YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 01 Desember 2018

Kenapa Menulis Blog?



Kenapa menulis blog?


Karena tangan saya sudah agak kaku untuk menulis pakai pulpen di buku harian hahaha… Kebiasaan mengetik sejak lulus SMA akhirnya membuat saya jadi agak malas menulis semua ide-ide cerita ataupun puisi-puisi. Walaupun masih ada beberapa tulisan yang masih saya tulis manual tapi itu pun hanya saat darurat saja. Darurat dapat ide dan akan menyesal kalau sampai nggak dituliskan.  


Kenapa menulis blog?


Karena sejak buku harian saya tak lagi jadi hal yang pribadi dan semua terlalu kepo, akhirnya saya bertengger pada blog. Pada blog saya bisa menuliskan berbagai tema cerita, walaupun tak bisa sampai terlalu pribadi untuk dituliskan. Buat saya blog tak terlalu begitu mengasyikkan untuk dijadikan sebuah buku harian. Still, it’s different template to be a private, cmiiw...


Kenapa menulis blog?


Karena lebih banyak variasi dalam bentuk template atau settingan-nya. Saya tak perlu sibuk mengukir gambar-gambar untuk menjadi hiasan dalam buku. Dengan blog, saya tinggal memilih gambar apa yang diinginkan untuk menjadi latar, berikut dengan warna dan bentuk hurufnya.


Kenapa menulis blog?


Karena menulis blog seperti memiliki keasyikan tersendiri dan kenyaman tak berbatas. Selama kita menulis blog, kita juga dapat sambil mencari berbagai informasi mengenai tema blog yang sedang kita tulis. Menulis blog tak hanya sekedar menulis saja, kita juga bisa mencantumkan berbagai foto-foto terkait tulisan blog. Hal ini menambah referensi bagi para pembaca setia blog kita. Apabila referensi dari blog kita bagus dan inspiratif, maka akan banyak pengunjung blog yang setia menunggu tulisan-tulisan kita.

Kenapa menulis blog?

Cobalah untuk memulai apa yang saya lakukan. Menulis, menulis dan menulis. Pasti akan banyak menemukan kenikmatan tentang menulis, khususnya melalui blog. Menulis blog membuat kita memiliki teman baru, wawasan dan pengetahuan. Karena apa yang akan kita ceritakan dalam blog, membuat kita termotivasi untuk mencari, mencari dan mencari. Selalu akan ada hal baru dengan tulisan kita, dan akan selalu ada yang baru dengan isi blog kita.  


#Day1
#blogperempuan #BPN30dayChallange2018

Kamis, 20 September 2018

30 Days Writing Challenge



          Pernah kepikiran nggak, ikutan sebuah acara challenge menulis? Kalau menulisnya hanya seminggu atau berapa hari saja ya mungkin sempat, tapi kalau 30 hari non stop menulis gimana? Ditantang selama 30 hari untuk konsisten menulis dengan berbagi kelompok dan mendapatkan feedback dari sesama peserta. Tantangan menulis 30 hari yang disebut juga 30 Days Writing Challenge atau 30 DWC, pertama kali saya lihat infonya di sebuah akun instagram bernama @infolombamenulis dan saya langsung tertarik. Setelah mendaftar saya hanya mengira acara ini hanya sekedar menulis saja, tanpa ada aktivitas lainnya. Tapi ternyata saya salah. Dari sekian banyak peserta, yang disebut sebagai fighter, kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang disebut sebagai squad. Setiap squad memiliki pemimpin squad yang disebut guardian, tugasnya adalah melaporkan semua link tulisan kami dan juga sebagai pemberi info dari para mentor. Dan setiap minggu kami berbagi feedback per squad atas tulisan tersebut.
           
            Setelah mengetahui saya masuk di kelompok squad 4, guardian langsung memasukkan saya ke dalam grup whatsapp agar komunikasi kami lebih mudah. Kelompok saya terdiri dari 9 perempuan super power yang terdiri dari saya, Sarah, Trias, Ira, Nurindah, Dera, Arfi, Riska, dan Desy. Menurut saya squad 4 itu termasuk yang paling kompak diantara semua squad. Semua saling bantu tentang sharing info menulis. Alhamdulillah ladang squad kami jarang menguning, hampir selalu hijau. Senang nggak sih ada di squad 4? Pastinya! Senang banget bisa mengenal para perempuan hebat ini, senang banget bisa berbagi ilmu di squad ini dan senang banget bisa menambah keluarga baru. Bahkan saking kompaknya kami sudah berencana membuat buku dari kumpulan cerpen. Seru yaa... Love you all girls *kecup

            Jadi apa kesan saya mengikuti tantangan 30 hari menulis ini? Bangga! Karena nggak semua orang bisa ikut dan konsisten sampai selesai, nggak semua orang bisa dapat ilmu menulis dengan tantangan seperti ini dan nggak semua orang bisa keren kayak fighter di 30 DWC ini J Apa yang saya dapat dari 30 DWC ini? Banyak! Dapat keluarga baru, teman baru, ilmu menulis baru, dapat pahala juga loh hehehe... Terima kasih banyak untuk semua para mentor yang telah membantu saya dan para fighter menimba ilmu penulisan. Semoga ilmu yang kakak-kakak mentor berikan penuh manfaat dan berkelanjutan ke teman-teman lain atau bahkan anak-anak kami. Sukses selalu untuk event menulisnya, semoga semakin berkembang 30 DWC ini menjadi puluhan bahkan ratusan jilid J



#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad4
#Day30

Rabu, 19 September 2018

SISTER


Untuk Diandra Paramitha tercinta,

Apa kabar kesayangan ayah yang cantik? Semoga selalu sehat dan baik-baik saja. Ayah menulis surat ini sebagai obat rindu kalian sama ayah karena ayah merasa waktu ayah sudah tak lama lagi. Saat kalian membaca surat ini dapat dipastikan bahwa ayah telah tenang ditempat terindah, karena ayah berpesan pada ibu untuk memberikan surat ini bila ayah sudah pergi selamanya.

Anak sulung ayah yang paling dewasa dan berjiwa besar, begitu sering ayah membuat sedih dan kecewa hati Diandra hanya karena kamu kurang sempurna dalam hal akademis. Sejak kecil ayah tahu kamu sering kesal dengan sikap ayah yang tak pernah simpati dengan nilai-nilai sekolahmu. Percayalah nak, ayah bangga. Ayah bangga dengan apapun yang kamu raih saat itu. Yang membuat ayah makin bangga adalah kamu telah tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan menjadi diri sendiri.

Kamu tak pernah memusuhi dan iri pada adikmu walaupun ayah selalu berat sebelah. Percayalah nak, ayah takjub dengan kebaikanmu. Bahkan disaat dewasa kamu telah memiliki anak dan masalah yang muncul di dalam rumah tanggamu, kamu tetap bersahaja. Kamu begitu kuat, sabar dan berbesar hati. Ayah tahu kamu jarang sekali bercerita tentang isi hatimu. Percayalah nak, ayah tahu semua keluh kesahmu dengan Satya. Mungkin ayah tidak pernah mengatakan ini tapi kamu harus tahu ayah menyayangi Satya seperti anak kandung ayah sendiri.

Satya laki-laki terbaik untukmu nak, dengan atau tanpa kekhilafannya. Kembalilah kalian bersama, kembalilah membesarkan anak-anak bersama, mereka butuh kalian seutuhnya tidak bercerai berai. Diandra dan Satya, terima kasih telah menjadi orangtua terbaik untuk 4 orang cucu ayah dan ibu. Cucu-cucu yang selalu memberi warna di setiap detik sisa hidup ayah. Jagalah mereka selalu dengan penuh cinta. Mereka anak-anak yang hebat.

Ayah mencintaimu selalu...
Salam rindu terhangat dari surga,

Ayah

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Diara Padma tercinta,

Apa kabar kesayangan ayah yang cantik? Semoga selalu sehat dan baik-baik saja. Ayah menulis surat ini sebagai obat rindu kalian sama ayah karena ayah merasa waktu ayah sudah tak lama lagi. Saat kalian membaca surat ini dapat dipastikan bahwa ayah telah tenang ditempat terindah, karena ayah berpesan pada ibu untuk memberikan surat ini bila ayah sudah pergi selamanya.

            Anak bungsu ayah yang selalu mengikuti apa yang ayah mau, anak yang berbakti karena telah mengesampingkan keinginannya dan mewujudkan cita-cita ayah. Percayalah nak, ayah malu, karena ayah telah memaksa ego ini demi kebahagiaan sendiri tanpa ayah tahu apa yang kamu mau. Maafkan ayah, terima kasih untuk kamu karena begitu besar tekadmu untuk sebuah kata bangga dari ayah. Semua kesempurnaan yang kamu usahakan tak pernah membuat ayah jera untuk selalu mengatur hidupmu, padahal kamu punya kehidupan sendiri. Percayalah nak, ayah menyesal.

            Kamu yang saat ini merasa bahwa tak ada lagi kesempurnaan yang bisa kamu berikan pada ayah karena keadaanmu yang belum memiliki anak. Percayalah nak, ayah tak memaksa. Untuk kali ini ayah yang harus ikhlas karena itu ketentuan dari sang pemilik kuasa. Ayah belajar banyak dari pernikahanmu dan Yuka, bahwa membangun rumah tangga memang tak selalu soal anak. Itu takdir. Bukan juga Tuhan tak mempercayai kalian untuk menitipkan makhluk kecilnya. Tapi ini pembelajaran buatmu dan Yuka. Belajarlah untuk saling memiliki berdasarkan cinta, bukan ego. Perbaikilah rumah tanggamu dengan Yuka, masih ada kesempatan untuk berbenah diri. Kamu layak bahagia, dengan atau tanpa anak di dalam pernikahanmu.

Ayah mencintaimu selalu...
Salam rindu terhangat dari surga,


Ayah


*bersambung*

#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad4
#Day29

Selasa, 18 September 2018

SISTER


Ada banyak hal yang dapat menjadi sumber kekuatan manusia, keluarga, pertemanan, persahabatan, kekasih hati, bahkan musuh dalam hidup kita. Termasuk anak-anak yang selama ini menjadi kekuatan dalam hidup aku dan Satya. Ya, harusnya mereka memang tetap dapat menjadi salah satu kekuatan pernikahan kami. Tapi kenyataannya? Kami nggak mempedulikan itu semua. Ego kami lebih banyak berbicara. Cinta kami seakan mulai memudar tanpa tahu bahwa masih ada sisi lain yang dapat terselamatkan.

           Satya duduk berteman malam di teras rumah, matanya menatap awan yang semakin temaram. Sejak aku keluar dari rumah sakit, untuk sementara waktu Satya kembali ke rumah menjagaku sampai aku sehat. Anak-anak begitu merindukan ayahnya dan itu lumayan menyembuhkan sedikit sakitku. Bahagia melihat mereka tertawa bersama Satya dengan segala guyonan dan keseruan saat bermain, sesekali mereka bercerita tentang kejadian atau apapun yang telah mereka lakukan di sekolah. Aku bahkan tak tahu sampai kapan mereka akan merasakan hal itu, merasakan memiliki ayah seutuhnya.

“Ayah belum tidur?”
“Eh, Bulan… Bulan kok belum bobo? Ini kan sudah malam, besok Bulan sekolah loh?”
“Bulan mau tidur sama Ayah, Ayah kan kerjanya jauh udah jarang temenin Bulan bobo lagi, Bulan kangen sama Ayah.”
“Ayah juga kangen banyaaak sama Bulan.”
“Banyak banget? Sedunia? Se-Indonesia?”
“Hahaha… Iya dong, sejagad raya.”
“Sejagad raya itu apa?”
“Sejagad raya itu sampai luar angkasa dan semua semesta alam.”
“Waaahhh kereeenn…”
“Kok keren?”
“Iya keren, kangennya Ayah sampai semesta alam, berarti Ibu kalah.”
“Oya? Masa sih? Ibu kan biasanya hebat nggak pernah kalah.”
“Iya, waktu Ibu sedih katanya Ibu lagi kangen, kangen sama anak-anaknya, sama Bulan, sama Mas Bintang, sama Mas Awan, sama Kakak Langit.”
“Ibu sedih? Kapan?”
“Waktu Ayah pergi. Terus Bulan tanya, kalo Ibu kangen sebesar apa kangennya? Ibu bilang, seluas samudera hahaha… Mungkin Ibu belum bilang kalo kangen sama Ayah juga, makanya baru seluas samudera belum sampai semesta alam.”
“Huu kamu bisa aja. Ya udah kita bobo yuk, Ayah ngantuk.”

Bulan mengangguk tersenyum, Satya langsung menggendongnya masuk ke dalam. Bulan adalah keceriaan di keluarga kami, bocah perempuan yang ceriwis dan cerdas. Tingkahnya seringkali membuat kami tertawa. Ia gadis kecil yang sangat penyayang, walau berbeda usia agak jauh dari Bintang dan Awan kakaknya, tapi ia selalu kritis dan pemberani. Malam ini Bulan menjadi obat perindu terbesar di hati Satya, bersamanya hanya ada kehangatan penuh kasih sayang. Mungkin aku dan Satya harus belajar banyak dari sosok cilik bernama Bulan.    



*bersambung*


#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad4
#Day28

Senin, 17 September 2018

SISTER


Bagiku Diara adalah perempuan yang memiliki cahaya terang layaknya matahari. Ia penuh semangat seperti matahari terbit, tegas seperti panas di siang hari tapi meneduhkan kala senja. Perempuan keras kepala yang aku kenal sejak kecil ternyata menyimpan sejuta kerinduan untuk memeluk cerita yang sama kepadaku. Tentang hidupnya, tentang takdirnya dan tentang belahan jiwanya. Sejak obrolan kami di depan makam ayah beberapa waktu lalu, Diara seolah menemukan apa yang ia sebut sebagai tempat berbagi. Ya, kini aku lah tempat curahan hatinya. Tak seperti dulu, ia lebih banyak terbuka tentang Yuka.

“Diara, kalau kamu ingin pergi, silahkan. Mungkin ego ku memang telah mengalahkan cinta terbesarku.”
“Bumi yang berputar, bukan matahari yang benar-benar tenggelam, jadi kenapa kamu selalu mengharapkan senja?”
“Sudahlah, toh selamanya kita sulit memaksakan keadaan ini. Maaf kalau aku tak bisa memberikan apa yang kamu mau, maaf kalau kamu hanya tersiksa dengan pernikahan ini.”
“Yuka, apa cuma segini waktu yang kita butuhkan untuk rumah tangga kita? Apa cuma sampai di sini perjuangan kita untuk tetap bertahan?”

Diara masih saja menaruh harapan itu, harapan bahwa Yuka bisa menjadi awan putih yang ada di bawah sinar matahari dan melindunginya dari terik. Kalaupun ada hari-hari yang sangat menyiksa dan membuat sakit hati, pasti akan ada hari-hari lain untuk kita memulai lembaran baru. Dan memulainya bersama matahari terbit adalah sebuah keikhlasan.   


*bersambung*


#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad4
#Day27

Minggu, 16 September 2018

SISTER


Ibarat langit, Alex adalah sosok yang selalu akan menjaga Diandra dari awan mendung. Lantas bagaimana mungkin Satya bisa mengimbangi apa yang dilakukan Alex? Kalau ternyata ia sendiri yang memberikan awan hitam untuk Diandra. Pemikiran itu mulai membuat Satya kalut. Langit adalah lapisan atas dari permukaan bumi dan digolongkan sebagai lapisan tersendiri yang disebut atmosfer, dan seperti itulah Alex, ia merupakan atmosfer dalam hati Diandra. Kalau langit terdiri dari banyak gas dan udara, maka begitulah Alex, menyimpan banyak cinta dan rindu untuk Diandra. Satya masih merenungi semua yang diucapkan Alex, di bawah langit malam di depan ruang rawat Diandra.

Satya kini menyadari, ia sempat menggantungkan semua mimpinya pada awan-awan di langit, karena memang di situlah lokasi mimpi seharusnya. Namun ternyata ia salah, tak selayaknya ia hanya menempatkan lokasi mimpinya di langit, tanpa menyentuh bumi, yaitu hati Diandra. Ia biarkan dirinya terus berlari menuju angkasa dan meninggalkan Diandra. Perempuan yang selalu ada dikala langit tak selalu cerah. Satya tiba-tiba teringat akan sebuah kutipan dari seorang penyair yang pernah ia berikan pada Diandra. Kutipan tentang cinta dari Jalaludin Rumi, Cinta memiliki lima ratus sayap dan setiap sayap membentang dari atas surga di langit tertinggi sampai di bawah bumi”.  Ya, langit tertinggi memang hanya dapat dijangkau dengan cinta, bukan benci, bukan dendam, apalagi ego.

“Diandra, apakah langit yang pernah kita lukiskan dengan mata senja penuh rindu masih tersimpan goresannya? Atau malah telah memudar warnanya?”
“Masih mungkinkah aku membawakan pelangi sekedar untuk membuatnya kembali berwarna?”

Satya bergumam dalam hati.



*bersambung*


#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad4
#Day26

Sabtu, 15 September 2018

SISTER



“Diandra tidur?”
“Iya dia lagi tidur. Lu udah makan? Makan bareng yuk.”
“Ayo boleh.”
“Diandra tadi sempat kasih tahu untuk nggak bilang soal keadaan dia ke ibu dan Diara. Lu kasih tahu aja ke rumah kalo dia pergi sama lu.”
“Iya nanti gue telepon ke rumah.”
“Sat, maaf banget gue harus bicara ini sama lu. Lu sama Diandra baik-baik aja? Karena gue melihat dia nggak dalam keadaan baik-baik aja. Dia sakit, gue yakin itu. Tapi dia nggak mau terus terang, dia menolak untuk jujur. Gue sama Diandra cuma masa lalu, dulu kita dekat bahkan sangat dekat, gue tahu dia menunggu kejujuran gue soal perasaan saat itu, tapi gue pergi. Gue merasa gue bukan laki-laki yang terbaik buat dia, tapi lu. Lu yang pantas dan terbaik buat dia. Kalaupun gue kembali saat ini bukan karena gue mau ngajak dia balik, bukan karena gue mau ngacak-ngacak rumah tangga lu sama dia. Gue malah kecewa waktu tahu dia menangisi nasib pernikahannya. Rasa sayang gue ke dia nggak pernah hilang sampai kapan pun, tapi bukan tanggung jawab gue membuat dia bahagia, itu tugas lu. Dia layak bahagia dan itu cuma sama lu. Percaya sama gue, Sat. Dia masih sangat ingin lu kembali. Cobalah lu pikirin lagi, gue tahu lu juga masih sayang sama dia.”
“Kesalahan gue udah terlalu banyak, entah udah berapa kali dia sakit hati gara-gara kelakuan gue, rasanya gue udah nggak mungkin bikin dia bahagia lagi.”
“Sat, kalo lu masih punya keyakinan untuk berubah, jalanin. Yakinin dia bahwa lu mampu.”
“Semua nggak segampang itu, Lex”
“Sat, lu punya banyak waktu untuk berubah dan merubah segalanya demi lu, Diandra dan anak-anak. Beda sama gue. Gue nggak punya kekuatan itu makanya gue nggak akan bisa memperjuangkan Diandra. Anak-anak kalian itu kekuatan buat lu berdua. Sakitnya dia saat ini adalah jawaban dari Tuhan bahwa lu harus kembali, lu yang harus jaga dia, bukan gue. “

Satya terdiam mendengar ucapan Alex, entah kenapa dia tidak bisa memiliki sikap seperti Alex. Tak salah kalau Diandra dulu berharap pada dirinya, cintanya begitu besar pada Diandra. Perhatian dan kasih sayangnya seperti tak sebanding dengan Satya. Ia merasa gagal sebagai laki-laki. Mungkin Alex benar, anak-anak lah yang menjadi kekuatan kami.


*bersambung*


#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad4
#Day25