YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 23 Agustus 2011

Tembok Perwakilan


Pernah dengar istilah "tembok bisa bicara" ? Nah itu tuh salah satu contoh perwakilan alias representative di beberapa pekerjaan. Entah siapa yang membiarkan para tembok ini bicara dan ikut serta dalam kegiatan pekerjaan. Apalagi jadi perwakilan or jubir suatu kantor. Mungkin posisinya melebihi manager atau para sekretaris, karena saking terlalu banyaknya yang percaya sama si tembok ini. Mungkin cv nya begitu hebat sampai bisa buat para bos-bos percaya berlebihan. Pada nggak ingat Tuhan apa ya? Dan hari ini saya kembali merasakan arti hadirnya sang tembok ini.
Padahal ya saya tuh ada di depan hidung mereka, tapi tetap saja mereka lebih memilih berguru dan mencari info dari tembok. Bagian paling tepat untuk menghadapi mereka ya dengan sabar, sabar dan sabar. Walau saya tahu sabar itu nggak akan bikin mereka sadar malah bikin mereka makin menjadi. Menjalin persahabatan dengan si tembok pun kayaknya percuma, toh dia lebih memilih status dan jenjang yang lebih memadai dibanding saya, kroco.
Buat kamu, kamu atau kamu, yang telah setia selama ini menjadi tembok perwakilan, selamatlah. Akan tiba saatnya nanti kalian runtuh dan berdebu. Terkikis dan tertiup angin. Dan saya, hanya bisa memandang dari kejauhan. Semoga tanpa dendam kesumat, tanpa sakit hati. Tapi dengan hati yang puas, senyuman bahagia. Bahwa saya, tak pernah menjalin sesuatu ikatan apapun dengan tembok manapun.

Kamis, 11 Agustus 2011

My Soul and My Soulmate


Pernah berpikir tentang soulmate? Biasanya ngomongin soal soulmate kaitannya pasti ama pasangan kita. Padahal di dunia ini soulmate seseorang bukan cuma pasangan hidup. Toh beberapa orang menemukan soulmate pada diri Ibu, Ayah, Kakak, Adik, atau sahabatnya. Menurut mereka, soulmate bukan soal berbagi napsu dan tempat tidur layaknya pasangan, tapi lebih kepada pengabdian saat kita jatuh, terpuruk, senang, susah, semua kisah, tersandar di bahu soulmate kita, begitupun sebaliknya. Terkadang kita memang terlalu mengagungkan kata "belahan jiwa" pada pasangan kita, sampai kita sendiri mempertanyakan apakah ia memang soulmate kita? Nah loh??
Saya pernah bertanya pada beberapa sahabat, siapa soulmate mereka. Jawaban mereka hampir berbarengan, dan sama : Suami. Padahal saya tahu gimana cerita pernikahan mereka, gimana rumah tangga mereka, gimana terpuruk dan airmata ada ditiap episode nya. Tapi mereka tetap berkeyakinan bahwa pasangan mereka adalah soulmate mereka. Menurut saya aneh, karena beberapa dari pasangan mereka adalah orang yang cuek, masa bodoh, egp, jadi suami seadanya, malah saat dibutuhkan pun mereka nggak selalu ada. Jadi saya cuma bisa menyimpulkan bahwa selama status itu masih ada, maka itulah jodoh kita, yang sudah pasti belahan jiwa kita. Dan saya cuma bisa tersenyum.
Ada yang lebih aneh lagi saat dulu saya menginap di kost an ade saya. Nggak sengaja nguping sebenarnya ya karena ruang makannya jadi satu hehe.. "Kenapa sih, lo betah banget jalanin LDR?" "Gimana ya, kita tuh udah soulmate." Sambil makan saya jadi mikir, kok bisa ya? Padahal mereka jarang ketemu, jaminan apa yang bisa para perempuan ini terima sampai bisa nyebut lelakinya itu soulmate? Saking malesnya saya balik ke kamar ade sambil geleng-geleng kepala. Ade saya cuma bingung. Saya cuma bilang, rame di ruang makan pada ngomongin hal gak penting, ngebahas soulmate apalah itu, padahal LDR. Ade manggut-manggut,"Sarah ya? Yang rambutnya sebahu?". Selanjutnya ade saya malah kasih gosip sekilas kalo Sarah itu cowoknya udah punya anak dan istri. Hiyaaa.... makan tuh soulmate...hehehee...
Pernikahan yang benar-benar punya jiwa dan jadi belahan jiwa buat masing-masing pasangannya adalah pernikahan orangtua saya, menurut saya loh. Buat saya mama papa itu saling melengkapi, yang satu cerewet, bawel, galak, yang satu adem ayem santai kaya di pantai. Seegois apapun papa, mama tetep bersikap menghargai suaminya. Begitupun sebaliknya. Pernikahan buat mereka yang penting itu saling terbuka. Gak perlu maksa harus 1 hobi atau kesamaan, gak perlu 1 bintang, gak perlu 1 suku, yang penting saling menghargai pasangan. Oh mama..oh papa.. begitu ingin saya memeluk mereka :)
Nah, kalo buat saya, my soul n my soulmate adalah anak. Bukan gak menghargai atao gak cinta ama suami saya, tapi anak-anak punya area khusus di hati saya. Anak-anak adalah sumber kekuatan saya, seambruk apapun saya. Tanpa mereka bicara, mereka udah jadi pendengar yang baik buat jiwa saya. Tanpa mereka berusaha merangkul saya, mereka udah memeluk saya dengan keceriaannya. Tanpa mereka bisa menyeka airmata saya, mereka udah bisa menghapus linangannya dengan mencium saya. Itulah anak-anak. Lewat jiwa mereka, mereka lebih mengerti tentang kita. Terserah sih soulmate kalian siapa, buat saya, anak-anak itu soulmate jangka panjang di hidup saya :)