YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 11 Januari 2018

Pulau Pahawang 30 Desember 2014 - 2 Januari 2015


Yeaahh libur telah usai, isi dompet telah bures hahaha.... Liburan tahun baru untuk tahun ini saya dan keluarga nggak kemana-mana. Ngobrol soal libur tahun baru, saya kangen juga sama Pahawang. Pulau cantik di daerah Lampung. Cerita dikit yaa... :)

Di penghujung tahun 2014 menuju pergantian 2015 beberapa teman kantor saya sepakat menghabiskan malam pergantian tahun di pulau Pahawang. Bersama keluarga kami berangkat malam menuju pelabuhan Merak. Tanggal 30 Desember jam 10 malam dengan meeting point di rest area. Kami baru menyadari kalo tas baju anak-anak nggak kebawa, aduuuhh.... Pasrah lah kita... Konvoi 6 mobil menuju penginapan di Pahawang, kami mengantri selama masuk ke pelabuhan. Sedikit hujan rintik-rintik saat itu, jadi saya dan anak memutuskan untuk tinggal di dalam mobil. Esok paginya kami sudah masuk di kota Lampung, langsung deh kita cari sarapan. Selesai sarapan kami coba sedikit ngubek kota ini kali saja ada toko baju anak yang sudah buka. Alhamdulillah ketemu.

Perjalanan kami lanjutkan menuju tempat penginapan. Semua mobil harus di parkir di dekat perahu-perahu karena kami menyeberang menggunakan perahu. Biaya menyeberang dengan perahu tersebut sekitar 150-200 ribu per perahu. Penginapan kami adalah rumah warga yang disewakan, bukan hotel mewah. Listrik pun baru hidup lagi sekitar jam 3 sore sampai pagi hari. Kami tiba sekitar jam makan siang, jadi Ibu sang empunya rumah sudah menyiapkan makan siang untuk kami. Anak-anak mulai sibuk mau main di pantai. Sedangkan saya?

Saya rindu pantaaaaiiiiiiiii.....!!! Hahahahaa..... Happy banget kalo udah liat pantaiii....






Menjelang malam pertama kami menginap, anak saya yang kecil mendadak nggak enak badan, agak demam. Keadaan penginapan yang seadanya makin bikin dia rewel semalaman. Mungkin karena terbiasa di rumah tidur enak ya, wah harus dibiasain juga nih :) Malam tahun baru 2015 kami malah tidur dari jam 10 malam, di saat bunyi petasan-petasan semakin riuh meriah suaranya. Biarlah toh kita semua nggak ada yang begadang karena besok pagi acara kami sudah tersusun.

Pagi hari tanggal 1 Januari 2015, anak saya yang kecil alhamdulillah sudah mulai lebih enak badannya. Hari ini kami rencana berenang ke pulau besar dan kecil. Tim kami bagi menjadi 2, karena banyak anak kecil yang tidak mau ikut snorkling ke Pawahang Besar, jadi anak-anak kecil kami bawa ke Pahawang Kecil. Seru juga ternyata. Kami tetap pakai perahu menuju Pahawang Kecil. Kalo anak-anak sih jangan ditanya senangnya, bahagia banget lah ketemu air dari kemarin hahahaa....


Selesai bersenang-senang di air pantai, siang setelah makan siang saya sekeluarga memutuskan untuk pulang duluan karena kondisi anak yang semalam sempat demam. Harusnya rencana kami pulang besok tanggal 2 Januari. Untunglah teman-teman pada ngerti, jadi kami terpaksa pamit duluan. Menuju parkiran mobil kami kembali harus menaiki perahu. Damai banget mandangin laut luas gini :)

Niat langsung pulang ke Jakarta, mendadak suami mengajak nginap di hotel di kota Lampung. Sayang juga katanya sudah di Lampung kalo langsung pulang, nggak jalan-jalan dulu. Jadilah malam itu sambil bertemu teman suami, kita jalan-jalan. Anak saya yang kecil kayaknya yang paling bahagia karena malam ini tidurnya adem tenteram di hotel hahahaa... dasar bocah...

Esok paginya setelah sarapan, kami siap-siap kembali menuju ke Jakarta. Melewati penyeberangan Merak, kali ini terasa lama sekali karena banyaknya kapal yang harus mengantri untuk bersandar. Alhamdulillah kami sampai juga di Jakarta dengan selamat. Buat kami perjalanan ini pengalaman berharga, bukan hanya soal jalan-jalan, tapi soal saling menghargai, kerjasama dan mencintai alam.


Love,

SH





Kamis, 04 Januari 2018

Berbagi Ego


Hari ke-2 di 2018, kayaknya lebih punya arti daripada hari kemarin yang tidur seharian akibat pengaruh obat batuk hahhahaha... Mau ngobrolin ego ah, yang kalo kelamaan dibiarin jadi bikin bego hiihihi.... Eh, tapi bener deh ego itu kalo kita nggak bina dengan baik dan benar pasti jadinya ngaco banget. Merasa diri sehat-sehat aja terus jadi males olahraga, sampai badan kita akhirnya ambruk sakit. Nah, itu kalo bukan karena ego kita yang nggak mau ngalah buat olahraga namanya apa? Iya kan? Ngobrolin ego biasanya nggak jauh dari pasangan kita, iya apa iya? Hehe... Biasanya saat emosi memuncak kita baru tahu ego siapakah yang lebih dominan? 

Ada nggak sih yang mau berbagi ego?

Yaela ya mana mungkin, boro-boro berbagi ego, berbagi kesusahan aja kadang kita ogah banget :) Nah itu dia, pernah nggak kita mikir sebesar apa ego kita yang tertanam dalam diri kita ini. Sebesar dunia atau segede gaban? (Ketauan ya anak jaman kapan, nyebutnya gaban hahahhaa....) Bahkan emak kita yang lahirin kita aja kadang nggak tahu tuh kekuatan ego kita seberapa dalam. Kalo saya, aslinya lumayan gede egonya. Tapi ternyata, ego yang saya pikir dulunya adalah ego yang udah lumayan gede eh masih banyak loh yang jauh lebih gede. Aduh hayati mulai gundah... 

Kenyataannya dalam hidup ini kita memang harus berbagi ego, mau atau nggak, setuju atau nggak, menerima atau nggak. Seperti yang saya singgung tadi, contoh paling pas biasanya ya tentang ego kita dan pasangan. Kalo masih masa pacaran sih biasanya belum jelas banget tuh, tapi kalo udah menikah dan tinggal bersama, baru deh ngerasain banget kalo kita benar-benar harus berbagi ego. Kenapa harus berbagi? Ya biar seimbang. Kalo ego kita lebih tinggi, ya berbagilah sama pasangan biar jadi seimbang. Kalo nggak mau berbagi, hasilnya malah akan jadi jomplang alias nggak seimbang. 

Jadi gimana, udah mulai mau berbagi ego?



- 2 Januari 2018 -
(Disadur dari robekan kertas anak)

2018


Setiap tahun baru, hampir seluruh manusia di dunia ini sibuk memupuk sebuah resolusi. Intinya hanya ingin menjadi manusia yang jauh lebih baik. Buat saya, waduh brooo 2017 itu tahun yang melelahkan banget yaa... Kayaknya jadi tahun yang bener-bener diperes sampe kering lagi ini keringet dan amarah hahaha.... Yah, namanya juga hidup, kita nggak akan pernah tahu bakal dapet apa nantinya. Apakah bakal nginjek kotoran atau malah dilempar kotoran, ya kan? Hehehe... Yang paling penting sih gimana kita menyikapinya, gitu kan? Kalo mau disikapi dengan belaga gila ya udah belaga gila deh sekalian. Tapi kalo mau disikapi dengan sabar ya udah ujiannya makin gede pasti. Allah sih gitu kan banyak ngetesnya :) Ngetes tanda sayang... Apapun itu jangan pernah berburuk sangka sama Allah, kecewa boleh, marah wajar, asal jangan gelap mata langsung terjun dari gedung atau gantung diri dibawah pohon toge. 

Kadang ikhlas dan pasrah itu beti alias beda tipis. Cuma beda usahanya aja sih. Tapi justru hal yang saya takutin itu saat saya udah nggak peduli. Pasrah nggak, ikhlas juga nggak. Bodo amatan... Mungkin itu yang bikin saya jadi memutuskan, udah lah stop di 2017. Enough brooo... Jadi 2018 bakal diisi sama resolusi apaan? 

Resolusi 2018 : Sehat, Bahagia, Banyakin Liburan! Yeayy! 

Nggak papa lah malam tahun baru ini sakit flu, tepar di kamar sementara rumah adek ipar lagi rame-ramenya sama seseruan malam tahun baru. Yang penting selanjutnya harus sehat. Pengobatan radangnya bisa tuntas dan sehat lagi, aamiin... 

Jadi untuk tahap awal, nggak usah pikirin kenapa orang bisa jahat sama kita, tungguin aja lah entar juga dikasih karmanya masing-masing. Cuekin aja sama orang-orang yang mau mengusik kebahagiaan kita. Selama kita nggak merebut kebahagiaan mereka. Free Your Self From Negative Person, gitu ya? Eh, tapi yang bilang gini seringkali malah mereka yang bikin hidup orang jadi negatif hahahaha.... Naif banget ya... Apa Gigi banget? Atau Sheila On 7? Errr....

Ya sudahlah.... Semangat selalu di 2018! :)



- 1 Januari 2018 - 
(Disadur dari kertas lembaran punya anak)

Sabtu, 07 Oktober 2017

Pamit...

"Gue nggak pernah benar-benar melepaskan genggaman..."
"Kenapa nggak? Gue kan udah bilang, jangan maksa."

Jes menatapku. 

"Nggak usah jutek gitu, gue kan cuma nggak mau jauh, itu aja."

Aku berusaha melonggarkan raut wajahku yang sinis. Jes masih saja menyimpan baik rindunya, bahkan hatinya untukku.

"Jes, lo terlalu yakin sama semua ini."
"Mungkin iya."
"Jes, nggak baik memaksakan suatu genggaman. Gue pamit..."
"Shal...!"

Jes menahanku, wajahnya seperti anjing kecil memohon biskuit cemilan. Hampir 4 tahun tatapan itu selalu menjadi kelemahanku, bahkan saat ini. 

"Ini cuma soal perpindahan hati, gue kan masih sahabat baik lo."
"Bullshit! Lo tahu itu nggak mungkin, nggak mungkin kita masih bersahabat, kita masih saling cinta, Shal..."

Aku terdiam.

"Kita balik, kita perbaikin semua dari awal."
"Ibu gimana?"
"Shal, yang terpenting itu kita, gue mau perbaikin semua dari awal, lo mau kan?"

Jes, kemana aja sih sikap kamu dari kemarin? Kita udah melewati berapa kali sidang dan baru sekarang kamu punya sikap? Ini terlambat apa nggak sih? Aku tahu kita masih sama-sama saling cinta, nggak pernah berubah dari aku ataupun kamu. 

"Sreek!"

Aku terkejut melihatnya. Jes merobek kertas-kertas dokumen proses perceraian kami. 

"Apa perlu gue bakar?"

Aku menarik napas panjang, beranjak dari bangku dan melangkah pelan. 

"Shally!"

Aku menghentikan langkahku entah karena apa. Mungkin karena aku memang masih mencintainya. Aku hanya mendengar langkahnya pelan dari belakangku dan tubuhku yang hangat. Pelukan yang selalu menenangkanku... Jes memelukku dari belakang... Aku masih tak mampu berbalik, aku tak mampu menahan airmataku. 

"Shal, maafin atas sikap gue ya, kita nggak seharusnya ada di proses ini, gue masih butuh lo untuk ada di samping gue, sampai gue tua, sampai gue mati..."
"Jangan pamit ya, Shal..."



- 7 Oktober 2017 / 23.45 -


Jumat, 21 April 2017

Gravitasi itu Aku...


Kekuatan Gravitasi Rasa

Percaya nggak kalau perasaan yang kita rasakan terhadap pasangan kita adalah sebuah gravitasi paling kuat sepanjang masa? Karena nantinya akan bersifat abadi, apabila salah satunya hilang maka akan lunglai. Tak banyak yang dapat tertuliskan, selain masa itu membuat kekuatan terbesar dalam diri. Aku yang kala itu terhempas dalam kesendirian hanya bisa termangu menunggu waktu. Waktu akan datangnya gravitasi. Ternyata butuh campur tangan Tuhan di dalamnya, selain usaha dan keikhlasan. Yang terjadi adalah, sepuluh tahun lalu kekuatan terbesar itu aku. Gravitasi yang ada pada diriku melekat kuat padamu. Aku secara perlahan menjadi tumpuan rasa yang kamu cari selama ini. Ada yang bilang bahwa saat kita berkenalan dengan seseorang, selalu ada unsur langit dan bumi yang ikut serta dalam diri kita. Mungkin ini yang terjadi pada kita, unsur langit dan bumi itu tak lepas dari aku dan kamu tak mampu melepasnya. Komunikasi yang intens walau telepon genggam yang kita pakai saat itu tak secanggih Luna Smartphone 

"Gue Adhit..."
"Shanty..."

Dan kekuatan gravitasi rasa itu semakin tak terlepas, kumparannya semakin kuat. 5 Mei 2007 menjadi tanggal keramat buat masa depan kita :) Wah kalau saja saat kita menikah telepon genggam kita sekeren Luna Smartphone pasti kita lebih dahsyat ber-selfie ria :)) Aku hanya memohon, Tuhan selalu menggerakkan aku sesuai gravitasi rasa-Nya. Tahun demi tahun aku menjadi gravitasi terkuat dalam hidup suamiku. Selalu ada waktu dimana kita berada di titik nol dalam tiap kehidupan. Tak terkecuali aku. Pernah aku jatuh tapi kamu meyakini bahwa aku masih tumpuan rasa yang kamu cari. Kekuatannya tak boleh rapuh. Doa yang terselip dari seorang sahabat saat kami menikah adalah semoga saling menguatkan. Itu menjadi doa penuh makna. Bahwa saling menguatkan itu nggak gampang, saling menguatkan itu butuh nyali, saling menguatkan itu kesabarannya tak terbatas, saling menguatkan itu perlu cinta yang lebih dari sekedar gravitasi bumi.


Bunda, gravitasi terbesarku

Menggerakkan keluarga kecil ini menjadi sesuatu yang selalu memiliki kekuatan dalam rasa. Saling sayang, saling menghargai, saling rindu. Namun ternyata kekuatan itu pun diuji. Apakah saling menguatkan? Ataukah saling menghempaskan? Anak pertama yang lahir di usia kandungan 8 bulan, bilirubin yang mencapai 22 dan tangis histerisku. Bayi kecil dalam inkubator dan aku yang hanya menatapnya pedih. 

"Kamu harus kuat, biar ASI-nya lancar..."

Hati ibu mana yang nggak sendu melihatnya, namun Tuhan selalu menjanjikan bahwa ada gravitasi tersendiri antara aku dan bayi mungilku. Ada kekuatan batin yang ajaib dan unik dan saling mengikat aku dan bayi mungilku. Kalau aku kuat, dia pasti jauh lebih kuat :) Akhirnya kuputuskan untuk ikhlas, dalam keihklasan itu keyakinan aku sebagai seorang ibu semakin utuh. Ada kesempatan dari Tuhan untuk bersamamu. Menjaga, mengurus, membimbing dan memelukmu penuh cinta hingga besar nanti. Dalam tiap tangismu, aku yang akan selalu ada. Dan kesabaran selalu menjadi andalan terbaikku. Beratmu semakin hari semakin bertambah, senyum dan tawamu semakin renyah terdengar, di hatimu pasti akulah manusia pertama yang selalu memberimu kenyamanan :) Seandainya saat kamu lahir Bunda sudah memiliki telepon genggam seperti Luna Smartphone semua moment indah itu pasti tersimpan rapi di dalamnya karena dengan versi Android Marshmallow + InLife UI 2.0 ini, ditambah lagi dilengkapi baterai sampai 2,900 mAh (non-removable battery) serta 3G networking standby time 480 jam, 3G talk time 11 jam, 4G networking standby time 500 jam. Dan jangan lupa juga kamera 13 juta pixel autofocus camera, F2.0 large aperture, dual LED flash, belum lagi kamera depan 8 juta pixel fixed focus lens, F1.8 large aperture wide angle 80.

4 Tahun berselang, anak kedua kami lahir ke dunia dengan sehat dan selamat. Bahkan bayi perempuan mungil ini jauh lebih sehat dan montok dari sang abang dulu. Tahun berganti, anak perempuan kami mulai bersekolah. Namun cobaan kecil kembali menerpa kami. Suatu hari ia berkomentar soal matanya yang kurang jelas. Akhirnya kami membawaatnya ke klinik spesialis mata. Dan kenyataan cukup pahit harus kami terima. Mata kirinya sejak dalam kandungan ternyata hanya berfungsi sekitar 20%, selebihnya hanya seperti siluet. Jadi kemampuan melihatnya hanya bertumpu pada mata kananya yang berfungsi normal. Sempat down dengan keadaan itu tapi melihat anak kami yang tetap semangat seperti nggak terjadi apa-apa, itu menjadi gravitasi tersendiri yang diberikan Tuhan. Virus yang tak terdeteksi selama dalam kandunganku yang telah menyerang salah satu penglihatannya, semakin membuat kami kuat. Saat di ruang tunggu ia sempat berceloteh kepadaku.

"Bunda, nanti nyanya masih bisa lihat?"

Bersyukur bahwa kekurangannya malah menjadikan ia bocah kecil yang hebat, pintar dan disukai orang-orang. Ia nggak minder apalagi jadi pemalu, ia gadis kecil pemberani. Bahkan salah satu hobi dan cita-citanya menjadi chef alias koki sangat kami dukung. Wah dek, ini artinya Bunda harus banget punya Luna Smartphone :) Sudah jelas banget ya kenapa harus punya Luna Smartphone ? 

1. Kualitasnya sama dengan iphone tapi harga lebih terjangkau.



2. Mampu menjalankan aplikasi harian serta games karena memiliki octacore 1,8 GHZ, Mediatek Helio  P10 64 bit. 
3. Didukung jaringan 4G LTE terkini.
4. Memiliki kapasitas 32 GB ROM, bisa simpan data foto dan aplikasi lebih leluasa.
5. Baterainya sangat mendukung untuk aktivitas seharian, nggak perlu bolak balik nge-charge.
6. Tampilan layar lebih besar, gambar yang tajam dan dilindungi corning gorilla glass 3, aman dari benturan.


7. Stylish dan Fashionable pastinya :) 


Ya, gravitasi itu aku, hanya tentang aku. Tentang aku dan kisah kamu yang menjadikan aku gravitasimu dan tentang aku yang selamanya akan menjadi gravitasi terbesar dalam hidup anak-anakku :)



Dibuat untuk mengikuti blog competition #BeTheGravity #SmartphoneLUNA


Rabu, 19 April 2017

TBS Park, pilihan Ruang Terbuka selanjutnya di Jakarta Selatan...


                Satu lagi kepedulian Pemkot Jakarta tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang terletak di kawasan Jl. TB. Simatupang, Jakarta Selatan. Senin, 17 April 2017, Asiana Group selaku perusahaan pengembang properti terkemuka mengadakan syukuran atas terwujudnya rencana pembangunan RTH TBS Park. Area seluas 1 hektar tersebut merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap pemerintah dalam pemenuhan target RTH di DKI Jakarta yaitu sebesar 30% dari keseluruhan wilayah ibukota. DKI Jakarta, khususnya Jakarta Selatan masih membutuhkan sekitar 20% lagi untuk mencapai target RTH sesuai peraturan pemerintah. Hingga akhir 2016, Jakarta Selatan telah memiliki 780 RTH, peringkat kedua terbanyak setelah Jakarta Pusat yaitu 913 RTH.

             RTH TBS Park yang akan dirancang oleh arsitek ternama, Yori Antar, Arsitek Nusantara, yang juga menjadi perancang RTH Kalijodo, akan menghadirkan area Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang menonjolkan berbagai fasilitas. TBS Park akan memiliki berbagai olahraga ketangkasan, wall climbing dan tempat pertunjukan semi terbuka bagi para pecinta seni. Skate park dan bike park rencananya berukuran 1.535 meter persegi. Beberapa zona tempat duduk untuk berkumpul dan beristirahat, termasuk dek diantara pepohonan untuk memandang are RTH dari ketinggian, ruang laktasi dan juga mushola. Keunikan TBS Park ini adalah konstruksinya segi 8, atap yang transparan tapi tetap teduh dan pastinya ramah lingkungan. Secara simbolik diberikan juga peralatan olahraga untuk warga.

               Perkembangan kota Jakarta yang makin padat membuat ruang publik makin minim tersedia. Inilah alasan mengapa Jakarta bisa disebut sebagai kota yang miskin ruang publik. Padahal semakin banyak ruang publik, Jakarta akan semakin terbuka, ramah dan manusiawi. Diharapkan hadirnya ruang publik-ruang publik ini mampu menjadi wadah aktivitas masyarakat, khususnya anak-anak dalam berinteraksi bahkan menyalurkan hobi, lebih mau bekerjasama dan tidak individualis. Semoga pembangunan yang baru akan dimulai di 2018 ini akan memberi banyak manfaat untuk warga Jakarta, khususnya warga Jakarta Selatan. Dan semoga bisa menjadi inspirasi pihak swasta lain untuk mewujudkan RTH di seluruh kawasan Jakarta.



Jumat, 14 April 2017

Ruang Terbuka, Lahan Terbuka untuk Anak-anak Bermain


Bermain bagi anak-anak adalah suatu kegiatan penting, khususnya untuk perkembangan jiwa dan raganya. Sebagai orangtua tugas kita memberikan lahan yang tepat, nyaman dan aman pastinya. Namun yang terjadi di kota-kota besar agak sulit untuk menemukan tempat seperti ini. Keamanan jadi factor utama para orangtua tidak begitu saja membiarkan anak-anaknya bermain, misalnya di taman terbuka. Padahal ruang terbuka seperti taman memberikan fungsi tersendiri untuk anak-anak bermain. Mereka lebih bebas berekspresi saat bermain di ruang terbuka, tak jarang banyak hobi tersalurkan dengan bermain di ruang terbuka. Anak-anak yang terbiasa bermain di ruang terbuka memiliki raga yang lebih sehat, terbiasa berkeringat, memberi pengaruh baik pada perkembangan sensor motoriknya dan memiliki cara berpikir lebih luas. 

Perkotaan akan terus membangun, pertumbuhan penduduk yang pesat lebih mengutamakan penggunaan lahan untuk pemukiman, lahan yang selayaknya dijadikan area bermain terbuka untuk anak-anak harus dikorbankan. Akibatnya, banyak lahan terbuka yang bukan difungsikan sebagai tempat bermain, anak-anak terpaksa memilih bermain di jalanan, atau lihatlah anak-anak yang tinggal di bantaran sungai, mereka dengan terpaksa bermain di sekitar bantaran sungai. Ataupun anak-anak yang tinggal di sekitar rel kereta api, hanya disitulah tempat mereka bermain, tak ada lahan lain yang khusus untuk mereka bermain dengan aman dan nyaman.


Anak-anak memiliki jiwa petualangnya sendiri, anak-anak selalu menginginkan sesuatu yang baru, dan lingkungan di luar rumah menjadi tujuan mereka untuk terus berpetualang. Pemerintah Daerah Jakarta saat ini tengah membangun ruang terbuka untuk anak-anak bermain. Beberapa lahan dipersiapkan khusus untuk mereka berekspresi dan menyalurkan hobi. Salah satu diantaranya adalah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalijodo yang berada di Kecamatan Tambora dan Penjaringan ini, memiliki fasilitas seperti arena bermain sepeda, skate park, outdoor gym, dan toilet untuk penyandang disabilitas. Selanjutnya, ruang terbuka ini akan terus diupayakan hadir di tiap komplek perumahan. Senang ya rasanya apabila ruang terbuka tersebut ada di satu sudut perumahan kita. Ruang terbuka yang aman dan nyaman untuk anak-anak kita :) 


Image result for kalijodo