada makhluk cantik ayu di pasar tradisional sekumel ini. 

"Eh, aduh, maaf, aku kira kamu bukan perempuan," ucapku terbata-bata.
"Kamu bukan orang sini ya?" tanya perempuan muda itu.

Aku mengangguk cepat sambil tersenyum lalu mengarahkan kameraku pada wajahnya. Ia setengah menangkis, menolak untuk difoto. Aku tersenyum tak jadi membidik wajah cantiknya. Aku tak mau memaksa, dari pada nantinya terjadi keributan di pasar ini. 

"Kamu wartawan?" tanyanya sambil mengamatiku.
"Bukan, ini hanya hobi saja," jawabku.
"Boleh aku tahu nama kamu?" aku balik bertanya.
"Canting," sahutnya sambil mengulurkan tangannya.
"Yudo," balasku.

Tak lama seorang wanita setengah tua menghampirinya.

"Nak Canting, persediaan beras merahnya habis, ibu-ibu masih ramai menunggu di posyandu," katanya agak tergopoh-gopoh.
"O iya bu, biar saya siapkan dulu ya, nanti saya menyusul kesana, nggak lama," jawabnya sambil segera menutup toko.
"Loh, tokonya kan baru buka, kenapa kamu tutup?" tanyaku bingung.
"Masih ada yang lebih penting," sahutnya cepat.

Lalu Canting menuju parkiran mengambil sepedanya, aku masih mengikutinya dan ikut mengambil sepedaku. Sekilas aku lihat ia tersenyum. Mungkin ia bingung untuk apa aku mengikutinya. Kami sampai di sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang cukup luas. Rumah yang asri dan sejuk sekali. Aku lihat ia dengan sigap menyiapkan sebuah makanan, mencuci beras, memotong sayuran dan merebusnya. Tak lama kemudian beras merah telah menjadi nasi pulen yang hangat. Canting menatanya dalam sebuah rantang besar. Sejak awal ia mulai memasak aku sibuk mengabadikan semuanya dengan kameraku. Ini hal yang tak boleh aku lewatkan begitu saja. Canting dengan sigap mengayuh sepedanya menuju posyandu. Ibu-ibu menyambutnya dengan antusias. Yang lain membantu Canting membagikan nasi beras merah dan bubur beras merah untuk para bocah-bocah di posyandu ini. 

"Terima kasih bu dokter," ucap seorang ibu muda menggendong anaknya yang berusia 1 tahun.

Canting mengangguk tersenyum sambil membelai anak ibu muda tersebut. Aku malah yang terperangah kaget melihat semua ini. Jadi, Canting seorang dokter? Penjual beras merah itu seorang dokter?

"Aku mau balik ke pasar, mau buka toko lagi, kamu mau ikut?" pertanyaannya membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya iya, aku ikut," jawabku meraih sepeda.



#15HariNgeblogFF

Rabu, 24 Oktober 2012

Tukang Balon

      Menunggu adalah sesuatu yang paling menyebalkan menurutku. Apalagi sore ini taman kota terlihat cukup ramai, banyak orangtua yang membawa anak-anaknya bermain menikmati suasana taman kota, belum lagi abg-abg yang asyik berkumpul sambil bernyanyi-nyanyi dengan beberapa alat musik, ada juga yang bercanda tawa dengan pasangannya. Sedangkan aku, aku diam sendiri duduk di bangku taman sambil mencoba mencari kesibukan dengan memainkan telepon genggamku. Rayi kemana sih, lama banget? Aku mencoba menghubungi telepon genggamnya namun tak ada jawaban, entah masih di jalan atau masih tidur di rumah. Ayolah Ray, jawab teleponku, kita nggak boleh melewatkan kesempatan ini, gumamku dalam hati.
         Aku mengamati sekelilingku, tukang martabak mini, tukang es goyang, tukang ketoprak, tukang minuman, tukang mainan, semua sudah sibuk menjajakan dagangannya. Mungkin mereka telah siap sedia sejak pagi tadi, karena minggu pagi taman kota juga ramai dengan orang-orang yang berolah raga. Ini akan menjadi project pertama kami, tapi Rayi malah tak tepat waktu sesuai perjanjian. Sengaja kami memilih taman kota karena tempatnya yang tak terlalu sesak seperti di pasar tradisional. Percobaan pertama ini tidak boleh gagal, aku dan Rayi telah mempersiapkan sematang mungkin.

"Kinar! Bantuin dong!" seseorang berteriak memanggil namaku.
"Tunggu! Lama banget Ray, telat 15 menit nih," aku setengah berlari menghampirinya.
"Ternyata gowes dari rumah ke taman kota bawa tabung butuh perjuangan banget Nar, belum lagi ada tanjakan aku harus dorong sepedanya," Rayi lalu duduk beristirahat.
"Ya udah nih minum dulu, semangat Rayi, demi project kita," aku tertawa sambil menyodorkan minuman dingin.
"Eh ramai juga ya, kita mulai aja yuk, keburu magrib nanti," ujar Rayi.

Lalu Rayi langsung mengeluarkan balon-balon dan menyulutkannya pada mulut tabung gas menjadi balon besar berbentuk lucu. Tak lama balon-balon telah terkumpul banyak dan para peminat mulai berdatangan. Project pertama yang lumayan sukses sepertinya, menjual balon demi membantu pak Lesman si tukang balon keliling yang sedang terbaring sakit.

"Ih, tukang balonnya ganteng banget nih," ucap salah seorang ibu muda tersenyum menggoda Rayi.

Aku dan para pembeli balon tertawa mendengarnya, Rayi hanya tersipu malu.




#15HariNgeblogFF

Senin, 22 Oktober 2012

Nomor Punggung 16

       Kota tua selalu punya daya tarik tersendiri pada setiap sudut ruangnya, dari sejarahnya sampai kisah dibaliknya. Buat aku kota tua Jakarta tak pernah habis untuk diceritakan pada anak cucu kita nantinya. Yang patut disayangkan apabila tempat-tempat bersejarah di kota tua ini harus berjuang sendiri melawan aturan-aturan yang berdasarkan ego, dimusnahkan, dirubuhkan dan dihilangkan. Aku berjalan menyusuri sebuah gedung bersejarah yang terletak di Jalan Pos No. 2, Jakarta Barat ini. Memasuki sebuah museum Seni Rupa dan Keramik yang dibangun sejak 12 Januari 1870. Beberapa rombongan anak-anak Sekolah Dasar ramai berkumpul di depan pintu masuk museum. Persis seperti aku di jaman sekolahku dulu. Lalu kami semua masuk bersama sambil mengikuti pemandu wisata museum tersebut. Aku memperhatikan tiap ruangan dengan antusias. Sesekali tak mengikuti arah sang pemandu wisata. Tiba-tiba aku seperti merasakan ada sesuatu berlalu dengan cepat disudut mataku. Entah apa. Aku mencoba tak peduli. Tak lama bayangin itu muncul lagi di depan mataku, berbarengan saat aku sedang serius memperhatikan sebuah keramik tua. Sepertinya aku sudah harus waspada tentang bayangan tadi.

"Pak, pernah lihat yang aneh-aneh di gedung ini? tanyaku pada pemandu wisata.
"Sering mbak, kita sudah biasa, memangnya ada yang menggoda mbak ya?" jawabnya.

Aku hanya tersenyum.

"Disini kebanyakan penampakan jaman Belanda mbak, tapi ada juga yang orang pribumi karena dulu gedung ini sempat juga dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan asrama militer TNI," ujarnya menambahkan.
"Kalo atlet pelari ada nggak Pak?" tanyaku lagi.
"Ooo.. jadi mbak ini digoda sama si pelari itu toh? Entah dia pelari atau bukan, tapi mungkin salah satu dari tentara KNIL atau TNI, ya mungkin meninggal saat sedang berlatih militer ditempat ini. Nomor punggung 16 bukan?" sang pemandu wisata menjelaskan dan menebak sosok yang aku lihat sambil tertawa.
"Nah, iya Pak, tepat sekali," sahutku cepat.




#15HariNgeblogFF



WILLY SAGNOL

      Manusia jenis apa yang menolak tugas meliput berita ke luar negeri? Terutama Perancis. Bahkan 2 teman kantorku Keyla dan Ajeng meleleh setelah mendengar daerah penugasanku berikutnya ini. Aku menolak keras. Mereka iri teramat sangat. Tapi pengalaman sekolah yang kuukir di Perancis ternyata malah semakin memperkuat alasan penugasan ini dibanding sikap penolakanku pada mister big boss. Pasrah, terima nasib. Benar kata Ajeng, harusnya aku senang karena mungkin hal ini bisa jadi kesempatanku untuk reuni dengan teman-teman disana. Tapi itu artinya aku juga harus siap 'reuni' dengan masa laluku tentang Brian. No, ini bukan soal cinta, tapi sebaliknya, kebencian teramat dalam.
       Aku berdiri di depan Shakespeare & Co, sebuah toko buku kecil yang terletak di kota Paris. Toko buku yang pernah menjadi latar film "Before Sunset" dan "Midnight in Paris" ini memang termasuk toko buku bersejarah yang banyak dikunjungi wisatawan penikmat buku. Tak begitu luas, tapi memiliki atmosfer yang berbeda saat berada di  dalamnya. Memasuki Shakespeare & Co seperti ikut menjadi bagian dari sejarahnya, itu menurutku.  Dan ikut menjadi bagian dari kisah kebencianku terhadap Brian, salah seorang mahasiswa yang juga berasal dari Indonesia. Sejak dulu aku perempuan penggila bola, dan tim Perancis menjadi tim kecintaanku selamanya, bukan karena si botak Zidane tapi lebih pada Willy Sagnol. Semua berita tentang Willy Sagnol aku bundel dengan rapi menjadi 1 buku. Saat itu aku menitipkan buku kumpulan Willy Sagnol pada toko buku ini, tapi Brian menghancurkan semua jerih payahku. Ia sainganku di kampus, nilai-nilainya selalu bertukar posisi padaku di tingkat paling baik. Dan aku tahu ia tak menyukai bola. Sengaja ia meminjam buku Willy Sagnol, lalu melenyapkannya! Yup, ia menghilangkan buku terbaikku... Menggantinya dengan apapun tak bisa menutupi sakit hatiku padanya. Lalu ia hanya meminta maaf ditengah amarahku yang memuncak dan pergi tanpa kabar atau niat baik apapun. Gila!
      Hilangnya buku Willy Sagnol praktis membuat mood belajarku menurun, dan Brian tertawa puas melihat kekecewaanku. Namun aku tak gentar oleh sikapnya, hari demi hari aku berusaha keras mengejar nilai-nilaiku yang merosot hingga akhirnya lulus dengan nilai sempurna. Brian semakin jengkel padaku. Aku kembali ke Jakarta dengan puas tanpa peduli perasaannya dan bagaimana hidupnya setelah aku mengalahkannya.

"Prita...!" seseorang memanggilku.
"Apa kabar? Senang bisa bertemu denganmu disini," ucapnya tersenyum.
"Brian? Ya, aku baik," sahutku agak terkejut melihatnya.
"Ini...mungkin buku ini masih kamu perlukan, aku minta maaf mungkin karena buku ini kita tak pernah saling mengenal dengan baik. Entah kenapa aku yakin kamu akan kembali kesini makanya aku sengaja tak mengembalikannya," Brian memberikan sebuah buku padaku.
"Ya Tuhan, buku Willy Sagnol-kuuu....! Thanks yaa!" aku tersenyum sumringah dan spontan memeluknya.
"Eh, sori..sori..." aku langsung melepaskannya saat mengingat kebencianku padanya.
"Sebenernya buku itu nggak pernah hilang, aku menyimpannya dengan baik sampai aku sendiri bekerja di toko buku ini. Semua itu cuma trik aku sih, tapi kayaknya malah jadi kacau banget," Brian tertawa.
"Trik?" aku sedikit bingung.
"Iya, dari dulu aku kan suka sama kamu, Ta," ucap Brian menatapku.
"Huh, jail!" aku memukul badan tegapnya dengan buku.
"Aduh, sakit, Ta, itu kan bukunya tebel banget," Brian meringis.



#15HariNgeblogFF
    


Shakespeare & Co

Read more at: http://ciricara.com/2012/09/26/inilah-7-toko-buku-paling-indah/
Copyright © CiriCara.com
Shakespeare & Co

Read more at: http://ciricara.com/2012/09/26/inilah-7-toko-buku-paling-indah/
Copyright © CiriCara.com kjkjkj
Shakespeare & Co

Read more at: http://ciricara.com/2012/09/26/inilah-7-toko-buku-paling-indah/
Copyright © CiriCara.com

Sabtu, 20 Oktober 2012

Catatan Berseri Pada Februari

        Laki-laki setengah tua itu hadir kembali, tak seperti hari-hari sebelumnya ia nampak begitu necis dan sumringah, senyum tak habis tersirat dari wajahnya yang mulai menua. Seikat bunga mawar putih dan sebuah kado telah ia persiapkan dengan sangat cantik. Tak lama seorang perempuan muda memasuki kafe dan tersenyum sambil berjalan menuju tempat ia duduk. Ya, ia memang perempuan yang selalu datang menemani laki-laki itu menghabiskan waktu di kafe ini. Keduanya selalu tampak dekat, obrolannya terlihat begitu mengalir penuh tawa dan sedikit mesra. Sang lelaki menyambutnya dengan berdiri sambil memberikan bunga dan kadonya lalu mengecup keningnya. Perempuan itu tersenyum haru tak menyangka dengan perlakuan sang lelaki. Pasangan beda generasi yang sedang dimabuk cinta... Satu jam berlalu, sang lelaki tiba-tiba mengeluarkan sebuah kado istimewa yang lainnya untuk sang perempuan muda itu. Memegang punggung tangan kiri perempuannya dengan lembut sambil menyematkan sebuah cincin berlian indah. Perempuan muda itu nampak terkejut dan seketika raut wajahnya berubah amarah.

"Shaira, maukah kamu menikah denganku?" ucap sang lelaki.
"Om... Om terlalu salah menilai semua ini, saya tak bisa menjadi pasangan hidup siapapun, saya hanya perempuan bayaran,hidup saya hanya untuk menghibur demi uang, bukan cinta..."

Perempuan muda itu keluar dari kafe meninggalkan pelanggannya yang masih termangu dengan cincin berlian ditangannya.

"Tikaaa...! Ngapain ngelamun aja dari tadiii....!" teriakan Lisa membuyarkan pemandangan kafe yang begitu dramatis sore itu.

Aku tersentak karena beberapa pelanggan telah berjejer menunggu untuk memesan. Aku tersenyum tersipu malu. Setiap sore hari kafe memang selalu ramai, dan selama 3 tahun aku bekerja disini, cerita si om dan perempuan mudanya menjadi catatan berseri tersendiri untukku di Februari ini.




#15HariNgeblogFF


Kamis, 18 Oktober 2012

Selembar Nota Lusuh

       Danau Situ Gintung, danau yang selama 3 tahun menjadi persinggahan kami untuk saling bercerita. Namaku Abdul, dan dihadapan luasnya danau ini aku dan Clara menghabiskan waktu yang tak pernah lelah menyapa rasa rindu kami. Clara, perempuan cantik yang baik hati, sederhana dan tak macam-macam. Itulah mengapa aku memilihnya untuk menjadi pasangan hidupku. Aku dan Clara bertemu di kawasan wisata danau ini. Waktu itu sekolahku mengadakan reuni akbar dan Clara adalah sepupu dari teman sekolahku. Pembawaan Clara yang ceria, ramah dan apa adanya, aku yakin pasti ia perempuan baik-baik. Kesempatan mengenal Clara tak aku sia-siakan, saat itu juga aku langsung meminta nomer teleponnya dan ia menerima pertemananku dengan sangat baik. Clara tinggal di sekitar danau, oleh karena itu ia diajak sepupunya untuk ikut ke acara reuni akbar sekolahku. Jujur, aku sendiri baru tahu kalau disini ada danau yang cukup bagus untuk dinikmati ditengah-tengah suasana kota. Seorang Clara, bukan saja mengenalkanku akan danau ini, tapi juga pada hidupnya. Menitipkan semua rindunya padaku, cinta dan sayangnya untukku, senyuman dan tatapannya yang teduh menghangatkan.
      Aku menyusuri tanah kawasan danau ini dengan kekuatan penuh. Tragedi itu begitu membekas dibenakku, tanpa sedikitpun bisa kucegah. Clara, pada siapakah rindu ini akan kucurahkan kelak? Sedangkan rumahmu saja sudah tak jelas karena rata dengan tanah. Seharusnya waktu itu aku bisa bersamamu, mendampingimu ataupun berada tepat disisimu. Kamu pasti tak akan menanggung semua luka ini sendirian. Tak akan menerima semua derita ini seorang diri. Dan tak akan pergi selamanya dari aku... Di tanganku masih menggenggam erat selembar nota lusuh yang kutemukan diantara sisa puing-puing tanah rumahmu.

"Ini nota pembelian baju pengantin kita, Ra. Harusnya hari ini kita menikah..."



#15HariNgeblogFF

Cerita dibalik Ultah

               Ulang tahun, yang terpenting bagi saya adalah semua orang inget tanggal lahir saya. Nggak penting mau ada pesta apa nggak. Intinya kalo ada yang nggak inget pasti jengkel, sebel, ngambek hahaha... Maksa banget ya? Tanggal lahir bagi sebagian orang menjadi hal yang sangat sakral dan special karena pada tanggal tersebut banyak orang suka melakukan hal-hal istimewa, ataupun orang disekelilingnya. Sejak saya kecil sampai umur 17 tahun, alhamdulillah orangtua selalu punya rejeki buat ngerayain ulang tahun saya. Mentok diumur 17 tahun itu setiap saya ulang tahun paling cuma ada ucapan, kue ultah kadang-kadang, atau makan sekeluarga. Sebenernya yang bikin ulang tahun jadi seru itu seringkali bukan diri kita sendiri. Beberapa ulang tahun saya sebelumnya justru yang bikin rame itu ya temen-temen sekolah.
                 Ulang tahun saat masih bersekolah apalagi SMA itu nggak pernah bisa dilupain. Mulai dari diceplokin telor, diguyur minyak jelantah, disiram kecap sama tepung terigu, kadang waktu itu jadi kepikiran bentar lagi jangan-jangan gue digoreng nih! Hahaha.... Tapi emang ya, ulang tahun jaman sekolah nggak pernah gagal untuk dibuang jauh-jauh, malah maunya disimpen baik-baik jadi kenangan yang sewaktu-waktu bikin kita ketawa sendiri. Dari mulai ulang tahun diceplokin sampe 'ditembak' biar jadi pacar juga pernah hiihiiihi...lucu... Tapi menurut saya yang paling norak adalah pas ulang tahun dikasih bunga hmmm...sumpah yaaa itu nggak bangeuuttt.... Bukannya nggak suka bunga, tapi saya bukan tipe cewek yang terharu biru saat dikasih bunga. Bukan nggak romantis juga sih, tapi saya mendingan dikasih makanan daripada bunga hehehe.... Suka panik aja kalo dikasih bunga, takutnya ekpektasi cowok sama ekspresi saya jauh banget dari pengharapan hahahaha.... Dari dulu pengen banget ulang tahun dikasih kado cerpen or novel buatan pacar sendiri, tapi karena sukanya cowok badung jadi nggak ada yang gape bikin cerpen hihihihii....
               Jadi ulang tahun yang mana yang bikin saya sangat berkesan? Semua punya kesan, kisah dan cerita tersendiri. Ulang tahun ke-17 dibikinin pesta di rumah, iks pake gaun broken white booo....inget banget itu gaun belinya hasil perjuangan nyari di PIM sama gank Chelsie hahahaha..... Pake acara ke salon segala pulak... Hampir 1 angkatan kali semua numplek di rumah jadi satu. Seru dan norak, iya norak, kenapa juga harus pake gaun hidiihhh....hahahaaa.... Kado ulang tahun yang berkesan itu dari gank Chelsie. Mereka ngasih kartu ucapan bikin sendiri, bentuknya bulet terus tulisannya muter gitu, sampe sekarang masih disimpen :) Pas udah nikah, tanggal special jadi hal istimewa bareng keluarga kecil, suami dan anak-anak. Belum lama sempet juga dikerjain suami, udah jam 12 tengah malam suami pura-pura tidur, saya ngambek karena harusnya kan suami yang jadi orang nomer satu kasih ucapan eh malah tidur. Saya bangunin malah pura-pura kaget, siyaaall...abis itu suami ketawa...beuh...jewer juga deh... Ulang tahun di 2008, kado istimewa saya adalah kelahiran anak pertama saya, Randy. Lahir seminggu setelah saya ultah. The best gift ever... Tapi dari semua ulang tahun, hal terharu dan agak menohok saat papa mertua harus pergi selamanya, 4 hari sebelum saya ultah di 2010. Itu menjadi ulang tahun yang penuh tangisan, malah nggak ngarep banget dikasih ucapan sama siapapun rasanya. Kalo aja bisa minta kado istimewa sama Tuhan, saya mau minta papa mertua balikin ke tengah-tengah kita :') Tapi nggak mungkin juga ya, jadi ultah di tahun itu cuma bisa kasih doa sebanyak-banyaknya buat papa Zulfan...



#Ngeblograme2

Rabu, 17 Oktober 2012

(Bukan) Tim Kesayangan

"Tim, dimana kamu?" tanya Delisha sambil meraba -raba dengan tongkatnya. 
"Guk..." 

Suara Tim seolah menjadi jawaban ketenangan bagi hati Delisha. Sejak kecil Tim adalah sahabat setianya, hingga ia mengalami kecelakaan dan mengakibatkan kebutaan pada kedua matanya 5 tahun lalu. Tim masih setia dengan dirinya, bahkan semakin setia menjalani hari-harinya dan rasa cintanya pada pantai. Tim yang selalu menemaninya saat Delisha bercengkerama dengan pasir-pasir putih pantai ini. Tim yang begitu sabar menunjukkan arah menuju pantai yang tak begitu jauh dari rumahnya. Walau kini Delisha tak mampu berkejaran dan bermain berlarian dengan Tim, tapi Tim masih saja tak ambil pusing, masih saja berusaha mengajaknya untuk berlarian bergumul dengan hangatnya pasir pantai. Ia tak peduli Delisha bisa melihat pantai nan indah ini atau tidak. Seolah ia hanya ingin Delisha bahagia, tertawa, mengeluarkan suara riangnya persis sebelum Delisha buta.

"Tim, kamu tahu, kamu akan selalu menjadi sahabat terbaik dalam hidupku, lebih dari apapun," ucap Delisha sambil mengelus-elus tubuh Tim dengan manja.

Delisha lalu duduk terdiam, menghela napasnya cukup panjang lalu tersenyum pada luasnya jagad pantai. Gelungan ombak yang kian sore semakin terdengar kencang, angin pantai yang mulai menyentuh dinginnya dan  Tim yang ikut duduk tenang disebelahnya. Tiba saat obor-obor pantai menyala, Tim menggigit ujung tongkat Delisha dan mengarahkannya menuju rumah.

"Sudah mulai gelap mbak, hati-hati pulangnya," ujar seorang pria.

Delisha mengangguk tersenyum. Pria itu bernama mas Jalu, Delisha mengenalnya karena ia adalah pria pemantik obor pantai.  Begitu mas Jalu menjawabnya saat Delisha pertama kali membalas sapaannya. Menurutnya mas Jalu pria yang ramah dan baik, entah seperti apa rupanya.

"Tim, mungkin ia akan menjadi salah satu pria yang nanti akan kutemui setelah operasi mataku besok," bisik Delisha pada Tim.

Sore ini Delisha berjalan menyusuri pantai seorang diri, tanpa kehadiran Tim. Ia tak mengerti mengapa Tim tak nampak setelah ia berhasil membuka matanya kembali dan dapat melihat dengan jelas. Tiba-tiba dari kejauhan seekor anjing berlari kencang kearahnya, mengendus-endus kedua kakinya berharap Delisha memeluknya. Delisha mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan sikap anjing tersebut seolah mengenalnya begitu dekat. Anjing itu bersama dengan seorang pria yang membawa...

"Astaga! Kamu pria pemantik obor itu?? Apakah ini anjingmu?" tanya Delisha beruntun.
"Delisha, apa kamu tak mengenal sahabatmu yang selama ini setia menemani perjalananmu di pantai ini? Apa kamu tak ingat siapa yang menggiring tongkatmu menuju rumahmu setiap sore?" mas Jalu balik bertanya.
"Ya, aku ingat, tapi entah dimana sekarang Tim berada, padahal aku sangat rindu padanya," sahut Delisha.
"Delisha, ini adalah anjing yang selama ini setia bersamamu, ia mungkin bukan Tim kesayanganmu tapi ia melebihi Tim yang pernah ada," ucap mas Jalu.
"Apa maksudmu?" Delisha semakin bingung.
"Tak lama` setelah kamu mengalami kecelakaan, Tim mati ditabrak motor, aku bingung dengan apa aku harus menghiburmu, lalu aku menemukan anjing ini. Kenalkan, namaku Jalu, laki-laki yang seharusnya menjadi tunanganmu saat kamu dan keluargamu mengalami kecelakaan. Aku yang melatih Tim palsu untuk bisa setia padamu, aku yang selama ini mengatur semua ini," Jalu bercerita panjang.

"Dan kamu orang yang selama ini juga setia menjaga aku?" Delisha meyakinkan pemikirannya.

Mas Jalu mengangguk pelan. Baginya semua pengorbanan ini tak seberapa dibanding rasa cintanya terhadap Delisha dan demi kebahagiaan Delisha. Airmata Delisha mulai beriringan mengalir di pipinya. Ia telah memeluk Tim yang bukan Tim kesayangannya. Ia telah menitipkan semua rindu dan bahagianya bukan pada Tim yang sesungguhnya. Delisha menatap anjing kampung itu penuh airmata.

"Aku rindu memelukmu, Tim," Delisha menggapai anjing tersebut dan memeluknya erat.
"walau kamu bukan Tim kesayanganku..." ucapnya lagi.

Mas Jalu tersenyum melihatnya, ia tak menyangka Delisha akan mudah menerima kehadiran anjing kampung itu.

"Terima kasih telah menjagaku selama ini... Dengan penuh cinta," ucap Delisha tersenyum meraih tangan mas Jalu. 

Rabu, 03 Oktober 2012

PLN, padamu kuberharap...



                "Yaaa....mati lampuuuu! Siapa nih yang nyetrikaaa..!" Kata-kata itu sering sekali kita dengar saat listrik mati tiba-tiba. Padahal kalau kita boleh bersikap adil sedikit saja, nggak selayaknya kita menyalahkan sebuah setrika, iya kan? :) Listrik mati itu kan bisa banyak sebabnya, tapi cercaan dan makian ternyata juga semakin banyak yang keluar dari mulut kita. Lalu apa yang pertama kali kita lakukan saat mati listrik? Kalau saya, jujur, langsung mati gaya hehehe... Ya iya lah gimana nggak mati gaya, mau mandi nggak bisa, secara mandinya pakai shower nggak punya bak mandi (orang kaya ceritanya hehe), mau cuci baju dan cuci piring juga nggak bisa karena kebetulan saya sudah nggak cuci baju dan cuci piring di kali lagi :) mau setel tv nggak mungkin, setel radio juga sama, mau buka komputer apalagi. Tapi derita yang paling tersiksa saat mati listrik adalah saat baterai hp sudah sekarat nggak bisa nge-charge dan saat mau buang air besar tapi nggak ada air (ya karena faktor orang kaya tadi, habis BAB harus di flush). Ada lagi kebiasaan beberapa orang saat mati listrik, yaitu langsung telepon cs-nya, tanya daerah rumahnya kenapa mati listrik dan nggak lupa marah-marah. Ya ampun, kasihan loh itu. Ngerti masalahnya juga nggak, tahu-tahu di telepon warga buat ditanya secara paksa plus dimarahin. Karena mungkin saja sang cs saat itu belum terima kabar tentang penyebab mati listriknya. Ya gimana juga, pas mati listrik warganya sekonyong-konyong langsung telepon. Tapi saya nggak menyalahkan warga juga, gimanapun juga saya sebagai warga termasuk dalam daftar rakyat Indonesia yang sering dirugikan oleh sang PLN http://plnbersih.com/ Salah satunya adalah kondisi saya yang masih menyusui dan stok ASIP di freezer mulai sekarat mendekati masa cair. Grrr....mau ngamuk nggak sih? Sudah mompa rajin-rajin, disimpan baik-baik eh tahu-tahu gardu PLN http://plnbersih.com/ bermasalah. Saya mewakili ibu-ibu menyusui mana mau terima alasan apapun pak, bu, ASIP kami kalau sampai mencair karena nggak ada listrik itu sepenuhnya jadi kesalahan orang PLN http://plnbersih.com/ Ya namanya juga ibu-ibu galau karena ASIP nya, semua orang nggak ada yang lewat buat disalahin termasuk para pejabat PLN http://plnbersih.com/ hahahhaa..berat yaa... 
                 Balik lagi soal mati listrik yang tak pernah ada habisnya. Sungguh sebenarnya saya sebagai salah satu warga dan rakyat di Indonesia ini sangat kecewa dengan segala bentuk alasan pemutusan listrik tersebut, tapi tetap masih berharap para pejabat PLN http://plnbersih.com/ mampu menjalankan perannya sebersih mungkin dan sejujur mungkin tanpa korupsi, kolusi dan nepotisme. Apalagi sekarang katanya menegakkan Good Corporate Governance (GCG) dalam penyediaan tenaga listrik bagi masyarakat. Jangan sampai dicemooh rakyat karena cuma "slogan" apalagi cuma tulisan biasa, nggak beda sama tulisan "malu". Kenapa saya sebut "malu" ? Karena kata "malu" sudah terlalu sering diacak-acak manusia sampai manusia nggak tahu malu. Nggak malu untuk korupsi, nggak malu untuk merebut hak rakyat sendiri dan nggak malu untuk memberi pelayanan seadanya buat masyarakat. Saya masih berharap PLN http://plnbersih.com/ mampu menjadi 1 departemen yang bisa menjadi contoh baik bagi departemen lain, tanpa korupsi, kolusi atau nepotisme. Janganlah menyalahkan sistem yang sejak dahulu sudah berjalan begitu baik, tapi berkacalah pada diri sendiri, apa yang sudah saya berikan untuk rakyat ini, apakah saya sudah menjalankan sistem ini dengan sebaik mungkin atau tidak? Gampang toh? Intinya pak, bu, para petinggi PLN http://plnbersih.com/ yang terhormat, lakukan yang terbaik untuk masyarakat, maka masyarakat pasti akan merespon dengan baik dari setiap pelayanan tersebut. Nggak perlu berlebihan, yang penting sistem ini dijalankan sesuai aturannya sebaik mungkin, pas pada porsinya tanpa kurang suatu apapun. Kalaupun tarif harus naik, harus ada alasan yang jelas, harus ada timbal balik yang menguntungkan rakyat bukan malah mencekik rakyat. Setiap kenaikan itu harus transparan, hal apa saja yang mendasari kenaikan tersebut. Bukan dinaikkan karena para petinggi butuh jubah untuk menutupi korupsinya. Saya percaya semua itu bisa dicapai oleh PLN http://plnbersih.com/ :) Pak, Bu, saya dan rakyat yang lain masih sangat butuh listrik, saya yakin Bapak dan Ibu juga, dan anak-anak kita, calon pemimpin bangsa ini, kalau dari sekarang sibuk memperkaya diri sendiri, habislah sudah bangsa ini, nggak ada yang bisa kita wariskan untuk anak cucu kita. Berbenahlah dari sekarang menuju kebaikan, demi pasokan listrik di bumi Indonesia tercinta ini :) Semangat PLN http://plnbersih.com/ ! Jangan berhenti menerangi Indonesia...

Rabu, 26 September 2012

Nakula sedang Jatuh Cinta

                    Tahun ini Nakula penuh gelora, Gadis yang selama ini ia idam-idamkan akhirnya menerimanya sebagai kekasih hati. Saat itu awal tahun yang indah, bahkan hatinya terlalu semangat untuk bercerita pada khalayak ramai. Atau pada Sadewa sekalipun, saudara kembarnya. Nakula penuh senyum, wajahnya begitu sumringah. Tahun ini menjadi tahun penuh kebahagiaan untuknya. Rautnya tak lagi penuh asa, penuh gundah dan penuh kegalauan akut yang tak mampu ia hentikan.            
                           Bulan ini Nakula penuh keceriaan, hatinya berdegup kencang, dadanya seakan sesak dipenuhi lubernya cinta untuk Gadis. Bulan yang tak akan ia lupakan sepanjang masa, Nakula meminang gadisnya dengan keyakinan dan cinta terbesarnya. Cinta yang sampai kapanpun tak akan Nakula hempaskan dari dasar hatinya. Cinta yang selamanya akan sulit ia ganti dengan cinta lain, meski lebih menggiurkan. 
                     Hari ini Nakula penuh kebahagiaan, kata cinta disambut pinangan dan kalimat ijab Kabul yang ia sempurnakan. Cinta, nafsu, rindu yang membara menyatu di hati Nakula saat ini. Cinta yang selalu akan ia persembahkan untuk Gadis, nafsu yang tak akan habisnya merasuki jiwanya untuk Gadis, dan rindu yang secuilpun tak akan mungkin ia bagi dengan perempuan lain. Semua hanya untuk Gadis. Batinnya terlalu kuat untuk mengalihkan Gadis dari hidupnya. Nadi, darah dan hati yang ada pada Gadis adalah separuh Nakula. Butuh berlembar-lembar kertas untuk mengungkapkan cintanya pada Gadis. Butuh berjuta puisi untuk ia utarakan tentang Gadis, wanita yang sangat dicintanya. Bahkan buku harian hanya sanggup mengiringi curahan hatinya hingga halaman tertentu. Luapan hati dan cintanya terlalu luas untuk dijangkau dengan mata telanjang, pun para pujangga. Senyuman Nakula tak habisnya terlukis di aura wajahnya mewakili segenap cintanya. 



#GWA1

Senja di Pantai

                        Sore yang selalu kami nantikan, pemandangan senja di pantai Pok Tunggal yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Pantai Pok Tunggal yang terletak di Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta, memberi kami alam senja yang berbeda. Kaki-kaki kami sesekali menyentuh hempasan anak-anak air ombak. Katamu kecantikan panorama sore di pantai selatan Jawa ini sama halnya dengan kecantikanku. Aku hanya tersenyum. Kamu selalu punya kata-kata indah soal senja. Lekukan bayang obor lampu semakin memperindah hiasan matahari terbenam yang hanya dimiliki oleh satu Tuhan. Lalu kami terdiam menatapnya, tanganmu erat menggenggam, hangat. Ini mengingatkan kami akan senja cantik di Serengeti, Tanzania. Atau di pantai Ipanema, Rio de Janeiro, Brazil. Mengukirkan kenangan kami tentang senja Cable Beach, Australia. Atau Grand Canyon, USA. Matahari terbenam di Taj Mahal, India. Atau Santorini, Yunani. Dan senja yang sempat kami miliki di Hammerfest, Norwegia. Atau di Salar de Uyuni, Bolivia. Atau senja di The Matterhorn, Switzerland pegunungan Alpens. Namun sesungguhnya semua bayangan senja nan takjub tak terkalahkan itu seperti senja di Jimbaran, Bali. 
                         Jingga itu remang-remang, dan tubuh kami merebah diantara pasir-pasir serta buliran air pantai mengikuti arah matahari yang juga mulai merebah ke peraduan. Eksotis. Cuma itu yang terucap dari bibirmu. Rombongan nelayan bergotong royong mendorong perahu ke pinggir pantai. Paduan cahaya senja kemerahan dan siluet perahu yang bergerak sungguh menciptakan harmoni keindahan tersendiri. Ah… Begitu kami sangat menikmati ke-eksotis-an matahari sore ini. Aku, kamu dan senja berwarna jingga di pantai. Mungkin kami memang terlahir sebagai penggila senja, hingga kami menapaki hampir ke semua sisi kejinggaan di hamparan fana ini. Atau memang hanya kami yang terpilih menjadi penikmat senja yang akut. Disaat semua pendatang pantai ini hanya datang, berpadu asmara, mencetak kenangan, terperangah dan berlalu. Hanya itu. Lantas kami telah punya jiwa tersendiri di setiap senja, bukan hanya termangu kagum melihat cantiknya senja. Inilah sisi jingga kami memandang matahari terbenam sebagai senja nan indah di pantai. Tangan kami masih melekat erat, senyuman yang tak lepas sepanjang pesisir pantai, hingga warna langit berganti malam. Kami yang terbuai dengan senja sore itu, aku dan kamu… 




#GWA1

Senin, 24 September 2012

Lucky I'm in Love with My Bestfriend

                           Di dunia ini tak ada satupun yang bisa berkompromi soal jodoh, termasuk aku, kamu dan persahabatan kita. Bahkan setelah aku bergerilya sendiri dengan hidup percintaanku dan kamu dengan perjuanganmu mencari belahan jiwamu yang nantinya akan bertahta menjadi ibu dari anak-anakmu. Seperti itulah bertahun-tahun kisah kita hanya berbatas pada persahabatan, tanpa cinta. Aku butuh pundakmu untuk bercerita dan kamu butuh rangkulanku untuk berkeluh kesah. Lalu semuanya bercampur menjadi satu senyuman dan tawa. Sampai suatu saat pertanyaan itu terucap dari bibirmu... 

"Apakah seorang sahabat boleh mencintai sahabatnya sendiri?" tanyamu menatapku. 

Aku terdiam dengan rasa yang sulit kulepaskan, aku takut kehilanganmu. 

"Demi apapun yang ada di dunia ini, aku berusaha sekuat mungkin untuk mengganti perasaan ini, tapi sia-sia..." ucapmu lirih. 
"Untuk apa kamu ganti kalau kita begitu saling membutuhkan cinta ini? Harusnya kita beruntung merasakan ini semua," jawabku tersenyum. 

Lalu kamu memelukku erat, kali ini dengan cinta yang sesungguhnya... Ya, di bawah keindahan dan kemegahan langit biru ini, aku selalu menyimpan cinta ini utuh tanpa sarat, kamu yang selalu membuat hidupku bergulir penuh warna seperti pelangi. Dan kita tak sanggup lama berjauhan, untuk apapun itu. Sepertinya kita terlalu merasakan keberuntungan akan cinta yang kita miliki. Beruntung jatuh cinta dengan cara kita sendiri, beruntung selalu kembali pada cinta yang sama, beruntung jatuh cinta pada persahabatan ini. Memeluk dirimu adalah memeluk persahabatan kita yang penuh cinta, tanpa perlu seseorang mengerti tentang ini, tanpa butuh seseorang untuk menerima soal kita. 

 I’m lucky I’m in love with my best friend 
Lucky to have been where I have been 
Lucky to be coming home again 
Lucky we’re in love every way 
Lucky to have stayed where we have stayed 
Lucky to be coming home someday

Sabtu, 15 September 2012

Sulit Berpaling

Bianca menatap foto-foto yang sudah berdebu, sesekali ia bersin. Foto-foto yang tak akan ia lupa, kenangan yang tak akan bisa ia singkirkan begitu saja, dan Roy yang selamanya tak akan terganti. Lima tahun berlalu, namun hatinya tetap tak bergeming. Orang bilang Bianca layaknya abg dengan sebutan susah move on. Tapi itu semakin menguatkan perasaannya untuk tak membuang Roy dari ruang cintanya. Hal yang lebih tak memungkinkan lagi adalah Shaira. Perempuan cilik berusia 2 tahun yang selalu menjadi 'jembatan' kerinduannya pada Roy, sang mantan suami tercinta. Ini adalah kekuatan teranyar dari dirinya setelah terkungkung dalam trauma berkepanjangan sejak Roy kembali ke pelukan Tuhan. Cinta terbesar kami, Shaira, kenangan kita, semua membuatnya sulit berpaling.

Janji Sekali Waktu

                      Radin terdiam di dalam mobilnya, ia tak mampu memahami dirinya inikah pilihan yang harus ia jalani? Telepon genggamnya telah berkali-kali berbunyi, dering sms serta bbm tak henti bersuara. Tapi semakin banyak semua itu datang padanya semakin tinggi tingkat kegelisahan hatinya. Raisa, mengapa kita harus mengalami ini? Aku tak ragu akan kesetiaanmu tapi mungkin aku hanya belum terbiasa dengan semua ini.

"Radin! Radin! Ayo cepat! Raisa sedang menunggumu, dari tadi memanggil-manggil namamu!" Kinan mengetok-ngetok jendela mobilnya dengan panik. 

Radin berusaha mengikuti jejak langkahnya, mengikuti Kinan yang mengarahkannya ke ruang operasi. Raisa tersenyum melihatnya, mencoba meraih tangan Radin. Digenggamnya segera tangan Raisa. 

"Radin, jika detik ini adalah waktu terpendek untuk aku memilikimu dan bayi ini, tolong cintai bayi ini, sekali ini saja, cuma itu permintaan terakhirku, karena ia memang bayi kita," ucap Raisa lirih dengan senyum. 
"Raisa, waktumu tak akan pernah habis untukku dan... Dan bayi kita, waktumu akan selalu ada untuk kita," sahut Radin pelan. 

Ya Tuhan, Kau telah luluhkan hatiku,ada atau tak ada ruang dan waktu demi sebuah kesempatan yang lebih baik, aku hanya mohon untuk diijinkan mencintai Raisa dan bayi kami sepenuh hati...



#FF2in1

Jumat, 14 September 2012

Manchester is You


It's not only about place, history, football and love but trully about us, you and me... Let's grab it, my 1st book! Manchester is You... :)

Sabtu, 08 September 2012

Jadikan Aku Pendendam

"La, kamu yakin?" ucapku lirih.
"Iya, aku yakin," sahut Lala.

Jawaban Lala sepertinya terdengar ragu di telingaku. Tapi aku nggak mungkin menepis keputusannya.

"Salahku apa, La?" tanyaku lagi.
"Salahmu adalah kamu terlalu mencintai aku," jawab Lala cepat.
"Kalau mencintaimu jadi suatu kesalahan terbesar dalam hidupku, aku akan tetap melakukannya berkali-kali, La," ujarku.

Kamu terdiam.

"Pergilah, aku muak," Lala menarik lenganku.
"Teganya kamu menjadikan aku seorang pendendam seperti ini, La. Padahal aku tetap menerima apapun bentuk dirimu dan kekhilafanmu," aku membela diri.

Lala membanting pintu rumahnya. Sayup-sayup suara tangismu masih terdengar olehku.

"Kamu masih mencintaiku,La," ucapku pelan.



#FF2in1 - "Marcell-Mendendam"

Tentang Satu Nadi...

Aku menggenggam dirimu, merekatkan hati ini lebih dari paham yang telah kamu berikan padaku. Perwakilan suara hati yang selalu indah kamu sentuh. Nadi, darah dan hati, berkecamuk menjadi satu yang tak mungkin kita hilangkan. Menjadi sisi yang tak akan tergantikan. Kamu, aku, luka, pertalian cinta.

Mengapa? 

Hanyalah pertanyaan yang selamanya tak akan habisnya terjawab...

Kamu memelukku erat....

Mengapa?

Karena darah kita telah menyatu...

Tentang kita...



#FF2in1 - "Noah-Separuh Aku"

Kamis, 06 September 2012

Keliru


Bara terus mengikutinya dari belakang, sesekali dihentikannya langkahnya agar perempuan itu tak mengetahuinya.

"Aku pasti tak salah, ia Aruna, tapi sedang apa ia di tempat seperti ini?" Bara bertanya-tanya.

Perempuan itu semakin mempercepat langkahnya, seolah tahu bila dirinya sedang diikuti. Bara begitu seriusnya memperhatikan gerak langkah perempuan itu. Lalu ia tiba di sebuah rumah kecil yang lumayan banyak penghuninya.
Tapi... Bara masih tak percaya jika Aruna tinggal di tempat ini. 

"Loh, kemana dia?" Bara celingak-celinguk.
"Heh, cari siapa mas?!" tanya seorang perempuan.
"Cari saya?" suara perempuan itu berubah seperti suara lelaki.

Bara terkejut pucat pasi.

"Maaf, maaf... Maaf, saya kira kamu mantan saya," Bara langsung lari sekencang mungkin.

Perempuan itu melepas wig nya sambil bersenandung lagu mantan kekasih, lagu andalannya mengamen.


#FF2in1

Raras dan Cerita Kita


"Ras, ini bukumu, kamu pasti lupa," aku memberikan buku catatanmu yang tersampul rapi.

Kamu hanya tersenyum. Membuka payung hijau mudamu lalu kita jalan berdampingan. Selalu seperti itu. Ceritamu selalu juga tentang mimpimu yang sepertinya sulit kugapai. Belajar di luar negeri. Ah, Ras, seandainya aku setajir kamu. Tapi anehnya kita sulit berpisah, padahal nasib kita saja berbeda jauh. Kamu gadis cantik yang sejak awal sekolah aku cinta Ras, tetap selalu sederhana. Kamu dan cinta kita.

Pagi itu menjadi pagi yang pahit untuk aku dan kamu. Lulus dari sekolah sepertinya tak membuatku ingin berada di puncak bahagia. Tidak jika tanpamu. Tapi cita-cita adalah cita-cita. Dan cinta terbesarku adalah membiarkanmu meraih impianmu Ras...

Sore itu aku tetapkan menjadi hari yang tepat untuk segalanya. Mengakhiri pertemuan kita dan perjalanan kita. Tapi tidak hati kita, Ras.

"Pendengar sekalian sekarang saatnya kita simak lagu dari Sheila On 7, waktu yang tepat untk berpisah," suara sang penyiar radio. 

"Gila, lagu ini sepuluh tahun lalu, sepuluh tahun lalu aku melepasmu Ras, sekarang, kamu sudah kembali bersamaku," aku memeluk Raras erat di mobil, dalam perjalanan setelah menjemputnya di bandara.


#FF2in1

Selasa, 14 Agustus 2012

Ragil yang Bebas


Aku hanya bisa menangis. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Ketika airmata tak berlaku lagi bagimu sebagai rasa iba atau kasihan padaku. Bisa karena terbiasa, mungkin itu yang saat ini erat melekat pada diriku. Ya, sepertinya aku telah terbiasa menerima semua sikapmu, telah terbiasa menghadapi semua perlakuanmu. Otakku menjerit, hatiku menangis tapi tubuh ini hanya bisa pasrah. Seakan aku ikhlas akan semua tindakan burukmu. 

Ayah, tidakkah kau letih dengan semua ini?

Hari ini aku kembali menerima hujaman tanpa syarat. Entah apa salah dan dosa yang telah aku perbuat. Seolah itu tak ada beda di matamu. Padahal aku merasa sikapku sudah begitu manisnya, semua suruhan dan keinginanmu aku lakukan. Hanya karena kau adalah Ayahku. Hormatku tak akan berkurang, apalagi sayangku, walau sehebat apapun jeratan pilu yang telah kau gores pada diriku. 

Ayah, tidakkah kau juga sayang padaku?

"Ragil! Bangun, Ragil! Ragil!" seseorang berteriak memanggil namaku sambil menopang tubuh mungilku.

Aku terkapar tak berdaya, luka lebam atau darah yang mengucur tak kurasakan. Aku hanya sempat mendengar beberapa orang bersuara lantang. Tuhan, apakah itu suara para malaikatmu? Apakah Engkau telah membawaku ke surgamu? Hingga aku tak akan menikmati seluruh kebatilan itu lagi. Lalu aku bertemu Ibu, menyapa dalam mimpi putihku ini. Ibu memelukku penuh kasih sayang, pelukan yang selama ini aku rindukan. Pelukan yang pernah Ayah janjikan padaku di depan pusara Ibuku, namun sirna dengan hadirnya iblis-iblis itu dalam diri Ayahku. Ibu, kau begitu hangat, secuil luka pun tak lagi kurasakan. 

Ayah, mengapa kau terus menyiksaku?

"Alhamdulillah, Ragil, kamu sudah sadar. Kamu sudah koma selama satu minggu," mas Eka tersenyum di sebelah tempat tidurku.

Aku masih dirawat di rumah sakit ini, mas Eka dan para tetangga telah menyelamatkan aku dari liarnya sikap Ayahku. Mengeluarkan aku dari sendi-sendi penyiksaan dan terpaan penuh luka. Aku yang teraniaya oleh keluargaku sendiri, sekarang telah bebas dari sakit yang berkepanjangan. Mas Eka dan para tetangga yang sudah tidak sanggup menatap perlakuan biadab Ayahku, sekarang memberikan label merdeka untuk hidupku tepat di hari kemerdekaan negeri ini. Hari dimana bocah seumurku meluapkan kegembiraannya dengan berbagai lomba dalam perayaan kemerdekaan.

"Ragil, setelah ini kamu akan tinggal bersamaku, kamu harus sembuh biar kamu bisa sekolah lagi seperti dulu," ucap mas Eka padaku.
"Bagaimana dengan Ayahku?" tanyaku kemudian.
"Dia masih ditahan di kantor polisi, Ayahmu harus belajar dari semua kesalahan terbesarnya ini," jawabnya tegas.
"Tapi dia Ayahku, aku nggak akan bisa membencinya, mas," kataku lagi.
"Nggak ada seorangpun yang menyuruhmu untuk membencinya, kita hanya harus memberi sedikit pelajaran untuknya, sampai kapanpun nggak akan ada yang bisa memutuskan ikatan darah antara anak dan ayah. Kamu punya hak untuk hidup bebas, Gil. Kamu bisa mengunjunginya kapanpun, tapi tidak sekarang," ujarnya menjelaskan.

Aku tertunduk menangis mendengar kata-kata mas Eka. Dia benar, semua orang harus belajar dari kesalahannya, sekecil apapun. Semua orang berhak untuk bebas dan merdeka atas hidupnya, termasuk juga aku. Bocah laki-laki yang masih berusia 6 tahun yang semestinya sedang bebas bermain sepak bola, bermain kelereng, bersekolah, terkekeh penuh gelak tawa. 
Merdeka, tanpa siksaan Ayah di sisiku...





#1bulan1cerpen

Kain Merah Putih

Aku membuka lemari dengan perlahan, kubuka salah satu laci yang telah lama kubiarkan terkunci. Untunglah kuncinya masih bisa tersambung, tidak berkarat sedikitpun. Aku mengeluarkan sebuah kain berwarna merah putih. Sudah bertahun-tahun, seharusnya lusuh atau warnanya mulai pudar, tapi ini tidak. Kain ini masih tetap kokoh dengan jahitan, warna dan kenangan di dalamnya. Kenangan yang tiap detiknya tak akan pernah mau aku ganti dengan apapun, yang tak akan sanggup aku lepaskan sedikitpun apalagi membuangnya menjadi sebuah kenangan usang. Bagiku semua kenangan ini adalah lebih berharga dari intan berlian sekalipun.

Mengenalmu, menjadi sahabat, dan menikah, disaat genderang perang masih mengalun di negeri ini, disaat penjajah masih sibuk mengeruk semua isi bumi negeri ini. Masa penjajahan adalah masa dimana hati kita juga ikut terpaut satu sama lain. Seperti halnya rasa nasionalisme ini yang semakin kuat terpatri di jiwa kita. Pernikahan kami teramat sangat sederhana. Kamu yang berjuang untuk negeri ini, mempertaruhkan hidup dan mati sampai titik darah penghabisan. Dan aku yang ikut berjuang dari sisi kemanusiaan, membantu para pejuang yang terluka di ranah perang kala itu. Kain merah putih ini adalah mas kawin kita, bentuk cinta sejati kita pada negeri ini.

Aku mengambil sebuah bingkai yang terpampang di dinding sebelah lemari ini. Foto yang usang, tapi guratannya masih cukup jelas. Ini bukan foto pernikahan kita, tapi di hari itu kita berfoto penuh kegembiraan yang meluap. Pekikan kemerdekaan, jabat tangan penuh haru, dan airmata bahagia. Aku memeluk kain merah putih dan foto usang ini. Aku sangat merindukan semua kebersamaan kita dulu. Tak terasa airmata ini menetes di pipiku, bukan untuk sebuah kesedihan melainkan rasa cinta dan bangga akan semua itu, dan kangenku yang teramat dalam padamu.

"Eyang, sudah siap? Yuk, kita berangkat," suara Genta, cucuku, membuatku sedikit tersentak.

Genta membantuku berjalan dengan langkahku yang mulai goyah dan tak seimbang. Kekuatanku sudah tak seperti dulu lagi, saat kita masih sama-sama muda, Galih. Tapi jiwaku yang penuh cinta ini tak pernah sedikitpun goyah untuk negeri ini. Kain merah putih ini masih lekat dalam pelukanku bersama foto usang ini. Hampir setiap tahun semua cucu-cucu dan anak-anak kita menemaniku mengunjungimu Galih. Tepat di tanggal 17 Agustus. Kemeriahan yang sama seperti yang ada dalam foto ini, saat aku mengandung anak pertama kita.

Galih, kapankah kita akan bertemu lagi? Ini adalah tahun ke 30 dimana kita tak dipersatukan lagi. Setiap tahunnya aku hanya bisa mengunjungi makammu dengan bendera kecil yang terbuat dari kayu, tertancap di sisi makammu. Setelah sekian lama, kain merah putih ini akhirnya aku hadirkan kembali dan kubawa tepat ke pusaramu. Mungkin akan menjadi kunjungan terakhirku, entahlah. Aku rindu. Aku rindu dengan semangat merah putihmu yang tak pernah pudar. Aku rindu dengan jiwa patriotmu melawan para penjajah. Aku rindu dengan cintamu yang begitu besar bukan hanya padaku dan anak-anak, tapi pada negeri ini, Indonesia...



#cerpenmerahputih

Bandara. #6 Harsya


Aku masih mengangkat papan nama di pintu kedatangan, semoga saja manusia ini cepat hadir batang hidungnya karena aku harus segera bersiap-siap untuk acara nanti malam, surprise party ulang tahun pacarku :) Sebenarnya ini bukanlah menjadi tugasku, menjemput anak sahabat Mama yang akan berlibur di Indonesia, seharusnya ini tugas mas Hagi karena ia yang lebih mengenalnya sejak kecil. Aku kenal mukanya pun nggak. Tapi mas Hagi mendadak sakit, jadi tugas penjemputan ini dialihkan padaku. Bandara hari ini cukup ramai, beberapa keluarga tentara atau prajurit tampak juga sedang menyambut kedatangan anggota keluarga mereka. Tak berapa lama, seorang pria muda berkulit putih dengan ransel biru, celana pendek, tshirt, sepatu model converse, rambut cepak, menghampiri diriku.

"Harsya?" tanyaku.
"Iya lah, kalau bukan namaku yang ada di papan itu aku mungkin sudah ikut orang lain," jawabnya sambil cengengesan.

Siang-siang sudah kebagian jemput orang tengil kayak begini, pikirku dalam hati.

"Baguslah, yuk cepat, aku masih banyak urusan, mas Hagi sakit jadi nggak bisa jemput," kataku cepat.
"Eh tunggu, aku lapar mau makan dulu," Harsya langsung masuk ke sebuah restoran cepat saji.

Aku hanya bisa pasrah. Harsya berusaha menawari aku tapi aku tolak. Aku lebih minat untuk sampai rumah lebih cepat mempersiapkan ulang tahun pacar nanti malam.

"Jadi kamu adiknya Hagi? Hagi sakit apa? Eh, kamu yakin nih nggak mau makan?" Harsya berusaha membuka obrolan sambil makan.
"Aku nggak lapar. Mas Hagi mendadak tadi pagi badannya panas, nggak tahu kenapa," jawabku sekenanya.
"Tante Nita apa kabarnya, sehat? Sudah lama banget nggak ketemu. Aku terakhir ke Indonesia lima tahun lalu, sebenarnya Papa nawarin aku kerja disini tapi aku masih mau kuliah nerusin S2," Harsya meneruskan obrolannya.

Aku hanya manggut-manggut mencoba bersabar menunggunya makan. Kalau satu jam lagi orang ini masih sibuk ngobrol dan makannya nggak selesai, mungkin aku tinggalin saja kali ya? Heran, jadi cowok makan saja lama banget. Ya, aku lihat makannya memang cepat tapi ngobrolnya ngalor ngidul dan bikin aku semakin nggak tenang. Berkah apa ini disuruh jemput manusia macam ini.

"Kamu lagi buru-buru ya?" tanya Harsya kemudian.
"Ah...akhirnya kamu sadar juga, iya aku memang lagi buru-buru, aku harus siap-siap untuk surpise party pacarku dan kamu dari tadi nggak selesai-selesai ngobrolnya," sahutku dengan nada mulai meninggi.
"Maaf, maaf, makan itu kalau ada temannya memang paling enak kalau sambil ngobrol," Harsya menjawab sambil tertawa.

Wajahku mulai kelihatan kesal sepertinya tapi sikap Harsya tetap santai, merapihkan bekas makanannya dan mencuci tangannya. Aku masih menunggunya, kulihat ia seperti meminta sesuatu di tempat pemesanan. Ya ampun, masih belum kenyang juga? Harsya masih pesan es krim dan kali ini ia juga membelikan aku. Aku tak menolak. Percaya atau tidak, es krim ini sesungguhnya membuatku jadi sedikit lebih tenang. Tapi ketenangan yang tak memakan waktu lama. Di pintu masuk restoran aku melihat Ferry bersama seorang perempuan. Ferry adalah pacarku. Dan perempuan itu sepertinya bukan saudaranya atau kerabatnya, karena mereka terlihat cukup mesra. Ferry menarik sebuah koper, mungkin koper perempuan itu.

"Sedang apa kamu disini?" aku menegurnya.

Ferry dan perempuan itu terlihat cukup terkejut dengan kehadiranku. Terlebih lagi Ferry. Ia pasti sangat nggak mengira aku akan berada di bandara ini. Ferry masih diam tak menjawab pertanyaanku. Perempuan itu malah yang penasaran padaku dan bertanya siapa dan hubungan aku dengan Ferry. Tanganku seperti lebih cepat berpikir dari pada otakku.

"Byaaarr...!" wajah Ferry sudah penuh soft drink yang sengaja aku lemparkan padanya.

Lalu Harsya langsung menarik lenganku untuk pergi sebelum restoran ini berubah jadi kapal pecah karena amarahku. Ferry berusaha mengejarku tapi perempuan itu menahannya. Mungkin mereka sadar kalau posisi mereka sudah salah. Atau malah bersyukur karena aku tahu lebih dulu tanpa perlu mereka jujur padaku. Sial kamu, Fer...

Aku terdiam di dalam mobil di parkiran bandara ini. Harsya tak memperbolehkan aku menyetir dengan kusutnya pikiranku. Mulutnya yang sejak tadi begitu cerewet sekarang diam tanpa nada. Harsya membiarkan aku dengan sikapku dan kekecewaanku tentang Ferry. Anehnya, aku tak menangis sedikitpun. Walau cemberut masih menghiasi rautku.

"Aku mau es krim," ucapku.
"Sebentar, aku belikan," jawab Harsya segera keluar dari dalam mobil.
"Nggak usah, aku ikut, makan di dalam saja," ujarku sambil berjalan masuk kembali menuju ke dalam bandara.
"Temenin aku makan es krim ya," pintaku sambil menghentikan langkahku sementara.
"Bukannya kamu bilang tadi kamu lagi buru-buru untuk persiapan surprise party pacarmu?" tanya Harsya menggodaku.

Aku cemberut sambil memposisikan kedua tanganku di pinggang. Harsya tertawa sambil berlari melihat sikap amarahku. Hari ini aku harus berterima kasih pada banyak orang, pada mas Hagi karena sakitnya (digetok mas Hagi deh kalau tahu aku bersyukur karena dia sakit), pada Mama yang sudah memaksa aku menjemput Harsya, pada Tuhan, dan tentu saja pada Harsya. Tuhan mungkin mengirim Harsya supaya aku mengenal Ferry dari sisi lain, supaya aku lebih membuka mata dan hatiku.

Minggu, 12 Agustus 2012

Bandara. #5 Rindu

Aku menatap bingkai yang terpampang di dinding ruang keluarga ini, sebuah bingkai sumpah prajurit. Mungkin bingkai sumpah prajurit ini telah lebih dahulu ada sebelum aku terlahir di bumi ini. Tepat di sebelahnya, bingkai seorang pria berseragam PDL lengkap, begitu gagahnya. Pria itu adalah Ayahku. Pria yang sejak aku masih dalam kandungan Bunda bertekad menjadi pecinta serta pahlawan sejati bagi negeri ini. Buatku ia adalah Ayah yang hebat. Beliau tidak hanya menyayangi aku sebagai anaknya, namun juga seluruh rakyat di negeri ini.

Kebesaran jiwanya, pengabdian serta ketulusan hatinya, sesungguhnya ia telah banyak mengajarkan aku tanpa ia harus ada bersamaku setiap detiknya. Hanya Bunda, hanya Bunda yang setia menemani kalbu rinduku pada sosok Ayah yang sebenarnya. Yang itupun tak sepenuhnya aku dapatkan karena ia Bundaku, bukan Ayahku. Aku tetap butuh sosok Ayah dalam hidupku, untuk seseorang yang selalu melindungiku sebagai laki-laki, untuk seseorang sebagai tempatku berbagi selain Bunda, untuk seseorang saat aku sungkem bersimpuh maaf dan terima kasih di akad nikahku, untuk seseorang yang selalu aku rindu setiap aku merasakan rindu ini.

Ayah, betapa rindu ini hanya mampu aku titipkan pada sahabat-sahabatmu yang hadir dikala bebas tugas. Betapa rindu ini hanya mampu aku sematkan pada doa-doaku di setiap ibadahku. Betapa rindu ini hanya dapat aku ceritakan pada bingkai fotomu di sebelah bingkai sumpah prajuritmu.

Aku rindu....

Lalu Bunda, seperti telah terbiasa dengan semua ini. Ia merangkulku dengan tegarnya. Memelukku dengan sabar dan ikhlasnya.

Rindu ini selalu terjawab dengan kebanggaan tersendiri tentangmu, Ayah...

Hari ini, hari ini akan menjawab semua rinduku padamu Ayah. Di bandara ini aku tak kuasa menahan semua sabar dan ikhlasku tentang Ayah yang selama ini jauh dariku. Bandara ini juga penuh dengan orang-orang yang sama halnya seperti aku dan Bunda. Menjemput rindu yang selama ini kami simpan dalam hati... Menjemput rindu yang selama ini hanya mampu kami genggam sendiri...




Note : Mencoba menyambung cerita dari #Bandara #1 Firah :)

Sabtu, 11 Agustus 2012

Bandara. #4 Koper dan Ransel


Aku masih asyik membaca novel sambil menunggu jadwal keberangkatanku tiba. Sesekali aku palingkan pemandanganku pada ruang sekitar. Orang-orang masih sama sepertiku, menunggu. Beberapa ada yang berbincang seru, tertidur di bangku, mendengarkan musik, membuka laptopnya dan membaca seperti aku. Sebuah ransel kecil milik seorang prajurit sengaja diletakkan di atas bangku di sebelahku. Mungkin isinya sangat berharga hingga ia tak mau menaruhnya di bawah atau sembarang tempat. Bagiku itu hanya ransel biasa. Entah dengan isinya. Aku hanya membalas senyumnya saat sang prajurit itu mengambil ransel kecilnya dan memeluknya. Sepertinya ia tak sabar menunggu keberangkatan ini sampai-sampai ia mengangkat ranselnya berulang kali, memeluknya dan meletakkannya kembali di atas bangku. Aneh.

"Mbak, maaf, boleh saya minta tolong?" tanya sang prajurit padaku.
"Ya, ada apa?" sahutku.
"Saya harus ke toilet, bisa saya titip tas ransel dan koper kecil ini? Saya nggak lama," katanya kemudian.
"Iya, silahkan," jawabku tersenyum.

Sang prajurit segera berjalan tergesa-gesa meninggalkan koper dan ransel kecilnya. Aku melanjutkan membaca novelku. Tak lama pengumuman keberangkatan kami tiba, aku mencari-cari sang prajurit yang belum juga nampak. Aku mulai khawatir, khawatir akan keduanya, koper dan ranselnya juga sang prajurit. Aku masih mencoba menunggu dengan sabar, namun akhirnya aku putuskan untuk membawanya bersamaku ke dalam pesawat. Aku pikir nanti pasti kami pun akan bertemu di dalam pesawat.

Hampir satu jam perjalananku ke kota ini, aku tiba dengan selamat.

Ya Tuhan, aku baru teringat akan sang prajurit! Aku segera membawa turun koper dan ransel ini. Dimana sang prajurit itu ya? Gara-gara orang itu aku jadi kewalahan membawa koper dan ransel ini. Harusnya ia satu pesawat denganku dan harusnya ia mencri koper dan ranselnya yang sejak sebelum penerbangan didekapnya dengan erat. Aku jadi penasaran sama isinya, jangan-jangan... Ah, tapi nggak mungkin, koper dan ransel ini lolos mesin deteksi. Kalau tidak, mungkin aku sudah digeledah habis-habisan. Bodoh juga aku, kenapa mau dititipkan dan membawanya juga? Aku mulai kesal dengan koper dan ransel ini. Mungkin aku akan sedikit drama, meninggalkan koper dan ransel ini di toilet atau kutinggalkan begitu saja. Tapi baru kulangkahkan kaki ini, seorang petugas malah menegurku mengingatkan akan koper dan ransel ini. Sial...

Aku mulai memeriksa ransel dan koper ini tanpa membukanya, mungkin akan kutemukan sedikit petunjuk. Syukurlah, ada alamat dan nama seseorang yang ditempel di salah satu sisi bagian koper. Tapi nama perempuan, ini pasti bukan nama sang prajurit. Kalau aku yang mengantar apa akan terjadi suatu kesalah pahaman? Bagaimana kalau aku dikira sebagai perempuan lain dari sang prajurit? Aku mulai dilanda kebingungan. Sebagai langkah awal, aku selamatkan koper dan ransel ini di dalam kamarku. Ya, aku putuskan untuk membawanya pulang. Bahkan aku tegaskan pada keluargaku bahwa itu bukan koper dan ransel oleh-oleh, jadi tak seorangpun berani membukanya.

Hari ini aku putuskan untuk mencari alamat pemilik koper dan ransel ini. Lumayan jauh dari rumahku. Aku hanya berharap niat baik ini tak malah jadi bumerang untukku sendiri. Hampir dua jam perjalanan dan aku sampai pada sebuah rumah berpagar hijau pupus di sebuah komplek perumahan. Aku beranikan diri bertamu sambil membawa koper dan ransel ini.

"Selamat siang, apa benar ini rumah Ibu Dewi?" tanyaku pada seorang perempuan muda yang keluar membuka pintu untukku.
"Ya, saya Dewi, ada apa ya? Silahkan masuk," jawabnya dengan raut bingung.
"Maaf, perkenalkan nama saya Siska, dua hari lalu saya nggak sengaja dititipkan seseorang sebuah koper dan ransel ini. Seharusnya kami satu pesawat, tapi lama saya menunggunya dari toilet nggak datang juga," ujarku pada perempuan itu.
"Anda pacar barunya?" pertanyaannya kali ini membuatku terkejut.
"Eh, waduh, bukan, begini mbak, maksud saya, saya hanya nggak sengaja dititipkan koper dan ransel ini waktu saya sedang menungu jadwal pesawat, tapi lama saya tunggu kok nggak kembali juga, jadi saya bawa masuk koper dan ransel ini karena saya pikir kami akan bertemu di dalam pesawat," aku mencoba membela diri.
"Apa ia memakai seragam prajurit?" tanyanya kemudian.
"Nah, iya tepat! Ia memakai seragam prajurit. Apa ia suami mbak? Apa ia sudah sampai?" jawabku lega.
"Mungkin kami akan berpisah, mas Raka tak menginginkan bayi kami, ia telah cemburu dan menuduh saya berselingkuh, ia nggak mengakui kalau anak ini anaknya," ia mulai bercerita lirih.

Aku tertegun mendengar ceritanya.

"Mbak, apa mbak nggak ingin tahu apa isi di dalam koper dan ransel ini? Setahu saya, suami mbak sangat menjaga koper dan ransel ini sampai memeluknya," tanyaku.

Sebenarnya aku yang dilanda penasaran sejak beberapa hari lalu. Dan perempuan muda ini sedikit kaget dengan ucapanku. Ia segera membuka isi koper tersebut dan ia semakin terkejut saat melihatnya. Koper ini penuh berisi baju-baju dan perlengkapan bayi, bahkan di dalam koper tersebut telah tersedia ukiran nama untuk sang bayi. Di dalam ransel kecilnya terdapat beragam mainan-mainan bayi, dan sebuah tiket pesawat. Tiket ini pasti yang membuat ia tak bisa ikut masuk ke dalam pesawat.

"Mbak, bagaimana mungkin suami mbak nggak mengakui bayi itu kalau isi koper dan ranselnya semua untuk sang bayi?" kataku meyakinkannya.

Ia tertegun haru menatap semua isi koper dan ransel, memeluk sang bayi sambil menangis. Ia pasti rindu sang prajurit. Aku segera berpamitan, meninggalkan ia dan bayinya beserta koper dan ranselnya. Tak berapa lama aku melihat sang prajurit datang, menggendong sang bayi untuk pertama kalinya sambil memeluk sang istri.
Kalau saja hari itu aku tak di bandara, mungkin akan lain ceritanya. Mungkin pesan ini hanya akan tertinggal dan bermukim di bandara, tanpa tahu mengapa ia meninggalkannya...