YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 29 Juli 2011

Rania dan Rindu


Berapa kali kau merindu dalam 5 tahun ini?
Berapa kali kau berucap rindu dalam 5 tahun ini?
Bagaimana saat kau merindu?
Mengapa kau merindu?
Siapa yang kau rindu?

Sedangkan aku?

Aku terlalu sering merindu
Walau tak banyak berucap
Aku pilu saat merindu
Karena mungkin dentingannya tak sama
Ya, aku merindukanmu...


Rania memainkan telepon genggamnya, sesekali mengutak-atik isinya lalu dibiarkan. "Bi, aku kangen..." ia duduk di depan cermin. "Aku kangen kamu yang dulu, kangen masa-masa perkenalan kita, kedekatan kita, masa pacaran kita, awal-awal pernikahan kita..." Rania masih menatap cermin, sambil menulis di note book nya. "Sepertinya saat itu selalu banyak bahan untuk dibahas, dikomentarin, dicela sampai diketawain bersama. Sepertinya kita nggak pernah puas dengan telepon berjam-jam, bertemu setiap saat, atau berbalas di dunia maya," Rania menghela napas panjang.
Suara mobil Abi memecahkan lamunan dan tulisan Rania, bergegas ia menuju ruang tamu membuka pintu menyambut sang suami dengan senyum. "Aku lapar.." kata Abi manja. Rania tersenyum. Tapi seperti biasa, ditengah pengakuan laparnya, setelah mandi Abi malah membuka laptopnya, sibuk dengan ketikannya dan telepon genggamnya. Makan malamnya selalu diiringi suara ketikan dari telepon genggamnya. Pemandangan yang telah biasa dan menjadi biasa buat Rania. Tiba saat tidur, ia mencium kening Abi, mencium pipinya dan bibirnya. "Aku akan sangat merindukan bibirmu, Bi" katanya dalam hati. Abi membalas tiap kecupan dan pelukan hangat Rania. Lalu ia kembali sibuk dengan laptopnya. "Tidakkah kamu merindukan aku, Bi?" tanya Rania sambil menatap manja sang suami. "Iya Rania, selalu... Sebentar ya aku ngetik dulu," jawab Abi tersenyum dan mengelus kepala Rania. Lalu Rania tertidur.
Rania terus tertidur...sampai ia tak yakin pada dirinya sendiri mengapa ia masih tertidur...
Dilihatnya Abi menangis, dan Alvio, anak mereka. "Ia telah tiada sejak pukul 2 dini hari tadi," ujar Dokter memastikan kematiannya. "Ya Tuhan... Jam 2 aku masih sibuk dengan laptopku, aku belum tidur, bagaimana mungkin aku bisa melewati semua yang dialami Rania?" teriak Abi dalam hati. Tidak ada yang tahu kalau Rania mengidap penyakit jantung, bahkan Abi sekalipun. Semuanya ia tutup rapat-rapat hanya agar tak merepotkan orang-orang yang ia sayangi, Abi dan Alvio. Abi menemukan 2 lembar kertas diatas meja rias Rania, itu tulisan tangannya.

Bi, aku lelah...
Lelah karena rinduku yang begitu besar
Bi, aku letih...
Sementara tak kau jawab pula kangen ku ini
Menolehpun tidak...

Bi, aku lelah...
Lelah karena kau menjawab semua rindunya
Bukan aku...
Bi, 1 kerinduanku yang tersisa,
Rindu yang selalu kuselipkan pada bocah kecil kita
Kuharap kau jaga ia penuh cinta...
Tanpa ada kerinduan lain

Selamat jalan Bi...

Terima kasih atas pernikahan ini...



Love,
Bagian hidupmu...


Rania


2 lembar tulisan tangan Rania membuat Abi terduduk lemas. Ia tak mengira dibalik senyum dan diamnya, Rania tahu segalanya. Bahwa suaminya tak setia, bahwa suaminya telah mendua hati sejak awal pernikahannya. Ya, hanya penyesalan yang tersisa di hati Abi... Memeluk Alvio penuh erat, hanya itu yang dapat ia lakukan. "Rania, maafkan aku..." ucapnya pelan.